Pages

Sunday, August 9, 2015

LPM Stories for Children - GRI Surabaya

Siang itu Punggawa Oost mesti tergusur dari singgasananya.

Di bagian belakang area outdoor Oost Koffie n Thee tersedia sebuah kursi panjang yang biasanya diduduki oleh para punggawa (mas-mas yang membantu pengunjung ketika memesan makanan). Hari Sabtu, 1 Agustus 2015 lalu selama beberapa jam, mas punggawa mesti legawa. Ya, hari itu ruang outdoor Oost ramai oleh audiens yang ingin menghadiri acara kami, Goodreads Indonesia Regional Surabaya. Kursi ruang outdoor Oost nyaris terisi penuh, hingga para Punggawa harus merelakan kursinya ditempati oleh audiens yang hadir.

***

Meski agak terlambat, Goodreads Surabaya ingin turut merayakan Hari Anak Nasional yang jatuh di tanggal 23 Juli 2015 lalu. Mengundang Watiek Ideo, penulis buku anak produktif dan Nindia Nurmayasari, seorang pendongeng, pengajar dan penulis buku anak. Diskusi siang itu berjalan santai. Kami membahas tentang serba-serbi cerita anak. Mulai urgensi, menulis dan mendongeng cerita anak, hingga bagaimana kiprah buku-buku cerita anak di Indonesia.

Acara kali ini menjadi menarik karena hubungan antar kedua pembicara cukup dekat. Memiliki latar belakang pendidikan yang sama, alumni jurusan Psikologi Universitas Airlangga dan sama-sama memiliki ketertarikan khusus pada dunia anak-anak. Secara kebetulan, di acara kali ini mereka mengumumkan tentang adanya proyek menulis buku anak bersama yang sedang digarap. Watiek Ideo dikenal sebagai penulis buku anak produktif. Dalam kurun waktu empat tahun berkarya di industri perbukuan, ia sudah menghasilkan seratus judul buku lebih. Karya-karyanya diterbitkan oleh berbagai penerbit, bahkan telah mendapat apresiasi positif dari Bapak Presiden Joko Widodo dan Ibu Linda Gumelar. Sementara Nindia Nurmayasari adalah seorang pendongeng, penulis buku anak, pengajar creative writing dan konsultan pendidikan anak yang telah cukup lama bergelut dengan profesinya.

Buku-buku anak di Indonesia semakin banyak menempati rak-rak toko buku. Meski tantangan untuk menghadapi buku-buku anak terjemahan yang terus menyerbu, namun penulis buku anak lokal masih terus bergeliat. Tentu saja hal tersebut mesti diimbangi dengan masyarakat yang memahami betapa pentingnya cerita untuk anak-anak, sehingga menjadi konsumen setia buku-buku anak. Watiek Ideo banyak membagikan pengetahuannya akan industri buku anak. Menurutnya, tema Islami masih menjadi tren dunia buku anak Indonesia saat ini. Jika mesti membandingkan buku anak lokal dan luar negeri, tentu berbeda. Menurut Watiek, pasar buku anak Indonesia cenderung menyukai kisah dengan cerita yang menggurui, juga buku anak dengan komposisi teks yang lebih banyak. Pasar untuk early reader pun belum banyak yang menggarap. Meski begitu, Watiek Ideo tidak ingin mengejar momen dan tren. Misalnya ketika sedang ramai isu-isu tertentu di dunia anak, ia tidak akan begitu saja menulis kisah yang berkaitan dengan hal tersebut. Ia lebih suka untuk menuliskan apa yang sedang ia minati.

Bicara tentang karir penulisannya, Watiek Ideo telah mulai menulis sejak SD, dan mulai menulis secara menggebu setelah dirinya memiliki anak dan mendirikan bisnis clothing. Dalam menjalankan bisnisnya, ia dihadapkan dengan ilustrator. Dari sana, ia terpikir untuk berkolaborasi dengan ilustrator untuk menuliskan buku anak dan dikirimkan ke penerbit. Semenjak itu, jalan karirnya terbuka lebar. Di awal karirnya ia juga menapaki proses yang sama. Mengirimkan naskah dan mesti menghadapi berbagai penolakan. Namun karena 'darah' menulis telah mengalir dalam dirinya, kendala apa pun tak membuatnya menyerah. Dengan berbagai liku-liku itu, Watiek mengatakan bahwa pada akhirnya yang dicari penerbit bukan siapa penulisnya, namun apakah karya yang diajukan layak untuk diterbitkan dan dipasarkan. Masing-masing penerbit menetapkan standar yang berbeda dalam menerbitkan naskah buku anak. Cara cerdiknya, Watiek selalu mencaritahu dengan melakukan survey ke toko buku demi mencari tahu buku apa yang sedang digemari dari penerbit tersebut.

Watiek Ideo (paling kanan), Nindia Nurmayasari (tengah), Nabila Budayana 

Buku anak tak bisa lepas begitu saja dari ilustrasi. Berbicara tentang ilustrasi, Watiek mengatakan bahwa masing-masing buku perbandingan banyaknya teks dan ilustrasi berbeda. Tergantung untuk siapa buku tersebut ditujukan. Pembaca awal tentu membutuhkan lebih banyak komposisi gambar daripada tulisan, dan sebagainya. Penyesuaian tersebut wajib menjadi pertimbangan dari penulis sendiri. Dalam berkomunikasi dengan ilustrator, Watiek membuat sebuah tabel yang berisi keterangan cerita dan keterangan gambar. Setelah itu, barulah karya dikerjakan. Namun ternyata, dalam membuat ilustrasi, tak semudah yang dikira. Ilustrator memerlukan waktu hingga tiga bulan untuk satu judul cerita, dimana dalam satu buku terdapat beberapa cerita.

Kompromi terbesar yang mesti Watiek Ideo lakukan dengan penerbit adalah ketika ia mesti membuat komik, karena ada begitu banyak hal yang menjadi komponennya. Dalam membuat cerita, Watiek mengaku ia tak bergantung pada outline. Ide dalam kepalanya telah begitu saja terbentuk, sehingga ia jarang menggunakan 'panduan cerita'. Oleh karena itu penting sekali mengetahui kemana tujuan dari cerita yang ditulis. Watiek memberikan tips untuk penulis pemula bahwa jangan terus membaca ulang naskah dari awal, karena itu akan menghambat proses penulisan. Jika mengalami kebuntuan di tengah jalan, Watiek akan berhenti untuk melakukan hal-hal lain selain menulis. Namun dengan catatan bahwa proses berhenti itu tidak akan terlalu lama. Maksimal satu hari, ia sudah akan kembali menulis. Baginya, penulis harus berhasil memaksa dirinya sendiri untuk kembali menulis. Namun, Watiek tak pernah terlalu kesusahan untuk itu. Ia justru merasakan kejanggalan jika tak menulis. Dalam mendapatkan inspirasi, Watiek juga membaca buku-buku anak luar negeri. Yang menjadi favoritnya adalah Roald Dahl. Ia mengagumi bagaimana Dahl sebagai orang dewasa mampu menulis dengan gaya yang sangat terasa anak-anak. Di masa kecil, Watiek begitu suka membaca buku-buku cerita rakyat Indonesia yang menginspirasi karir menulisnya.

