Pages

Thursday, March 26, 2015

Kamisan 5 Season 3 : Biru


Ini tahun paling berat dalam hidup kami, dan kami tak tahu sampai kapan ini akan terus berlangsung. Apakah kami tak punya lagi harapan?

***

Sudah jenuh rasanya mendengar tangisan ibu. Bahkan aku tak mampu mengingat ini sudah keberapakalinya. Jika hanya menangis, mungkin tak apa. Tapi nyatanya bukan hanya hati ibu yang sakit. Seluruh tubuhnya kebiruan, memar. Apa yang bisa kulakukan? Menemani ibu menangis sudah, mencoba menggenggam tangannya erat juga telah kulakukan berulang kali, memohon padanya untuk berhenti menangis pun lunas. Tidak ada yang benar-benar bekerja. Jadi aku lebih sering diam menatapi punggungnya dari kejauhan saja.

***

Sering aku bermimpi bahwa diriku seorang laki-laki. Tentu sudah kubakar ia hidup-hidup dengan tanganku sendiri. Aku mengingatnya dengan detail yang sama. Tubuh tegap besar yang rasanya susah dirobohkan, sesekali tangannya menggenggam tongkat atau sapu atau apapun yang kiranya mampu membuat seseorang wanita paruh baya tumbang. Di sela-sela jarinya, yang ia kenakan selalu sama. Cincin berbatu biru. Sejak itu aku membenci cincin apapun, bahkan yang bukan berwarna biru. Aku perlahan juga mulai membenci warna biru, bahkan langit dan laut. Hingga saat ini pun aku tak mengerti benar apa yang sesungguhnya pria itu inginkan. Selain menghajar ibu, ia juga seringkali muncul di rumah kami dengan aroma alkohol menyengat, memaki ibu habis-habisan, kemudian pergi begitu saja. Ia bahkan tak menghiraukanku yang berdiri menatapnya lekat. 

***

"Mengapa ibu tidak membalas? Kita bahkan punya pisau daging jika ibu ingin gunakan!" kalimat ini keluar begitu saja setelah aku tak bisa menahan diri lagi. Bahkan aku tahu, di dalam hatinya, kesabaran tumpah melebihi batasnya.
"Aku tak bisa, nak," jawabnya singkat dan lemah.
Aku bahkan tak mampu menanyakan mengapa, hingga akhirnya ia berkata lirih.


"Bagaimana mungkin aku membunuh karakter ciptaanku sendiri?" 
Kepala memang ruang paling berbahaya. Hidup kami sudah menjadi biru karenanya.


Wednesday, March 25, 2015

Laki-laki yang Dibelenggu Kakinya

"Sejak kapan?"

***

Aku ditampar. Sekeras-kerasnya, hingga telinga berdenging, wajah memanas dan kepala berdenyut-denyut nyeri. 
"Tumpahkan saja lagi esok!"
Ini pasti perkara bubur sarapan pagi ini yang tak sengaja tersenggol dan berhamburan ke lantai. Hanya karena hal begini kecil saja, putraku bisa begitu marah? Jika aku bukan penyabar, mungkin aku sudah membalas perbuatannya. Asal dia tahu saja, ditampar berkali-kali cukup membuat kebencian menumpuk pada hatimu. Seandainya aku bisa.

***

Aku ingin membaca buku. Rak-rak bukuku yang dipenuhi kilauan buku-buku indah yang telah kukumpulkan dengan susah payah selama ini hanya mampu kutatap dari jauh. Bahkan kebebasanku untuk membaca sudah direbut paksa dari tanganku. Sejauh ini aku hanya bisa membaca beberapa potongan artikel di koran bungkus makan siang atau makan malam. Dan semakin lama aku semakin bosan karena melihat berita kecelakaan lalu lintas atau korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan saja. Jika mereka tak mengizinkanku melihat dunia, setidaknya izinkan aku membaca. Seandainya aku bisa.

*** 

Semuanya mampu kulakukan. Seandainya saja kakiku tidak terbelenggu seperti ini. Manusia macam apa mereka mampu mengikatku seperti ini. Dunia memang sudah berubah. Keadilan dan kebebasan sepertinya sudah menjadi kelangkaan. Dan aku termasuk korbannya. Pantaslah usahaku sehari-hari untuk menggugat mereka sia-sia. Bahkan kuping mereka saja terlalu sombong untuk mendengarkanku, setipe dengan manusia-manusia yang terlena dibuai jabatan dan popularitas. Apa demokrasi di negaraku ini tak berlaku padaku? Aku hanya diperlakukan seperti hewan dan segala gerak-gerikku diawasi. Dunia ini sudah serupa 1984 dan Animal Farm ciptaan Orwell, kalau begitu. Sampai kapan kakiku akan dibelenggu?

