Nah, karena saya turut bersama mereka kali ini, sebelum berangkat, Bu Ade membagi info mulai itinerary hingga rujukan akun media sosial beberapa pesohor yang juga melakukan perjalanan dengan kapal yang sama. Itu berguna sekali, karena belum pernah melakukan cruise sebelumnya, saya belum bisa membayangkan bagaimana dan apa saja yang akan dilakukan di atas kapal. Begitu baca dokumen itinerary-nya, saya agak tercengang. Selain kegiatan di darat, lebih banyak kolom yang menyebutkan untuk menikmati fasilitas di dalam kapal. Saya jadi bertanya-tanya, memangnya seberapa banyak fasilitas di atas kapal? Pertanyaan disimpan, kaki dilangkahkan.
Kami menumpang kapal Mariner of The Seas milik Royal Caribbean. Karena ia bertolak tanggal 21 November 2016 sore dari Marina Bay Cruise Centre (MBCC), kami mesti menuju Singapura terlebih dulu. Tak ada kendala berarti dalam perjalanan menuju Singapura. Begitu tiba di Changi Airport, kami semua pasang mata, mencari papan nama bertuliskan nama Bu Ade. Karena ada kesalahan penulisan nama dari pihak travel, jadi sempat ada adegan saling tunggu dan tebak-tebakan. Begitu menemukan orang yang menjemput, kami dibawa bertemu dengan rombongan asal Indonesia lain yang juga telah berdatangan. Mereka rata-rata berprofesi sebagai blogger atau vlogger asal Jakarta dan Medan. Mas Febrian, Mas Jovian, Mas Indra, Mbak Tysca, dan Mbak Dame. Hampir bersepuluh, kami langsung dibawa menuju MBCC, karena kapal akan segera bertolak. Begitu mendekati area MBCC, dari jendela mobil, dilatarbelakangi langit abu yang mendung, Mariner of The Seas merapat dengan gagah. Kami sibuk mengagumi betapa besarnya ukuran kapal yang akan kami tumpangi!
Akhirnya kami berada di sisi terdekat dengan kapal ketika melewati lorong menuju kapal. Dari samping, kapal ini terlihat semakin raksasa. Sebelum boarding,
sea pass card kami di
scan satu persatu. Petugas tampaknya benar-benar menjaga keamanan kapal. Bahkan sebelum kami melewati proses
scan sea pass card pun, kami diminta menunjukkan beberapa kali di antrean proses. Begitu masuk ke dalam, interior mewah menyambut. Mengingatkan dengan satu-satunya referensi pesiar sepanjang masa : Titanic.
 |
| Royal Promenade, area "down town" kapal |
 |
| lorong lift |
Melihat sekilas penumpang, memang cukup jarang orang Indonesia terlihat. terhitung hanya beberapa kali saya mendengar percakapan dalam Bahasa Indonesia di dalam kapal. Sepertinya Singapura, Korea, dan wajah-wajah India banyak mendominasi. Bicara tentang keberagaman, saya punya pengalaman menarik. Karena sangat jarang perempuan berhijab di dalam kapal, jadi ketika bertemu dengan sesama pengguna hijab, kami beberapa kali berkontak mata, bahkan menyapa. Ketika di dalam lift, misalnya. Saya sudah di dalam lift yang penuh ketika ada serombongan keluarga muslim yang masuk ke dalam lift. Beberapa perempuan dan laki-laki paruh baya dengan seorang nenek berkursi roda. Begitu beranjak masuk, mereka mengucapkan good morning pada orang-orang di lift, dan menambahkan Assalamualaikum karena melihat saya terselip di antara mereka. Kami pun mengobrol singkat. Mereka bertanya asal saya, dan heran bagaimana setelah beberapa hari di atas kapal yang sama mereka jarang melihat saya. Lain lagi, ketika bertemu sebuah keluarga di lift dan saya mesti merangsek karena turun lebih dulu, seorang ibu berjilbab menepi memberi jalan dan memegang lengan saya hangat sambil memanggil "Adik". Namun justru keberagaman ras dalam satu kapal itu yang menarik. Saling menyapa tanpa mengenal sebelumnya, atau mengobrol ketika bertemu di
shore excursion. Saya sempat mendengar curhatan seorang bapak asal Singapura yang berkisah tentang pengalaman dinner kemarin malam ketika kami mesti mengenakan pakaian formal, atau seorang ibu dengan dua anak yang baik hati berbagi meja breakfast-nya dengan kami, sekaligus menawarkan mengambilkan gambar kami dengan kamera. Meski berbagai macam latar belakang kultur, namun saya sangat jarang melihat ketidaktertiban maupun perilaku buruk. Semua orang tertib mengikuti aturan demi kenyamanan bersama.
