Pages

Thursday, May 15, 2014

LPM Bedah Buku Flying Traveler - Junanto Herdiawan, Lalu Abdul Fatah



Bedah Buku Flying Traveler 
Persembahan Goodreads Indonesia Regional Surabaya


Pembicara : Junanto Herdiawan
Pembedah : Lalu Abdul Fatah
Moderator : Nabila Budayana
Tempat : Oost Koffie & Thee Surabaya
Hari, Tanggal : Minggu, 11 Mei 2014
Waktu : 15.30 WIB


Break the boundaries. Ternyata Levitasi punya filosofi. Awalnya, mata saya termasuk yang tak menangkap bagaimana foto yang membutuhkan lompatan itu memiliki makna di baliknya. Segalanya adalah masalah sudut pandang kita melihat. Saya diingatkan kembali tentang pemaknaan itu oleh seorang ekonom yang jauh dari kesan kaku. Ekonom gaul itu bernama Junanto Herdiawan. Saya yakin banyak orang yang tak menyangka usianya sudah kepala empat. Gayanya asik dan begitu membaur, bahkan dengan muda-mudi yang berusia jauh di bawahnya. 

Semuanya diawali dari curhatan santai atasan saya tentang beliau. Intinya, buku terbaru beliau akan segera terbit. Genre traveling, bertema Levitasi. Menarik. Saya langsung terpikir untuk menyusun acara untuk GRI Sby. Mumpung buku itu masih segar, baru terbit di pasaran. Beruntunglah pula, saya punya teman baik yang hobi jalan-jalan sembari menulis, Lalu Abdul Fatah. Ia pun cukup banyak berkutat di dunia travel writing. Hanya hitungan hari, pembicara dan pembedah langsung mengiyakan, bersedia untuk dipertemukan di satu forum. Berkat pertemuan sebelumnya, Mbak Ifana, tim dari Oost Koffie & Thee pun langsung menyambut baik niatan kami untuk meminjam tempat sembari ngopi sore di sana. Publikasi, saya pasrahkan pada Ghozi yang bekerja baik. Sementara dokumentasi selama acara kami dibantu oleh Mbak Lina Handriyani yang berbaik hati bersedia menangkap momen-momen.  

Tanggal 11 Mei datang. Berdasar permintaan khusus dari pembedah, bahwa bicara traveling cocok dilakukan di sore hari, kami tentukan pukul 15.30 WIB. Sebelum itu, saya dibantu Ghozi me-layout ruang. Kami ingin semua audiens mendapat posisi yang nyaman untuk menyimak jalannya acara. Banner sudah dibentang, perlengkapan pun sudah, pengisi acara siap, acara dimulai. Dibanding dengan acara pembicara sebelumnya, acara ini memang tak begitu ramai. Tapi tentu punya atmosfer berbeda. Lebih dekat dan hangat. Mayoritas bangku diisi anak-anak muda. Sebelum acara dimulai, saya sempat berkelakar dengan Pak Iwan, nama panggilan Bapak Junanto Herdiawan. “Wah, yang datang muda-muda, Pak. Berarti Pak Iwan masih muda juga, nih!” Kemudian ia membalas dengan tak kalah lucu, “Iya. Saya kan cuma beda (usia) sedikit sama Bila!” Saya langsung yakin bahwa acara nanti akan berjalan seru. 

Setelah memberi penjelasan singkat tentang Goodreads Indonesia, saya mulai membacakan sesi perkenalan. Membacakan sederet panjang riwayat ekonom seorang Junanto Herdiawan hingga menjadi Deputi Direktur Bank Indonesia Jatim, posisi yang dimilikinya saat ini, saya serasa masih berpikir betapa panjangnya jalan karir yang telah ia tempuh. Meski di awal karirnya ia justru pernah menjadi seorang jurnalis suatu media. Alasan memilih menjadi ekonom di Bank Indonesia nyatanya sederhana. Ia berujar bahwa dengan bekerja di sana, ia memiliki banyak kesempatan untuk berkeliling ke banyak tempat. Sesuai dengan hobinya : traveling. Tapi bukan berarti ia ‘mengorbankan diri’ dengan menjadi ekonom. Passion-nya tak hanya satu. Menjadi ekonom pun adalah impian dan merupakan hal yang ia lakukan dengan suka cita. Menulis pun sama. Baginya menulis memiliki arti yang besar pula. Keistimewaan untuk berbagi, bahkan hingga diterbitkan dalam bentuk buku menjadi sebentuk kepuasan tersendiri. Menurutnya, seseorang dengan pekerjaan apapun akan mempunyai nilai tambah dengan menulis. Empat bukunya terbit di kurun waktu yang cukup singkat, dua tahun saja. Japan Afterschock : buku yang  berkisah tentang pengalamannya saat terjadi gempa dan tsunami besar di Jepang, Shocking Korea dan Shocking Japan : keinginannya mengungkap fragmen-fragmen ‘culture shock’ yang pernah ia alami di kedua negara tersebut, hingga akhirnya ia memilih melayang bersama Flying Traveler : buku yang menggabungkan dua tema, traveling dan Levitasi. 

Kisah panjang prestasi pun datang dari sang pembedah, Lalu Abdul Fatah. Sederet pengalaman jurnalistik sebagai kontributor di media online, menulis sebuah buku solo dan 15 antologi, menjadi koordinator dan editor beberapa buku traveling, menjuarai berbagai kompetisi, hingga pengalaman ‘jalan, menulis dan dibayar’ yang pernah ia lakukan. Masih muda, tajam, kritis dan punya visi yang jauh ke depan. Belakangan, Junanto Herdiawan berpendapat tentang sang pembedah demikian.

Levitasi nyatanya memiliki keistimewaan bagi Junanto Herdiawan. Diawali dengan keluhan sederhana : bosan dengan foto yang mainstream. Berangkat dari itu, ia mencoba Levitasi sebagai sekadar keisengan. Belakangan, justru ia menyadari bahwa Levitasi tak hanya memperluas dunianya dengan berbagai liputan dan penghargaan, namun ia juga menemukan bahwa ada makna spiritual darinya. Melayang dan melawan gravitasi bermakna bahwa kita sesungguhnya bisa keluar, kita mampu melakukan lebih dari apa yang kita bisa. Semua anggapan adalah paradigma. Kita mampu melakukan sesuatu ketika kita percaya. Hal yang sama terjadi pada seorang Natsumi Hayashi, gadis Jepang penemu Levitasi. Asisten fotografer yang tak percaya diri itu kini begitu bebas dan ‘terbang’ dengan Levitasinya. 

Setelah pembicara melakukan presentasi singkat tentang Flying Traveler dan Levitasi, saya cukup banyak melempar pertanyaan pada pembedah dan pembicara. Mulai pertanyaan santai, hingga pertanyaan yang berangkat dari rasa penasaran saya secara pribadi. Jawaban menarik datang dari Pak Iwan. Misalnya tentang saya yang bertanya tentang bagaimana pendapat orang-orang sekitar ketika dirinya melakukan Levitasi di suatu tempat. Pak Iwan mendapat sudut pandang yang berbeda dari itu. Ia menemukan ciri khas dari masyarakat di daerah tertentu berdasar tanggapan mereka ketika ia melakukan Levitasi. Entah orang-orang Jepang yang berlagak tak peduli meski penasaran, orang Korea yang suka bertanya-tanya dan mengagumi apa yang ia lakukan, bahkan orang Indonesia yang mampu bertepuk tangan untuk sebuah lompatan Levitasi. Saya juga mengajukan beberapa pertanyaan tentang proses editing, tentang penentuan komposisi penulisan dan bagaimana pengalamannya menulis opini di media massa mempengaruhi cara menulisnya di Flying Traveler. Semuanya dijawab dengan lugas dan bijaksana. Namun yang menarik rasa penasaran saya adalah mengapa penulis tak menambahkan sisi filosofi dalam bukunya, sementara ia pernah mengambil major filsafat di salah satu perguruan tinggi. Ia menjawab dengan diplomatis. Baginya, ia sudah menyelipkan berbagai filosofi di buku Flying Traveler. Dari hal-hal kecil yang ia temukan saat melakukan traveling dan Levitasi, ia menemukan filosofi. Misalnya dalam perbedaan kultur, agama dan budaya dari masing-masing tempat dimana ia melakukan Levitasi. Semakin banyak berjalan, ia semakin menyadari bahwa kebenaran yang mutlak untuk diri sendiri, belum tentu menjadi kebenaran mutlak bagi orang lain. Begitu banyak dan beragam kebenaran di muka bumi. Maka baginya, kesempatan usia yang ada baiknya digunakan untuk berjalan-jalan, melihat dunia, memaknai kehidupan. Kami tak melulu bicara Levitasi dan travel writing. Pak Iwan bahkan mampu mengkorelasikan antara teori ekonomi dan traveling. Dengan kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia yang meningkat saat ini, mereka sudah memiliki kebutuhan yang berbeda. Traveling adalah salah satunya.