Kak Nindia menjawab tentang bagaimana trik agar cerita tidak membosankan untuk anak-anak. Ia berkata bahwa kunci mendongeng adalah pemilihan cerita yang disukai oleh anak-anak, bagaimana cara penyampaian orang tua ketika membacakan cerita, dan tak kalah pentingnya, memilih momen yang tepat. Misalnya, hindari membacakan cerita ketika anak merasa lelah. Dari sisi psikologis, waktu yang baik adalah di saat sore hari atau menjelang tidur. Berperan sebagai pembaca cerita, orangtua mesti sabar dan telaten, dan jangan terobsesi untuk membacakan buku sebanyak mungkin. Jangan lupa juga untuk memerhatikan ekspresi, gestur, suara, intonasi,di atas semua hal tersebut : rasa gembira dan antusias dalam membacakan cerita. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengurangan porsi menonton televisi atau bermain gadget. Membudayakan membaca daripada menonton akan memiliki dampak lebih positif untuk anak di masa depan. Hal tersebut tentu berkaitan dengan bagaimana menumbuhkan minat baca. Minat baca pada anak tidak serta-merta tumbuh begitu saja, namun mesti didahului oleh teladan orang tua.

Berbeda dengan Watiek Ideo, Nindia Nurmaya memilih untuk 'membalik' proses penulisan cerita anaknya. Buku yang ia tulis adalah hasil dari kumpulan dongeng-dongeng yang ia bacakan di hadapan anak-anak selama ini. Ketika ditanya mengapa ia memilih membukukan dongeng-dongengnya, Nindia menjelaskan bahwa ia memiliki harapan besar untuk menyebarkan ceritanya tanpa batasan tempat. Jika pada saat mendongeng ia hanya mampu membagikan ceritanya kepada beberapa anak, maka dengan buku, kisah-kisahnya akan mampu dinikmati anak-anak lain di mana saja.

Sebagai seorang pendongeng, Nindia pun pernah mendongeng dengan konsep drama boneka. Lalu timbul pertanyaan dari audiens, berapa lama waktu efektif untuk menyajikan drama tersebut? Nindia menjelaskan bahwa durasi waktu sangat bergantung pada usia anak-anak yang menjadi audiens. Jika anak masih berusia lima tahun, drama dapat dilakukan dalam waktu sekitar lima menit. Jika audiens anak sudah berusia lebih dewasa, durasi bisa disesuaikan dengan ditambah. Apakah drama dengan dual bahasa baik untuk disajikan untuk anak? Meski mengutamakan penyajian drama dalam satu bahasa, namun semuanya dikembalikan pada tujuan pembuatan drama tersebut. Jika memang ditujukan agar anak mampu belajar bahasa asing, tentu tidak masalah menyajikan drama dalam dua bahasa.

Acara Stories for Children di harian Jawa Pos


Ketika sesi talkshow berakhir, beberapa anak-anak yang datang mendapat sesi dongeng beberapa menit dari Kak Nindia. Dengan antusias mereka berkumpul di depan dan menyimak dongeng buaya yang tak suka gosok gigi. Sama seperti setiap para penanya dewasa, salah seorang dari anak-anak tersebut mendapatkan hadiah buku dari pembicara untuk dibawa pulang. Mendapatkan keseruan dunia orang tua dan anak menjadi hal baru untuk kami, Goodreads Surabaya. Terima kasih untuk teman-teman GRI Sby yang telah bekerja keras demi acara ini, juga audiens yang telah berkenan hadir dengan antusiasme luar biasa. Terima kasih juga kami kirimkan untuk Watiek Ideo dan Nindia Nurmayasari yang dengan ketulusan hati rela berbagi wawasan dan inspirasi baru. Tentu terima kasih dan jabat tangan erat kami selalu berikan untuk semua pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini : Oost Koffie en Thee, lokasi yang selalu hangat menyambut kehadiran kami, terutama untuk Mbak Ifana, juga Mas Seno selaku owner yang turut sibuk mendokumentasikan acara. Pun untuk Kopdar Surabaya, Event Surabaya, Agenda Kota yang telah membantu meluaskan publikasi kami kepada khalayak. Terima kasih juga untuk Prima Radio Surabaya dan Jawa Pos yang telah meliput jalannya acara. Terutama dan terbesar untuk kawan-kawan Goodreads Indonesia untuk segala dukungan dalam berliterasi.

Sebagian audiens berfoto bersama


Kami tak akan bosan menyambut teman-teman di kegiatan-kegiatan Goodreads Surabaya berikutnya! Sampai bertemu! :)


- Nabila Budayana -

*Dokumentasi acara lebih lengkap dapat diakses di sini 

Sunday, July 5, 2015

Bandung Bondowoso : Buka Bersama Taman Baca Kampung Pemulung Kalisari Damen

Meski rutin mengajak membaca dan belajar adik-adik Taman Baca Kampung Pemulung Kalisari Damen Surabaya setiap Jumat sore, kami (volunteer) tak memiliki rencana untuk berbuka puasa bersama mereka. Bahkan hingga seminggu lalu, ide itu belum tercetus. Bukan karena kami tak ingin melakukannya, tapi lebih karena kami tak memiliki cukup dana untuk melaksanakannya, mengingat jumlah adik-adik yang nyaris menyentuh angka 50 orang. Sampai pada Jumat, 26 Juni 2015 lalu, Putri, salah seorang adik yang datang ke Musholla Annisa dan bertemu kami mengatakan pada saya, "Kak, nggak ada buka bersama?" Saya hanya menjawab, "Semoga."

Saya, Putri (jilbab putih) dan Rohman sedang belajar Bahasa Inggris bersama


Siapa sangka, keinginan Putri terkabul. Beberapa hari kemudian, teman-teman dari Rumah Bahasa Surabaya, Mas Hariadi dan Rahenda yang menyenggol saya untuk mewujudkan acara buka bersama dengan mereka. Saya iseng mengajukan usul tersebut pada teman-teman volunteer taman baca. Murni tanpa ekspektasi apa-apa. Yang terpikir saat itu, jika teman-teman volunteer belum menyetujui, saya juga akan legawa untuk menundanya hingga tahun depan saja. Mengingat akan butuh tenaga dan donasi yang tidak sedikit untuk acara ini. Sedangkan saldo kami untuk taman baca hanya tersisa sekitar sepersepuluh angka pertama dari 6 digit Rupiah. Itu pun rencananya memang akan digunakan untuk kepentingan fasilitas adik-adik setiap Jumat, seperti buku bacaan, kertas, krayon dan sebagainya. 


