Pages

Monday, May 13, 2019

Membangun Kebiasaan Membaca Senang dengan Extensive Reading

Membaca untuk kesenangan? Kemungkinan nyaris semua pembaca buku sudah melakukannya. Namun bagaimana dengan Extensive Reading? Mungkin belum banyak yang mengenalnya.

3 Mei 2019, Extensive Reading Foundation (eroundation.org) dan Indonesian Extensive Reading Association (iera-extensivereading.id), organisasi non profit yang bergiat untuk mempromosikan literasi ini menghelat sebuah workshop di perpustakaan UNAIR Surabaya. Acara ini merupakan salah satu rangkaian perjalanan roadshow mereka di Indonesia. Sesi American Corner UNAIR diisi oleh Thomas Robb dan Marc Helgesen yang merupakan petinggi dari Extensive Reading Foundation, serta Christina Lhaksmita dan Francisca Maria Ivone yang mewakili Indonesian Extensive Reading Association.




Serba kebetulan, seorang teman baik yang telah hadir di roadshow ER Foundation di Jakarta menyarankan saya untuk bergabung di workshop Surabaya. Dan, terbukti, banyak yang bisa dipelajari dari workshop ini. Seluruh yang saya sampaikan di bawah adalah rangkuman yang saya tangkap dari materi-materi milik seluruh pembicara pada saat itu, plus dengan penambahan dan pengurangan yang saya sesuaikan dengan konteks bahasan. Saya menggunakan subjek pendidik dan siswa karena workshop ini idealnya ditujukan pada pendidik Bahasa Inggris. Meski, pada dasarnya semua orang dapat menerapkan untuk dirinya maupun orang di sekitarnya. 

***

Secara sederhana, Extensive Reading (ER) adalah kegiatan membaca buku untuk kesenangan untuk bacaan bahasa asing. Meski sesungguhnya, bagi saya, ER masih bisa relevan dalam membangun kebiasaan membaca kita dalam bahasa ibu sekalipun. Membaca tanpa paksaan, di lingkungan yang menyenangkan, tanpa tugas serta tuntutan begitu mencerminkan ER. Menariknya, karena bersifat sangat fun, pembaca atau siswa diharuskan memilih bahan bacaannya sendiri. Berbeda dengan Intensive Reading (IR) yang erat dengan membaca buku pelajaran atau jurnal ilmiah, ER justru disarankan untuk dilakukan di luar ruang kelas. Meski bertolak belakang, Extensive Reading dan Intensive Reading idealnya harus dilakukan seimbang.

Sampai di mana implementasi kebiasaan membaca siswa di Indonesia saat in? Banyak dari kita yang masih berada dalam anggapan bahwa IR lebih utama ketimbang ER. Masih sering kita temui pengajar yang meminta siswanya untuk membaca buku pelajaran di 15 menit sebelum dimulai pelajaran. Padahal, idealnya waktu tersebut dialokasikan untuk membaca buku selain pelajaran. Tugas kita semua menjadi lebih besar : memberi kesadaran dan mengajak para pendidik untuk memahami betapa pentingnya ER bagi siswa.


Thomas Robb yang memberikan perbandingan efek ER dan IR pada siswa


Agar lebih jelas, mari membandingkan IR dan ER. IR sifatnya lebih perlahan, menambah skill, dan menguji fokus. Sedangkan ER bersifat lebih cepat, melancarkan, dan fokus pada kegembiraan membaca. ER identik dengan membaca mudah dan menikmati buku.

Menurut penelitian, ER meningkatkan kemampuan membaca, meningkatkan motivasi, menambah kosa kata, meningkatkan kemampuan mendengar, berbicara, dan mengeja (dalam konteks bacaan bahasa asing) dan sebagainya. Dalam arti, meski terkesan "lebih sederhana", membaca untuk kesenangan ternyata justru meningkatkan kemampuan pembaca dalam banyak hal, bukan hanya menumbuhkan rasa santai dan gembira. Oleh karenanya, sangat disarankan untuk membaca buku yang mudah untuk dinikmati. 

ER is about reading between the lines.

Sifat-sifat bacaan ER antara lain : membaca buku yang mudah, dapat dibaca cepat, tidak terlalu membutuhkan banyak menengok kamus, harus bisa dinikmati, siswa memilih bahan bacaannya sendiri, dan bahan bacaan yang beragam.




Reading is not make pain. Reading is not equal test. Easy is good.



ER cenderung serupa dengan program lain seperti Sustained Silent Reading (SSR), Drop Everthing and Read (DEAR), Free Uninterrupted Reading (FUR) atau Uninterrupted Sustained Silent Reading (USSR) yang sudah diterapkan di berbagai sekolah di berbagai negara.



Mengapa Indonesia masih memiliki budaya membaca yang rendah? 

Salah satunya dikarenakan tahapan proses budaya komunikasi Indonesia yang masih belum utuh. Setelah kita terbiasa dengan budaya lisan seperti bercerita (oral culture), kita belum sempat menjejak "jembatan" reading culture, dan digital culture sudah keburu menyerbu. Ini menjadikan generasi kita belum memiliki kebiasaan membaca yang kuat. Selain itu, Indonesia juga melewatkan fase "learning to read" (bagaimana kita membiasakan, mengolah, bersikap dengan bacaan kita), dan mengharuskan peserta didik untuk langsung melakukan "reading to learn" (membaca untuk mendapatkan informasi terakit studi tertentu). Artinya, kita belum mendalami bagaimana "cara" dan menikmati bacaan, namun langsung diharuskan membaca untuk belajar tentang apa saja. Unsur kebiasaan, kegembiraan, kesukaan belum terpupuk dan langsung dihadapkan pada kewajiban IR yang cenderung formal dan kaku, karena tak ada emosi di dalamnya. Tak salah jika bagi banyak orang, membaca masih dianggap sebagai "keharusan belajar", bukan kegembiraan menikmati dan mendapat ilmu. Meski begitu, sekali lagi, IR bukan merupakan kesalahan. Hanya perlu dilakukan secara seimbang.

Sebagian dari kita juga masih terjebak dalam anggapan bahwa "anak pintar" adalah anak yang jago pada bidang sains dan matematika. Padahal itu bukan tolok ukur satu-satunya. Bukan hanya harus pintar sains dan matematika, namun mereka juga harus pintar dalam membaca. Dalam tataran lingkungan terkecil, yaitu rumah, masih juga ada anggapan bahwa membaca bukan menjadi bagian dari tradisi keluarga. Ini ironis, karena sebagian besar waktu anak berada di rumah dan bersama keluarga yang seharusnya paling berperan untuk mempengaruhi kebiasaannya.

Menjawab anggapan bahwa membaca tidak diharuskan bagi semua orang, ada dua tipe pembaca. Pertama, orang yang suka membaca buku. Kedua, orang yang membaca buku yang salah. Kesimpulannya, sesungguhnya tidak ada orang yang tak suka membaca buku. Mereka hanya perlu menemukan buku yang mereka sukai untuk mulai menyukai membaca.