Pada akhirnya perspektif saya bukan cenderung melihat beliau sebagai Deputi Direktur Bank Indonesia Jatim. Saya melihat beliau sebagai seseorang yang tak pernah kehilangan semangat untuk melakukan segalanya dengan passion, kecintaan penuh terhadap apa yang ia kerjakan. Yang menjalani kehidupan seperti ringan saja, namun tak pernah meninggalkan kedalaman makna yang selalu ia tancapkan dalam-dalam pada dirinya. Yang tak pernah membatasi diri, bebas terbang, dan selalu siap menembus batas-batas. Sama seperti makna yang ia temukan dalam Levitasi : 

“Ketenangan jiwa dan kedamaian hati biasanya disimbolkan oleh keringanan diri. Bila hati terasa ringan, kebahagiaan biasanya menjelang. Levitasi di tengah suasana spiritual, bagi saya, adalah sebuah simbol ketenangan jiwa.”



Surabaya,  15 Mei 2014
Untuk Goodreads Indonesia,


Nabila Budayana

  

Sunday, April 6, 2014

LPM Bincang Buku Happiness Inside - Gobind Vashdev

    Acara : Bincang Buku Happiness Inside
    Tema : "Makna Kebahagiaan dalam Kehidupan"
    Hari / Tanggal : Kamis / 3 April 2014
    Waktu : 18.30 WIB
    Pembicara : Gobind Vashdev
    Audiens : Umum
    Persembahan Goodreads Indonesia reg. Surabaya

    Berkali-kali saya menatap buku biru itu. Sederhana saya mengingat, buku biru dengan sebuah kepala berisi bunga-bunga. Judulnya Happiness Inside. Saya belum lelah juga meliriknya berkali-kali setiap kali melalui rak toko buku. Tapi lirikan itu belum berujung pada pembelian juga, karena berbagai alasan. Hingga suatu siang tahun lalu, di teras rumah, saya dan mbak Novri Chitra, korwil GRI Sby saat itu, berbincang tentang apa saja. Tiba-tiba perbincangan kami bermuara pada Gobind Vashdev. Nama asing buat saya yang kurang gaul ini. Namun mbak Novri, yang telah mengenal sebelumnya, dengan sabar menjelaskan. Siapa ia dan buku Happiness Inside yang ia tulis. Saya tertarik. Ujung-ujungnya, kami berangan suatu saat akan mengundang beliau untuk acara GRI Sby.

    Fragmen angan itu terwujud beberapa hari lalu. Setelah beberapa waktu tak lagi mengikuti timeline twitter, saya iseng kembali menyusur kicauan orang-orang. Satu kicauan langsung menggerakkan saya untuk 'merayu' mbak Novri agar bersedia direpotkan. Gobind Vashdev menyebutkan jadwal akan mengunjungi Surabaya di akhir pekan di awal bulan ini (April 2014). Mbak Novri langsung mengiyakan, sementara saya baru sadar bahwa saat itu sudah kurang dari tujuh hari ke depan. Singkatnya, semuanya serba terburu-buru dan tanpa rencana. Kami sempat pesimis, dan tak berharap akan banyak audiens yang datang. Selain karena bukan di akhir pekan atau hari libur, acara juga berlangsung di malam hari. Namun puji syukur, semuanya bisa berjalan dengan baik. Untuk semua kerepotan dan keterburu-buruan yang sudah saya timbulkan, izinkan saya mengucap banyak terima kasih untuk teman-teman GRI Sby yang sudah sudi membantu di tengah kesibukan masing-masing : Mbak Novri Chitra, Tante Henny Ces, Ghozi Septiandri, Mas David Sentika, dan semua teman-teman lainnya. Juga untuk teman-teman Klub Buku Surabaya, untuk persaudaraan dan kesediaannya beramai-ramai hadir, serta untuk beberapa kawan dari Sekolah Awan.   

    Acara dimulai pukul 18.30. Sekitar pukul 18.00, dibantu oleh teman-teman pustakawan perpustakaan kota Balai Pemuda, setting lokasi acara sudah bisa diselesaikan. Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik dengan putra kecil di pelukannya memasuki perpustakaan dan membagi senyumnya. Kemudian mengikutinya, dengan tenang, seorang pria dengan kemeja putih dan jeans cokelat memasuki perpustakaan. Saya menyapanya. Ialah Gobind Vashdev. Saya terkesan dengan awal perkenalan kami, ketika saya mengucapkan terima kasih untuk kesediaannya hadir, ia menjawab dengan senyum dan telapak tangan yang disentuhkan ke dadanya. Itu cukup menjelaskan bahwa ia hadir dengan ketulusan ingin berbagi. Di tengah obrolan-obrolan ringan kami, ia mengenalkan saya pada seorang wanita cantik dan putra kecil dengan rambut mengombak yang saya lihat tadi sebagai istri dan putra pertamanya, Mbak Tika dan Rigpa. Rigpa nampak lincah berlarian ke sana ke mari, menjelajah perpustakaan. Sementara itu, saya mengobrol ringan dengan Mas Gobind. Saya sempat tidak enak hati, karena sepertinya ia yang lebih banyak mendengar racauan saya. :) Di tengah itu, saya juga menanyakan apa yang menjadi kesibukannya akhir-akhir ini. Ia berkisah bahwa saat ini, ia sekeluarga bersifat nomaden. Keliling Indonesia, dari satu tempat ke tempat lain, untuk berbagi ilmu. Dan hebatnya, 80% dari keseluruhan acaranya adalah bersifat sosial. Seperti berbagi di Rumah Sakit dan Panti Jompo. Kemudian, sembari mengobrol, Mas Gobind menanyakan kapan hari ulang tahun saya dan membukakan Kalender Abadi miliknya. Kalender itu disusun oleh Gobind Vashdev sendiri, dengan masing-masing hari pada kalender tersebut tertulis pesan-pesan bijak yang berbeda. Ternyata, di hari ulang tahun saya tertera gambar three wise monkeys, dan tertulis "Oh Tuhan ambillah semua fasilitas menghakimi dari pikiranku, biarkan diriku menjadi "buta dan tuli" sehingga aku bisa melihat dan mendengar segalanya sempurna, seperti Engkau melihat setiap ciptaan-Mu" Dan itu mengena untuk saya. Mas Gobind menjelaskan, kita masih sering menciptakan pemaknaan sendiri. Ada persepi-persepsi dalam kepala kita yang cenderung membuat kita memandang sesuatu tidak dengan netral. Oleh karena itu, ada harapan untuk menatap segalanya dengan 'tanpa apa-apa', sama seperti halnya anak-anak memandang dunia. Saya terdiam. Mungkin serasa ditertawakan Mizaru, Kikazaru dan Iwazaru, tiga monyet bijak itu.
   