Ternyata teman-teman volunteer menyambut dengan antusias (padahal sebagian dari mereka justru mahasiswa yang sedang sibuk mempersiapkan UAS). Tanggal sudah ditemukan, 4 Juli 2015, ustadz musholla pun sudah mengiyakan. Tapi kami hanya punya waktu 3 hari menuju hari H! Ini cukup membuat saya panik. Dana kami Rp. 0! 

Kegiatan adik-adik dan kakak-kakak volunteer sembari menunggu waktu buka puasa


Saya pun meminta donasi dari teman-teman volunteer dan Rumah Bahasa. Hasilnya : masih jauh dari cukup bahkan untuk menutup biaya membeli makanan beratnya saja. Blar. Saya putar otak cepat, dan berinisiatif untuk mengirim pesan chatting ke beberapa teman yang saya kira akan sudi membantu untuk pendanaan. Sejujurnya, saya kurang begitu suka untuk BC permohonan donasi. Tapi saya tak punya pilihan lain. Akhirnya nekad saya lakukan juga, sembari harap-harap cemas. 


Tuhan menyayangi adik-adik dengan cara yang luar biasa. Meski tak mem-BC secara membabi-buta, satu per satu chat kesanggupan untuk memberi donasi masuk. Harapan saya diungkit sedikit demi sedikit. Meski belum cukup, saya nekad memesan makanan, memberi DP separuhnya, juga berbelanja untuk keperluan minuman dan ta'jil. Hanya dalam satu malam keperluan terbeli setengahnya.


Alhamdulillah, donasi masih terus masuk, bahkan hingga hari H. Saya dibantu Putri Eka Ardiyanti menghitung pengeluaran dan pemasukan, merencanakan acara, dsb hingga larut pukul sebelas malam. Di hari Jumat sore kami tetap hadir di taman baca untuk rapat final. Tugas sudah dibagi. Saya, Dian dan Nindy belanja keperluan ta'jil dan hadiah yang belum terbeli, serta mengambil pesanan makanan. Ghozi Septiandri , Icha, Winda, Devi saya minta tolong untuk 'jaga kandang', menangani adik-adik yang sudah mulai berdatangan. Sementara teman-teman yang lain mempersiapkan donasinya masing-masing. 

Kakak-kakak volunteer yang hadir 

Meski sebagian besar perempuan, kami cukup tangguh! :)




Sore kemarin, Sabtu 4 Juli 2015, acara berjalan cukup baik. Meski kami nyaris selalu kewalahan untuk menangani sekitar 40 orang adik-adik, tapi kami berusaha maksimal. Sambil menunggu jam buka puasa, beberapa memilih membaca buku, belajar Bahasa Inggris, atau bermain dengan kakak-kakak volunteer. Saat buka puasa pun mereka mendapat 'set komplit' : ta'jil, makanan berbuka puasa, hingga makanan kecil, hadiah dan buku cerita untuk dibawa pulang. Tangan-tangan kecil mereka kewalahan karena mesti membawa barang-barang untuk dibawa pulang. :) Belum lagi karena makanan yang berlebih, kami masih bisa membagi belasan kotak makanan untuk warga sekitar juga.

Membaca, belajar, bermain
Suasana berbuka puasa

Suasana berbuka puasa

Nabila kecil yang kerepotan membawa pulang makanan dan hadiah




Tidak ada ekspektasi dalam benak kami semua bahwa acara akan sebegini meriah. Meski mesti menjelma Bandung Bondowoso yang menyiapkan segalanya dalam satu malam, hasilnya sama sekali tak mengecewakan. Donasi bahkan jauh berlebih dari yang kami harapkan, sehingga adik-adik bisa tersenyum gembira. Rasanya itu tak bisa digantikan oleh apa pun di hati kami. Saya mustahil melakukannya sendiri tanpa bantuan penuh ketulusan dari teman-teman volunteer dan para donatur. Terima kasih untuk kerja kerasnya, teman-teman volunteer : Ghozi, Icha, Devi, Winda, Dian, Ovie, Nindy, Arifah Siti Arifah , Mas Hariadi, dan Rahenda. Terima kasih untuk begitu banyak perhatian dan kesediaan untuk selalu hadir kembali demi adik-adik. Terima kasih untuk para donatur yang tak satu pun ingin disebutkan namanya. Saya tahu kalian membaca post ini. Terima kasih banyak dari hati saya yang terdalam.



Sampai bertemu di kegiatan Taman Baca Kampung Pemulung Kalisari Damen berikutnya! :)






 - Nabila Budayana -

Thursday, June 18, 2015

[Review] Konzertone : Trio Broadway

“Music sounds different to the one who plays it. It is the musician's curse.” 
― Patrick Rothfuss 

Surabaya Symphony Orchestra Conservatory Hall Surabaya, Rabu lalu, 10 juni 2015 sejak pukul 18.30 sudah tampak ramai. Konzertone : Trio Broadway Recital kali itu adalah penyebabnya. Di ruangan dan panggung yang tak terlalu besar, justru menjadikan konser ini bersuasana santai dan akrab. Ketika break, audiens disuguhkan berbagai jenis kudapan manis. Macaroon, fruit cake, mini doughnut, biscuit, dan lain sebagainya disajikan di taman belakang yang memberikan nuansa hangat pada recital kali ini.

Jessica Sudarta, Nikodemus Lukas, Mariska Setiawan ditantang untuk menyanyikan komposisi-komposisi broadway adalah sebuah hal baru. Pihak Konzertone menyebut mereka sebagai Natural Born Entertainers. Muda, berbakat, berprestasi dan memiliki kesempatan besar untuk berkembang. Mengapa broadway menjadi pilihan untuk recital kali ini? Pihak Konzertone menilai bahwa tema broadway mampu menghibur audiens.



Jessica Sudarta, harpist muda produktif yang sedang bersinar ini kembali hadir dengan lagu-lagu broadway. Sempat hadir pertanyaan di kepala saya, mengapa di e-flyer dan invitation foto Chika - nama panggilan Jessica- mengambil porsi paling besar di acara ini. Nyatanya, memang Chika bermain harpa sepanjang program. Baik untuk mengiringi atau pun bermain solo. Kali itu kesempatan pertama saya menyaksikan penampilan sang soprano, Mariska Setiawan. Membalik-balik booklet, saya menemukan prestasi yang dimilikinya cukup mengagumkan. Mulai menjadi soprano Paduan Suara Gita Bahana hingga berkolaborasi dengan Ananda Sukarlan. Ia pun sempat berguru pada Aning Katamsi dan Bernadeta Astari. Melengkapi Chika dan Mariska, tampillah Nikodemus L. Hariono, yang berperan sebagai tenor. Jejak rekam suaranya juga tak bisa dibilang remeh. Ananda Sukarlan, Indra Aziz, Aning Katamsi sempat menjadi mentornya. Ketiga bakat muda ini berkolaborasi di satu panggung, namun bukan untuk komposisi-komposisi klasik, justru berangkat dengan tema broadway.