Sebagian peserta workshop dan 5 finger rule



Apa yang harus diperhatikan seorang pendidik dalam menerapkan ER?
- Pendidik harus menyamakan kedudukan dengan siswa. Menyamakan kedudukan dalam arti menjadi teman bagi siswa sehingga siswa tak segan untuk bercerita atau berdiskusi
- Pilihkan bacaan satu level di bawah kemampuan siswa dalam membaca. Level yang lebih rendah tentu akan lebih sederhana dan mudah yang menghasilkan kecepatan, kelancaran, dan pemahaman.
- Meski santai, hindari membaca dengan terlalu lambat. Akan mengakibatkan kuantitas sedikit, tidak bisa dinikmati, dan tidak bisa dimengerti isi bacaan
- Sarankan siswa untuk memilih bacaan yang mudah. Bagaimana mengetahui bahwa suatu bacaan tergolong mudah? Buku tersebut bertema sesuai dengan kesukaan dan pilihan siswa. Jika buku dalam bahasa asing, gunakan rumus 5 finger rule. Sebuah aturan apabila terdapat 0-1 kata sulit maka bacaan tersebut terlalu mudah, 2-3 kata sulit berarti bacaan yang tepat, 4 kata sulit termasuk bacaan yang patut dicoba, 5 kata atau lebih yang sulit bagi siswa, tandanya buku tersebut terlalu sulit
- Jangan berikan target
- Jika buku tidak tuntas dibaca, tidak masalah. Siswa bisa mencoba buku yang lain
- Berikan kegiatan kolaborasi yang menyenangkan dalam membahas bahan bacaan
- Pendidik harus menjadi contoh. Turut membaca di dalam kelas bersama siswa, menjadi kuncinya
- Jangan haruskan siswa untuk membuat laporan membaca saat itu juga. Ini akan mengurangi kegembiraan membaca
- Beri waktu 1 menit setelah membaca agar menjadi ruang bagi siswa untuk berpikir tentang isi buku, sebelum mengekspresikannya ke dalam pembicaraan 
- Buatlah suasana membaca menyenangkan
- Berikan motivasi-motivasi positif untuk membaca dan tanyakan buku-buku kesukaan siswa
- Coba terapkan dramatic reading, di mana pendidik membacakan sepotong cerita dengan intonasi yang sesuai dan menyenangkan untuk didengar. Ketika dibacakan dengan suasana dramatis, emosi siswa akan terpicu. Emosi sangat baik untuk menciptakan rasa suka pada sesuatu 
- Biasakan melakukan ER. Latihan sangat penting membentuk kebiasaan.
- ER dapat dilakukan di luar kelas
- Lakukan persiapan kegiatan ER yang cukup. Meliputi bahan bacaan, aktivitas yang menggugah, dan lain sebagainya. good preparation, engaging activities.



Dalam praktiknya, pendidik juga memerlukan referensi dan bahan. Beberapa halaman yang dapat mendukung Extensive Reading antara lain : xreading.com, readworks.org, lit2go, librarygenesis.

Rasa senang dalam melakukan sesuatu terbukti menjadi cara baik untuk mengenalkan dan membiasakan seseorang terhadap suatu kegiatan. Membaca, hal yang mendasari perkembangan dan kekayaan jiwa seseorang mestinya juga menjadi salah satunya. Kesadaran yang sama terhadap pentingnya membaca menjadi penting untuk dibangun pada setiap kepala. Karena sejatinya, kita, selalu menjadi pendidik dan pembelajar sepanjang hayat.








Monday, April 1, 2019

Semangat Kolaborasi Worldship Orchestra

Semangat memberikan edukasi musik kembali dihadirkan oleh Worldship Orchestra asal Jepang. Beberapa kali mengunjungi Surabaya sebelumnya, WSO kali ini memilih 17 Maret 2019 untuk kembali menyapa publik Surabaya. Bersama Penakita Foundation, kali ini WSO seakan ingin lebih mendekatkan  pada misi edukasinya, dengan memilih untuk tampil di Hall Nation Star Academy, sebuah sekolah di Surabaya Timur. Mengambil tajuk Worldship Orchestra Friendship Concert 2019, WSO mengutamakan kemeriahan dan kegembiraan malam itu. 



Pertunjukan kali ini dibuka oleh grup Kulintang dan Angklung dari siswa-siswi NSA. Bukan hanya membawakan lagu-lagu daerah seperti Yamko Rambe Yamko yang memberikan nuansa gempita di telinga audiens, grup ini juga memberi greget dengan menyajikan dinamika yang berbeda dengan bentuk aransemen lain pada lagu yang sama. Menariknya, di sesi ini personel WSO turut ambil bagian. Dengan latihan yang singkat dan semangat bertukar budaya, personel WSO tampil sangat baik. Selain menyajikan nuansa budaya, grup Kulintang juga menghadirkan "Flashlight" milik Jessie J yang membuktikan kemampuan alat musik ini sanggup untuk melebur dengan budaya luar. 

WSO diisi oleh 40 orang personel yang terdiri dari musisi-musisi profesional yang berkeliling ke negara-negara di Asia Tenggara seperti Kamboja, Filipina, dan Indonesia secara rutin. WSO masih mengusung misi yang sama, yaitu mengenalkan musik klasik pada publik. Meski bersifat sangat santai, namun penampil tak alpa membuka pertunjukan dengan lagu kebangsaan Indonesia dan Jepang.

Masih mengusung konsep yang kurang lebih serupa dengan pertunjukan sebelumnya, WSO menghadirkan nuansa kereta api dengan derap-derap yang penuh semangat. Komposisi Winds and Percussions dari Orient Express dihadirkan sebagai pengantar pada audiens tentang eksplorasi berbagai instrumen yang ada pada orchestra. Perkusi dan woodwind mengambil peran menghadirkan deru kereta. Nuansa itu semakin lengkap dengan bunyi peluit. Seperti biasa, WSO tak melupakan sisi hiburan yang total untuk audiens. Ketika komposisi dimainkan, salah seorang personel hadir dengan kostum masinis. Tak dibiarkan sia-sia, sekelompok personel lain pun berkeliling ruangan dengan berbaris, seakan membentuk konfigurasi kereta api. Background musik dan upaya persuasi yang menghibur menjadikan audiens merasa sedang diajak bergembira dengan menumpang kereta api. Sebagai pembuka, komposisi ini cukup menghibur dan catchy.

Pengenalan instrumen tak berhenti sampai di situ. WSO menggaet audiens dengan komposisi sederhana Twinkle-Twinkle Little Star. Semua instrumen mendapat giliran untuk diperkenalkan, mulai woodwind, percussion, hingga string instruments. Masing-masing mengambil melodi secara bergantian untuk memberi gambaran pada audiens tentang karakter instrumen.

Audiens diajak untuk menikmati suasana tango kemudian. Solois Saxophone dari WSO mengambil panggung dengan menyajikan Four Pictures from New York. Power Saxophone terasa kurang dominan dibanding orchestra di komposisi ini. Dibuka dengan not-not rapat dan menghentak, dinamika diajak meningkat secara cepat. Perlahan, tension diturunkan ke nuansa ballad dan grande. Meski dinamika naik turun, namun kerjasama antara orchestra dan solois dapat menjadi sebuah paduan yang hebat ketika saxophone dapat lebih rapi, sehingga artikulasi pun dapat dirasakan dengan jelas oleh audiens.