    Beberapa saat setelah itu audiens mulai berdatangan, namun hanya beberapa. Enggan membiarkan suasana menjadi canggung, Gobind justru mengajak mereka mengobrol dan menghibur mereka dengan berbagai candaan ringan. Misalnya saja tentang pengalaman menarik tentang dirinya yang tak beralas kaki ke mana-mana. Atau justru pengalamannya dalam membantu proses kelahiran si kecil Rigpa di rumah sendiri. Tanpa perlu menunggu lama, acara dimulai. Berbeda ketika bicara secara pribadi, di depan audiens, Gobind Vashdev justru sangat santai dan menghibur. Audiens bisa menertawakan berbagai anekdot, meski tema kami "Makna Kebahagiaan dalam Kehidupan". Awalnya, Gobind berkisah tentang bukunya, Happiness Inside yang telah memasuki cetakan ke-13 saat ini, dan misinya untuk menanam satu pohon dari setiap cetakan yang terjual sebagai bentuk cintanya pada alam. Ia pun bercerita tentang bagaimana awal mula ia memulai untuk menulis. Sesungguhnya seorang Gobind sempat merasa tidak percaya dirinya mampu menulis dan menerbitkan buku. Baginya, buku Happiness Inside adalah sebentuk paksaan dari semesta untuknya. Saat melakukan healing program di Bantul selama satu bulan, seorang wartawan menanyakan pada Gobind tentang apa yang ia lihat dari bencana di tempat itu. Gobind menjawab, "Ada keindahan dalam bencana ini" Merasa tak puas dengan jawaban dari seorang Gobind, sang wartawan kesal dan memintanya untuk menulis sendiri tentang bencana tersebut, kemudian dikirimkan melalui email. Diakui Gobind, waktu tenggat tujuh hari itu menjadi waktu 'yang menyiksa'. Hasilnya, ketika tulisan tersebut terbit di majalah, tak banyak proses editing yang diberikan. Justru ia mendapat banyak respons positif dari pembaca. Semenjak itu, setiap bulan Gobind "diteror" untuk mengirimkan tulisan. Sampai akhirnya seorang teman memintanya untuk mengisi sebuah acara di radio. Merasa tertarik dengan yang Gobind bicarakan, sebuah penerbit menelepon dan meminta untuk menerbitkan tulisan-tulisannya. Sampai akhirnya buku Happiness Inside terbit dan mengikuti alirnya. Gobind pun mengungkap salah satu pemikiran menariknya. Ia berkisah bahwa ia tak pernah memiliki kartu nama, proposal, atau melakukan bentuk marketing apapun untuk 'menawarkan dirinya'. Ia menyerahkan pada semesta, dan mengatakan "Gunakan saya, semesta" 
   
    Berpindah pada proses kreatifnya dalam menulis Happiness Inside, banyak kejadian menarik. Berangkat dari membaca fenomena bunuh diri dari surat kabar, lahirlah tulisan "Bunuh Diri Menular". Bunuh Diri Menular menunjukkan bahwa budaya tren mampu mempengaruhi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Alam bawah sadar kita menyerap dari berbagai berita di media, dan akhirnya dilakukan dalam tindakan. Jadi, bukannya tidak mungkin ketika perilaku bunuh diri bersifat menular. 
 
    Gobind menjelaskan seringkali kita salah menyikapi masalah. Ketika ada suatu kejadian, jangan  bertanya maknanya. Justru dunia yang akan bertanya, bagaimana kita memberi makna. Buruk dan baik sangat dikendalikan oleh persepsi. Untuk apapun yang terjadi, tetap bersyukur. Pada setiap kejadian, tidak ada positif dan negatif. Kejadian selalu bersifat netral. Positif dan negatif tergantung dari kepentingan kita. Ia memberi contoh dengan kisah tentang meludah. Tentu akan berbeda ketika kita diludahi oleh orang dewasa dan seorang bayi. Dari hal itu kita bisa belajar, bahwa masalahnya bukan dari situasi atau dari luar. Namun masalahnya adalah bagaimana meletakkan makna pada suatu hal. Manusia tidak pernah bermasalah dengan ego, kesombongan, dsb. Namun kacamata kita yang seringkali kotor, dan memandang segala sesuatu dengan negatif. Jika mendapat masalah, jangan cari jalan keluar, karena masalahnya ada di dalam diri sendiri. Gobind mencontohkan seperti yang ada di dalam buku Happiness Inside. Tentang dirinya yang tengah menyetir di tengah arus lalu lintas Jakarta. Di sela waktu menunggu traffic light berubah warna, ia membaca buku. Bagaimana ia tak terkejut ketika kendaraan di antrian di belakangnya membunyikan klakson, pertanda lampu telah berganti hijau, saatnya untuk kembali melajukan kendaraan. Awalnya, sama seperti pada umumnya, ia tak mampu menahan amarah. Namun kemudian ia menyadari bahwa justru itu adalah kesalahannya sendiri, telah menghilangkan kebahagiaan dari dirinya sendiri. Belajar dari itu, ia memberi makna baru pada klakson berikutnya. Bukan "lambat atau bodoh" namun bentuk sapaan dari seorang kawan. Segalanya bergantung dari program yang ada di dalam diri kita. Semua di dunia ini tergantung dari makna yang kita berikan.
   
    Merasa tertarik dengan berbagai pernyataan Gobind, audiens mulai mengajukan pertanyaan. Misalnya saja, seorang penanya yang menanyakan tentang seorang rekannya yang kesulitan memberikan alternatif makna dalam kehidupan. Tak menjawab secara langsung, Gobind justru berkata sebelum membantu orang lain, bantu diri sendiri terlebih dahulu. Ada juga yang perlu diwasapadai adalah ketika kita sampai pada paradigma menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri. Semestinya kita bijak dengan tak menyalahkan, namun memahami. Kita membenci, karena kita belum memahami. Ketika kita belum memahami, kita tidak akan mungkin mengubah. Sebelum mengubah, kita mesti netral memandang. Karena mengerti, cinta itu muncul. Pahami tanpa menyalahkan. Jangan fear based, namun love based. Gobind mencontohkan Socrates yang tidak mengubah orang lain dengan cara mempengaruhinya, namun dengan bertanya kepadanya. Untuk mengubah orang lain, kita bertanya, agar dia mampu mengubah dirinya sendiri.
   
    Pertanyaan berikutnya tentang bagaimana Gobind berproses menemukan kebahagiaan. Ia berkisah bahwa setiap orang bertumbuh. Menggunakan prinsip Awareness Before Change, harus adanya kesadaran internal sebelum berubah. Selftalk akan membawa kita pada kesadaran. Gunakan emosi yang netral. Bagi Gobind, setiap orang mengejar kebahagiaan sesuai dengan kesadarannya. Salah satu penghalang kebahagiaan adalah goresan. Kita terluka atau tergores karena hati kita tidak cukup besar untuk menampung masalah. Selain itu, kita selalu berpikir harus ada yang disalahkan dalam setiap masalah sebagai pengalih perhatian dari rasa sakit yang kita alami. Kebanyakan kita berpikir kebahagiaan adalah tercapainya keinginan atau terpenuhinya hasrat. Itu terus berujung pada kita yang selalu mencari target baru, menjadikan lelah dan tak ada habisnya.