***

Seorang wanita setiap hari menghabiskan waktunya dengan memandangi sudut ruang. Tersembunyi, ia tak terlihat oleh sang pria yang duduk di sana. Tak jarang ia menangis. Sesekali bertanya-tanya tentang nasibnya. Ia lelah menjalani hidupnya, dan lelah menunggu waktu itu datang. Waktu untuk melepaskan belenggu di kaki suaminya. Waktu untuknya dan putranya berhenti memberi perlakuan fisik karena begitu liarnya sang suami bertindak. Waktu untuknya menemani suaminya membaca suatu sore di teras belakang rumah. Sampai kapan suaminya mesti tinggal di dunia yang berbeda. Dunia yang logika dan kesadaran bisa diputarbalikkan begitu saja. Meski sudah cukup kebal dengan perkataan orang, ia juga sudah enggan mendengar omongan, "Istri dari suami yang gila itu..." Runtutan kesialan sepertinya terus saja hadir pada dirinya. Ia tak ingin menambah beban pertanyaan "Sejak kapan?" Namun kepalanya tak bisa begitu saja melupakan malam dimana seluruh karya suaminya dibakar habis sekelompok manusia yang mengaku berseberangan idealisme politik dengannya. Pukulan itu berhasil membuatnya gila. Sejak malam itu, hidupnya sudah tak lagi sama. Luka itu tak ia ketahui apakah akan sembuh. Sebaiknya kau berhenti menanyakan "Sejak kapan?" padanya seperti itu. 



*Ditulis untuk proyek menulis dwi mingguan, Sisa Selasa #1

Thursday, March 12, 2015

Kamisan 4 season 3 : Bahagia

Kadang aku berpikir bahwa alam selalu memunggungiku. Ramalan cuaca selalu berbohong. Tak pernah cukup berarti bagiku. Aku sering berharap sejuk ketika panas luar biasa. Namun aku pun kerap mengutuk hujan yang terlalu lama jatuh. Jangan pernah menggantungkan ekspektasi apapun pada alam. Apalagi, kebahagiaan.

***

Kali itu sudah perdebatan kami yang kesekian. Lagi-lagi ia menuduhku macam-macam. Perselingkuhan, menghamburkan uang tabungan, dan sederet sangkaan lainnya. Sembari berteriak-teriak, barang-barang mulai berterbangan. Awalnya kukira tak akan kena. Beberapa kali pelipisku berdarah, baru kusadari kekuatannya lumayan juga. Aku tak melawan. Ujungnya, dia yang merasa bersalah. Wanita memang sukar ditebak. Tapi seakan tak belajar dari keadaan, kejadian itu selalu berulang.

*** 

Tak lama, segalanya menemui akhir. Sepucuk surat kutemukan sebelum ia pergi. Permintaan terakhir yang tak bisa kuabaikan. Kembang api di upacara pemakaman. Seluruh hadirin menangis, katanya ironis. Namun diam-diam aku tersenyum mengingat obrolan kami jauh sebelum hari ini.

"Mengapa ada kembang api?"
"Karena manusia tidak pernah merasa cukup bahagia dengan dirinya sendiri. Mereka selalu butuh diyakinkan."

Nyatanya keputusanku tidak salah. Keputusan untuk membiarkan ia larut dalam rasa bersalah, dan membantu mengarahkan pistol ke pelipisnya. Aku suami yang bahagia. Alam dan kembang api mengafirmasinya.





Monday, March 9, 2015

Share The Love, Membaca dan Berbagi Cinta

Membaca adalah mendapatkan. Berbagi sudah merupakan lain hal. Membaca sanggup membuat berbagi? Itu yang kami harapkan.

Mas Agung Beka, staf Perpustakaan UNAIR menghubungi kami. Di bulan Februari yang akrab dengan berbagai pernik kasih sayang itu, beliau ingin mengundang Goodreads Indonesia regional Surabaya untuk berbagi cerita pada mahasiswa tentang kecintaan kami terhadap buku dan membaca. Di kesempatan sebelumnya, kami sempat meminjam tempat di American Corner Perpus UNAIR untuk bedah novel Green Card milik Dani Sirait. Meski gembira dengan tawaran Mas Agung, kami merasa mesti mengembangkan konsep acara. Mengingat setiap bulannya pun kami kerap berbagi tentang Goodreads Surabaya. Berinisiatif menawarkan konsep acara baru, ternyata disambut antusias oleh beliau. 