Beruntunglah saya datang lebih awal. Partner nonton saya kali ini pun tak terlambat. Kami berhasil mendapatkan tempat yang cukup strategis. Baris terdepan untuk penonton. Dua baris di depan kami dikhususkan untuk tamu undangan. Ketika menunggu partner saya datang, seperti biasa, saya langsung menelusuri booklet. Wow, ekspektasi saya tentang komposisi-komposisi klasik yang saya kira akan dimainkan, luruh seketika. Nyaris seluruh komposisi di dalam program merupakan lagu-lagu yang berangkat dari soundtrack film layar lebar. Dan pilihan lagunya cukup familiar di telinga audiens. Pertanyaan dan keheranan kami terjawab oleh pihak Konzertone mengatakan bahwa memang pertunjukan kali ini sengaja disusun ringan dan menghibur. Penonton tidak terikat pada aturan-aturan konser klasik seperti biasa. Bahkan audiens dipersilakan untuk bertepuk tangan maupun bernyanyi bersama ketika komposisi dimainkan.

Di babak pertama, panggung menjadi milik Chika. Bersama harpanya, ia memainkan berbagai komposisi. Namun ada satu kejadian menarik yang melekat di ingatan saya. Meski masih berusia sangat muda, sebagai musisi profesional, Chika menampilkan etika yang cukup mengagumkan. Ketika ia telah siap dengan harpanya, audiens sempat dibuat heran dengan komposisi yang tak segera dimainkan. Alih-alih, Chika hanya tersenyum memandang audiens. Ternyata ia sedang menunggu 'kanvas'nya tersedia. Kanvas musisi yang berupa sunyi masih belum bisa dihadirkan oleh beberapa penonton yang datang terlambat dan meninggalkan ketukan sepatu pada lantai kayu sepanjang perjalanannya menuju kursi di bagian belakang. Dengan tenang, Chika hanya tersenyum dan ketika sunyi sudah ia dapatkan, komposisi dimainkan. Over The Rainbow sebagai pembuka sangat menarik, terutama ketika Chika memainkannya dengan penghayatan yang baik. Melodi lagu ini yang sederhana seringkali berpotensi membuat pemain ingin bervirtuoso dan mempercepat tempo, namun Chika tidak melakukannya. Ia memilih untuk menghadirkan ambience yang tenang dan manis. Saya suka ekspresinya ketika damping di bagian akhir. Menjadi terasa lebih mengena karena ini merupakan lagu favorit saya.




My Favourite Things yang mengemuka melalui The Sound of Music menjadi komposisi pilihan kedua. Komposisi ketiga dan keempat menjadi spesial untuk Chika karena ia mempersembahkan khusus lagu-lagu tersebut untuk kedua orangtuanya, My Way dan Memory. Ketika Memory dimainkan, saya sempatkan untuk mengintip ekspresi dari ibunda Chika, tante Yenny Sudarta yang tersenyum bangga. Saat giliran dimainkannya When You Wish Upon A Star, sesuatu yang berbeda terjadi. Kejutan, ini kali pertama saya melihat Chika dengan konsep permainan yang berbeda. Ia tak hanya bermain harpa, namun juga memainkan harpa dan xylophone bersamaan. Konsep ini agak riskan, dan cukup banyak pertaruhan ekspektasi dari konseptor acara. Konsentrasi untuk memainkan dua alat musik secara bersamaan berpotensi menimbulkan kesalahan. Namun cerdiknya, xylophone dipilih karena relatif mudah dimainkan, meski cukup terkesan repot, namun konsentrasi Chika dalam memainkan harpa tidak terlalu terganggu. Tangan kanannya masih lincah memetik harpa sebagai iringan, sedangkan tangan kirinya sibuk memukul xylophone sebagai melodi dari When You Wish Upon A Star.


Dalam memainkan harpa dan bernyanyi pada Sunrise Sunset, sebuah komposisi dari film Fiddler on The Roof, Chika tampil cukup baik. Bernyanyi dalam program yang sama dengan dua penyanyi profesional tentu bukan hal mudah. Namun, Chika terlihat berani keluar dari zona aman dan berniat menyajikan sesuatu yang baru untuk audiens. Saya memilih memejamkan mata dan merasakannya. Komposisi yang 'minor' ini cukup membuat suasana kelam mengambang di hall conservatory.

Pertunjukan dilanjutkan dengan I Got Rhytm yang jazzy. Sebelum memainkannya, Chika mengatakan bahwa ini adalah lagu jazz pertama yang ia mainkan dengan harpa. Tantangan komposisi ini ada pada pengaturan pedaling dan rhytm yang tentu tidak mudah. Meski sempat sedikit missed, namun Chika tetap tenang dalam mengatasi lagu. Come What May sebagai komposisi terakhir sebelum break, disajikan oleh ketiga penampil. Nikodemus dan Mariska tampak hangat menyapa penonton. Diambil dari drama Shakespeare : Macbeth, komposisi ini disajikan dengan penuh energi. Mariska dan Nikodemus tampak menyenangkan, kompak dan saling mengimbangi. Komposisi yang seharusnya sangat pop ini menjadi terasa klasik di tangan mereka bertiga. Bagian favorit saya tentu klimaks akhir dengan lirik "I will love you until my dying day" dimana Mariska dan Nikodemus sama-sama mengeluarkan virtuosonya.

Babak kedua menjadi lebih semarak. Unexpected Song dan I Dreamed A Dream dinyanyikan oleh Mariska Setiawan dengan iringan harpa Chika. Sebagai pembukaan dari Mariska Setiawan, lagu ini menantang Mariska untuk mengeksplorasi range vokal, baik chest voice maupun head voice. Dengan iringan harpa Chika, lagu ini terdengar syahdu, ekspresi yang ditampilkan Mariska pun tepat. Penampilan Mariska yang menyajikan I Dreamed A Dream adalah salah satu yang paling membekas di kepala saya. Lagu yang begitu pedih ini menceritakan tentang dinamika kehidupan seorang wanita yang sedang berada di titik terendah hidupnya dan dihimpit penderitaan dalam Les Miserables. Mariska rela kembali ke belakang panggung untuk melepas sepatunya. Hebatnya, ia sudah memulai penjiwaannya bahkan ketika belum menaiki panggung. Ekspresinya begitu sedih. Saya duga lagu ini akan berhasil. Tepat. Dinamika dan pesan yang tersampaikan menghasilkan tepuk tangan meriah. Di komposisi itu, Mariska dan Chika tampil sama-sama 'kuat'. 