    "Bagaimana jika kita tidak bahagia karena trauma masa lalu?" itu yang terucap dari salah seorang penanya yang lain. Gobind menjawab bahwa waktu tidak pernah menyembuhkan. Yang menyembuhkan seseorang adalah kesadaran. Kesadarannya bahwa sesuatu sempurna atas izinNya. Ia mengatakan, meletakkan makna baik di setiap kejadian pernah menjadi hal yang tidak mudah juga untuk Gobind. Suatu saat di masa kanak-kanaknya, ia pernah nyaris tenggelam di suatu kolam. Saat itu, sang ayah menarik tubuhnya dan menempeleng kepalanya. Awalnya ia merasa kesal. Bagaimana mungkin seorang anak yang akan tenggelam justru dihadiahi sebuah hukuman fisik? Makna positif kejadian itu baru ia dapatkan ketika dewasa. Suatu adegan di dalam film dan buku membawanya kembali mengingat peristiwa itu. Rasa sakit akibat ditampar serasa kembali terulang. Ia berpikir bahwa pada saat itu, sang ayah mungkin menempeleng untuk mengembalikan kesadarannya. Ia kemudian justru berterimakasih untuk yang telah terjadi. Ia menyimpulkan, ketika merasa disakiti orang lain, bereskan apa yang ada di dalam diri kita.

    Pertanyaan selanjutnya tentang apa parameter yang dimiliki seseorang agar mampu melihat suatu hal dari banyak sisi. Dengan sungguh-sunggguh Gobind menjelaskan bahwa pertama, ada keinginan untuk mengubah diri. Kemudian bicaralah pada diri sendiri. Netralkan, jaga emosi.

    Meski waktu perpustakaan nyaris tutup, Gobind berkeras untuk menunjukkan aksinya dengan menanyakan apa di antara audiens yang memiliki tissu. Sang pemilik tissu sekaligus dipanggil ke depan dan dipersilakan duduk menghadap audiens yang lain. Gobind memberikan catatan pada penonton agar tak bersuara dan mengatakan apapun pada sang relawan selama ia melakukan aksinya. Ia bentuk tissu ke dalam bulatan, kemudian ia genggam di salah satu tangan kanan atau kiri. Sembari berusaha mengecoh sang relawan, ia memindah-mindahkan tempat di mana gulungan tissu itu berada. Entah di genggaman tangan kanan atau kiri. Sang relawan terus saja salah menyebut tempat yang tepat. Seringkali tissu itu tak berada di kedua genggaman Gobind. Penonton tertawa, karena mengetahui bahwa gulungan tissu itu diam-diam dilemparkan Gobind ke belakang, di mana sang relawan tak mampu melihatnya. Meski sesungguhnya, makna yang ingin diambil adalah ketika masalah menghampiri, kita seringkali fokus pada hal-hal yang di luar, tanpa ingin menengok ke dalam diri sendiri. Oleh karena itu, ada baiknya kita mundur ke belakang, mencari jalan ke dalam diri dengan meditasi, kontemplasi, merenung atau berpikir. Kita jadi memiliki waktu untuk masuk ke dalam diri dan menelaah segalanya dari dalam. Bahkan Gobind menyarankan, setiap hari kita harus memiliki waktu untuk merenung dan berkumpul dengan orang-orang yang positif. Ketakutan, kegelisahan, kecemasan, dsb adalah sumbatan diri kita untuk mendapatkan kebahagiaan. Pemikiran kita terhadap masa lalu dan masa depan juga seringkali membuat kita tak bahagia di detik ini. Maka, hadirlah di detik ini untuk bahagia.
   
    Meski seringkali mengutip berbagai pemikiran dari Rumi, Gibran, bahkan kisah hidup Oprah, Gobind berbicara di depan audiens dengan gaya yang santai, bahkan seringkali kocak. Itu membuat acara menjadi cair. Pribadinya yang tenang dan menyenangkan membuat nyaman. Agak lebih dari waktu yang seharusnya, audiens antusias untuk berfoto dan book signing. Saya secara pribadi, kagum dengan apa yang mas Gobind lakukan. Datang bahkan sebelum audiens hadir, dan pulang ketika audiens sudah beranjak. Bahkan di akhir pertemuan, beberapa dari member GRI Sby masih sempat menyaksikan Gobind dan mbak Tika mengajak si kecil Rigpa menari-nari kecil. Kehangatan sang pembicara mungkin juga akan membawa pengertian-pengertian baru pada audiens ketika pulang. Tentang pemikiran baru, tentang pemaknaan baru terhadap kebahagiaan. Bisa jadi seperti yang Gobind Vashdev, sang heartworker katakan :   
       
      
    Kebahagiaan bergantung pada bagaimana kita memaknai kehidupan. 


Surabaya, 6 April 2014
Untuk Goodreads Indonesia,


Nabila Budayana

 






  

Monday, February 24, 2014

"Does every little girl really have to be a princess?”

"Aku menika sama pangeran." - aku menikah dengan pangeran.

Tulisan itu datang dari seorang gadis kecil yang melengkapinya dengan gambar perempuan berekor sedang tersenyum (mungkin maksudnya putri angsa atau yang lainnya). Seorang teman dari ujung timur Indonesia membagikan foto dari karya seorang anak didiknya. Ia memang kerap kali membagi gambar-gambar yang menarik dari aktivitas suatu sekolah di Timika, Papua tempat dirinya mengajar. Mulai isi kelas, kegiatan anak-anak, hingga karya-karya mereka. Ketika melihat gambar itu, saya tertawa. Betapa seorang gadis cilik sudah memiliki impian selayaknya dongeng putri Disney. Hal itu berlawanan dengan yang saya dapatkan dari seorang murid dari tempat saya mengajar. Dalam beberapa kesempatan ketika kami menyebut tentang kisah princess, murid saya, gadis cilik sepuluh tahun itu bicara, "Kenapa sih, kisah princess harus selalu happy ending? Kenapa harus selalu happily ever after? Kenapa harus selalu menikah? Itu kan cerita anak-anak? Kan bisa berteman (dengan pangeran)?" Baginya, belum saatnya bagi anak-anak untuk mendapatkan kisah yang berakhir dengan ciuman, apalagi menikah. Ia lebih senang dengan cerita putri yang berubah menjadi kodok, atau justru memilih menjadi penyihir di dalam pentas drama yang kami susun bersama. Terus terang saja, saya belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan semacam itu. Saya hanya mencari jalan keluar mudah dengan mengatakan, "Kalau gitu, tugasmu untuk bikin cerita princess yang kamu mau. Yang ending-nya nggak menikah dengan pangeran." Merasa belum menemukan jawaban yang tepat, hal itu menyangkut dalam benak saya, hingga saat ini.

Sejak kecil ternyata saya bukan penggemar berat kisah-kisah princess. Meski, masih sesekali mengikutinya. Meski begitu, jika seseorang menyebut kisah princess, kepala saya akan mengarah otomatis pada karakter princesses Disney. Lalu dari mana Disney's Princesses lahir? Nyatanya, ide itu berawal dari Andy Mooney sebagai pimpinan Disney Consumer Products di akhir 1990an. Ia memutuskan untuk mematenkan rancangan princess pada produknya setelah melihat beberapa gadis cilik berpakaian ala princess hadir ke pertunjukan Disney on Ice. Kisah-kisah putri Disney menjadi lahan bisnis yang menarik untuk dikerjakan. Ia mewujud dalam berbagai bentuk pertunjukan, film, buku, dan lain sebagainya. Bahkan persahabatan, kecantikan, kebaikan hati dari Putri Salju dalam "Snow White and the Seven Dwarfs" mampu menyeret kesuksesan dari karya Disney lainnya seperti Pinocchio, Dumbo dan Bambi.

Namun, di balik kilau-kilau kisah putri Disney, di tahun 1937, "Snow White and the Seven Dwarfs" sudah menimba ketidaksetujuan dari kaum feminis karena dianggap sebagai perwujudan dari subjektifitas pribadi bagaimana Walt Disney, sang penemu, memandang kehidupan keluarganya. Selain itu, juga dianggap merepresentasikan budaya patriarki di tahun 1940an. Ketidaksetujuan tentang kisah princess Disney pada gadis-gadis cilik juga diutarakan  Peggy Orenstein, seorang feminis dan seorang ibu, yang menulis artikel "What's Wrong With Cinderella?" dan dipublikasikan tahun 2006 di New York Times. Tamara Weston dari Time memberikan kritik juga untuk kisah princess Disney yang dianggap tak cocok untuk menjadi contoh bagi gadis-gadis muda.