Satu narasumber sudah biasa. Bagaimana dengan beberapa? Mengikuti alur tema kasih sayang, kami berinisiatif mengucapkan terima kasih pada sahabat-sahabat yang pernah bekerjasama dengan kami selama ini. Profesional, penulis, editor, penerjemah, media, pegiat literasi, dsb. Mereka memiliki kesempatan untuk berbagi tentang aktivitas yang sedang dilakukan, pun kami ingin mahasiswa yang hadir dapat mendengar berbagai inspirasi dan dapat menjalin komunikasi langsung dari para narasumber. Gayung bersambut. Sebelas undangan menyanggupi untuk hadir dan berbagi bersama GRI Sby di panggung FlashLounge Perpustakaan UNAIR tanggal 27 Februari 2015.



Kami sempat tak berekspektasi besar pada acara ini. Selain karena memang diadakan saat jam efektif sekolah dan kerja, kami murni hanya ingin bersilaturahim dengan berbagai pihak. Namun berkat kerjasama dengan Perpustakaan UNAIR, ini acara pertama kami yang dihadiri oleh lebih dari 80 orang peserta dengan 10 narasumber bersamaan di satu panggung. Sementara Airlangga Orchestra mengiringi kami dengan musik-musik indah.

Ade Kumalasari (Penulis, Penerjemah, Editor Bentang Pustaka), Nina DK (Manager Production nulisbuku.com, Nulisbuku Club Surabaya), Irma Nurul Chusnal (Pengajar IFI Surabaya), Karguna Purnama (Pengajar IFI Surabaya), Widyoseno Estitoyo (Owner Oost Koffie & Thee), Kuntari P Januwarsi (Penulis, penerjemah, editor, founder artebia.com), Diah Rizki (Koordinator Klub Buku Surabaya), Hestia Istiviani (Founder Subreaders), Zulva Avidiansyah (Peneliti GRI Surabaya), Praja Firdaus Nuryananda (Dosen, Pegiat Literasi UPN). 10 narasumber ini berbagi tentang aktivitas yang sedang dijalani, juga keterkaitan mereka dengan budaya literasi yang mempengaruhi profesi mereka. 

Sebagai seorang pekerja perbukuan, Mbak Ade Kumala menjadikan kegiatan membaca bukan sekadar hobi, namun juga ladang pekerjaan. Ia berkisah bahwa profesi penulis, editor lepas maupun penerjemah lepas sangat memudahkan dirinya dalam berkarir sekaligus menjadi seorang ibu. Ia mampu tetap produktif melakukan kegiatannya di rumah sembari mengurus keluarga. Begitu pula dengan Mbak Kuntari. Selain menekuni dunia perbukuan, ia juga sedang menjalankan sebuah media online, artiebia.com, dimana media ini diciptakan berdasarkan kecintaannya pada menulis tentang apa saja. Berbagai rubrik menarik ditampilkan agar mampu menjadi sumber hiburan dan informasi untuk para pembaca. Mengajak rasa cinta membaca kami, Kang Karguna dan Teh Irma yang pernah tinggal di Prancis mengatakan bahwa budaya literasi sudah tertanam dengan baik pada anak-anak muda di Prancis, dengan kapanpun mereka memiliki waktu, mereka akan melewatinya dengan membaca. Dengan itu, bukan tidak mungkin anak muda Surabaya kelak akan memiliki kebiasaan yang serupa. Kecintaan mereka pada bahasa, tentunya berangkat dari kecintaan pada membaca. Belajar bahasa asing pun akan mempermudah kita untuk membaca berbagai jenis buku. Namun, Teh Irma menekankan, yang perlu diperhatikan bukan hanya proses membaca, namun juga bagaimana mengamalkan nilai-nilai positif yang didapatkan setelah membaca. 

