Pages

Wednesday, December 10, 2014

Film Adaptasi, You Are My ABCD : LPM GRI Sby dan NBC Sby 30 November 2014

Wajah-wajah tertekuk dan ungkapan "Ah, nggak sebagus bukunya!"

Penikmat buku, selain kerap merasa antusias, juga kerap kali menjadi salah satu penggerutu. Merasa ekspektasi diruntuhkan dengan tontonan film yang diangkat berdasarkan buku. Entah melenceng jauh dari cerita yang seharusnya, setting yang tak sedetail deskripsi penulis buku, dan banyak lainnya. Sementara di sisi lain, apa pendapat dari seorang film maker?

Berdasarkan hal itu, kami terpikir untuk menemukan jawaban. Seorang penonton yang menjadi raja bagi sebuah karya sinematografi. Lantas bagaimana pendapat dari sisi seorang film maker?

Berkawan sejak beberapa tahun terakhir melalui Nulisbuku Club Surabaya, saya teringat akan seorang Christian Pramudia, Kak Cis, begitu saya memanggilnya. Seorang sutradara, penulis skenario, penyiar radio, penulis dan penikmat buku, pengajar dan seorang dosen media komunikasi film di sebuah Universitas Negeri di Surabaya. Saya ajukan ide tentang konsep diskusi kali ini, ia menyetujui tanpa berpanjang-lebar. Mendapat rekomendasi dari seorang teman tentang sutradara berpengalaman, saya menemukan Mbak Hebz, Hafshoh Mubarak. Sutradara di sebuah animation studio yang memberi perhatian khusus pada dunia animasi dan teater. Dua sutradara yang memiliki kecenderungan berbeda, dipertemukan dalam satu panggung diskusi. Akan menarik, tentu.

Menikmati acara bersama rekan-rekan dari Nulisbuku Club Surabaya, mengapa tidak? Goodreads Indonesia regional Surabaya bersama Nulisbuku Club Surabaya beberapa kali berbagi meja bersama di salah satu perhelatan komunitas. Sahabat-sahabat Nulisbuku Club Surabaya menyambut baik, dan berjalanlah acara ini. Tak ada salahnya juga, mencoba tempat makan baru, Favourite Eatery yang banyak membantu kami untuk memfasilitasi. Terima kasih untuk semua pihak yang telah merelakan usahanya demi terselenggaranya acara tanggal 30 November 2014 ini.

Ketika kami mulai, kak Cis berbagi tentang makna dari adaptasi yang merupakan seni bercerita. Adaptasi ada dalam DNA kita semua, yang berarti kita semua selalu senang untuk menceritakan kembali tentang sesuatu. Mulai dongeng, folklore, hingga obrolan ringan di cafe. Membahas film adaptasi, Kak Cis menjelaskan bagaimana sejarah film adapatasi yang diawali oleh pengangkatan kisah Alice in Wonderland di tahun 1903, masih berupa film bisu dengan 16 adegan. Film adaptasi pada dasarnya dibagi menjadi dua jenis, Fateful Adaptation yang merupakan pengadaptasian dari buku secara setia dan persis. Dalam hal ini dimisalkan dengan The Fault in Our Stars novel milik John Green yang dialihmediakan menjadi sebuah film yang disutradarai oleh Josh Boone. Juga Loose Adaptation yang merupakan teknik pengadaptasian dengan hanya mengambil beberapa bagian dari buku, misalnya Film Pintu Terlarang yang berdasarkan novel milik Sekar Ayu Asmara. Kak Cis pernah beberapa kali mengangkat film pendek dengan gaya Fateful Adaptation berdasarkan bukunya yang diterbitkan secara self publishing, Curhat Cinta Colongan. Sementara Mbak Hebz sedang berproses dengan film animasinya yang menggunakan teknik pengadaptasian Loose Adaptation, yaitu Knight of Damascuss yang terinspirasi dari novel Salahuddin al-Ayyubi dan Perang Salib III karya Alwi Alatas.