"West Side Story" medley menjadi sajian berikutnya. Nuansa broadway yang ringan, lincah, dan menyenangkan di awal membawa audiens seakan berjalan di sebuah kota di New York. WSO cukup baik menyajikannya dengan dinamika yang tergarap baik. Komposisi yang cukup panjang ini sengaja diulik semi teatrikal oleh WSO dengan menghadirkan talent sepasang laki-laki dan perempuan muda yang berakting tentang kisah mereka, sesuai konsep Leonard Bernstein yang terinspirasi oleh kisah Romeo dan Juliet ketika menciptakan komposisi ini. WSO berani mengambil risiko menyajikan adegan semi teatrikal yang justru dapat mengambil fokus utama dari penonton. Namun audiens sangat terhibur dengan konsep tersebut. Kembali pada fokus WSO untuk mengenalkan musik dengan cara menyenangkan, tak heran tiba-tiba di komposisi ini conductor turun panggung dan berkeliling ke antara sela-sela bangku penonton. Trik ini sukses menghilangkan jarak antara penampil dan audiens. 

Menginjak sesi kedua, WSO berkolaborasi dengan Amadeus Orchestra membawakan potongan dari "Eine Ideine Nachtmusik" milik Mozart yang tersohor. Dibuka dengan melodi yang sangat familiar bagi audiens, komposisi ini dihadirkan dengan agak berbeda dengan memotong dan memainkan dinamika ekstrim untuk menggiring audiens pada nuansa edukasi. Conductor diperkenalkan dan didemokan apa saja tugasnya. Mengambil sudut interaktif, beberapa audiens diajak untuk mencoba mengemban tugas conductor. Tentu pengalaman itu menjadi hal yang tak terlupakan bagi audiens.

Dokumentasi : Amadeus Enterprise

"Pomp and Circumstance no.1" karya Sir Edward Elgar tentang kelulusan dipilih menjadi sajian berikutnya. Dibuka dengan derap-derap rumitnya nuansa mars yang akrab dengan ketegasan dan hentakan, disusul dengan ketenangan yang megah bisa diatasi dengan baik oleh WSO. 

Sebelum membawakan "Symphony No.3 Organ" milik Saint Saens, orchestra sempat mengalami kendala sesaat pada salah satu section, sehingga audiens harus menunggu beberapa saat sebelum komposisi dimainkan. Dengan rendah hati, conductor membungkukkan badan, memohon maaf pada audiens terkait kendala tersebut. Not-not yang rapat dan rumit menjadi tantangan meski legato terjalin sepanjang komposisi. Sahut-sahutan antara organ dan strings harus terjalin mulus. Materi tematik yang ada pada komposisi ini, serta nuansa yang cenderung datar membuat komposisi ini menantang fokus audiens. Berkisar pada addagio, allegro, hingga presto karya ini banyak memainkan tempo sebagai daya tarik.


Seluruh pertunjukan ditutup dengan semangat kebersamaan melaluin kolaborasi WSO, Amadeus Orchestra, serta NSA  junior orchestra yang membawakan "Lihatlah Lebih Dekat", sebuah komposisi popular di tahun 90-an dari film "Petualangan Sherina". Nico Allan dan Patrisna May Widuri menjadi arranger untuk komposisi ini. 

Lepas dari konsepnya yang masih serupa seperti pertunjukan sebelumnya, melalui panggung kali ini, WSO masih konsisten menunjukkan misinya untuk memberikan edukasi pada publik Surabaya. Membawa musik sebagai jembatan kegembiraan bersama antara penampil dan audiens selalu menjadi ciri khas mereka. Semangat kolaborasi dan bertukar budaya dari WSO tampaknya akan selalu dinanti dan berhasil menularkan hal positif pada bakat-bakat musik muda di Surabaya.



Saturday, October 27, 2018

Bahasa, Bangsa, Berita : Diskusi Bahasa Indonesia & Bahasa Koran Jawa Pos

Banyak yang menarik dari diskusi "Bahasa Indonesia dan Bahasa Koran" yang diadakan Jawa Pos Senin 22 Oktober 2018 lalu. Graha Pena Surabaya disinggahi Remy Silado (Munsyi), Ivan Lanin (wikipediawan), Edi Mulyono (Pemilik Penerbit Divapress), dan Andri Teguh Priyantoro (Kepala penyelaras bahasa Jawa Pos). Masing-masing memberikan paparan yang perlu disimak.





Lebih dari sekadar penyampai berita, Andri mengungkap tentang pentingnya peran media yang dikonsumsi publik sebagai penjaga bahasa. Tak sekadar fokus meninjau penggunaan bahasa yang baik dan benar, namun profesinya dituntut untuk jeli menangkap kata-kata baru yang komunikatif dan populer di masyarakat. Jawa Pos menjaga keseimbangan antara idealisme dan pola konsumsi publik. Bahasa yang JP gunakan tidak bisa terlalu formal, namun juga tak mungkin terlalu santai. Redaksi mengerjakan serius hal tersebut dengan terus mengupayakan peningkatan kualitas untuk menjaga kaidah bahasa, serta menciptakan ruang diskusi dengan ahli agar bahasa yang digunakan bisa diterima masyarakat. Strateginya, wartawan JP mencatat apa saja kata yang kerap digunakan masyarakat.

Mikrofon berpindah pada Edi Mulyono. Ia mengungkap jika bahasa selalu berkembang sejalan dengan imajinasi. Oleh karenanya, bahasa tak dapat dibelenggu dengan cara apapun. Namun, publik tetap membutuhkan regulasi dalam berbahasa, dalam hal ini KBBI. Meski begitu makna bahasa harus dikaitkan dengan konteks kalimat maupun kondisi sosial saat itu. Mengingat betapa seringnya salah pemaknaan bahasa menimbulkan kesalahpahaman sosial saat ini. Mengenai polemik bahasa sastra serius atau sastra populer, Edi mengambil garis diplomatis bahwa setiap orang penting mengidentifikasi kebahasaannya sendiri, itulah yang akan menjadi dirinya. Ia mengenang pertemuannya dengan Boy Candra, penulis yang sedang digandrungi remaja. Di sela obrolan mereka, Boy mengatakan bahwa ia sengaja menulis buku dengan bahasa populer untuk memberi bacaan pada anak-anak muda yang belum bisa membaca karya sastra "serius". Setiap bahasa punya konsensus, punya kehidupannya sendiri. 

Ivan Lanin urun rembuk tentang perbedaan pendapat tentang kaidah dengan mencontohkan perdebatan pengunaan "subjek" atau "subyek". Pada akhirnya masing-masing bergantung pada penutur. Melampaui perbedaan, sedikit mengulik sejarah, Bahasa Indonesia muncul karena aspek politik. Rasa nasionalisme lah yang memunculkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.  Saat ini Papua memiliki keberagaman bahasa daerah paling banyak, sehingga Bahasa Indonesia justru lebih banyak digunakan di sana karena menjadi bahasa pemersatu. Menurut Ivan, kita sedang berada di kondisi diglosia di mana banyak perbedaan kaidah Bahasa Indonesa dengan bahasa untuk bercakap-cakap dalam keseharian. Bahasa juga lahir dari budaya. Misalnya saja, mengapa Bahasa Indonesia tak menggunakan perbedaan berdasarkan waktu. Candaan Ivan, waktu tak begitu penting bagi orang Indonesia.