Kami dipersilakan untuk makan siang terlebih dahulu begitu tiba menjejak kapal. Lokasinya di Windjammer deck 11. Resto dengan sistem
buffet yang sifatnya casual. Di sinilah pada akhirnya tempat makan yang paling sering kami kunjungi, baik untuk sarapan maupun makan siang. Jenis makanannya bermacam-macam. Mulai salad hingga
sea food, mulai buah-buahan hingga yogurt. Di Windjammer juga semua orang berdatangan. Sesekali kami berpapasan dengan kru kapal yang juga mengambil makanan. Jika kursi sudah penuh, biasanya akan diumumkan himbauan untuk bergantian meja dengan tamu yang lain. Pelayanan ruang makan ini juga memuaskan. Piring kotor cepat diambil, meja segera dibersihkan,
waiter berkeliling membagikan minuman dan mengatur agar semua orang mendapat tempat, makanan cepat kembali terisi, lantai cepat dibersihkan, layanan
hand sanitizer di pintu masuk, dan lain sebagainya. Setelah beberapa kali ke mari, kami bisa membaca satu pola. Karena selalu ramai, dan akan cukup susah mencari kursi kosong, mesti datang di awal waktu makan. Jika beruntung, bisa dapat posisi dekat jendela yang bisa langsung dapat
view laut luas. Di hari terakhir malah Mbak Dame, Mbak Atid, Mak Gondut, dan saya bisa menikmati
sunrise dari meja makan kami. Siapa yang bisa menolak pemandangan laut, matahari terbit, makanan enak, dan obrolan hangat? :)
 |
| sebagian area Windjammer |
Pak Andi mengajak kami berkeliling untuk mengenalkan fasilitas-fasilitas di dalam kapal. 14 deck (lantai) dengan begitu banyak tempat dan fasilitas awalnya membuat kami cukup bingung. Mulai berbagai macam restoran, pusat kebugaran,
sports area, theatre, bioskop mini, area
ice skating, area pertokoan dan cafe, bahkan kapel untuk kepentingan pernikahan, hingga helipad. Penumpang sangat dimanjakan fasilitas. Tapi benar kata Pak Andi, dalam beberapa hari kami sudah bisa cukup hapal lokasi-lokasi tersebut. Sarapan di deck 11, makan malam di deck 4, kolam renang di deck 11, cafe 24 jam di deck 5, perpustakaan di deck 7, dan lain sebagainya. Tapi sangat wajar lupa atau tersesat. Untuk mengatasinya, Mariner of The Seas menyediakan sebuah layar sentuh besar di hampir tiap deck di area lift. Di situ siapa pun bisa mengakses informasi
event harian, jalan menuju kamar dan
rest room, lokasi-lokasi fasilitas yang dituju, dan bermacam lainnya. Misalnya, dari
stateroom deck 6, saya ingin menuju kolam renang. Tinggal sentuh beberapa tombol pilihan, di peta kapal, akan terlihat posisi kita dan garis titik-titik merah yang menunjukkan rute mana yang harus kita ambil untuk menuju lokasi tujuan. Sangat membantu. Untuk orang tua dan pengguna kursi roda pun kapal ini sangat ramah. Di sepanjang lorong kamar disediakan
handle sepertinya halnya di rumah sakit, dan jalur-jalur khusus yang selalu ada untuk pengguna kursi roda.
 |
| Layar sentuh yang mudah ditemukan |
 |
| Layar sentuh menunjukkan posisi dan rute menuju tujuan |
 |
| perpustakaan |
Masih ada waktu sebelum
drill, kami dipersilakan untuk memasukkan barang ke dalam kamar terlebih dahulu. Begitu tiba di lorong panjang kamar, koper-koper bawaan kami sudah tersedia di depan setiap pintu kamar. Scan kartu, begitu masuk ke dalam kamar, kami langsung sibuk fokus dengan balkon. Begitu membuka pintu geser antara kamar dengan balkon, langsung terlihat
view laut lepas! Tanpa kami sadari ternyata kapal sudah berjalan menuju Port Klang untuk
shore excursion Kuala Lumpur keesokan hari. Guncangan nyaris tidak terasa, karena kapal tak melaju terburu. Sepertinya kapal memang disengaja melaju perlahan untuk menjaga kenyamanan penumpang menikmati fasilitas di dalam kapal. Membaca beberapa artikel, kebanyakan kapal pesiar memang sudah menggunakan
stabilisizer dan badan kapal yang besar meminimalkan guncangan. Namun, tidak menutup kemungkinan memang kita mengalami
motion sickness. Tapi apa yang perlu dikhawatirkan jika ada obat dan fasilitas kapal yang bisa dinikmati. Bahkan sebagian besar penumpang adalah lansia dan anak-anak yang bisa beraktifitas lancar tanpa gangguan.
