Thursday, March 12, 2015

Kamisan 4 season 3 : Bahagia

Kadang aku berpikir bahwa alam selalu memunggungiku. Ramalan cuaca selalu berbohong. Tak pernah cukup berarti bagiku. Aku sering berharap sejuk ketika panas luar biasa. Namun aku pun kerap mengutuk hujan yang terlalu lama jatuh. Jangan pernah menggantungkan ekspektasi apapun pada alam. Apalagi, kebahagiaan.

***

Kali itu sudah perdebatan kami yang kesekian. Lagi-lagi ia menuduhku macam-macam. Perselingkuhan, menghamburkan uang tabungan, dan sederet sangkaan lainnya. Sembari berteriak-teriak, barang-barang mulai berterbangan. Awalnya kukira tak akan kena. Beberapa kali pelipisku berdarah, baru kusadari kekuatannya lumayan juga. Aku tak melawan. Ujungnya, dia yang merasa bersalah. Wanita memang sukar ditebak. Tapi seakan tak belajar dari keadaan, kejadian itu selalu berulang.

*** 

Tak lama, segalanya menemui akhir. Sepucuk surat kutemukan sebelum ia pergi. Permintaan terakhir yang tak bisa kuabaikan. Kembang api di upacara pemakaman. Seluruh hadirin menangis, katanya ironis. Namun diam-diam aku tersenyum mengingat obrolan kami jauh sebelum hari ini.

"Mengapa ada kembang api?"
"Karena manusia tidak pernah merasa cukup bahagia dengan dirinya sendiri. Mereka selalu butuh diyakinkan."

Nyatanya keputusanku tidak salah. Keputusan untuk membiarkan ia larut dalam rasa bersalah, dan membantu mengarahkan pistol ke pelipisnya. Aku suami yang bahagia. Alam dan kembang api mengafirmasinya.





No comments:

Post a Comment