Remy Silado, sang munsyi hadir sebagai pemapar terakhir yang membuat kejutan pada diskusi. Di awal ia membuka dengan gamblang tentang ketidaksetujuannya pada pemateri-pemateri sebelumnya. Remy menganggap bahasa mestinya dijadikan hidup. Ia tak setuju jika bahasa yang sedang populer di kalangan anak muda saat ini dianggap tidak sesuai kaidah. Baginya itu menunjukkan nuansa bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa mode. Dalam arti, bahasa itu sekadar dianggap menjadi bahasa yang sedang tren, kemudian tak berarti. Lebih jauh, Remy kemudian banyak mengungkap contoh-contoh kata yang penyerapannya ia nilai tidak tepat. Semua bermula dari tahun 1733 di mana Melchior Leijdecker mentranslasi huruf Arab gundul menjadi melayu. Menurut Remy, sebuah hal yang aneh jika kita mengaku sebagai bangsa yang orisinal, karena sesungguhnya nyaris semua kata dalam keseharian kita adalah produk akulturasi, serapan dari bahasa asing. Bahkan dalam teks proklamasi pun, nyaris tak ada kata yang berasal dari bahasa melayu. Bagaimana dengan masa modern ini? Ekstrimnya, tak ada satu pun dari barang yang kita kenakan di badan mulai kepala hingga kaki, berasal dari bahasa melayu. 

Mendapati pertanyaan tentang bagaimana bahasa menyesuaikan dengan perubahan yang begitu cepat di segala lini, Ivan Lanin menyatakan bahwa bahasa terus bergerak dinamis mengikuti kecepatan perubahan. Perbaruan KBBI yang dulu 5 tahun sekali, saat ini telah diperbarui 2 kali dalam setahun melalui KBBI daring. Begitu pun dengan tesaurus. Ia menegaskan bahwa makna kata harus dipertajam dan terdokumentasi. Jika pembaruan kosa kata berhenti, maka budaya manusia juga berhenti.  




Remy setuju dengan menanggapi bahwa badan bahasa harus terus mencatat dengan tekun untuk memperbarui KBBI. Mengingat begitu tertinggalnya kita dalam memperlakukan bahasa, salah satunya upaya dokumentasi. Ironisnya, Brunei yang secara luas wilayah dan jumlah penduduk jauh lebih kecil memiliki kamus yang jauh lebih tebal dibanding KBBI. Salah satu solusinya, KBBI harus terbuka dengan tawaran-tawaran bahasa yang masih belum dianggap baku, namun banyak digunakan. Bahasa itu hidup, kata Remy. Yang menarik, Remy juga mengungkap banyak sekali contoh kata Bahasa Indonesia yang tercipta karena kebetulan. Ia menekankan untuk memperhatikan bukan hanya segi kebahasaannya saja, namun juga sosiologi bahasa. 

Menanggapi pertanyaan salah satu hadirin terkait pendidikan bahasa untuk anak, Ivan menyebutkan bahasa erat hubungannya dengan budaya. Meski begitu, bahasa dan pengajaran perilaku adalah dua hal yang berbeda. Poliglot yang dimiliki banyak orang Indonesia, misalnya, akan berdampak pada perilaku anak. Maka dengan menguasai berbagai macam bahasa, anak akan belajar berbagai macam budaya. Sebagai seseorang yang bergelut di bidang bahasa, Ivan Lanin memaparkan bahwa suatu kata bisa masuk ke dalam KBBI dengan syarat antara lain frekuensi penggunaan yang sering, namun bukan musiman. Kata tersebut juga harus melambangkan suatu konsep yang unik. Jika dalam kamus sudah ada kata yang bisa menggambarkan secara persis makna yang sama, kata tersebut perlu dirundingkan kembali untuk masuk dalam KBBI. Pertimbangan berikutnya, apakah kata tersebut seturut dengan kaidah Bahasa Indonesia. Lazim atau tidak, sesuai atau tidak dengan kaidah. 

***

Diskusi itu menjadi ruang menarik yang masih membuka lebar diskusi-diskusi panjang lainnya. Lepas dari mendebatkan perbedaan yang menuntut benar-salah, sepatutnya manusia menyadari, memperlakukan, dan memaknai bahasa lebih dalam sebagai bagian penting dari kehidupan.   


"Language is magical ability that humans have." - Lara Boroditsky. 

Monday, October 1, 2018

Kekayaan Bunyi Negeri : Temu Musik Skena Nusantara 6.1

"Satu pesan saya, PMS (Pertemuan Musik Surabaya) jangan mati."

Gema Swaratyagita mengenang pesan dan jiwa besar Slamet Abdul Sjukur, salah satu pendiri Pertemuan Musik 61 tahun lalu. Sebuah perjalanan yang patut disyukuri karena tetap dapat melalui waktu, dan berkembang melampaui jarak.

***

Sebuah perjalanan panjang dimaknai dengan mendalam oleh PM (Pertemuan Musik). Komunitas musik yang telah terbangun sejak 61 tahun lalu ini melahirkan kembali nilai-nilai kebersamaan, pemaknaan, serta dedikasi terhadap musik. Memilih mengambil tema nusantara, PM ingin  mengingat kembali kekayaan bunyi dari negeri ini, sesuai dengan akar PM yang mengusung semangat nasionalis di awal berdirinya. Di samping, musik nusantara masih belum begitu mendapat ruang dan tepukan apresiasi di negeri sendiri.



PM mewujudkannya bukan hanya melalui pagelaran, namun juga lokakarya serta seleksi komposisi. Diselenggarakan di waktu yang berdekatan, tiga kota menjadi tuan rumah bagi perayaan PM. Publik Jakarta, Surabaya, dan Pekanbaru mendapat kesempatan mengikuti rangkaian acara. Lembar ke-23 dan 24 dari bulan September 2018 menjadi giliran Surabaya untuk melakukan lokakarya vokal dengan Ubiet Raseuki serta pementasan. Di sisi lain, seleksi karya disambut antusias oleh 49 karya dari berbagai komponis muda seluruh tanah air yang berujung 6 karya terpilih ditampilkan di Pekanbaru, 3 karya di Jakarta, dan 3 karya di Surabaya. Penampil panggung Surabaya berasal dari Solo, Pontianak serta Jombang. Karya-karya tersebut telah melewati tahapan seleksi dari Diecky K. Indrapradja, Ubiet Raseuki, Marisa Sharon Hartanto, Aristofani Fahmi, dan Lawe Samagaha. Dewan kurator menyorot berbagai aspek teknis kompositoris antara lain konsistensi dalam mengembangkan ide karya dengan konstruksi yang mumpuni.