Seisi Conservatory Hall SSO malam itu kemudian dibawa pada keceriaan baru. Part of Your World dari Little Mermaid. Di komposisi ini Chika bermain dewasa dengan mengikuti dinamika dari Mariska. Karakter Mariska tereksplorasi baik. Saya bahkan cukup merinding di bagian ini. Tapi karena ruang panggung yang masih luas, saya jadi membayangkan seandainya Mariska bisa melakukan sedikit perpindahan atau ekpresi gerak tambahan ke sisi panggung yang lain. Mengingat lagu ini begitu penuh harapan tentang suatu lingkungan dan tempat yang baru. Salah satu komposisi favorit saya di sepanjang program ini. 

Di komposisi I Could Have Dance All Night, Mariska berkespansi ke sisi panggung yang lain. Menuntut tempo yang agak cepat, Mariska menyampaikan lagu ini dengan modern dan dinamis. Alih-alih terlalu terpaku pada unjuk virtuoso, Mariska memilih untuk menikmati lagu dan menyajikan dengan karakternya sendiri. Phrasing di lagu ini pun dilakukan mulus. Ditutup dengan klimaks pertunjukan head voice di akhir, komposisi lincah ini tersampaikan baik. Di bagian akhir, bahkan Chika turut memberi applause untuk penampilan Mariska kali ini. 

Nikodemus tampil dengan senyum mengembang kemudian, membawakan You'll Never Walk Alone lagu kebangsaan dari klub bola Liverpool. Di lagu berikutnya adalah saat paling interaktif sepanjang acara. Moon River yang begitu familiar di antara audiens, dibawakan Nikodemus dengan berbagai kejutan. Di pengulangan bait, ia menyerahkan panggung pada suara penonton yang bernyayi secara masal. Diiringi harpa Chika, 'paduan suara' ini menciptakan syahdu. Merasa ini lagu favorit, saya tentu tak ingin ketinggalan bernyanyi. Trik ini jitu menjadikan penonton tak lagi malu-malu untuk bernyanyi mengikuti melodi di komposisi-komposisi berikutnya.




Nikodemus masih berada di panggung untuk menyanyikan komposisi pendek, Tonight. Nikodemus diminta untuk menggeber power di sepanjang lagu. Kendati demikian, lagu tersebut tak terasa 'kosong' meski dinyanyikan oleh tenor seorang diri. Menjelang bagian-bagian akhir dari program, Mariska kembali bergabung untuk menampilkan medley The Sound of Music. Secara berurutan Maria, The Sound of Music, Sixteen Going on Seventeen, Edelweiss, Climb Every Mountains, Do-Re-Mi, So Long Farewell. Jika saya tidak alpa mengingat, terselip juga My Favorite Things di deretan medley. Bagian kesukaan saya di komposisi ini tentu Edelweiss. Seketika berhasil membawa kenangan masa kecil ketika saya dan mama seringkali bernyanyi bersama dan saya memainkannya di organ.


The Prayer memberikan ruang pada Nikodemus untuk dominan. Di komposisi yang begitu familiar ini, banyak penonton yang memilih untuk bersenandung bersama. Time To Say Goodbye. Seluruh program ditutup dengan Con Te Partiro yang begitu identik dengan suara dari Andrea Bocelli dan Sarah Brightman. Meski telah familiar, tantangan para penampil adalah menghadirkan kesan grande yang biasa diciptakan oleh orchestra. Mariska dan Nikodemus cukup berhasil menggaungkan The Prayer dengan kesan yang berbeda. Untuk akhir pertunjukan dengan tepuk tangan audiens lebih dari sepuluh detik, dihadiahkan encore. Encore kali ini cukup berbeda. Nyatanya ada permintaan khusus dari tamu undangan untuk dimainkan Twinkle-Twinkle Little Star dan Nina Bobo. Tak serta merta dimainkan, lagu-lagu tersebut diawali dengan drama kecil antara Nikodemus dan Mariska yang berebut memainkan xylophone. Chika datang menengahi dan pada akhirnya mereka menghadirkannya kepada penonton. Penutupan itu seakan ingin menunjukkan bahwa tema dari keseluruhan program kali ini adalah entertaining-menghibur. Tentang bagaimana mengenang, bernyanyi, menikmati secara bebas musik yang disajikan.  

Sunday, June 7, 2015

The Joy of Music

Melihat Jessica Sudarta bermain bersama guru-gurunya sudah saya lakukan beberapa kali. Bagaimana ketika ia mesti bermain dengan muridnya?

23 Mei 2015 lalu, saya diundang Tante Yenny Sudarta untuk hadir di acara penampilan musikal siswa-siswi sekolah musik dan sekolah tari. Usia penampil beragam mulai anak-anak hingga remaja. Karena ada sedikit kejadian yang tidak diharapkan, saya dan kedua partner nonton saya mesti lapang dada untuk sedikit terlambat mengikuti program acara. Sesuai dengan konsepnya yang fun dan anak-anak, tak ada penampilan 'berat' sore itu. Pilihan-pilihan lagu pun disesuaikan dengan keceriaan dan kegembiraan khas dunia anak-anak. Terhitung dua puluh empat lagu yang dibawakan oleh para pemain. Tak heran, waktu konser ini juga lebih panjang dari konser biasanya. Lagu yang dibawakan kebanyakan sangat akrab di telinga anak-anak, seperti Soundtrack Doraemon dan Disney. Meski begitu juga ditampilkan komposisi pop barat, Mandarin dan lagu Indonesia.

Selayaknya pentas seni, ditampilkan drama musikal, permainan instrumen musik personal maupun kelompok, tarian, dan lain sebagainya. Kami cukup dibuat geli dan gemas dengan penampilan dari anak-anak yang menari dengan berbagai kostum lucu, atau ansamble biola dengan salah satu pesertanya yang sangat mungil. Panggung besar menampilkan ansamble gesek di bagian ujung kiri, diikuti Jessica Sudarta bersama harpanya. Bagian tengah dikosongkan untuk ruang tampil, di bagian kiri berdiri Grand piano hitam, keyboard dan drum. Yang membuat tampilan semakin menarik adalah layar LCD besar yang menjadi background panggung. Layar tersebut seringkali menampilkan animasi-animasi seperti Aladdin, Mickey Mouse, dan Mulan ketika soundtrack dimainkan.