Saya teringat saat saya sedang mencoba satu dress panjang di toko kecil karena tertarik ketika dikenakan manekin di etalase. Ada dua warna yang mesti saya pilih. Putih dan oranye. Saat itu bagi saya lebih baik yang berwarna putih. Pramuniaga yang menatap saya mengatakan, "Pilih putih biar kayak putri-putri ya?" oke, kemudian saya merunduk sebal, tak menatap sang pramuniaga, meski akhirnya tetap membawa dress itu pulang. Setiap kali mengenakannya, setidaknya, belum ada yang mengatakan saya seperti princess, atau justru mengubah kehidupan saya layaknya princess. Pada akhirnya saya berpikir betapa kuatnya kesan princess pada kepala sebagian besar manusia. Mungkin saja di luar sana, seseorang sedang berharap memiliki kulit semulus putri salju, atau mati-matian berjuang mengecilkan perut demi sekadar terlihat selangsing princess, atau bahkan berharap pasangannya dapat berubah dari Beast menjadi Prince. Ya, bagaimanapun untuk sebuah bisnis, meski bukan satu-satunya, Disney Princess berhasil membangun image-nya, yang kadang kala tak kita sadari, beberapa detailnya masuk ke kepala kita. 

Saya mungkin tak setajam Orenstein dalam memandang pernik-pernik hal berbau princess. Terutama ketika di awal esainya ia berkisah tentang betapa kekesalan menumpuk di dada saat putrinya ditawarkan segala hal yang berbau princess (panggilan princess, makan siang ala putri, hingga balon warna pink), dan ia bertanya, "Does every little girl really have to be a princess?” pertanyaan yang selama ini ada di benak saya juga. 

Kembali melayangkan pikiran di kelas tempat saya mengajar, ketika menatap mata mereka, para gadis cilik, saya berharap setidaknya mereka bukan hanya memiliki harapan sebesar putri yang ingin hidup bahagia bersama sang pangeran, namun juga mampu berjuang seberani Pocahontas dan berani jujur pada diri sendiri layaknya Mulan. Rasa-rasanya, kisah princess tak akan terlalu buruk. Hanya, ekspektasi akan kehidupan seperti princess yang saya harap tak membebani langkah mereka kelak.

Tapi ternyata saya belum bisa merasa lega dan mesti memutar otak kembali, ketika baru-baru ini seorang gadis cilik yang berbeda bertanya, 
"Kenapa princess harus pink?"     

 

Wednesday, January 15, 2014

Geliat Penulis Perjalanan Muda



Kini, buku-buku perjalanan sedang menapaki tangga kejayaan dan memiliki ruang yang cukup besar di masyarakat. Berbagi dan membaca hasil dari suatu perjalanan menjadi terdengar menyenangkan bagi banyak orang. Nama-nama yang tercetak di buku bukan hanya didominasi oleh para penulis perjalanan kawakan. Bibit-bibit penulis perjalanan baru kini pun bermunculan. Mereka yang selama ini menulis untuk halaman-halaman pribadi, mulai keluar dan menerbitkan buku. Gaya dan ide baru tentang penulisan perjalanan pun mengikuti pertumbuhan itu. Sejauh apa kiprah para penulis perjalanan muda itu di dunia travel writing saat ini, dan apa semangat yang mereka bawa? 

Dari perbincangan dan diskusi saya dengan Lalu Abdul Fatah : seorang penulis perjalanan muda, seorang penulis buku "Travelicious Lombok", kontributor di belasan antologi buku perjalanan, editor dan penggagas komunitas "Lombok Backpacker" selama ini, seringkali saya tertarik dengan gagasan yang ia bawa. Di tengah kesibukannya menyelesaikan skripsi, saya ajukan beberapa pertanyaan tentang geliat penulis perjalanan muda dan hasilnya, ia menyajikan sudut pandang yang berbeda.

Sejauh apa sesungguhnya travel writing / tulisan perjalanan dapat diartikan?
Kalau bicara teori, tulisan perjalanan dibagi ke dalam empat jenis. Ia bisa berupa jurnal perjalanan, buku panduan perjalanan, buku perjalanan, dan yang saat ini sedang naik daun adalah sastra perjalanan. Bedanya terletak pada gaya tulisannya. Jika tulisannya lebih ke arah naratif dan instruktif, itu termasuk catatan perjalanan. Kalau deskriptif dan instruktif, itu masuk kategori buku panduan perjalanan. Sementara kalau evokatif (menggugah) dan deskriptif, itu terkategorikan buku perjalanan. Dan, sastra perjalanan itu lebih bergaya evokatif dan naratif.
Itu teori idealnya. Sebab, ada juga yang membagi tulisan perjalanan ke ranah komersil dan tidak komersil. Maksudnya, tulisan perjalanan yang komersil itu lebih menonjolkan eksotisme, keindahan, dan hal-hal surgawi di dalamnya. Tujuannya memang untuk membangkitkan fantasi pembaca sekaligus menarik mereka untuk mau berkunjung ke tempat tersebut. Sebaliknya, tulisan perjalanan non-komersil mengangkat sisi lain di luar keindahan tempat, kenikmatan kuliner, dan hal-hal menyenangkan dalam perjalanan. Ia lebih mengangkat sisi humanis, kritik sosial, ataupun hal-hal yang bersifat perenungan atau kontemplatif.
Tapi, tentu saja pembagian-pembagian di atas sangat bisa diperdebatkan. Tidak ada batasan kaku, bahkan terjadinya lintas subgenre pun sangat memungkinkan. Dan, tulisan perjalanan pun jika dikembalikan ke ‘fitrah’nya adalah tulisan, sebuah ekspresi kebebasan berpikir manusia. Penulis perjalanan punya hak sekaligus tanggung jawab hendak ke mana membawa arah tulisannya. 
Namun, satu hal yang mesti digarisbawahi dalah tulisan perjalanan itu bersifat non-fiksi alias faktual. Bukan khayalan penulisnya. Jika perjalanan penulisnya disampaikan dalam wujud novel atau cerita pendek, yang tentu saja ada tambahan bumbu-bumbu di sana sini biar lebih dramatis, misalnya, maka ia sudah masuk ranah fiksi.
Saya kira, ini yang bisa menjadi ruang lingkup paling jelas untuk tulisan perjalanan. Ia berlindung di bawah kubah bernama non-fiksi.  

Mengapa Anda memilih tulisan perjalanan sebagai pilihan genre?
Sebenarnya saya masih pemain baru di genre ini. Saya mulai menekuni tulisan perjalanan sejak 2010. Buku solo perdana saya berjudul Travelicious Lombok. Buku yang bisa dikategorikan mixed antara buku panduan perjalanan dan jurnal perjalanan. Sebab di situ saya tidak hanya memberi informasi mengenai akomodasi, transportasi, kuliner, dan tips-tips teknis untuk berkeliling Lombok, tapi juga ada cerita perjalanan saya dari hari ke hari.
Namun, sebagaimana buku panduan yang informasi di dalamnya rentan kadaluwarsa, saya mulai beranjak ke travelogue alias cerita perjalanan. Alur dan gaya bertutur jauh lebih bisa saya lenturkan lewat cerita perjalanan. Tidak melulu bahasannya hal-hal teknis jika di buku panduan.
Maka, pasca buku solo saya itu terbit, gairah menulis di genre ini terus meningkat. Jika dalam menyanyi ada istilah range vocal, begitu pula dalam menulis. Saya melihat genre tulisan perjalanan ini memiliki range atau jangkauan yang luas, sebagaimana yang saya sebutkan di atas. Dan, saya pikir, ada peluang bagi saya untuk mengeksplorasinya.
Saya pun menulis artikel perjalanan untuk majalah. Di buku TraveLove, saya menulis cerita perjalanan yang dibumbui dengan romansa. Di buku Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan, saya melakukan otokritik atas publikasi yang melulu menceritakan keindahan dan itu sedikit tidak, juga langsung dan tidak langsung, berdampak pada arus kunjungan yang membludak di area wisata dan tentu saja berdampak.
Di buku Traveling Note Competition, saya menulis ala jurnal perjalanan saat berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas juga Karimun Jawa. Sementara di buku yang baru-baru ini terbit, Storycake for Your Life: Backpackers, saya berkisah dengan gaya yang lebih kontemplatif dengan sentuhan kocak.
Bagi saya pribadi, meminjam elemen-elemen fiksi untuk tulisan perjalanan itu jauh lebih menarik. Mengapa? Saya bisa memainkan alur dan mengeksplorasi gaya bercerita. Dan, itu jauh lebih bisa saya nikmati. Sebab, sebelum menulis buku solo pertama, saya lebih dahulu akrab menulis puisi, cerpen, dan naskah drama.
  
