Thursday, December 17, 2015

Piano Masterclass dan Diskusi Pedagogi oleh Cicilia Yudha

Membawa musik menjadi bahasan pendidikan menjadikan agenda akhir tahun Pertemuan Musik Surabaya menarik untuk diikuti oleh berbagai pelaku di dunia musik. Masterclass hingga ruang diskusi pedagogi musik dihadirkan ke publik Surabaya di Sekolah Musik Melodia dan Balai Pemuda Surabaya, 10 hingga 11 Desember 2015 lalu

Belajar langsung dengan ahli memang tak ingin begitu saja dilewatkan oleh pianis-pianis muda Surabaya. Selalu berhasil meninggalkan impresi positif, partisipan piano masterclass Cicilia Yudha kali ini diisi oleh seluruhnya perempuan. Berusia antara 11 hingga 25 tahun, mereka unjuk kebolehan dan siap menerima masukan dari sang ahli. Beberapa peserta pasif pun tekun mengikuti jalannya kelas.

Masterclass ini menunjukkan bagaimana Cicilia Yudha piawai, hangat dan interaktif dalam menjalin kedekatan dengan murid-muridnya. Sehabis peserta memainkan komposisi yang mereka ajukan, Cicilia tak luput untuk selalu memberi pujian untuk kelebihan-kelebihan yang mereka miliki.

Peserta pertama, Lim Lisa menghadirkan Trois Nocturne op. 9 No 1 milik Chopin. Cicilia menyarankan padanya untuk merapikan detail-detail not yang dimainkan berurutan agar lebih rata. Di samping itu, Cicilia juga menyarankan cara bermain yang lebih bernyanyi pada komposisi tersebut. Masih senada dengan peserta pertama, Calligenia Tenggara yang masih berusia 15 tahun memilih untuk memainkan Chopin Variation Brillantes Op.12. Kali ini Cicilia memberi masukan pada pengaturan pedal, phrasing, hingga ekspresi, agar lebih berani menampilkan komposisi. Peserta ketiga, Ivana Halingkar lebih baik secara teknik. Cicilia meminta peserta untuk menggali lebih dalam tentang komposisi yang ia mainkan. Kesempurnaan teknik mesti disertai dengan produksi suara piano yang berbeda. Lizst dikenal bermain dengan komposisi yang bernuansa "dingin" ingin dibawa ke permukaan oleh Cicilia melalui tangan peserta. Begitu pun dengan himbauan ekspresi yang lebih sungguh-sungguh dalam berbagai kalimat di komposisi. 

Foto oleh Gema Swaratyagita

Pengalaman Cicilia sebagai pengajar terlihat begitu mendukung jalannya masterclass. Ia kerap menggunakan berbagai perumpamaan gerakan benda atau alam untuk menggambarkan apa yang ingin ia sampaikan. Kevina Tenggara memberi impresi melalui nuansa yang berbeda dari Romanian Folk Dances milik Bartok. Komposisi ini tercipta berdasar inspirasi dari kegiatan sehari-hari orang pedesaan di Hungaria. Komposisi ini menjadi berbeda dan memberi warna baru dalam musik di eranya. Permainan peserta disarankan untuk lebih playful, sesuai dengan karakter komposisi. Gerak tubuh yang alami dan menjiwai akan lebih mendukung untuk produksi bunyi yang diinginkan. Manajemen tempo, memperjelas aksen, hingga menerangkan jeda di antara frase menjadi masukan berikutnya. Masterclass ditutup oleh Liv Clementine De Kweldju dengan komposisi Prokofiev, Prelude Op. 12 No.7. Gadis sebelas tahun ini memiliki kemampuan yang mumpuni. Cicilia memberi masukan secara lebih dalam tentang fisiologis tubuh dan tangan ketika bermain demi kebaikan jangka panjang pianis muda ini. 