Penampilan dari anak-anak ini memang nyaris selalu kolektif. Entah ansamble piano, biola dan mini orchestra, saksofon bersama harpa, dan lain sebagainya. Di balik kelucuan dan cerianya anak-anak awal usia yang menari, terselip beberapa penampilan menarik dari Jessica Sudarta dan murid Harpanya, Ferren. Meski terlihat belum sematang Jessica dari sisi keyakinan dan kepercayaan diri, namun Ferren tampil cukup baik. Belakangan saya mendapat informasi bahwa ia menginjak tahun pertama berguru pada Jessica. Edelweiss sukses membawa saya ke masa kecil dimana saya cukup sering memainkan dan menyayikan lagu itu. A Whole New World kembali membawa angan pada konser debut Jessica. Meski tak se-grande sebelumnya, namun saya tetap menikmati melodinya sebagai lagu kesukaan.
   
Di akhir pertunjukan, anak-anak yang telah tampil diminta untuk memberikan hadiah dan berkenalan dengan teman-teman baru mereka dari sebuah yayasan. Seakan ingin menyampaikan bahwa bermusik adalah masalah melatih kepekaan, juga kepekaan sosial.

Mengatur begitu banyak anak dalam satu acara, bahkan seringkali mesti berkolaborasi, saya mesti angkat topi pada guru dan pengatur acara. Meski sempat beberapa kali terjadi 'kecelakaan kecil' di bidang teknis, namun secara umum, acara tersebut cukup menghibur. Pertunjukan ini seakan mengingatkan bahwa musik memang semestinya dimainkan bebas, riang gembira, tak peduli siapa yang mendengar dan bagaimana komentar yang akan didapatkan. Saya 'ditampar' kembali tentang esensi kegembiraan bermusik.

Friday, June 5, 2015

Kamisan 10 season 3 : Monster Biru

Monster biru tak pernah tidur. Ia selalu mencoba hinggap di kepalamu, ingin menyelip di lekuk hatimu, juga berharap mampu bersarang di sela jarimu. Monster biru.

***

Ibu tak pernah menyadurkan sesuatu secara berlebihan. Cenderung kisah yang komplit, tanpa repot-repot dicerna ulang atau disederhanakan. Katanya, kasihan penulis butuh berdamai dengan jejaring otaknya demi memilih sebuah kata. Bocah itu hanya mengangguk sembari mengamini, meski hanya setengah mengerti. Terserah apa katamu, yang penting kisah berlanjut. Bocah itu telah fasih berpikir egois, rupanya. Sementara kisah terus berjalan, kepala mungil itu makin nyaman bersandar pada lengan sang ibu. Sesekali sang ibu membetulkan posisi karena rambut tajam sang bocah yang menusuk kulitnya. 

Monster biru tak pernah datang tanpa diundang. Meski berbulu menakutkan, mata yang melotot mengerikan, ia bisa saja dengan sopan menawarkan secangkir susu hangat ketika malam, juga menghadirkan tawa renyah untuk menyelamatkan kecanggungan. 

Ini tentunya bukan monster yang sibuk keluar masuk pintu, monster yang pemakan kue, atau monster pantai biru mungil dengan telinga lebar. 

"Ibu, aku ingin menjadi monster biru."
"Menjadi monster biru tak semenyenangkan itu."

Sang wanita hanya terkekeh kecil. Menggeleng tak percaya ketika bocah laki-lakinya memperlihatkan sinar mata yang sungguhan.


*** 

Belakangan sang bocah merasa cemburu. Tak ada kisah sebelum tidur yang dibacakan, atau sekadar ucapan selamat malam. Ibu begitu sibuk. Katanya ia mesti menyelamatkan pundi-pundi harta karun di ruang bawah tanah. Sang bocah berkali-kali mencari di mana ruang bawah tanah itu. Diselidikinya setiap celah di lantai, digesernya tiap perbabotan yang dianggap mencurigakan. Ia yakin akan menemukan sang ibu sedang menjaga tumpukan peti emas di bawah tanah. Mengapa ia tak mengajaknya untuk permainan seseru itu?

Sesaat sang bocah berharap di dalam hatinya. Bisakah ia mendapat bantuan dari monster biru?
Mengapa ibu selalu melarangnya untuk bertemu monster biru?

***

Berpuluh tahun berjalan, bocah itu telah ditarik waktu menjadi dewasa. Tampilan trendy tanpa perlu berlebihan membuatnya begitu saja dihampiri banyak wanita. Sayang, jiwanya tak pernah bisa beranjak dari teka-teki monster biru yang belum juga terpecahkan. Ia begitu saja ditinggalkan mengambang oleh ibu yang sudah tak lagi sama di hari-hari setelahnya. Ia semakin sibuk melanglang, sementara sang bocah ditinggalkan bersama seorang pengasuh bayaran robotik yang bekerja hanya karena uang.

"Membosankan. Dan sepi."
"Maafkan ibu."

Di suatu tempat, mereka berdua berhadapan. Mengejutkan, sang ibu justru semakin menampilkan aura muda. Rok midi di atas lutut dengan wedges nyaris menyentuh tujuh centi. Mereka berhadapan untuk sebuah pertanyaan.

"Di mana monster biru?"
"Ia sudah meninggal empat tahun lalu."

Laki-laki rupawan itu tercekat.

***

Secara filmis kenangan menyembul dari ujung berdebu kepala sang laki-laki. Jauh, jauh sebelum hari dibacakannya dongeng itu, ia ketakutan melihat seorang pria yang melangkah ke rumah dengan lebam kebiruan di sekujur tubuhnya. Meski ia tersenyum, sang bocah tak mau melihatnya lagi. Sang monster biru memutuskan untuk pergi dari rumah setelahnya.

Monster biru terus bertarung di arena pertaruhan, memulung pundi-pundi harta demi sang ibu dan bocah laki-laki yang tak lagi bisa ia temui hingga akhir hayatnya.

Monster biru bahkan rela menjadi sebatas dongeng bagi putra satu-satunya.

***


Ditulis untuk proyek menulis Kamisan


Tuesday, May 26, 2015

Musim Semi dan Alunan Debussy : French Spring Concert String Orchestra of Surabaya

Jika bukan karena Teh Irma, responsable pedagogique dari IFI Surabaya yang mengatakan di grup chat kami bahwa ia sedang menerjemahkan informasi mengenai acara Printemps Francaise ke Bahasa Indonesia, mungkin kami tak akan ribut. Sebelumnya, ketika mengetahui bahwa IFI Surabaya akan mengadakan rangkaian acara Printemps Francais, saya langsung 'memburu' program-program musik klasik yang disajikan IFI. Salah satunya program yang akan dibawakan oleh String Orchestra of Surabaya, 18 Mei 2015.