Akhir-akhir ini buku bertema perjalanan mendapat banyak tempat di antara pembaca. Menurut Anda, faktor apa yang mendukung fenomena tersebut?
Ada asap, pasti ada api. Jika buku bertema perjalanan sedang marak disukai pembaca di Indonesia saat ini, saya kira itu tidak lepas dari kesuksesan serial The Naked Traveler yang ditulis oleh Trinity. Ketika buku itu dilempar ke publik pada 2007 dan akhirnya dicetak berkali-kali, maka di situ jelas-jelas berlaku hukum permintaan dan penawaran. Ternyata, The Naked Traveler disukai karena gaya menulisnya yang blak-blakan dan cenderung kocak.
Kalau saya menerka, hasrat untuk mengetahui daerah lain beserta manusia yang tumbuh di atasnya  merupakan hal alamiah dalam diri seseorang. Pengalaman-pengalaman tak terduga, menyebalkan, menyenangkan, mengejutkan, dan seterusnya yang dialami seorang pejalan di daerah lain, memancing rasa ingin tahu. Apalagi jika pengalaman itu diolah dengan keterampilan menulis yang bagus, maka peluang untuk mengkhatamkannya sangat besar.
Ujung-ujungnya apa? Permintaan buku-buku bertema perjalanan pun meningkat. Penerbit pun sigap menyikapi ini. Mereka menawari pembaca yang skupnya luas dan minatnya beragam dengan buku-buku perjalanan yang juga beraneka macam. Ada pembaca yang menyukai cerita-cerita ringan dan kocak, maka pilihan jatuh, misalnya, pada The Naked Traveler. Ada pembaca yang menyukai kisah-kisah perjalanan penuh petualangan dengan ramuan sejarah yang kental, maka larilah mereka ke buku-buku yang ditulis oleh Agustinus Wibowo. Ada pula pembaca yang butuh buku-buku teknis yang akan memandu mereka ke suatu kota, pulau, atau negara, maka penerbit pun berlomba-lomba menyajikan itu.
Dan, hasrat bertualang dalam diri pribadi, ditambah asupan buku-buku bertema perjalanan, lantas kawin dengan maraknya media sosial dan promosi wisata baik dari pemerintah maupun swasta, klop sudah.     

Dari banyak buku bertema perjalanan, sesungguhnya adakah pengelompokkan jenis-jenis tulisan perjalanan pada spesifikasi tertentu? Apa kelebihan dan kekurangan masing-masing?
Pengelompokan ini sudah saya jawab di atas. Masalah kelebihan dan kekurangan, tentu saja ada. Tapi, ini juga berbeda tergantung masing-masing orang melihatnya.
Misalnya, saya melihat buku panduan perjalanan punya kelebihan di sisi teknis dan panduannya. Bagi pemula dalam aktivitas jalan-jalan, mereka akan terbantu oleh buku jenis ini. Apalagi jika cetakannya dalam bentuk saku, enteng di bawa ke mana-mana. Buku jenis ini bisa menjadi alternatif bantuan ketika di daerah yang dikunjungi ternyata tidak memiliki sinyal untuk akses informasi melalui internet, misalnya.
Namun, tentu saja kelemahannya adalah pada data dan informasi yang rentan kadaluwarsa. Dan, saya melihat penerbit-penerbit di Indonesia, masih belum seserius The Lonely Planet untuk terus memperbarui konten buku-buku panduan perjalanan terbitan mereka. 
Untuk jurnal perjalanan, ini bisa jadi alternatif bacaan yang mengasyikkan. Bisa dibawakan dengan gaya ringan tapi tetap berisi. Tapi, penilaian pembaca tentu akan beragam. Jika tidak diolah dengan dinamis, jurnal perjalanan bisa akan jatuh membosankan. Tapi, jika diselipi dengan humor, satir, kritik, dan elemen-elemen lainnya, saya yakin akan mampu membetot perhatian pembaca. Hal ini berlaku juga untuk buku perjalanan.
Sementara, sastra perjalanan, saya melihat kekuatannya pada kemampuannya untuk lintas waktu dan tempat. Jika mencermati buku-buku Agustinus Wibowo, misalnya, ia akan tetap asyik dibaca pada 10 atau 30 tahun mendatang, bahkan mungkin lebih dari itu. Mengapa? Karena telah ada usaha untuk menguniversalkannya. Universal yang saya maksudkan adalah nilai-nilai yang ia sematkan dalam kisah-kisah perjalanannya, bisa saja relevan dengan kondisi pada 10 atau 30 tahun mendatang. Apalagi tulisan-tulisannya berkutat pada urusan sosial, politik, agama, budaya, dan sejarah. Bukankah ada yang bilang kalau sejarah akan berulang? Dan, potensi keberulangan itu menyebabkan ia berpeluang pula untuk punya relevansi dengan kondisi mendatang. 
  
Menurut pengamatan Anda, bagaimana respons pembaca pada buku perjalanan dibandingkan dengan, sebut saja, buku-buku fiksi?
Genre buku itu punya peminatnya masing-masing. Meskipun tentu saja tidak kaku bahwa seorang pembaca  akan melulu baca buku yang sesuai genre minatnya. Sebagai penikmat buku perjalanan juga buku fiksi macam novel, saya mengamati bahwa buku perjalanan masih belum bisa menyaingi dominasi buku-buku fiksi.
Tak perlu jauh-jauh menganalisi. Cobalah ke toko buku. Bandingkan jumlah buku-buku fiksi dengan buku perjalanan. Di beberapa toko buku yang saya kunjungi, rak buku perjalanan masih cuma satu. Sementara buku-buku fiksi, seperti novel, tak usah ditanya. Bejibun! Apalagi novel lebih bisa mengusung tema-tema yang jauh lebih beragam ketimbang buku perjalanan.
Ya, dunia khayalan memang jauh lebih luas dari dunia nyata.  

Selain menerbitkan buku sendiri, Anda juga seringkali mengkoordinir dan berkolaborasi dengan penulis perjalanan muda lainnya dalam antologi kisah perjalanan. Ada hal menarik yang bisa dibagi tentang itu?
Saya membaca potensi. Mungkin bisa dibilang kalau saya ‘meminjam’ mata editor. Sebagai narablog aktif, saya melihat banyak tulisan perjalanan yang bagus. Bagi saya, sayang jika hanya berakhir di blog, tidak dibukukan. Meskipun hal ini pun masih bisa didebatkan di era internet saat ini yang justru lebih gampang mengakses konten di dunia maya daripada ke toko untuk membeli buku perjalanan.
Selain itu, saya melihat ada potensi pembaca buku perjalanan. Dengan berkaca pada diri saya sendiri yang haus akan buku-buku perjalanan, maka saya menerjemahkannya demikian pula pada pembaca di Indonesia.
Maka, saya adakan audisi untuk menjaring tulisan-tulisan perjalanan. Audisi terakhir yang saya lakukan adalah untuk buku Love Journey 2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia. Dari segi tema, banyak yang bilang itu menarik dan menantang. Mengapa? Karena saya menantang para calon kontributor untuk menulis catatan perjalanan mereka di Indonesia tapi dari sudut pandang yang lebih kritis. Misalnya, bagaimana mereka melihat kondisi tempat wisata yang banyak sampahnya, bagaimana mereka mengisahkan kehidupan pembatik, kondisi sosial yang tercermin dari para pedagang di pasar, atau kisah perjalanan ke situs wisata yang ternyata menyimpan sejarah yang jarang diungkap.
Dengan antusiasme yang lebih besar dari audisi sebelumnya untuk Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan, saya berani bilang bahwa tulisan-tulisan perjalanan masih diminati. Potensinya besar dan tinggal kejelian kita untuk menggalinya dengan menghadirkan tema-tema yang unik dan menarik.