"Film adaptasi tidak berutang apapun pada teks asli." Ucapan dari Richard Kevolin ini menjadi rujukan bahwa sesungguhnya media yang berbeda dari buku, yaitu film, semestinya adalah sebuah media komunikasi dengan bentuk yang berbeda, sehingga menjadi sebuah proses pengangkatan cerita yang bebas. Penulis skenario adaptasi tidak boleh terbebani oleh apapun.

Membahas tentang mengapa sesungguhnya pembaca buku kerap kecewa setelah menonton film adaptasi, Kak Cis dan Mbak Hebz berada dalam satu opini yang sama. Dalam proses pembacaan buku, pembaca menjadi pemeran utama. Mereka yang menentukan sendiri emosi dan ekspektasi. Dengan majemuknya pembaca, ekspektasi pun menjadi bermacam-macam dan tentunya bersifat sangat personal. Untuk itu, bagi seorang film maker, mengangkat film berdasarkan kisah buku bukan merupakan hal mudah dan menjadi tantangan tersendiri. Mereka memiliki beban tersendiri untuk kepentingan proses riset, menyesuaikan dengan durasi film, penerjemahan adegan menjadi bentuk visual, dan banyak hal lainnya yang menjadi tugas besar dari seorang penulis skenario adaptasi. Penulis skenario pun semestinya tak memiliki utang apapun kepada penulis buku. Misalnya saja pada film Harry Potter. Di buku, tiap adegan digambarkan dengan deatil, sedangkan pada film, beberapa adegan digabungkan menjadi satu. Penulis skenario adaptasi mesti bisa mengambil adegan terbaik dari suatu cerita. Bicara tentang ekspektasi, Mbak Hebz sendiri secara personal merasa 'takut' untuk menonton seri Supernova Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, karena KPBJ adalah satu-satunya novel yang bisa ia habiskan dalam waktu kurang dari 24 jam.

Rectoverso. Mbak Hebz menyatakan dengan yakin bahwa judul tersebut menjadi film adaptasi terbaik sejauh ini bagi dirinya. Baginya, para sutradara film omnibus tersebut berhasil menghasilkan film yang baik dan persis seperti yang dibayangkannya. Selain itu, Rectoverso ia anggap merupakan hasil yang sangat baik dalam proses adaptasi kisah dari buku, terutama di "Hanya Isyarat" yang disutradarai oleh Happy Salma. Sedangkan seorang Christian Pramudia menjawab tentang film adaptasi terbaik dengan diplomatis dari dua sisi. Sisi dirinya sebagai seorang pembaca yang memilih Ca Bau Kan, dan Noah dari sisi seorang penulis. Ca Bau Kan menyajikan detail yang sangat memuaskan. Sang sutradara, Nia Dinata bahkan menyiapkan properti secara khusus. Kain Batik khusus, desain sepatu, dan begitu banyak hal lain sengaja dibuat untuk kepentingan penyesuaian latar waktu. Sedangkan pengadaptasian Noah ke skenario sangat mengagumkan bagi Kak Cis.

Bagi Mbak Hebz, membuat film tak harus selalu dari novel. Ia banyak berkisah tentang pengalamannya dalam proses pembuatan film Knight of Damascuss. Ia sengaja membuat seorang tokoh baru, bukan seorang Salahuddin Al Ayyubi seperti dalam buku. Baginya, ada yang harus benar-benar sama, namun ada yang tidak dengan berbagai pertimbangan. Pengalihwujudan tokoh Salahuddin ke layar mampu menimbulkan kontroversi dan perdebatan. Oleh karena itu, Mbak Hebz lebih memilih untuk memunculkan tokoh baru dengan sudut pandang yang berbeda.