Membaca memiliki keterkaitan kuat dengan menulis. Mbak Nina DK berbagi harapan dengan adanya nulisbuku.com, dapat mewadahi karya-karya penulis melalui jalur self-publishing, sebagai opsi lain untuk menerbitkan buku dengan jalur konvensional. Beliau berpesan bahwa membaca seharusnya bukan hanya di waktu luang, agar membaca memiliki porsi yang lebih besar dalam kegiatan kita sehari-hari. Berbeda cara, Widyoseno Estitoyo memilih menyalurkan kegemaran membacanya dengan mengalokasikan salah satu sudut kafe miliknya untuk rak berisikan buku-buku menarik yang mampu diakses oleh pengunjung. Bahkan tak jarang pengunjung yang datang memberikan buku untuk diletakkan pada rak buku Oost. Kebiasaannya untuk melahap novel impor kini bergeser menjadi buku-buku self-help yang menunjang profesinya, baik sebagai seorang entrepreneur maupun seorang manager marketing sebuah perusahaan penerbitan. Mas Seno mengungkap sebuah fakta menarik menyangkut industri perbukuan. Menurutnya, di luar negeri yang jauh lebih dulu mempopulerkan e-book, saat ini penjualan buku digital justru menunjukkan jumlah yang stagnan. Tandanya, buku fisik masih akan punya tempat dan akan terus dicari. Diah dan Hesti merupakan representasi anak-anak muda yang peduli pada budaya membaca melalui komunitas-komunitas yang mereka pimpin. Berawal dari membaca, di masa kuliah mereka saat ini, mereka sudah memiliki pekerjaan sebagai reporter media online serta community manager. Mereka mengakui bahwa membaca sangat mendukung hal-hal yang mereka kerjakan. Bahkan Hesti mengangkat novel distopia sebagai objek untuk skripsinya. Masih berstatus mahasiswa, memiliki pekerjaan sampingan dan terus berbuat untuk literasi di kalangan anak muda, saya mesti angkat topi untuk kerja keras dan dedikasi mereka. 

Kuliah di bidang Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Zulva Avidiansyah memutuskan untuk memilih GRI Sby sebagai objek pengerjaan skripsinya. Saat ini ia sedang meneliti bagaimana berkomunitas di dalam GRI Sby mampu berpengaruh pada sisi psikologis dan eksistensi generasi muda. Bicara tentang anak muda, ketika ditanya, apakah menurut Zulva ada pengaruh gadget di kalangan anak muda dengan kegiatan membaca mereka? Ia menjawab diplomatis bahwa semua hal bersifat subjektif pada setiap pembaca, apakah ia ingin memanfaatkan gadget sebagai sarana untuk meningkatkan intensitas kegiatan membaca atau tidak. Semua berpulang pada kesadaran dan pilihan masing-masing individu. Praja Firdaus pun membagikan informasi seputar kegiatan literasi di dalam lingkungan kampus. Sebagai salah seorang pegiat di Lingkar Literasi di UPN, ia berpendapat bahwa semestinya komunitas-komunitas literasi mengadakan acara di kampus sebagai pusat peradaban. Ia mengajak para mahasiswa untuk menyadari bahwa merekalah yang semestinya paling akrab dengan buku dan bacaan. 

Masing-masing narasumber berada dalam satu pendapat bahwa budaya membaca sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Langkah-langkah profesional dan karya mereka pun tidak lepas dari kegiatan membaca yang begitu berpengaruh. Suatu anggapan yang tidak bisa dibetulkan jika masih menganggap kegiatan membaca adalah kegiatan yang bersifat individualistis. Share The Love menunjukkannya tanpa perlu bicara berbusa. Bahwa membaca juga berhasil mempertemukan kami dengan begitu banyak jalinan persahabatan dan inspirasi. Tidak ada yang lebih patut berterimakasih selain Goodreads Surabaya untuk sebentuk kepedulian, kerjasama, persahabatan dari Perpustakaan UNAIR, juga seluruh narasumber dan audiens. Untuk limpahan kepercayaan bahwa kecintaan membaca selalu bisa dimulai dan tumbuh dalam diri masing-masing dan orang lain. 


- Nabila Budayana -

Dokumentasi acara bisa dikunjungi di sini




Thursday, February 26, 2015

Kamisan 3 season 3 : Prasangka

Wanita itu masih mendengarkan dengan begitu jeli. Jam dinding di rumahnya berdetak seakan makin cepat. Ia curiga. Tik tok. Tik tok. Jangan-jangan kepalanya sendiri yang menghitung tak tepat. Ia salah mendasarkan perhitungannya pada detak jantungnya sendiri yang ketukannya makin lama makin kencang. Diiringi gelisah, kepala Sang Wanita dipenuhi dugaan. Apa kecerobohannya menumpahkan tepung saat mengayak berarti langkah yang terjerembab di luar sana. Apa lamunannya yang membuat calon adonan terlalu lama dikocok berarti hati yang tak tenang untuk seseorang yang dipikirkannya. Apa kealpaannya menentukan suhu yang salah berarti impian yang hangus di suatu tempat yang lain. Ia sama sekali tak mengerti. Pada akhirnya, ia memilih untuk menutupi kegelisahannya dengan mengatakan bahwa semuanya adalah prasangka belaka.

*** 

Bertahun lalu wanita itu merasa dunianya berubah seketika. Hatinya tak lagi pada putaran dirinya sendiri. Dunianya selalu penuh dengan kewajiban menulis kisah orang lain ke dalam artikel singkat majalah wanita. Matanya menemukan petualangan baru untuk melihat dunia di luar sana. Dunia yang begitu besar dengan hati yang lapang dan bijaksana milik Sang Pria. 