Begitu tiba sekitar empat puluh lima menit sebelum acara dimulai, sejumlah audiens sudah berkumpul di depan ballroom Sheraton. Terlihat juga tim dari IFI yang sedang sibuk menemui tamu, maupun menyambut di meja registrasi. Setelah sesaat menunggu partner nonton yang masih belum menjejak Sheraton juga, saya memilih untuk masuk terlebih dahulu. Tujuannya sama seperti audiens yang lain, sebisa mungkin untuk mendapat seat paling depan.

Bertekad datang tepat saat open gate, saya berhasil mendapatkan seat baris pertama untuk audiens umum (baris ketiga setelah dua baris pertama diisi khusus tamu-tamu undangan). Saya duduk manis sembari menunggu partner nonton kali ini saya datang. Booklet program hanya satu lembar, saya menyisir daftarnya. Debussy, Offenbach, Bizet, Charpentier. Di deretan pemain, saya menangkap beberapa nama yang sudah tak asing : Finna Kurniawati, Shienny Kurniawati, juga keluarga musik Celine Liviani Tandiono dan Felicia Liviani Tandiono.

Secara umum, acara ini banyak diminati. Terlalu sibuk dengan booklet, tanpa saya sadari, dalam waktu singkat, kursi-kursi terpenuhi hingga bangku paling belakang. Keputusan tepat untuk hadir begitu open gate dilaksanakan. Acara dibuka dengan sambutan dari pihak Sheraton dan IFI Surabaya. Veronique Mathelin, direktur IFI Surabaya memberi kejutan dengan membacakan sambutan dalam Bahasa Indonesia yang cukup baik. Ada aura kesedihan yang mengambang tiba-tiba ketika di dalam sambutan tersebutkan nama Alm. Bapak Slamet Abdul Sjukur. Saya mendapat jawaban tentang apa yang saya cari-cari di bangku depan sejak awal. Di acara musik klasik, terutama yang berhubungan dengan Prancis, saya selalu bisa menemukan Pak Slamet duduk di antara undangan di bangku depan. Di antara break program atau di akhir acara, biasanya saya menghampiri beliau dan menyapa. Di konser kali ini, saya baru menyadari, saya tak bisa melakukannya lagi.

String Orchestra of Surabaya (SOOS) membuat saya heran, karena di atas panggung hanya terlihat sebuah grand piano hitam dengan dua kursi kosong. Trio? Ternyata dugaan saya dijawab oleh booklet program yang menampilkan komposisi Trois Pieces pour Violon, Violoncelle et Piano op.54. Ya, dihadapan, Angela Soegito, Finna Kurniawati and Novia Devita menampilkan komposisi musik kamar dari Rene de Boisdeffre (1838-1906), komposer abad ke-19 penerima penghargaan untuk musik kamarnya. Nuansa elegan dari komposisi tersebut dimainkan dengan baik oleh ketiga pemusik. Layaknya movement seperti biasanya, nomor-nomor yang ditampilkan cenderung pendek. Sangat terlihat, Finna Kurniawati memegang kendali dalam upaya mewujudkan keselarasan permainan. Ia bermain dengan sangat dewasa. Begitupun dengan Angelia dan Novia, mereka tampak menikmati komposisi tanpa perlu memaksakan diri untuk 'bervirtuoso' ria.

Secara general, 'gangguan' ala konser pada umumnya hanya tampak sedikit kali ini. Namun masih ada bunyi shutter camera, audiens yang sengaja batuk di waktu yang tidak tepat, ponsel yang berbunyi, khusus untuk saya, ada gangguan sepasang muda-mudi yang ngobrol berbisik pada saat komposisi dimainkan. Saya kembali mesti mengatakan dan mencoba meyakinkan diri bahwa hal itu adalah proses pendewasaan penonton.

Mari nikmati kembali komposisi kedua : Allegro Appasionato op. 43. Tentu komposisi ini merupakan tantangan tersendiri bagi sang pemain Cello. Ia mesti menerjemahkan dan menghadirkan maksud Saint-Saens untuk menciptakan komposisi yang senatural mungkin, selayaknya pohon apel menghasilkan buah apel. Dituntut untuk bermain dengan tempo cepat dan menampilkan virtuoso, tentunya komposisi ini cukup menguras tenaga. Dinamika wajib hadir, melodi rapat digeber, plus kekompakan dengan pianist. Novia Devita bermain baik di komposisi ini. Hanya saja mungkin ada energi yang kurang tersampaikan, mengingat ukuran ruang yang cukup besar.

La Capricieuse op 17 milik Edward Elgar, komposer Inggris, berganti menampilkan kembali Finna Kurniawati dan Angelia Soegito. Dengan bunyi violin yang dominan, Finna Kurniawati tampil memimpin di komposisi post-romantic ini. Secara personal, saya suka gerak-gerik setiap kali Finna Kurniawati memainkan komposisi. Dalam komposisi ini, Finna berhasil menampilkan running-running melodi dengan hidup, ekspresif, namun dewasa. Komposisi ini sukses hadir dengan staccato-staccato yang menyenangkan.

Ketika break program, saya memilih untuk tetap di tempat. Selain bisa mengobrol kecil dengan partner nonton, saya juga penasaran untuk menoleh pada muda-mudi yang berbisik-bisik di belakang sejak tadi. Terangnya lampu membuat kami sadar, semenjak komposisi awal dimainkan, lampu audiens dibiarkan tetap terang, sehingga mengurangi penciptaan suasana. Syukurlah hal yang sama tidak terjadi pada komposisi-komposisi yang dimainkan setelah break. Empat komposisi yang tersisa dimainkan dalam formasi 19 pemain orchestra.  

Komposisi zaman Barok, Concert Pour quatre parties de violes H. 545 milik Marc-Antoine Charpentier menjadi pembuka. Komposisi ini terdiri dari cukup banyak bagian atau movements yang pendek-pendek. Finna Kurniawati memimpin chamber music dengan baik, selain dirinya juga memainkan violin. Nuansa zaman Barok terasa. Agak saya sayangkan, di antara movements masih ada tepuk tangan dari penonton. Mestinya memang applause diberikan di akhir keselutuhan komposisi. Di komposisi ini tidak ada running-running notes yang terlalu berlebihan. Cukup untuk memberikan imajinasi pada audiens tentang pedansa-pedansa di masa Barok. 

Setelah diberi alunan dansa Barok yang 'mudah ditebak', audiens dilempar beberapa ratus tahun ke depan dengan emosi yang lebih 'rumit'. Debussy dihadirkan di panggung musim semi dengan nada-nada lincah Golliwogg's Cake-Walk from Children's Corner. Melodi-melodi awal yang khas tersebut cukup menarik minat. Komposisi yang sejatinya diperuntukkan untuk solo piano ini menarik seakan penonton sedang dibawa ke nuansa lincahnya anak-anak ketika bermain, meski dari sudut pandang orang dewasa. Debussy mendedikasikan komposisi ini untuk Claude-Emma, putrinya, yang sayangnya meninggal karena difteri pada usia belia, setahun setelah kematian ayahnya.

