Monday, October 3, 2016

Menapak Musik dengan Usia : 59 Tahun Pertemuan Musik Surabaya

Usia yang panjang tidak membuat Pertemuan Musik Surabaya (PMS) berhenti mengenali diri. Di genap usia ke-59, PMS membagi kegembiraan pada khalayak dengan mengadakan forum diskusi terkait refleksi di peringatan hari lahirnya. Diadakan di Surabaya dan Jakarta, Surabaya sebagai kota kelahirannya mendapat giliran pertama di tanggal 26 September 2016. Bertema "59 Tahun Pertemuan Musik : Mengulik Kepingan Sejarah Musik Indonesia", PMS ingin membawa semangat mengenal lebih dalam sejarah musik Indonesia pada generasi muda. Diikuti oleh sekitar dua puluh anak muda dari berbagai kalangan, diskusi berjalan santai, namun berbobot.




Erie Setiawan (Musikolog), Gema Swaratyagita (Musisi, Komposer), dan Musafir Isfanhari (Pengajar Musik, Musisi, Aktivis Musik) sebagai narasumber membagikan berbagai sudut pandang yang berbeda dengan Pertemuan Musik Surabaya sebagai benang merahnya.

Erie Setiawan, Gema Swaratyagita, Musafir Isfanhari


Sebagai aktivis di Pertemuan Musik Surabaya dan Pertemuan Musik Jakarta, Gema Swaratyagita mendapat tongkat estafet Slamet Abdul Sjukur untuk melanjutkan keberlangsungan perkumpulan ini. Gema memberi materi singkat tentang sejarah berdirinya PMS di tahun 1957 hingga masa istirahatnya di tahun 1980an. Ditinggalkan selama 23 tahun, PMS masih mengibarkan slogannya "Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik" hingga saat ini. PMS terbentuk dengan diawali oleh Slamet Abdul Sjukur dan The Lan Ing sebagai sesama pianis yang baru saja lulus dari sekolah musik di Jogjakarta. Pertemuan itu menghasilkan inisiasi berupa ruang diskusi kecil yang dilakukan dari rumah ke rumah. Roeba'i yang bekerja di Surabaya Post turut berperan dalam menggaungkan kegiatan PMS. Di sela penjelasannya tentang sejarah PMS, Gema juga menunjukkan beberapa gambar dokumen lawas hitam-putih di mana berbagai aktivitas PMS di awal masa berdirinya dilakukan. Yang menarik, gambar-gambar itu diambil dari satu-satunya dokumen cetak yang diwariskan Slamet terkait PMS. Di dalamnya tercantum sedikit-banyak tentang bagaimana PMS berdiri, bahkan juga akhirnya terbentuklah LMI (Lembaga Musik Indonesia) sebagai lembaga pecahan PMS yang bergerak di bidang pendidikan musik.

Suasana diskusi. Foto oleh Adrea Kristiani.


Musafir Isfanhari, yang akrab dipanggil Pak Is, selaku aktivis musik senior di Surabaya menjelaskan tentang kondisi permusikan di Surabaya era tahun 50an, masa ketika PMS sedang memulai aktivitas awalnya. Beliau menyebutkan bahwa saat itu, bahkan mungkin hingga saat ini, musik klasik menjadi suatu hal yang eksklusif. Di mana musik Keroncong, dan Dangdut mendominasi di masyarakat. Sempat menjadi pengisi acara PMS di tahun 70an, Pak Is juga mengingat tentang LMI yang saat itu diakuinya sebagai tonggak sejarah pendidikan musik di Surabaya. Bahkan kurikulum susunan pengurus LMI masih digunakan hingga saat ini oleh Dinas Pendidikan Surabaya. 

Sudut pandang yang dipilih Erie Setiawan berbeda. Ia mengupas identitas PMS sebagai sebuah organisasi. Bahwa PMS merupakan salah satu perkumpulan musik yang berdiri di masa pasca kolonial, yang berhasil meningkatkan derajat musik ke ranah ilmu pengetahuan dan spiritualitas individu dalam pemaknaan tentang musik, melalui acara-acara yang PMS adakan. Di akhir, Erie bahkan memberikan beberapa pertanyaan reflektif tentang seberapa krusial organisasi ini berdiri, dan kemanfaatannya bagi masyarakat hingga saat ini.


Akrab, namun berisi. Foto oleh Adrea Kristiani.

Audiens cukup interaktif dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada narasumber, baik terkait dengan pendidikan musik, referensi maupun masukan untuk PMS. Acara ini pun dihadiri oleh Pramita Dikariani Rosalia yang sempat mengangkat sejarah PMS sebagai bahan penelitian. Ia berperan besar dalam mengumpulkan kepingan sejarah PMS yang terserak di masa lampau.

Seiring dengan usianya yang menjelang 60 tahun, PMS berencana mengadakan pembaruan kembali terhadap kelembagaan dan struktur kepengurusan secara hukum, dan menata kembali program kerja. Kiranya PMS bukan hanya sekadar warisan perkumpulan, namun juga merupakan semangat belajar dan berkarya dengan musik yang tak henti diwariskan lintas generasi.  



No comments:

Post a Comment