Di setiap kamar dibagikan setiap hari Cruise Compass (semacam buletin harian) yang menginfokan semua fasilitas kapal hari itu. Jam makan pagi-siang-malam untuk tiap restoran, event-event khusus yang diadakan hari itu, penawaran-penawaran tertentu, selipan agenda umum esok hari, bahkan hingga info waktu
sunrise, sunset, hingga
weather forecast. Cruise Compass jadi panduan untuk dibawa ke mana-mana. Biasanya sepulang dari makan malam,
room attendant sudah merapikan kamar dan meletakkan cruise compass dan edaran lainnya di atas tempat tidur untuk memastikan penumpang melihatnya. Mariner of The Seas bersungguh-sungguh memfasilitasi segala usia penumpang. Beberapa layanan dikhususkan untuk anak-anak dan remaja. Cruise compass-nya pun berbeda.
 |
| cruise compass yang detail menjabarkan agenda per hari |
 |
| cruise compass khusus untuk anak-anak |
Baru rehat sejenak, pengeras suara yang dipasang di penjuru kapal mengumumkan bahwa sudah saatnya
drill (simulasi evakuasi di saat darurat). Di proses ini, seluruh penumpang diwajibkan ikut serta tanpa kecuali. Bahkan awak kapal mengumumkan bahwa proses ini diatur secara hukum. Awak kapal bersungguh-sungguh dalam proses simulasi. Room attendant mengetuk dan mengecek satu per satu kamar penumpang untuk memastikan bahwa semua orang sudah berkumpul ke titik kumpul evakuasi. Kamar yang sudah kosong, diberikan tanda kartu merah dengan keterangan "evacuated" pada lubang kartu. Kami semua bergegas menuju titik evakuasi yang telah ditentukan. Di ujung tangga tiap deck ada beberapa petugas yang membantu memeriksa
sea pass card kami, kemudian menunjukkan di deck mana kami mesti berkumpul. Kesungguhan awak kapal belum berakhir. Masih ada petugas yang melakukan scan kartu untuk mendata para penumpang yang telah mengikuti drill. Kami berbaris. Anak-anak berbaris di bagian depan dan diberikan gelang berwarna merah untuk usia-usia tertentu. Gelang plastik itu wajib dikenakan terus menerus hingga
cruise usai. Titik evakuasi memang diatur pada deck di mana
life jacket dan sekoci tersedia. Setelah semua berbaris, beberapa petugas memeragakan cara penggunaan
life jacket. Setelah itu
drill usai, penumpang bisa kembali beraktifitas di kapal.
Makan malam ternyata menjadi agenda paling menyenangkan untuk saya selama di kapal. Kenapa? karena semua orang berkumpul dan mengobrol hangat. Di tiap
sea pass card, sudah tertulis di mana kami bisa makan malam. Grand dining room dibagi menjadi tiga deck untuk menampung seluruh penumpang. Grup indo kebagian di Top Hat and Tails deck 4. Kami terbagi menjadi dua meja. Saya semeja dengan Bu Ade, Big A, Little A, Mak Gondut dan Mbak Atid. Perempuan-perempuan dari berbagai rentang usia. Anak-anak hingga lansia. Apa saja obrolannya? Macam-macam. Mulai mengomentari makanan, atau sekadar candaan. Waiter meja kami, Xiaolong asal China dan asistennya, Pak Igede asal Bali. Di hari pertama, saya melewatkan parade karakter dreamworks dan terhalang banyak orang yang ingin menonton lebih dekat. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke ruang makan lebih dulu. Ternyata saya orang pertama yang hadir. Xiaolong dan Pak Gede menyambut saya. Menarikkan kursi dan melebarkan sapu tangan. Untuk
dinner, memang semua bersistem ala carte. Karena yang lain belum datang, saya diajak mengobrol oleh Pak Gede disela dirinya yang menawarkan roti hangat. Pak Gede rupanya baru sebulan bekerja di Mariner of The Seas, sejak menurutnya sudah tak ada lapangan kerja yang cocok lagi di Bali. Sementara anak-anaknya membutuhkan biaya untuk sekolah. Sosok dan cerita Pak Gede menarik. Dan hingga hari terakhir, saya masih suka mengobrol dengan Pak Gede di sela
dinner.
Setelah makan malam, kami menonton pertunjukkan
ice skating Under The Big Top. Lokasinya di Studio B decks 3 dan 4. Saya cukup penasaran dengan pertunjukan di atas kapal. Apakah akan sebagus di darat? Ternyata Under The Big Top cukup menarik. Penampil prima dan terlihat pertunjukan terkonsep dengan baik. Dalam sekali pertunjukan, mereka memainkan beberapa tema cerita. Tujuannya, agar sebanyak mungkin audiens merasa terhubung dengan tema-tema tersebut. Mulai tema berbagai bangsa, badut untuk anak-anak, hingga romansa. Atraksi-atraksi yang disajikan pun tak melulu satu arah. Penonton diajak interaktif dengan bertepuk tangan, menjadi bagian pertunjukan, hingga penampil yang memercikkan air dan berinteraksi dengan audiens di tengah pertunjukan.
Hebatnya, saya rasa awak kapal, baik di ruang makan hingga penampil membawa spirit yang serupa. Semua berusaha "merangkul" dan membantu penumpang untuk menikmati waktu cruise mereka.
Bersambung ke
Jurnal Pesiar Lembar Kedua. dan
Jurnal Pesiar Lembar Ketiga.