Diskusi kami merambat pada mengapa lebih banyak penonton yang lebih memilih untuk menyaksikan film adapatasi Hollywood daripada film adapatasi negeri sendiri. Kak Cis mengungkap resep dari keberhasilan dari film Hollywood, bahwa mereka selalu mengangkat satu tokoh utama. Jalan cerita akan berfokus pada tokoh utama, tujuan akhir dan perjalanannya mencapai tujuan tersebut. Belakangan, film Indonesia mulai melakukan hal yang sama. Contohnya Negeri 5 Menara dengan Salman Aristo sebagai penulis skenario. Meski memiliki banyak tokoh, namun hanya satu tokoh sentral yang menjadi fokus utama di cerita. Selain itu, Hollywood menggunakan teknik skenario tiga babak yang menjadikan dinamika film menjadi apik. Untuk membatasi seknario adaptasi, Kak Cis mengatakan ada tujuh besar poin panduan. Siapa tokoh utamanya, apa tujuannya, apa/siapa hambatannya, bagaimana akhir ceritanya, nilai yang ingin disampaikan, bagaimana kita mengisahkan cerita, serta apa perubahan dari tokoh dalam cerita.

Sama halnya dengan seorang penulis cerita fiksi, seorang penulis skenario harus bisa menentukan dalam satu kalimat yang menggambarkan keseluruhan cerita. Premis. Seorang penulis skenario tidak memiliki banyak waktu untuk mempresentasikan ide ceritanya. Mbak Hebz mencontohkan dengan film Strawberry Suprise yang berangkat dari kalimat "Keinginan untuk memiliki suatu relationship yang bisa dibanggakan." Sementara film Hari untuk Amanda "Kita harus tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan." Film Rectoverso berkata "Yang terjadi, terjadilah." Sedangkan film LOVE "Setelah sakit, ada bahagia."

Selain premis, menurut Mbak Hebz, yang perlu diperhatikan dalam film adaptasi adalah pengangkatan hal yang paling menarik dari buku. Novel Bumi Manusia milik Pram sangat berat untuk diangkat ke film. Hal tersebut dikarenakan begitu banyaknya adegan menarik yang bisa diangkat, sehingga cukup membingungkan sang penulis skenario bagian mana yang akan diambil. Dalam penentuannya, ternyata seorang film maker harus melihat dari segi penonton. Apakah film tersebut ditujukan untuk Remaja, Semua Umur atau justru Dewasa. 

Apakah ada batasan atau aturan tertentu dalam melakukan pengangkatan film adaptasi? Dijelaskan, dalam Fateful Adaptation, paling tidak tidak menghilangkan tokoh utama dan tujuannya. Secara garis besar, tujuan dari film serupa dengan buku : menyampaikan pesan pada pembaca. The Fault in our Stars dan 5 cm dapat menjadi contoh. Penonton dapat dengan mudah mengambil inti maupun pesan dari cerita. Apabila 75% penonton tidak mampu membaca pesan dari film tersebut, bisa dikatakan sang pembuat film tidak berhasil. Paling tidak film adaptasi harus disurvei demi kepuasan penonton. Film adaptasi nyaris tidak memiliki perbedaan dengan film yang bukan adaptasi. Yang berbeda, hanya pada pilihan dan resiko. Film adaptasi lebih beresiko karena bermain dan bertaruh dengan ekspektasi yang lebih besar. Film maker harus lebih siap untuk dicacimaki.

Apakah film adaptasi seharusnya selalu persis dengan buku yang diangkat? Tanpa tendensi, Mbak Hebz mencontohkan sebuah film dengan proses adaptasi yang terkesan dipaksakan. Ia cukup kecewa dengan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Dengan sutradara sang penulis buku sendiri, film-nya menjadi terlalu persis dengan versi novel. Jika begitu persis, untuk apa film? Hal itu akhirnya mengerucut pada kesimpulan bahwa buku dan film adaptasi semestinya saling melengkapi.