Dengan semakin gencarnya buku-buku perjalanan yang bermunculan, apa itu menjadi indikasi bahwa para pejalan mulai tertarik untuk membagi pengalamannya melalui tulisan?
Saya kira demikian. Selain karena faktor hukum permintaan dan penawaran tadi. Bagaimanapun itu sebuah kesadaran positif. Kesadaran untuk berliterasi di antara para pejalan. Bahwa, sekalipun destinasi yang dikunjungi sama, tapi perspektif yang berbeda akan menghasilkan pengalaman yang juga berbeda. Hal itu akan tampak dari tulisan-tulisan perjalanan yang mereka ramu.

Topik apa yang menjadi jamak diangkat oleh para penulis perjalanan muda? Apa ada penulis perjalanan tertentu yang sedang banyak menjadi acuan mereka?
Saya melihat bahwa para penulis perjalanan muda masih terjebak pada destinasi. Yakni, bercerita tentang tempat yang mereka kunjungi. Masih jarang yang mencoba untuk menceritakan hal dan cara yang lebih subtil. Maksudnya, berupaya untuk menangkap makna-makna lain dalam perjalanan mereka untuk kemudian dituliskan. Entahlah alasannya apa. Bisa jadi karena kekurangan referensi untuk menulis yang lebih dari sekadar bercerita tentang destinasi. Jawaban paling mudah dan telak bisa kita temukan di rak buku perjalanan di toko buku. Akan terlihat perbandingan yang mencolok antara buku-buku perjalanan yang bicara destinasi semata dengan buku yang berkisah tentang kedalaman, tentang makna perjalanan.
Untuk acuan, saya melihat Trinity dan Agustinus Wibowo masih terkuat untuk saat ini.

Bagaimana karya-karya penulis perjalanan muda dalam ruang literasi Indonesia? Semangat apa yang mereka bawa?
Sebelumnya saya merasa harus memberikan apresiasi positif pada semangat para penulis perjalanan muda. Jika mau direnungkan lebih dalam lagi, di luar urusan pencapaian pribadi kala bertualang di sebuah wilayah, ada spirit dan nilai yang mereka tularkan pada pembaca. Kalau saya menerjemahkannya sebagai spirit untuk menjelajah, mengenal orang dan budaya yang berbeda, juga untuk menikmati sekaligus menemukan hikmah-hikmah tersembunyi di bumi.
Apalagi di era yang rentan konflik etnis atau agama yang diakibatkan oleh pemikiran sempit. Maka, di sinilah penulis perjalanan bisa memainkan perannya. Mereka bisa memancing pembaca untuk mengenal orang lain dengan segala keunikan mereka, baik adat, bahasa, kuliner, budaya, dan sejarahnya. Dan, tentu saja ini bisa membantu kita untuk meluaskan pandangan sekaligus wawasan.
Terlepas dari polemik tulisan perjalanan yang dianggap memicu ekses negatif bagi rusaknya destinasi, saya kira perlu dibangun pula kesadaran pada penulis perjalanan agar lebih bijak dalam menulis. Bijak ini maknanya luas. Silakan masing-masing menerjemahkannya.

Apa kendala yang dihadapi para penulis perjalanan muda? Apa yang dibutuhkan mereka untuk berkembang?
Referensi. Saya kira, saya dan penulis perjalanan muda lainnya, butuh lebih banyak lagi referensi buku perjalanan. Saya tidak mengatakan ‘referensi buku perjalanan yang baik’ karena itu sifatnya subjektif sekali. Karena pada dasarnya untuk tahu bahwa sesuatu baik, tentu karena ada pembandingnya yang buruk. Baik dan buruk, dalam ranah buku perjalanan, juga relatif.
Ketika referensi bacaan lebih banyak, cakrawala pemikiran meluas, maka ini pun akan berefek pada kedalaman tulisan.
Sekali lagi, referensi. Banyak membaca, banyak menulis.

Apa yang Anda harapkan pada dunia penulisan perjalanan Indonesia beberapa tahun ke depan?
Saya berharap ini bukan tren semata yang akan tenggelam dalam beberapa tahun ke depan. Dan, untuk tetap membuatnya berada di atas permukaan, maka cara satu-satunya adalah dengan terus berkarya.
Dan, saya sangat optimis dengan itu. Mengapa? Karena eksistensi tulisan perjalanan berbanding lurus dengan wilayah di bumi ini. Menuliskan satu wilayah saja bisa dari berbagai sudut pandang. Coba bayangkan ada berapa desa, kota, distrik, pulau, provinsi, negara, dan benua yang bisa dieksplorasi dalam tulisan-tulisan perjalanan.
Medianya pun bisa jadi amat beragam nantinya. Tidak melulu dicetak di atas kertas, tapi juga bisa dinikmati melalui media digital. Jika saat ini tulisan perjalanan sudah bisa dinikmati versi buku elektroniknya yang interaktif, maka ke depannya bisa lebih atraktif daripada itu. Membuat versi buku suara (audio book), misalnya, atau hal-hal yang saat ini belum terpikirkan oleh manusia.  

Industri perbukuan tampaknya masih sangat terbuka untuk berbagai nama baru dan konsep-konsep yang juga segar. Perjalanan, perkara menjelajah tempat dan menghayatinya, akan terus menjadi daya tarik tersendiri untuk dituliskan. Henry Miller pun menegaskan inti dari perjalanan, “Tempat tidak pernah menjadi tujuan seseorang, tetapi tujuannya adalah suatu cara baru melihat hal-hal.”  

-Nabila Budayana-

Sunday, December 29, 2013

Sepenggal Picisan



“Namanya Debur Ombak Selatan. Oke, orang tua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan?”
Bahkan sudah bosan aku mendengarnya. Itu bisik-bisik yang sudah sampai di telingaku. Sayang, aku pun tak mengerti mengapa namaku begitu. Setidaknya sampai hari ini. Di akhir perbincanganku dengan ayah. 

***

Ayah. Aku tak pernah ingin menyalahkan ayah. Kata ibu, hanya seorang pecundang lah yang terus saja menyalahkan orang lain. Seandainya saja ayah saat itu tak membawa kami pindah ke mari. Ke tepi selatan suatu pulau, yang seakan terpencil ini. Kehidupan kami di kota sangat baik sebelumnya. Ayah mampu hidup dari honor menulisnya, dan ibu mampu menambah biaya hidup kami dengan bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit besar. Tak ada kejanggalan apapun saat itu, sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian, saat ini, ketika diriku bukan lagi anak-anak. Usiaku sudah lebih dari dua puluh tahun. Ayah mengajak kami mengepak semua barang, dan memilih tinggal di sebuah pondokan tepi pantai selatan yang sederhana, namun tertata apik.
Bukan aku tak suka. Namun, mestinya ayah menyadari rasanya menjadi seorang gadis muda yang telah terbiasa dengan segala fasilitas kota. Untunglah kami tak benar-benar terputus dari kehidupan. Ada akses internet yang sengaja ayah pasang untuk mengirimkan naskah-naskahnya pada penerbit dan media. Sedangkan ibu, telah berhenti total dari pekerjaannya. Ia murni menjadi seorang wanita rumah tangga. Ketika aku bertanya, apa alasan ayah mengajak kami pindah ke mari, yang keluar dari bibirnya hanya “Sudah saatnya kembali ke masa lalu.”