Pertemuan mereka sama sekali tidak disengaja. Ini terlihat klise. Tentang wanita yang mewawancara seorang generasi ketiga kebangsaan Belanda yang kerap mendengar kisah perjuangan sang kakek ketika mesti menjadi bagian dari Perang Dunia 2. Wanita itu terkesima bagaimana Sang Lelaki bermata biru redup mengisahkan ulang tentang kekelaman Rotterdam dan Middelburg yang dihujani bom secara besar-besaran. Berapi-api, ia seakan menghadirkan kakeknya kembali dengan deskripsi suasana dan ketegangan antara hidup-mati. Bahkan juga rasa kebangsaan sejati yang sangat kental, meski Sang Lelaki saat ini memutuskan untuk memilih tinggal di Amerika. Diam-diam, Sang Wanita merasa kesal. Bisa jadi, kakek Sang Pria mengesankan di hadapannya adalah salah satu Londo yang membuat negaranya dijajah selama ratusan tahun. Tapi kali itu ia mampu menyeimbangkan rasa dan logika. Itu sudah berlalu, dan kini ia mesti mendasarkan dirinya pada sikap profesional.

Obrolan hangat itu berakhir pada mereka yang saling berbagi cerita hidup dengan sepotong Red Velvet dan teh hangat untuk masing-masing. Sang wanita sempat menolak tawaran beberapa buah Poffertjes. 
"Maaf, saya tak terlalu suka rasanya,"
"Ah, seleramu sangat Amerika, rupanya." 
Sang Wanita agak merasa lucu. Ketika teman laki-lakinya sedang begitu menggandrungi kopi, bule Belanda di hadapannya justru sangat menggemari teh. Sang Lelaki bahkan tak goyah sedikitpun dengan promosi membusa Sang Wanita tentang Kopi Gayo atau Kopi Luwak. Berpendirian. Mengesankan.   

Baginya, laki-laki di hadapannya berdiri di dua negara yang bahkan turut andil dalam pengakuan kedaulatan negerinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa akan melelahkan untuk menilai segala sesuatunya dari sejarah. Laki-laki di hadapannya masih membuatnya berhasil menciptakan kekaguman.

***
Sang Wanita mengabarkan artikel yang telah dimuat. Mereka berjanji untuk bertemu kembali. Alasannya untuk saling mendiskusikan hasil jadi artikel yang telah terbit. Meski begitu, keduanya tak mampu menutupi bahwa justru sebagian besar hati mereka tergerak untuk menemukan kenyamanan yang sama satu sama lain. Obrolan dan tukar pikiran. Berdiskusi dalam merasa dan menilai segala sesuatunya. 

Red Velvet kedua hari itu berhasil membuat Sang Wanita kesal sekaligus bahagia. Meski harus merasakan sakit karena gigi yang ngilu, bahagia pun ia terima ketika tahu bahwa cincin lah yang terkunyah olehnya. Sementara laki-laki mata biru di hadapannya tak mampu menahan tawa. Sang Wanita begitu menyesal mengapa ia mengenakan celana cargo dan kaos yang sangat kasual hari itu.

"Lain kali, jangan letakkan cincin di dalam kue." sang wanita berlagak mengambek
"Tentu tak ada lain kali. Saya tahu tak perlu melamarmu dua kali. Bukankah jawabannya "ya"?" Laki-laki itu mengerling usil.

*** 

Gelisah Sang Wanita belum juga habis. Justru semakin menjadi. Tak mampu dihitung lagi berapa kali ia menatap pada jam dinding. Tak habis-habisnya ia memainkan cincin di jari tangannya. Percobaan keenam kali membuat Red Velvet tak pernah lepas dari lidah penguji : sang suami. Pernah terasa enak, meski esoknya keras atau hangus. Ia selalu membutuhkan komentar lelakinya. Namun kali ini berbeda. Apakah ia masih boleh berharap? Mulutnya komat-kamit mengucap doa. Hatinya tak pernah lepas dari ketakutan akan kehilangan sang suami yang pamit menuju Amerika untuk mengurus keperluan perpindahan, sebelum ia berganti kewarganegaraan merah putih. Namun berita pesawat yang kehilangan kendali membuatnya cemas dan berharap itu bukan penerbangan Sang Lelaki. Ia terus saja menunggu berita...

