Tuesday, April 16, 2013

Dari sebuah bincang-bincang

Seberapa jauh sebuah mimpi?

Apa selebar jarak bumi dan bulan?
Atau mungkin hanya sebentangan benang antar kaleng bekas untuk bermain telepon-teleponan?


Tak ada yang pasti tahu. Bahkan sang pemilik mimpi pun tak juga tahu.
Mereka hanya bersiap, melangkah pelan, berjalan, bahkan berlari menuju impiannya. Kadang juga terseok dan terbentur jatuh. Ada yang terluka, kemudian menangis dan berhenti. Ada yang terus mencoba bangkit, meski masih sesenggukan sesekali. Ada yang dengan gagah menerobos halang rintang, merasa tujuan telah sedekat telunjuk dan ibu jarinya sendiri.

Saat merasa terlalu jauh, mungkin sebaiknya tak menganggap mimpi itu masih jauh di depan sana.
Saat merasa sudah dekat, mungkin sebaiknya tak jemawa dan tetap menjejak kerendahhatian.

Tetapi di atas segalanya, ada Sang Penentu yang bahkan mampu mengubah segala logika jauh-dekat, persepsi paling liar, juga apapun yang mungkin terjadi. Kadang Ia terlihat menyebalkan dan keras kepala. Menguji dengan beban yang terasa tak sanggup terpikul, hingga pemimpi menyerah dan terluka. Namun, Ia juga mampu menjadi menyenangkan dan penuh kejutan. Kadang memberi hadiah kontan untuk sesuatu yang bahkan selama ini tak pernah terbayang pada kepala pemimpi karena dirasa terlalu besar dan muluk saja.


Lalu, masih seberapa jauh mimpimu?

Jangan-jangan saat ini kau telah hidup dalam mimpi itu, tanpa pernah menyadarinya?

 

No comments:

Post a Comment