Panggung Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya di hari pertunjukan dibuka oleh tampilan "Dua' Pasang" dari kelompok musik Lawang asal Pontianak. Terdiri dari enam personel Arsiko Gunawan, Ardy Prastiawan, Rama Anggara, Angga Khasbullah, Zacky Ricky Vitaqqie serta Octaviandri, mereka tampil kompak mengenakan pakaian koko. Musik Lawang begitu kental dengan nuansa musik religi hadrah, pun sarat muatan keagamaan Islam dan pesan moral dalam hidup. Menggunakan alat musik Tar khas Pontianak ditemani cello, violin, contrabass, selodang, gong ageng, selang, rebana, enam kompang, dan suara manusia. Dibuka dengan desisan bersama dari suara pemain, nuansa hadrah langsung terasa ketika senar dipetik dan seketika menggaungkan nuansa timur tengah beserta tabuhan dari kompang. Sebagai penegasan, Lawang juga menyanyikan lirik yang berisi pesan keagamaan dan kemanusiaan. Bukan hanya memainkan dengan gaya yang "biasa", Lawang tampak ingin mengeksplorasi bunyi instrumen seluas mungkin baik dengan tepukan tangan hingga bunyi gesekan permukaan rebana. Meski memadukan banyak elemen bunyi, Lawang tak lupa bermain dengan dinamika. 

Lawang
Credit : Dokumentasi Pertemuan Musik


String Quartet asal Universitas Negeri Surabaya : Harpang Subuh, Tommy Agung, Rendra dan Wildany membawakan karya komponis Jombang, Candra Bangun Setiawan berjudul "Gaman". Keempat pemain menampilkan gesekan-gesekan yang berbeda dari biasanya. Mereka menghadirkan gesekan yang fals, melengking, membuat kuduk berdiri dan gatal di telinga audiens. Namun komponis tampaknya tak membiarkan pertunjukan monoton. Pemain mengeksplorasi penuh instrumen mereka dengan memukul, menggesek, memetik. Komponis seakan tak membiarkan audiens memenuhi ekspektasinya akan penampilan string quartet yang biasa. 


String Quartet
Credit : Dokumentasi Pertemuan Musik

Panggung kemudian diisi dengan penampilan dari peserta hasil lokakarya bersama Ubiet Raseuki. Sebelas vokalis menampilkan suara khas dari berbagai daerah di Indonesia. Karya yang mereka tampilkan, Tamasya Suara Nusantara merupakan hasil dari enam jam lokakarya di hari sebelumnya. Dalam lokakarya, peserta terlebih dulu diperdengarkan nyanyian dari berbagai daerah di Nusantara. Dari proses itu, peserta mencoba menyanyikan dan merangkainya. Beberapa hal yang ditekankan Ubiet sebagai mentor antara lain adalah warna suara, dan ornamen nada. Hasilnya, malam itu Ubiet bersama peserta tampil menarik bukan hanya dalam harmoni kelompok, namun juga berhasil menyampaikan interpretasi nyanyian Nusantara sesuai dengan ciri dasar vokal mereka masing-masing. Audiens diberikan berbagai tawaran produksi suara yang kental dengan nuansa lokal, seperti Bali dan suara dari timur negeri. 

Ubiet Raseuki dan Sebelas Peserta Lokakarya
Credit : Dokumentasi Pertemuan Musik
Aruhara ciptaan Wahyu Thoyyib, komponis asal Solo tampil sebagai penutup. Dibawakan oleh Nawang Bayuaji, Wahyu Thoyyib, Rohmadin, Didin Tjakra Wibawa, Harun Ismail, serta Hudyan Marshali. Komposisi ini menggambarkan secara musikal kerusuhan dunia. Komponis melakukan eksplorasi laras slendro dan pelog, serta mengembangkan teknik dan pola Genderan dan gaya Sumiati. Terasa kaya dengan warna bunyi, komponis juga menghadirkan lengkingan frekuensi tinggi dari instrumen slompret Ponorogo. Di pembukaan, audiens dikejutkan dengan bunyi tersebut bersama gong yang menciptakan bunyi berat menyusul kemudian. Selama dimainkan, komponis tampak menjadikan hening sebagai bagian penting dari komposisinya. Aruhara terasa tidak menggebu, namun bermakna. Meski instrumen yang digunakan tradisional, Wahyu Thoyyib juga mengeksplorasi rhytm modern. Dinamika terasa dimainkan dengan baik hingga terwujud kematangan yang terlihat dari bagaimana komposisi ini direncanakan dan dibangun sedemikian rupa. 


Wahyu Thoyyib dkk
Credit : Dokumentasi Pertemuan Musik


Layaknya ciri khas Pertemuan Musik biasanya, selalu ada sesi diskusi pasca tampilan. Dipandu Diecky K Indrapradja, muncul kisah-kisah menarik dari penciptaan karya. Seperti Wahyu Thoyyib yang memaparkan bahwa Aruhara menggambarkan substansi dari Serat Kolotido, sebuah karya sastra yang disusun Ronggowarsito. Kedalaman makna hidup yang ada dalam karya sastra ini mengilhami Aruhara, seperti nilai huru-hara, kesedihan, angkara, juga tawaran solusi hidup seperti mawas diri, berserah, dan waspada. Nuansa musik yang begitu kental dengan ciri khas Jawa didasari oleh kehidupan Wahyu yang memang begitu lekat dengan adat suku ini. Detail dan kerapian komposisi juga didasari dengan berbagai riset dan pertimbangan pemilihan instrumen hingga pola pukulan, hingga gendhing yang dilakukan selama satu tahun. Sementara tentang Dua' Pasang, Rama Anggara berkisah jika nama itu diambil dari format jumlah pemain, dan Lawang terbentuk dari satu komunitas seni tari dan musik yang ada di daerahnya. Lain lagi tentang Gaman, Candra terinspirasi dari nama benda sejenis pisau yang digunakan untuk memotong bambu. Ide karya ini timbul dari sifat benda tajam. Candra mendapat pencerahan ketika berada di pandai besi. Ia menangkap banyak bunyi-bunyi yang tak enak didengar, namun hal itu justru membuatnya merasa tertarik untuk menerapkan pada musik yang ia garap. Beberapa tanggapan pun datang dari audiens.


Berjalan 61 tahun, Pertemuan Musik terbukti masih memegang semangat kolaborasi, penyediaan ruang belajar dan tampil pada musisi muda, sekaligus mengedukasi masyarakat agar lebih dalam mengenal dan memaknai musik. Barangkali pendiri PM pun tentu tak menyangka, dedikasi dan semangat mereka masih hidup dan terus bergema di jiwa-jiwa muda, melampaui enam dasawarsa. 

"Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik." 

Saturday, September 8, 2018

Kreatif Berjejaring : Kombet Kreatif Surabaya 2018 [Bagian Akhir]



"If everyone is moving forward together, then success takes care of itself." 
- Henry Ford


Di lembar ketiga workshop Kombet Kreatif : Story Telling persembahan Bekraf dan Tempo Institute, pelaku ekonomi kreatif bukan hanya membahas hal-hal teknis demi kemajuan pribadi dan organisasi, namun diberikan pemaparan tentang pentingnya bergerak bersama dengan menciptakan kolaborasi di antara sesama pelaku kreatif. 