***

Takdir boleh saja bertindak kejam. Kecemasan Sang Wanita bisa ditafsirkan apa saja. Siapa sangka Sang Pria telah mengabaikan segala rasa dan berpura-pura. Di tengah gemerlap New York, ia tengah menikmati kue berikutnya. Red Velvet yang tak pernah gagal dalam tampilan dan rasa. Di cake shop itu, ia menggenggam erat tangan wanita. Wanita kebangsaan Amerika penggemar makanan manis dengan lipstik semerah kue di hadapannya.



*ditulis untuk Nulis Kamisan 3 #3

Thursday, February 12, 2015

Lautan


Sudah lama aku berangan ingin merasakan lautan, yang selama ini hanya terbatas dalam pandangan. Keinginan itu sempat kukira hanya akan menjadi kenangan. Namun ini keajaiban.

***

Pertama kali aku melangkah, mataku tak bisa lepas dari air yang begitu biru dan tak berbatas. Dimana langit dan laut seringkali menyatu, sulit dipisahkan. Ini terasa sangat berbeda. Dimana langit sangat oranye ketika matahari pulang, sedangkan air tercemar warnanya. Ombak terasa tak pernah habis. Bergerak, memberikan dinamika, seakan marah atau bicara. Aku bebas bermain pasir, berlarian, berenang dan menyentuh air.

Tak ada yang sanggup kuajak bicara, kecuali angin yang tak habis menderu. Seakan berteriak atau bernyanyi. Kukira dunia luar berhasil membuat bahagia. Lautan menemukanku pada seorang pria yang pertama kali menganggapku seorang wanita luar biasa. Yang selalu berhasil membuatku merasa istimewa.

***

Belakangan, hariku habis hanya untuk memandang wanita itu. Yang selalu menatap laut dengan mata yang menyimpan cerita. Kadang ia hanya menatap lama sembari bersenandung kecil. Sesekali ia berteriak, melampiaskan amarah pada lautan. Kemudian, ia juga pernah menangis sekeras-kerasnya, seakan ingin menandingi deru ombak. Aku bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya ada dalam pikirannya? Sebegitu rumitkah manusia? Aku terlalu penasaran untuk mengabaikannya.

"Apa yang sedang ibu bayangkan?"
Ia hanya tersenyum tanpa berkata. Tetapi ia tersenyum, sedetik kemudian berubah tangisan. Mungkin ia gila. Raut wajah paruh bayanya membuatku tak tega. Aku ingin menggenggam tangannya.
"Anakku hilang di sini. Di pantai ini," air mata masih terus saja meleleh di pipinya.

***

Pria itu begitu mencintaiku. Pertemuan pertama kami di pantai ini membawa kami ke perjalanan hati yang jauh. Ia mengetahui kondisiku yang sementara. Ia bahkan tahu kapan hari terakhirku tiba. Aku tercengang ketika ia berkata ingin menggantikan posisiku agar aku selamanya merasakan lautan dan dunia. Bukan seekor kunang-kunang yang hanya terperangkap sarang ciptaan manusia.

Kini aku tak sanggup berkata-kata lagi pada wanita itu, selain menggantungkan sarang di sana. Sang Ibu hingga kini terus di tempatnya. Memandang lautan, menginginkan putranya pulang. Tanpa pernah percaya dan menerima bila lelaki itu ada di sana. Di hadapannya. Terperangkap di sarang kecil, menemaninya melihat lautan. Menjadi seekor kunang-kunang, seperti diriku sebelumnya.




*Ditulis untuk Nulis Kamisan 3 #2

Wednesday, February 11, 2015

LPM GRI Sby : "Di Balik Toko Buku"

Pembaca sekaligus pembelanja, pasti kerap menyambangi toko buku sebagai surganya. Kehabisan bahan bacaan, toko buku menjadi jujugan. Kini, toko buku tak hanya didominasi oleh satu nama besar. Toko-toko buku lain semakin menjamur dengan menawarkan berbagai rupa pelayanan yang menarik.

***

Berdasarkan permintaan beberapa teman yang ingin mengetahui lebih jauh tentang toko buku, di tanggal 31 Januari 2015 GRI Surabaya berinisiatif untuk menjembatani diskusi antara pihak toko buku dengan pembeli, yang seringkali hanya terhubung melalui sosial media atau kertas-kertas di kotak saran.

Dibantu oleh Bapak Poedjiono, General Manager toko buku Togamas sekaligus Store Manager Petra Togamas Surabaya, materi dengan tema "Di Balik Toko Buku" diberikan oleh Ibu Margaretha Debby selaku Store Manager Togamas Diponegoro Surabaya. Kota yang diguyur hujan deras siang itu tak menghalangi teman-teman untuk hadir di Oost Koffie & Thee. Beberapa dari mereka bahkan agak kuyup sepanjang perjalanan. Saya harus angkat topi untuk semangat mereka. Namun usaha itu tak sia-sia, ternyata. Selain mendapatkan ruang diskusi yang menarik, di akhir pertemuan ada kejutan spesial dari Ibu Debby untuk kami semua yang hadir.  

