Saturday, March 25, 2017

Edukasi Musik Ala Worldship Orchestra : A Musical Journey 3

"Music has to be a right for every citizen." - Gustavo Dudamel.

El Sistema, sebuah program edukasi tentang bagaimana anak-anak Venezuela meraih optimisme hidup melalui musik, telah menginspirasi hingga ke setengah lingkaran bumi, negeri Jepang. 

Worldship Orchestra, sebuah orkestra yang terdiri dari anak-anak muda Jepang, berlayar berkeliling dunia untuk membawa spirit dan keyakinan yang serupa : mengenalkan musik secara lebih luas. Akihide Noguchi, kapten dari WSO lah yang memiliki inisiatif untuk program mereka. Puluhan anak muda tersebut berkeliling ke banyak negara, seperti Kamboja dan Filipina dengan membawa misi edukasi musik pada anak-anak di daerah yang dikunjungi. 

Beberapa kali berkeliling Asia sejak 2015, Worldship Orchestra datang membawa semangat yang sama di Surabaya baru-baru ini. Selain atrium mall yang menjadi lokasi mereka bermain, gedung kesenian Cak Durasim pun mendapat giliran di hari Kamis, 23 Maret 2017 lalu. Sejalan dengan tujuan edukasi yang mereka angkat, tiket acara pun dapat ditebus dengan donasi berupa buku bacaan atau mainan anak.



WSO tampil tak biasa. Begitu masuk dan mengedarkan pandangan pada panggung, sudah terlihat perbedaan yang mencolok dibanding konser-konser biasanya. Berbagai karton warna-warni bertuliskan jenis-jenis instrumen pada orkestra tertempel di bagian depan masing-masing music stand.

Jangan harapkan nuansa formal pada A Musical Journey 3 WSO kali ini. Mereka tampil sangat santai dan kasual. Mulai dari kostum yang hanya kaus dan jeans, pilihan komposisi yang disajikan, hingga bagaimana acara dibawakan. Tampaknya cara itu sengaja dipilih sebagai upaya pendekatan antara audiens dan musik yang dibawakan.

Sebagai prolog, WSO menyuguhkan melodi-melodi khas dari soundtrack film-film kenamaan, seperti Harry Potter, E.T, dan Superman. Tak serta merta dilanjutkan dengan komposisi berikutnya, kapten dari WSO pun muncul menyapa audiens. Rupanya itu menjadi pola sepanjang acara. Sebelum setiap komposisi dimulai, kapten selalu memberikan gambaran tentang lagu yang akan dibawakan. Sesuai dengan misinya untuk memberikan edukasi musik, WSO memperkenalkan secara bertahap jenis instrumen apa saja yang ada dalam orkestra. Dimulai dari woodwind, masing-masing personel menjelaskan dan mendemokan bagaimana bunyi dari instrumen yang mereka mainkan. Secara santai dan interaktif pula, audiens diajak untuk memahami. Komposisi yang dipilih juga menunjukkan bunyi woodwind yang menonjol, ialah Clarinet Concerto Immer Kleiner (Always Smaller). Dengan solois Klarinet Sae Yamashita, sepanjang komposisi didemokan secara menyenangkan bagaimana bunyi masing-masing bagian Klarinet ketika dilepaskan. Edukasi yang humoris dan menghibur, pelepasan masing-masing bagian Klarinet pun dilakukan dengan semi teatrikal. Yamashita terlihat agak kurang rapi dalam memfrasekan kalimat terutama di bagian running, namun masih bisa dinikmati audiens  

Beralih ke bagian berikutnya, string section yang mendapat giliran lampu sorot. Dance Macabre (Tarian Kematian) dihadirkan. Ini cukup menjadi tantangan bagi WSO untuk menyelipkan kemuraman di antara konsep fun. Concert Master pun berpindah posisi menjadi solois, tampil dengan jubah bertudung dan gerakan-gerakan atraktif. Kemudian giliran konduktor yang mendapat perhatian. Setelah sebelumya audiens diajak untuk mencoba gerakan mengayun baton bersama, dipilih tiga audiens untuk naik ke panggung dan menjajal langsung rasanya menjadi konduktor dan mengendalikan dinamika lagu. 

Sebelum jeda, dibawakan komposisi yang sangat familiar, Carmen. Untuk komposisi yang bisa dibilang sederhana, kekompakan orkestra cukup baik. Namun ada hubungan secara emosional yang terputus antara audiens dengan harmoni yang tersampaikan. Sekadar menduga, bisa jadi karena komposisi yang terlalu sering dimainkan, sehingga para pemain pun kurang maksimal dalam menyampaikan pesan lagu. 

Di bagian kedua, WSO tak sendiri. Mereka berkolaborasi dengan Pusat Oleh Seni Surabaya Orchestra (POSS) dan Tumapel Youth Orchestra Malang. Komposisi yang dipilih soundtrack dari animasi Frozen yang sangat familiar. Total ingin menghibur audiens junior di bangku penonton, salah seorang personel WSO berkostum Elsa dan berkeliling di antara audiens, mengajak audiens bernyanyi bersama. 

Foto : instagram @annara24

Seakan mencoba menampilkan nuansa yang berbeda, soundtrack Godzilla menjadi sajian berikutnya. Sebagai penutup, Rek Ayo Rek sebagai lagu tradisional Surabaya dibawakan dengan gaya yang lebih tenang. Namun sayang, justru pilihan aransemennya menghilangkan karakter kuat beat dari Rek Ayo Rek yang kental dengan staccato-staccato yang tegas. Untuk kolaborasi dengan puluhan, bahkan ratusan pemain dalam waktu singkat, penampil bisa dibilang cukup berhasil. 

WSO menunjukkan kualitas yang cukup baik secara keseluruhan. Memilih menampilkan komposisi-komposisi yang sederhana juga bisa menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi untuk pertimbangan kepentingan edukasi dan pendekatan selera audiens, namun di sisi lain orkestra tetap harus bermain maksimal karena audiens mengenal betul apa yang mereka dengar. Sepanjang acara WSO terdengar longgar di beberapa bagian komposisi, serta greget yang kurang tersampaikan. Meski begitu, konsep pendidikan yang digarap WSO sangat kreatif. Berani keluar kotak, dan menampilkan berbagai atraksi yang bersifat menghibur tampaknya menjadi andalan WSO untuk memercik apresiasi audiens terhadap musik, terutama orkestra. Untuk konsep pertunjukan, WSO telah selangkah di depan. Namun di atas itu semua, WSO berani memilih "turun gunung" dan mengambil substansi musik yang sering terlupakan : ada untuk dinikmati semua orang. 



No comments:

Post a Comment