Credit : Surabaya Creative Network

***

Kolaborasi antar pelaku ekonomi kreatif dibutuhkan dalam penciptaan ekosistem yang sehat di industri kreatif. Berjejaring pun bukan hanya sekadar untuk menjalin kerjasama, namun lebih besar lagi, untuk maju bersama. Jika ingin eksosistem kreatif unggul, semua pelaku di dalamnya harus sinergis dan meningkatkan kualitas bersama. Hal itu tak dapat dicapai secara individual, namun dengan kebersamaan. Itulah harapan Hafshoh Mubarak, ketua Surabaya Creative Network untuk para pelaku ekonomi kreatif Surabaya. Surabaya Creative Network merupakan bagian dari ICCN (Indonesia Creative Cities Network), sebuah wadah yang memayungi pelaku ekonomi kreatif di banyak kota di Indonesia. Hafshoh berdialog dengan mendengar problem pelaku UKM, membuka ruang diskusi, bahkan memberi solusi dengan menjembatani beberapa hal. 


Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network



Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network

Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network

Kombet Kreatif juga memfasilitasi dialog antara pelaku ekonomi kreatif dengan pihak Bekraf. Menghadirkan langsung Direktur Hubungan Antar Lembaga Dalam Negeri Bekraf Hassan Abud yang banyak berkisah tentang kiprah Bekraf dalam membuka peluang dan ruang luas bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk berkarya. Bekraf pun peduli dan mengajak interaksi para pelaku ekonomi kreatif dengan mengakses website Bekraf sebagai pusat informasi program-program yang mampu difasilitasi. Hassan memberi gambaran salah satu program yang digagas Bekraf, yaitu Bekraf Satu Pintu untuk pengajuan proposal program dari pelaku kreatif. Hassan menambahkan, pengajuan itu tidak sulit. Namun diperlukan kekuatan gagasan yang menjadi pertimbangan utama Bekraf untuk memfasilitasi program yang diajukan. Hassan juga berpesan agar pengaju mesti detail mengungkap profil, program, dan segala hal lain yang perlu diketahui oleh Bekraf.


Credit : Dokumentasi Tempo Institute

***

Burhan Solihin selaku direktur tempo.co kembali hadir membimbing peserta untuk sesi copy writing. Di kesempatan itu Burhan tak banyak memberikan materi, namun kerap memberi masukan pada hasil tulisan peserta. Beberapa hal yang bisa dicatat adalah bahwa marketing bukan hanya memerlukan kecanggihan menceritakan produk, namun juga menampilkan keunikan produk yang dapat dijadikan senjata agar sebuah produk memiliki konsep yang kuat. Penguatan konsep itu kembali merujuk pada USP (Unique Selling Proposition). Burhan menyarankan penjual untuk mengurai terlebih dahulu USP dari produk, melakukan penguatan konsep, dan berujung melakukan marketing dengan baik, salah satunya dengan copy writing dengan story telling. Ia juga mengingatkan tentang teknik menarik perhatian customer dengan melakukan sharing informasi terlebih dahulu, baru bisa diikuti dengan melakukan hard selling. Asal konten promo bersifat informatif, pembaca akan bertahan tanpa terkesan spamming. Agar post bersifat efektif, Burhan memberikan detail urutan informasi yang bisa disampaikan. Dimulai dengan faktor why, what, how to, hingga call to action. Endri Kurniawati redaktur tempo.co juga memberikan masukan terkait teknis penulisan. Baginya, melakukan promosi di media sosial tak perlu dengan kuantitas kata yang banyak, mengingat pengguna sosial media adalah pembaca yang terburu-buru. Mereka cenderung menyukai tulisan yang singkat, cair, namun mengena. Tip praktis lain yang diungkapnya antara lain tentang kebuntuan menulis. Menyikapi agar penjual tak kehabisan ide untuk bercerita tentang produk, penjual tak perlu mengungkapkan semua hal tentang produknya dalam satu post, alih-alih mencicilnya sedikit demi sedikit dari hari ke hari.

Credit : Dokumentasi Tempo Institute
 

***

Tak melulu teori, peserta juga diajak untuk melakukan praktik langsung untuk fotografi produk. Bersama Fadwa, fotografer Tempo Institute, peserta diberi arahan bahwa untuk menghasilkan foto produk yang bagus dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dimiliki. Fadwa memberi penekanan pada pencahayaan, penambahan properti, dan komposisi. Detail produk harus jelas terlihat mengingat calon konsumen akan menilai produk dari gambar yang dihasilkan. Trik sederhana ini diharapkan dapat membantu pelaku UKM untuk lebih representatif dalam menampilkan produknya.

Credit : Surabaya Creative Network

***

Pemberian pendampingan pada pelaku ekonomi kreatif tentu berdampak positif demi menciptakan kemajuan dalam industri. Mengejar ketertinggalan, Indonesia perlu menyambut optimis dan gempita semangat kreasi para pelaku kreatif. Hilir dari kreativitas mestinya bukan hanya mewujud eksistensi dan benefit pribadi, namun kebermanfaatan bagi sesama. Pelaku kreatif akan selalu bergerak dinamis dan mencari ruang untuk mengupayakan berbagai rupa gagasan dan ide dalam menyikapi kebutuhan dunia.

"Three ways of thinking about a problem : inside the box, outside the box, where there is no box."-Thomas L Friedman




*Baca juga Kombet Kreatif bagian pertama dan kedua

Thursday, September 6, 2018

Pendekatan Manusiawi Pelaku Kreatif : Kombet Kreatif Surabaya 2018 [Bagian Kedua]



"We have to teach something unique, so that machine can never catch up with us. Values, believing, independent thinking, teamwork, care for others. These are the soft parts. Knowledge will not teach you that. We have to teach our children art, to make sure humans are different from machines."

Sang petinggi Alibaba, Jack Ma mengucapkannya di World Economic Forum 2018 lalu. Era ini dan masa depan menjadi tantangan kesiapan bagi umat manusia untuk menyongsong gelombang perubahan yang bukan hanya besar, namun juga dinilai terlalu cepat. Bagaimana pelaku ekonomi kreatif mesti menyikapinya?

***


Setelah penekanan pada gambaran tentang UKM dan pemantapan branding di hari pertama, peserta Kombet Kreatif diajak untuk membuka perspektif baru terhadap perubahan besar-besaran pada pola hidup dunia belakangan. Bersama Wimala Djafar, Direktur Associate Planning Lotus H, 40 pelaku ekonomi kreatif Surabaya diajak membuka mata tentang automation yang datang lebih cepat pada dunia dan telah merangsek ke segala bidang. Hal itu memang belum begitu kita rasakan mengingat Indonesia masih begitu tertinggal dari negara lain dari segi automation. Sebagai pembanding, Amerika telah memulainya sejak 1950. Lebih jauh lagi, negeri adidaya itu bukan hanya telah menguasai machine learning, namun juga telah beranjak ke deep learning dewasa ini. Deep learning dalam hal ini berarti kondisi di mana mesin sudah mampu menduplikasi emosi manusia. Wimala memberi gambaran dengan memutarkan sebuah video iklan yang meraih berbagai penghargaan. Sekilas, tak ada yang berbeda dengan video yang menampilkan sisi-sisi manusiawi itu. Nyatanya, video itu dibuat dengan mengandalkan tenaga mesin. Mesin mengumpulkan data tentang variabel apa saja yang dimiliki oleh video-video yang telah meraih banyak penghargaan. Data itu kemudian disatukan dan diterapkan pada sebuah video baru yang berhasil menarik perhatian khalayak.  


Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network

Lantas, di mana sesungguhnya posisi manusia saat ini? Wimala menegaskan bahwa manusia tetap menjadi kunci dalam penciptaan karya, "A human inspired work, not a digital inspired work." Manusia tetap menjadi sumber kreativitas orisinal yang tidak akan pernah tergantikan oleh mesin. Bahwa value sebagai manusia mestinya bukan pada melakukan hal-hal yang rutin dan berulang, namun untuk melakukan sesuatu yang unpredictable. Oleh karenanya, pendekatan-pendekatan manusiawi pun penting diterapkan pelaku ekonomi kreatif. Penjual harus mengubah perspektif dengan tidak melihat konsumen sebagai konsumen, justru sebagai manusia. Konsumen erat dengan ekonomi sentris, sedangkan seorang manusia akan dekat dengan hal-hal yang humanis. Darinya, kita sebagai penjual tak semestinya berhenti pada orientasi menjual barang, namun juga menjadi seorang manusia yang mempertimbangkan ambisi, impian, kebiasaan, keinginan, ketakutan, bahkan perilaku digital agar menyentuh level humanis dari konsumen. Lebih mendalam, iklan yang baik bagi Wimala adalah sebuah iklan yang bukan hanya memberi solusi, namun juga mampu mengubah behavior manusia menjadi lebih baik. 




Rumus menaikkan tingkat kreativitas kita adalah hasil penjumlahan dari human insight dengan utilize machines. Human insight-lah yang berperan paling penting sebagai sumber konsep dan mengendalikan semua faktor. Human insight yang menarik didapatkan dengan banyak mengamati dan mengasah kepekaan terhadap berbagai perilaku manusia. Wimala tak membiarkan presentasinya kering. Ia kerap menyajikan contoh-contoh iklan menarik. Misalnya saja video yang menampilkan sebuah aquarium di Jepang yang kehilangan pengunjung. Dengan kreatif, terciptalah sebuah aplikasi motion capture yang memungkinkan calon pengunjung untuk dipandu kawanan penguin yang terlihat dari layar ponselnya menuju aquarium. Trik ini memanfaatkan insight kebiasaan manusia yang secara naluriah senang mengejar hewan-hewan lucu. Ide kreatif itu terbukti berhasil mengembalikan pengunjung untuk kembali bertandang ke aquarium. Pesan kuatnya, "We have to think what the other people can not think." Kekuatan cara promosi tersebut ada pada diferensiasi dan pengupayaan maksimal untuk mendekati berbagai emosi dan keinginan pelanggan. Sebuah iklan yang baik bukan yang menampilkan merek sebanyak mungkin, namun yang dapat memiliki kedekatan emosi dengan konsumen. Cara itu dapat ditempuh dengan memahami bagaimana isi kepala konsumen dan menembusnya. Ditanya, mana yang lebih baik, hard selling atau soft selling, Wimala menjawab bijak bahwa penjual mesti pintar membaca kondisi tentang urgensi penjualan produknya. Hard selling bersifat short term, soft selling akan bersifat long term karena memiliki koneksi emosi dengan konsumen. Berjalan dua arah, peserta juga melakukan diskusi kelompok dan presentasi tentang perencanaan konten promosi yang bertumpu pada human insight.

Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network


Perubahan dunia menjadi dua sisi mata pisau. Di satu sisi ia terkesan "membahayakan", di sisi berbeda ia dapat menjadi tantangan bagi pegiat kreatif untuk terus berinovasi. 
 
***


Burhan Solihin kembali membagi materi pada peserta. Menyadari bahwa usaha adalah perkara bertahan, ia mengungkap beberapa kesalahan fatal pengusaha muda di awal proses. Antara lain melakukan tindakan tanpa pertimbangan, terlalu mudah percaya, asal mengikuti tren, ingin cepat sukses, dan buta keuangan usaha. Fakta mengatakan, sebagian besar start-up gagal karena tidak ada yang membutuhkan produknya. Hal itu terjadi karena penjual yang kerap kurang peka terhadap kebutuhan pasar. Mindset penjual kerap terbalik. Seperti orientasi untuk mencari customer dari produk, bukan menghadirkan produk yang dibutuhkan customer. Orientasi itu dapat selalu dibenahi dengan mengubah perspektif dari sisi konsumen. Penjual mesti mengerti apa yang disukai konsumen dan menyediakan sesuai kemampuan. Mengikuti dinamisnya perubahan dunia, penjual mestinya juga tak takut untuk mengubah haluan jika dibutuhkan. 




Diferensiasi begitu penting dalam menghadapi persaingan pasar. Burhan memetakannya dengan USP (Unique Selling Proposition), sebuah bagan variabel yang menentukan keunikan produk. USP meliputi proses, bahan, ekslusif, daerah, fungsi produk, harga, servis, serta kualitas. Burhan menegaskan, bahwa sebuah produk mestinya kuat setidaknya di beberapa komponen dari USP. Produk yang unik akan percuma tanpa teknik pemasaran yang memadai. Untuk itu, penjual mesti memahami bahwa content marketing memiliki tiga hal yang membangunnya. Value, community, dan authority. Setiap produk harus memiliki value untuk meningkatkan brand image di mata konsumen, serta dipercaya oleh banyak orang serta pihak yang memiliki authority di mata publik. Memanfaatkan hal-hal yang sedang viral pun terbukti ampuh untuk membuat sebuah promosi yang menarik perhatian khalayak. Pelanggan selalu butuh diyakinkan. Penambahan pemberian testimoni, dan penambahan unsur kelangkaan akan menarik pembeli untuk segera melakukan transaksi. 

Di akhir sesi, peserta ditantang untuk praktik copy writing langsung pada produk masing-masing. Sesi ini dibimbing langsung oleh Burhan dan Endri Kurniawati. Masukan-masukan banyak diberikan baik tentang keluwesan, penambahan kalimat persuasif, hingga keefektifan informasi. 


Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network

"Human think in stories rather than in facts, numbers, or equations, and the simpler story, the better."  -Yuval Noah Harari

***


*baca juga Kombet Kreatif bagian pertama di sini

Tuesday, September 4, 2018

Sinergi Pelaku Ekonomi Kreatif : Kombet Kreatif Surabaya 2018 [Bagian Pertama]



Philip Pullman, seorang penulis fiksi kenamaan dunia pernah mengatakan, 

"After nourishment, shelter and companionship, stories are the thing we need most in the world."


Manusia pada dasarnya menyukai cerita. Kita terbiasa bercerita dan mendengar cerita tentang apa saja. Pendekatan manusiawi itu tampaknya makin dilirik belakangan. Termasuk pada teknik pemasaran produk. 