Dalam berbagi kisah tentang manajemen toko buku, Ibu Debby begitu banyak menyinggung sang founder jaringan toko buku Togamas, alm. Bapak Johan Budi Sava. Kedigdayaan Toko Buku Togamas diawali dari beliau, seorang mahasiswa yang tak rampung menyelesaikan beban kuliahnya. Seringkali berkumpul dan ngobrol dengan para mahasiswa membuat Bapak Johan Budi seringkali mendengar persoalan-persoalan yang dihadapi mereka. Salah satunya adalah harga buku yang belum terjangkau. Padahal, mereka sangat membutuhkan akses untuk buku-buku diktat yang menyangkut proses pembelajaran. Dengan berbekal kecintaannya pada membaca, tercetuslah sebuah toko buku kecil yang dimulai di ruang tamu kediaman Pak Johan di tahun 1999. Tujuannya, mengadakan sebuah toko buku yang memberikan diskon, namun tetap menawarkan kualitas buku yang sama, dengan sasaran utama, para mahasiswa.

Di Surabaya dan beberapa kota lainnya, toko buku Togamas telah begitu dikenal sebagai toko buku berdiskon. Menurut Ibu Debby, setiap cabang Togamas, secara sendirinya memiliki daya serap pasar yang berbeda, kebanyakan ditentukan oleh koleksi yang dimiliki. Untuk toko buku yang menyajikan banyak buku-buku diktat dan keperluan sekolah, akan memiliki pelanggan yang kebanyakan merupakan pelajar dan mahasiswa. Dengan koleksi yang lebih banya tentang sastra, akan mengundang masyarakat umum, begitu juga toko buku dengan kebanyakan koleksi buku religi. Tak heran, secara sendirinya, masing-masing toko memiliki dominasi pelanggan yang berbeda.

Karena ada pertanyaan tentang, “Mengapa Togamas bisa berdiskon?” Ibu Debby menjelaskan dengan cukup jelas bahwa Togamas memilih untuk memangkas biaya lain seperti biaya AC atau fasilitas lain, sehingga dapat dialokasikan untuk harga buku yang lebih terjangkau dibanding toko buku yang menjual buku dengan harga normal. Dengan itu, ada harapan agar setiap orang bisa membeli buku. Di sisi lain, semakin banyak pula toko-toko buku baru yang mengadopsi program diskon yang serupa. Namun Togamas tidak menganggap toko buku lain sebagai pesaing, justru sebagai partner dalam menumbuhkan minat membaca masyarakat. Menurut Ibu Debby, jika profit mampu bertambah setiap tahun, rasanya tak perlu menganggap toko buku lain sebagai pesaing.

Ditanya apakah ada perlakuan berbeda dari toko buku tentang penerbit besar dan kecil, Ibu Debby mengatakan tidak ada, berdasarkan prinsip Pak Johan yang tidak membedakan penerbit apapun. Meski tidak membatasi penerimaan buku, tetap harus ada evaluasi terhadap hasil penjualan suatu buku. Ada masa 3 hingga 6 bulan bagi suatu buku untuk diretur. Beliau mengatakan, setiap buku memiliki umurnya di toko buku masing-masing. Rata-rata untuk setiap judul berusia 1 hingga 3 bulan. Setelah 3 bulan, buku akan cukup susah untuk diangkat jumlah penjualannya. Toko buku berkewajiban untuk membuat laporan tentang hasil penjualan.

Tentang perilaku buku, Ibu Debby membaginya menjadi 4 jenis. Jenis pertama, grafik yang dimulai dengan tingkat penjualan kecil kemudian terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Biasanya judul dengan jenis pertama ini, dari awal terbit menghasilkan jumlah penjualan yang biasa-biasa saja, namun karena ada sesuatu hal, penjualannya menjadi melejit dan terus naik. Jenis kedua berkebalikan dengan jenis pertama. Judul buku dengan jenis kedua memiliki ciri sangat besar nilai penjualannya di awal, namun terus menurun seiring berjalannya waktu. Jenis kedua ini biasanya sangat meledak di saat launching, namun tak mampu bertahan lama. Tipe ketiga, buku tesebut memiliki life time yang panjang, meski rata-rata hasil penjualannya stabil (biasa-biasa saja). Contoh tipe ketiga adalah kamus maupun kitab suci. Jenis terakhir menunjukkan grafik penjualan yang naik-turun. Buku-buku tersebut biasanya mengalami kenaikan penjualan ketika kepopulerannya meningkat karena adaptasi ke film atau hal lainnya.