Dua komposisi terakhir seakan dipilih agar menjadi penutup yang mengena. Kedua komposisinya cukup familiar di telinga audiens dibanding komposisi-komposisi yang lain.

Jika bisa dikatakan, komposisi yang sangat populer milik Jacques Offenbach, Orpheus in the Underworld menjadi klimaks acara. Audiens merasa familiar dengan komposisi riang ini karena kerap menjadi back sound dari berbagai film animasi. Komposisi pendek yang gembira dan menyenangkan ini berhasil menciptakan suasana berbeda. Diciptakan untuk kepentingan opera, maka komposisi ini terasa 'ringan dan mudah diterima'. hingga mampu menghasilkan applause paling meriah di antara komposisi lainnya. 

Mari berpetualang ke Bizet. dengan Melodies from Carmen Opera. SOOS menyampaikan dinamika dengan baik. Harmoni juga begitu jelas. Nada-nada riang di awal, kemudian berubah menjadi harmoni-harmoni yang lebih 'gelap' dan tenang. Secara keseluruhan komposisi ini menggambarkan kisah opera kehidupan kaum proletar dan sifat manusia yang tak bermoral. Komposisi untuk opera ini hidup dengan baik di tangan SOOS. 

Saya secara pribadi menyukai pilihan komposisi untuk program kali ini. Seakan hadirin memang disajikan deretan virtuoso yang menarik, dengan waktu masing-masing komposisi yang tidak terlalu panjang. Peletakan dua komposisi yang lebih familiar di telinga masyarakat umum juga cukup menarik. Sama seperti menyambut harapan dan bunga bermekaran, Bienvenue, Printemps Francais! J


-         Nabila Budayana - 

Thursday, May 21, 2015

Kamisan 9 Season 3 : Tentang Bapak dan Teddy

Sejak dulu bapak tak pernah bisa membelikanku boneka. Katanya, untuk makan saja keluarga kami sudah begitu susahnya. Di rumah kami tak pernah ada kisah karpet Aladdin atau dunia penuh keajaiban Alice. Setelah dewasa, aku baru mengenal siapa Yasmine dan Mad Hatter. Kami terlalu sibuk dengan bagaimana kehidupan hari esok. Tentang apa yang akan ada di atas piring seng kami. Tapi jangan berikanku tatapan iba itu. Bahkan hal itu bukan menjadi hal memalukan untukku. Tak perlu juga memberikanku tatapan simpati yang berlebihan hanya karena segan. 

***  

Aku telah akrab dengan aroma itu sejak kecil. Aroma alkohol menyengat yang selalu hadir ketika bapak menjejakkan kaki di rumah dengan berjalan limbung. Biasanya ia begitu saja berbaring di tikar anyaman plastik warna-warni, satu-satunya tanda bahwa ruang kecil setelah pintu masuk adalah ruang tamu. Itu hal terbaik yang bisa kudapatkan. Namun bapak yang 'sekadar berbaring' hanya terjadi beberapa kali. Ia lebih sering mengamuk, membanting piring, panci, gelas belimbing berisi kopi, atau bingkai foto kenangan ibu satu-satunya tentang kakek. Bagus, kami tak perlu tukang loak, sindir ibu. Memangnya ada barang kita yang bisa diloak? dalam hati, aku penasaran. Sehari-hari, aku menjaga rumah ketika ibu bekerja menjadi pembantu rumah tangga di kota. Jangan tanyakan tentang bapak, ia selalu berangkat dan pulang selayaknya pekerja kantoran, meski tak pernah membawa uang sepeser pun untuk kami. Menghitung jumlah ubin, bermain Cublak Cublak Suweng seorang diri, atau membayangkan berbagai bentuk dari goresan di tembok, menjadi kegiatan sehari-hariku. Saat ini aku heran bahwa aku tak jadi gila dengan masa kecil yang sedemikian. Kami benar-benar tak punya apa-apa. Apalagi mainan dan buku anak. Jangan harapkan untuk ada. Dan memang aku tak boleh mengharapkannya.

***

Lalu, saat ini, ketika aku sudah dewasa, pria itu datang ingin menebus semuanya. Katanya, masa lalu kami tak semestinya begitu. Sudah kukatakan bahwa ia tak perlu berkata demikian. Teras dengan bunyi gemericik air, kicau burung, juga kursi goyang yang nyaman untuk punggung dan lehernya sering pegal karena usia. Lebih sering, ia memegang dadanya yang sesak. Meski tak pernah mengeluhkannya, aku tahu dari kebiasaannya memijat sendiri dengan tangan yang entah sejak kapan telah menggelambir dan mengendur kulitnya. Rasanya mungkin sejak aku terakhir kali mencium tangannya lima, sepuluh tahun lalu? Entah. Apa untungnya menyembunyikan keluhan? Aku bahkan mampu membawanya ke dokter spesialis paling mahal. Jika bukan karena keinginannya yang menolak dengan keras, tentu aku sudah akan membawanya paksa untuk memeriksakan tubuhnya. Bolehkah kukatakan bahwa sejujurnya aku berterimakasih padanya?

***

Aku seorang berhati mulia. Semua kulakukan untuknya sebagai balas jasa. Yang mengubahku sedemikian rupa. Sejak usia belasan, ia benar-benar berubah, Ted. Ia membawakanmu, mainan pertama semenjak kelahiranku. Aku melihat bayangan samar diriku sendiri di cembung mata hitammu. Aku jatuh cinta dengan senyummu yang lebar dan tak pernah berkurang seinci pun. Bulu lembut kecokelatan yang selalu berhasil membuatku memeluk dan menggendongmu sesering mungkin. Teman pertama yang menyenangkan. Masing ingat ketika kemudian bapak membawa kita pindah ke rumah besar? Katanya di sana akan ada banyak Teddy selucu dirimu. Siapa yang tak ingin, bukan? Semenjak itu aku tinggal bersama bapak lain. Ia memberiku banyak kawan-kawanmu sebanyak yang kumau. Sebagai gantinya, aku menghadirkan banyak manusia-manusia kecil dari rahimku. Bapak tidak sejahat yang kubayangkan. Ia yang menemukanku dengan bapak lain, dan Teddy-Teddy lain sepertimu. Karenanya, aku ingin membalas segala kebaikannya.

***

Mengapa pria tua penuh penyesalan itu kerap mengataiku bodoh, Teddy?

***


Kisah ini ditulis untuk proyek menulis Kamisan