***

Badan Ekonomi Kreatif bersama Tempo Institute menyeleksi dan menemui ratusan pelaku ekonomi kreatif di 12 kota. Padang, Surabaya, Bandung Barat, Bojonegoro, Malang, Singkawang, Kendari, Karangasem, Maumere, Kupang, Belu, dan Merauke. Menamakan programnya dengan Kombet Kreatif 2018, Bekraf ingin menciptakan iklim kolaborasi di antara pelaku ekonomi kreatif, serta memberikan pelatihan mendasar tentang bagaimana menyampaikan produk yang dimiliki dengan baik. Story telling produk dinilai penting bagi peserta, mengingat saat ini era penjualan telah bergeser ke media digital yang tentu membutuhkan kecakapan bercerita.



Surabaya yang difasilitasi oleh Surabaya Creative Network menjadi kota kedua yang disinggahi tim Bekraf dan Tempo Institute di 31 Agustus-2 September 2018. Dihadiri 40 pelaku UKM berbagai bidang, mulai jasa pembuatan animasi, produk kerajinan daur ulang, pembuatan board game, kelas pendidikan anak, hingga catering makanan sehat. Berlokasi di Satu Atap Co Working Place and Food Station, di hari pertama hadir kreator karakter "Si Juki" Faza Meonk, Burhan Solihin direktur eksekutif tempo.co, serta Endri Kurniawati selaku editor tempo.co. 

Kreatif tak pernah identik dengan hal-hal yang kaku dan rutin. Oleh karenanya, acara ini sengaja dikemas santai. Bukan hanya materi satu arah, peserta juga diajak untuk melakukan diskusi kelompok dan dibimbing langsung oleh para pembicara. Hasil diskusi mesti dipresentasikan bersama berdasarkan masukan dari nara sumber.







Burhan Solihin memberikan fakta bahwa Indonesia masih begitu tertinggal dari sisi jumlah pelaku UKM dibanding negara lain. Sebut saja Singapura yang telah lebih maju dengan 7% pelaku UKM dari jumlah total populasi, Malaysia 5%, sedangkan Indonesia baru mencapai 2,5%. Bergerak mengikuti pola konsumsi dunia, Indonesia sedang berproses mengubah pola konsumsi dari konvensional ke digital (transaksi online). Menyadari bahwa UKM mampu menjadi pembuka lapangan kerja, saat ini ekonomi kreatif menjadi salah satu prioritas pemerintah. Ia juga menekankan bahwa lebih daripada sekadar meraup keuntungan, pelaku UKM mestinya memiliki visi untuk menjadi bagian dalam memajukan perekonomian negeri.

Di era disrupsi ini, media digital adalah jalan yang luar biasa untuk melakukan bisnis. Internet mulai menggeser pemain-pemain usaha lama yang tak mau menyesuaikan zaman. Menurut data, lebih dari separuh perusahaan besar dunia mati karena serbuan perubahan di era disrupsi. Perusahaan harus terus menggali value produknya untuk terus berkembang. Salah satu caranya adalah melalui digital marketing yang selalu membutuhkan kemampuan copy writing yang bersifat story telling untuk konsumen. Copy writing dalam hal ini bukan selalu berupa tulisan, namun juga dapat mewujud ke berbagai bentuk media lain. Meski begitu, penjual tak mungkin selalu bertumpu pada kemampuan copy writing, konten produk pun harus tetap berkonsep dan menarik, karena menjual sesuatu berarti juga berarti membangun reputasi. Terkait dengan masalah mana media digital yang paling tepat untuk berpromosi, Burhan menyarankan agar penjual mengenali karakter masing-masing medsos baik dari sisi fitur maupun perilaku mayoritas penggunanya. Dari hal itu, penjual dapat menyesuaikan dengan kebutuhan marketing produk. 

Credit : Instagram @fianda.julyantoro


Bukan hanya membagikan hal yang bersifat teoritis, Burhan yang juga memiliki bisnis kuliner membagikan tip praktis melakukan penawaran di media sosial. Misalnya saja, jika di Facebook, penjual tak bisa hanya sekadar mengunggah posts, namun juga harus selalu ada interaksi antara penjual dan pembeli. "Tanpa interaksi, tidak ada transaksi." Mengerti berbagai tipe konsumen juga penting bagi penjual. Tipe customer dapat dibagi menjadi tiga : cold, warm, hot. Cold berarti tahapan di mana calon konsumen masih meraba produk tanpa merasakan keterikatan apapun. Konsumen akan merasa warm ketika ia sudah mulai mengenal dan tertarik dengan produk. Tahap ini dapat diupayakan dengan sharing tip atau informasi terkait hal-hal yang berhubungan dengan produk. Jika telah melewati tahap itu, konsumen akan tiba pada tahap hot, di mana mereka merasa mantap untuk melakukan transaksi karena telah teryakinkan. Ketiga tahap itu dapat ditempuh dengan soft selling, bukan melulu langsung berjualan dengan hard selling. Burhan menyederhanakannya dengan istilah "Sharing-sharing dahulu, selling-selling kemudian." Pada prinsipnya, konsumen akan bertransaksi ketika benefit yang ia dapatkan lebih besar dari uang yang dikeluarkan. Benefit dapat dibagi menjadi dua : physical benefit dan emotional benefit. Emotional benefit dapat diartikan sebagai keuntungan bagi konsumen yang tak terlihat, semisal memiliki keanggotaan gym agar terlihat sebagai penganut gaya hidup sehat, atau mengikuti kelas workshop menulis agar dapat memilki kemampuan untuk menginspirasi orang lain melalui tulisan. Benefit itu dapat dibangun dan dilekatkan pada produk.

 ***

Faza Meonk mengisi sesinya dengan membagikan kisah perjalanan Si Juki, sebuah karakter komik yang ia ciptakan. Karakter itu tak hanya berhenti sebagai sebuah cerita komik, namun juga merambah ke berbagai media bisnis lain seperti film, merchandise, hingga perusahaan karakter yang dinamai Pionicon. Faza mengakui bahwa ia merangkum kesemuanya sebagai bisnis karakter. Bisnisnya banyak berkembang karena menangkap berbagai potensi di era sosial media. Bisnis karakter bertumpu pada popularitas, sehingga media sosial efektif untuk mengenalkan dan menjadikan karakter dekat dengan konsumen. Faza meyakini bahwa karakter dapat menambah value dari sebuah produk. Meski begitu, ia pun objektif membedakan bahwa tidak semua produk perlu karakter sebagai media marketing. 



Walau minim modal di awal, Faza tetap memutuskan berinvestasi dengan membagikan komik Si Juki gratis selama setahun di media sosial demi membangun kepopuleran Si Juki di mata konsumen. Baginya, awareness konsumen terhadap produk penting untuk diupayakan terlebih dahulu. Pasca karakternya populer, Faza dapat mengembangkan bisnisnya baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan berbagai pihak. Dalam mengembangkan lini bisnis, Faza tak sembarangan. Ia memiliki tim dan budget riset tersendiri untuk membaca perilaku pasar. Ditanya bagaimana menghadapi pesaing yang mirip dengan bisnis Faza, ia menyikapi bahwa pengembangan harus terus dilakukan agar berbeda dengan pelaku bisnis serupa yang lain. 

***


Credit : Instagram @tempo.institute



People don't buy your product, they buy your story. - Seth Godin