Lantas, bagaimana dengan penulis self publishing yang ingin menitipkan bukunya di toko buku? Togamas selalu terbuka untuk penulis-penulis indie. Meski begitu, ada beberapa aturan yang perlu dilakukan. Misalnya saja hal-hal yang berhubungan dengan usia buku dan laporan penjualan. Sisanya, dapat dilakukan kesepakatan langsung dengan pihak toko. Untuk penerbit major, dalam kerjasamanya, Togamas menjemput bola maupun mendapatkan penawaran langsung. Dalam menitipkan buku yang diterbitkannya, penerbit juga melihat prospek, laporan administrasi serta kerjasama yang baik dari toko buku yang dituju.

Ibu Debby juga memberikan saran kepada para penulis. Berdasarkan pengalamannya mengamati perilaku konsumen dan perilaku buku, alangkah baiknya ketika seorang penulis juga memikirkan strategi promosi buku yang telah diterbitkan. Beberapa cara diantaranya adalah dengan menyusun program marketing dan display buku yang menarik. Dicontohkan dengan Seri Supernova : Gelombang yang ditulis oleh Dee Lestari. Gelombang di-launching dengan cara yang berbeda di tiap kota. Penulis yang disampaikan melalui penerbit meminta toko-toko buku untuk diadakan cosplay tokoh dari buku yang menyapa calon pembeli, hadiah merchandise berupa kaos dan mug, bahkan musik horor yang diputar di toko buku. Di samping acara launching yang menggebrak, penulis dan penerbit dapat bekerja sama untuk mengemas konsep promosi dengan merchandising maupun bermain di display toko buku. Toko buku akan sangat terbuka untuk membantu dalam menampilkan display yang menarik.   

Kami kemudian bertanya apa parameter yang membuat suatu buku digolongkan dalam rak best seller atau new release. New release mencakup buku-buku yang baru terbit dalam rentang waktu satu bulan. Sedangkan Best Seller dihuni oleh buku-buku yang telah mencapai nilai penjualan tertentu.

Dalam mengembangkan toko buku, diperlukan program-program yang menarik, sebagai bentuk promosi kepada pelanggan. Namun, bagaimana ide tersebut berasal? Beliau justru mengatakan bahwa ide-ide program itu didapatkan dari para pelanggan yang memang memberikan saran untuk toko buku kesayangan mereka. Program-program ini sangat menunjang hasil penjualan, karena memberikan fasilitas-fasilitas yang disukai oleh pelanggan.

Dengan maraknya penjualan online beberapa tahun terakhir, Ibu Debby membagi sarannya untuk para penjual buku, bahwa toko buku online akan timpang tanpa toko buku offline, dan sebaliknya. Pada hakikatnya, sebuah bisnis harus terus mengikuti perkembangan dan pasar. Bagaimana nasib buku-buku cetak yang mesti berdesakan, berbagi tempat dengan e-book, apakah juga menjadi ancaman bisnis toko buku offline? Buku cetak masih akan terus dicari, dibuktikan dengan semakin banyaknya toko buku offline yang bermunculan. Dengan optimisme yang sama, penulis dan penerbit baru bertambah dalam jumlah yang tak disangka-sangka banyaknya.

Lantas, mengapa harga buku terus menjadi mahal? Nyatanya setiap tahun harga buku selalu naik sekitar 10 hingga 20 persen. Hal tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar, sehingga ongkos ekspedisi dan otomatis harga buku pun menjadi meningkat. Mengapa harga buku juga bisa jatuh? Hal itu terjadi pada buku-buku yang diobral oleh penerbit, maupun buku-buku yang berada di gudang toko buku. Diskon biasanya mencapai 50 persen. Untuk buku-buku dengan permintaan yang banyak, penerbit akan melakukan cetak ulang. Harga buku-buku lokal dipengaruhi oleh bahan baku dan percetakan. Sedangkan untuk harga buku impor yang mahal, jelas dikarenakan adanya pajak untuk buku-buku fiksi. Sedangkan buku-buku non fiksi tersubsidi dengan tidak dibebankannya pajak.

Mengakhiri sesi bincang sore itu, Ibu Debby berharap akan semakin banyak orang yang mencintai toko buku, berujung dengan cinta kepada buku dan mengajak orang lain untuk rajin membaca.

Kecintaan dan idealisme Johan Budi Sava untuk meningkatkan minat baca masyarakat melalui toko buku terwujud bahkan mengepak lebar hingga saat ini. Tertarik mencoba juga?