Saling berkaitan, diskusi pedagogi musik juga diikuti oleh audiens yang ingin memperdalam tentang bagaimana teknik mengajar musik dengan efektif. Cicilia membagikan pengalaman beserta tips dan solusi untuk mengatasi kendala dalam pengajaran. Ia menegaskan bahwa fondasi dari setiap anak yang mulai belajar bermain musik berada di tangan pengajar. Mengajar di conservatory, membuat Cicilia mengalami banyak pengalaman dalam proses mengajar berbagai karakter anak dengan rentang kemampuan bermusik yang berbeda. Untuk memperluas cakrawala pengajarannya, Cicilia bahkan tidak segan untuk memilih mengajar di sekolah umum dengan kemampuan anak yang cenderung beragam, ketimbang mengajar anak dengan kemampuan bermusik yang telah berada di atas rata-rata bahkan ketika masih di usia muda. Hal mendasar yang mengingatkan kita adalah di Indonesia, kebanyakan orang menilai bahwa musik adalah hiburan, bukan bentuk kebudayaan. Padahal, musik sama saja dengan disiplin ilmu yang lain. Akar permasalahannya berasal dari pertanyaan apakah masyarakat menganggap musik sebagai hiburan, atau sebuah kebutuhan.

Di Amerika Serikat, musik adalah mata pelajaran wajib di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Sementara itu, banyak negara lain yang telah menyadari betapa pentingnya memberikan mata pelajaran musik bagi anak-anak. seperti Hungaria yang memahami bahwa dengan mempelajari musik, siswa akan menjadi lebih cerdas dan sehat. 

"Semua orang tidak menjadi pianis di panggung, namun setidaknya masing-masing mereka mampu menghargai musik."

Sama halnya seperti Matematika, musik adalah salah satu cabang ilmu. Cara kita mengajar adalah refleksi cara kita belajar. Maka dari itu, proses belajar tak bisa begitu saja diremehkan. Bagi Cicilia, bermain musik memang seharusnya berbobot, bukan hanya sekadar main-main saja. Namun, musik tetap merupakan sesuatu yang mesti dinikmati. Tak jarang Cicilia menemukan bakat-bakat di usia muda yang bersinar sangat terang, kemudian menghilang. Dari hal tersebut, perlu disadari bahwa di atas kemampuan bermusik yang sempurna, mestinya ada motivasi bagaimana menumbuhkan ketertarikan yang berkelanjutan. 

"Practice doesn't make perfect, it makes habit."

Cicilia memberikan pemahaman dasar bahwa dalam mengajar, seorang guru mestinya bukan hanya mengajar untuk memainkan piano, namun untuk membiasakan murid displin berlatih meski tanpa pengawasan guru. Perencanaan dalam setiap proses pengajaran juga sangat berperan penting. Mengatasi kejenuhan dari pembelajaran di satu bagian, dapat diakali dengan mengalihkan objek pembelajaran ke lagu lain, namun dengan topik yang sama. Misalnya, murid mengalami kesusahan di bagian triplet di komposisi A dan mengalami jenuh, coba arahkan pada triplet di komposisi B. 

Kejelian untuk mengajar pun diperlukan. Di tiap repertoar ada patokan yang tidak boleh dimainkan sembarangan. Sebelum mengajar, coba bandingkan detail repertoar dengan mengecek edisi yang berbeda. Teknologi adalah salah satu sarana yang memudahkan murid dalam belajar musik. Literatur-literatur musik banyak tersedia di internet. Salah satu trik untuk membangun kepercayaan diri murid adalah dengan mengajaknya tampil bersama guru, atau pemain musik lain agar murid terbiasa untuk bersosialisasi dan menghilangkan kesan bahwa bermain piano adalah kegiatan individual. Guru bukan makhluk sempurna. Lakukan koreksi diri dengan menonton rekaman ketika mengajar untuk perbaikan di masa depan. Rendah hati, terbuka dengan berbagai sudut pandang, juga kreatif adalah syarat yang tak bisa begitu saja ditinggalkan untuk menjadi seorang pengajar musik. 

Menjadi seorang guru dan murid adalah keseharian sebagai manusia. Cicilia membawa semangat yang Slamet Abdul Sjukur tunjukkan. Hingga akhir hidupnya, beliau selalu mencintai hal-hal baru yang membuat semangat belajar dan bertumbuhnya tak pernah padam. 



Untuk rangkaian acara Kaleidoskop Akhir Tahun PMS, 

Nabila Budayana

No comments:

Post a Comment