***

Jauh, jauh sebelum saat ini, di kepala ayah, sebuah kisah lahir. Ia sesumbar kisah itu akan menjadi bagian penting dalam buku yang sedang ditulisnya. Buku yang mungkin akan bernasib sama seperti buku-buku sebelumnya. Tak terlalu laku. Hanya bertahan beberapa minggu di bagian rak depan toko buku, sebelum akhirnya berpindah di bagian pojok, dan berakhir di tumpukan gudang, menanti saat-saat ia masuk pada tumpukan rak diskon beberapa tahun kemudian. Aku selalu berpikir, apa yang menyebabkan buku ayah tak laku. Apa karena temanya yang sudah terlalu umum? Atau teknis penulisannya yang jauh dari cukup? Entah. Namun, ayah pun tak pernah peduli dengan itu. Ia seakan menutup kedua telinganya terhadap surat-surat elektronik yang berisi cacian pembaca. Hebat juga, pikirku. 

Anganku belum menemukan muara, ketika kudengar suara langkah seseorang dari belakang. Ternyata ayah. Ia mengambil tempat di ayunan kosong sebelahku. Ayunan ini kubuat sendiri, ketika kurasa tak ada tempat yang tepat untuk memandang laut.
“Sudah lama?”
“Lumayan. Tulisan ayah sudah selesai?” kataku tanpa menoleh padanya.
“Melihatmu dari jendela, ayah jadi ingin bergabung,” senyumnya masih sehambar warna langit di depan kami.
“Sejak kapan kamu menjadi sebesar ini?”
“Sejak ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan,” kata-kataku agak ketus, tapi biarlah.
Kami kemudian berada dalam kecanggungan. Seperti dua orang yang sudah lama tak saling bicara. Meski raga kami berada di dimensi yang sama.
“Mengapa ayah suka menulis kisah roman? Bukankah bagi sebagian orang itu terdengar payah?”
“Haha. Mungkin selama ini ayah terlalu sibuk dengan tulisan, hingga tak mendengar jika orang berbicara begitu?” ia sedikit tergelak. Aku tak merasa itu lucu.
“Ini kisah terbaru yang ayah tulis. Khusus untukmu, ada spoiler istimewa.”
Aku sudah yakin, tak akan ada yang menarik dari seorang penulis laki-laki yang bukunya telah membuat rugi penerbit dan berakhir di gudang. Tapi, biarlah. Lagipula, aku sedang senggang. Di antara deru suara angin pantai di telinga kami, ia pun lamat-lamat mulai bercerita.

***

Hanya ada tiga tokoh di kisah ini. Seorang laki-laki jahat, seorang pria payah yang berlagak pahlawan, dan seorang wanita yang tingkat kesabarannya keterlaluan. Maklum, lah. Hanya ada sekat tipis antara kesabaran dan kebodohan mau diperdaya.
Sang laki-laki menjanjikan banyak hal untuk sang wanita. Keberanian, kebijaksanaan, dan yang paling utama, janji-janji yang begitu manis. Janji setia, janji menyayangi, janji sehidup semati. Klise, gombalan tak mutu. Kata orang, keberuntungan adalah ketika kita berhadapan dengan musuh yang tepat. Sang wanita yang selalu menyajikan senyum dan ketulusan tanpa pura-pura, sayangnya terperdaya. Ia selalu setuju dengan ajakan sang laki-laki untuk bertemu setiap kali. Tak ada kecurigaan, tak ada prasangka. Semua laki-laki sebaik bapak, baginya. Sayang, bunga yang indah tak selalu mekar di tempat yang tepat. Sang laki-laki menghancurkan hidupnya seketika. Bukan hanya untuk saat itu, namun seterusnya. Laki-laki itu hanya mengaku ia tak sengaja melakukannya. Sang wanita, mengaku telah mencoba melawan sekuat tenaga. Namun, apa daya, ia hanya perempuan dengan bobot tubuh yang tak lebih dari lima puluh kilogram. Kuku-kuku jarinya sudah putus karena membela diri, tak mampu merobohkan tubuh besar sang laki-laki. Rasanya ia nyaris buta karena meratap. Meronta, menangis, mencoba bunuh diri, sudah ia coba lakukan semua. Bukan hanya untuk kehidupannya yang berantakan, namun kepercayaan dan ketulusannya yang telah dimanfaatkan. Butuh waktu yang lama sebelum akhirnya ia berani menatap kembali harinya, dan membuka diri pada seorang pria yang lain. Pria payah yang tak pernah menjanjikan apapun, namun bertekad membawa sang wanita keluar dari pusaran kemuraman. Bukan hal mudah. Sang pria pun harus meluluhkan hatinya dalam waktu yang lama. Wanita itu begitu rapuh, hingga ia takut menjadi pria kedua yang menghancurkan hidupnya. Sang pria terus mencoret kalendernya, menunggu waktu hingga sang wanita menerima pinangannya. Di sela itu, sang pria masih sibuk dengan dirinya sendiri, dengan tulisan-tulisannya sendiri.
Aku begitu ingin menutup kisah ini dengan bahagia. Oleh karena itu, sang pria kubuat bertekad kuat dalam dirinya sendiri, bahkan menuliskannya besar-besar di setiap halaman catatannya. KEBAHAGIAAN UNTUKKU DAN WANITAKU. Kubuat sang pria meminang sang wanita di suatu pantai. Keduanya sepakat. Untuk memungut dan menyusun sisa-sisa harapan. Melanjutkan kehidupan. Nyatanya, kenyataan tak semudah itu. Mereka belum siap untuk bersama-sama. Sang perempuan belum banyak mampu menerima seorang pria di samping tempat tidurnya setiap saat. Ia masih terbayang laki-laki yang dulu, yang melantakkan hidupnya. Sang pria memilih mengalah, ketimbang memaksakan. Kemudian keduanya sepakat berpisah. Memberi waktu masing-masing untuk berpikir. Namun, aku tetap kukuh ingin menjadikan kisah ini bahagia. Jadi kubuat mereka bertemu kembali, di tepi pantai yang sama, beberapa tahun kemudian. Mereka kembali. Kali ini keduanya berjanji untuk tak saling pergi. Debur ombak menyaingi suara janji mereka. Janji itu benar adanya. Putri mereka yang lahir beberapa tahun kemudian, dinamakan Debur Ombak Selatan. Setelah beberapa tahun pergi, mereka kini tinggal kembali di sana, di tepi pantai itu, untuk menyusuri masa lalu. Sejak itu, diam-diam, mata sang wanita selalu terlihat sembab, dan ia seringkali menatapi kuku jarinya sendiri. Sedangkan sang pria sibuk menuliskan kembali kisah itu, sekaligus mengungkapkan masa lalunya. Meski akhirnya terkesan picisan dan penuh drama, itu hidupnya. Dan kini ia mengungkap rahasia dua puluh tahunnya. Kepada Debur Ombak Selatan, putri yang tak pernah tahu betapa besar rasa sayangnya.

***

Ayah menarik napas panjang setelah bercerita. Aku terdiam. Tak ada yang mampu kukatakan. Kisah roman itu menjadi kisah paling mengubah hidupku. Setelah itu, aku tak pernah lagi bertanya-tanya. Mengapa kami pindah ke mari, dan mengapa ibu tak pernah memberi penjelasan dari mana nama Debur Ombak Selatan itu berasal. Namun itu sekaligus menyulut benci pada diriku. Mengapa ayah selalu berkisah roman. Yang saat ini kukira, tak selalu picisan.

                                                                                            

         

* Ditulis untuk tantangan menulis #ombak Jia Effendie