Thursday, October 11, 2012

Cincin dan Dua Cangkir Cokelat


Cokelat panas itu mengepul begitu saja. Seakan uapnya bersatu dengan kabut yang tak pernah gagal datang di halaman muka ini. Senja ini masih saja ditemani dua cangkir. Sengaja, agar cangkirku tak merasa sepi karena hanya ditemani jemari yang tak kunjung mampu melepas logam yang melingkar di jari manis. Kilau keperakan di jariku masih sering kali mengingatkanku padamu. Telah lama kupaksa diri agar tegar melepasmu pergi. Meski perlahan, aku sanggup juga. Namun, sungguh aku tak mampu merelakannya. Entah apakah harus aku memutus urat nadi, agar ia kembali. Kalian sama-sama menjadi tak tahu diri dan tak punya hati. Sungguh, tak tega kusaksikan cokelat panas satu lagi mengepul tanpa pernah ia sesapi, layaknya hari lalu. Mulai esok, tekadku akan bulat sempurna. Kutanam cincin ini di halaman untukmu, dan akan kuwakilkan meminum cokelat ini untuknya. Anak kita. Anak yang kau bawa pergi dengan seorang lain, yang dengan gembiranya ia berkata "Hore, ibu baru!" Namun, aku tetap yakin, kalian akan kembali, entah pada senja keberapa dan cangkir keberapa.

No comments:

Post a Comment