Tentang perbandingan film adaptasi Indonesia dengan film karya luar negeri, Kak Cis dan Mbak Hebz menanggapi bijak. Teknis adaptasi film Indonesia sudah bagus. Namun tidak bisa dipungkiri, akan selalu ada taste yang berbeda di setiap negara. Film Indonesia kurang diminati karena belum cukup mendapat kepercayaan penonton negeri sendiri. "Gimana bisa bagus, kalau nggak ditonton?" Mbak Hebz dan kak Cis sepakat dengan kalimat ini. Film Ekpedisi Madewa, misalnya. Memiliki jalan cerita yang baik, namun terbatas dari sisi special effect. Para ahli special effect negeri sendiri cenderung memilih untuk tinggal dan berkarya di luar negeri. Sehingga, Ekspedisi Madewa tidak begitu banyak mendapat apresiasi. Bendera Sobek kurang lebih mengalami hal yang serupa. Meski berkualitas bagus, namun mengalami gagal tayang karena mesti merugi di tengah proses produksi sebesar 3 Milyar rupiah. Sesekali, film kita gagal diminati di negeri sendiri, namun meraih sukses ketika telah diambil alih oleh rumah produksi lain di luar negeri. Namun kita tidak bisa serta-merta membebankan kesalahan pada penonton. Bisa jadi, ada faktor lain yang menyebabkan kegagalan dari suatu film. Misalnya, karena kurang gencarnya promosi yang dilakukan. Pada akhirnya, Kak Cis dan Mbak Hebz menghimbau siapapun untuk menonton film adaptasi Indonesia.

Selain membahas film, Ravita Cravd, member dari NulisBuku Club Surabaya berkisah tentang buku yang ditulisnya, dan telah di-launching di awal tahun 2014 ini : You Are My ABCD. Berkisah tentang cinta diam-diam, penulis muda ini berani bermain dengan konsep. Sebuah buku dengan satu garis besar cerita, disampaikan dengan berbagai macam gaya. Puisi dan cerita pendek yang disampaikan bergantian. Gaya menulisnya banyak dipengaruhi oleh Dee dan M Aan Mansyur. Ravita juga berkisah tentang berbagai feedback yang didapatkannya dari pembaca. Mulai pembaca hingga dosennya sendiri. Sebagai penulis pemula, Ravita mempunyai potensi untuk terus berkembang.

Pada akhirnya, baik film adaptasi maupun buku Ravita, You Are My ABCD berujung pada hal yang sama. Suatu karya sejatinya selalu membutuhkan harapan dan apresiasi.  


Dokumentasi acara dapat disimak di https://www.facebook.com/nabila.azzahrasyahbani/media_set?set=a.10203281450627533.1073741870.1547767302&type=3

Wednesday, October 29, 2014

Bincang Litterature de Juenesse : LPM GRI Sby 25 Oktober 2014


Setelah bulan lalu melaksanakan bedah novel Green Card dengan Dani Sirait, Goodreads Sby mewadahi keinginannya untuk kembali bersama-sama belajar tentang budaya literasi di Prancis. Semua berawal dari pertemuan kesekian kali kami dengan Teteh Irma Husnal Chotimah, Kakang Karguna Purnama, dan tentunya putri mereka, si kecil balita primadona acara, Elle beberapa bulan lalu. Ketika mereka datang di tengah-tengah kami, rasanya kami selalu menanyakan apapun tentang Prancis. Wajar saja, selain teteh dan kakang bekerja di pusat kebudayaan Prancis sebagai penanggung jawab pengajaran dan pengajar, teteh sempat beberapa tahun tinggal di Prancis, dan kakang juga kerap berkunjung ke negeri Eiffel. Dari obrolan-obrolan itu, saya pikir akan menarik ketika teteh dan kakang dapat berbagi dengan lebih banyak orang tentang dunia literasi di Prancis. Mereka berdua sepakat dalam waktu singkat. Bulan Oktober sudah mendekat, namun kami masih belum punya topik dan persiapan. Beruntunglah teteh berkenan menyiapkan beberapa topik sebagai opsi tema acara untuk kami pilih. Ketiga opsi itu saya lemparkan pada teman-teman, dan sebagian besar merasa tertarik dengan opsi pertama : Literatur anak-anak yang sedang hangat di Prancis, bahkan masuk ke dalam kurikulum TK sejak tahun 2000. Sepakat didapat, dan semua diatur dan dilaksanakan. Terima kasih banyak saya sampaikan pada rekan-rekan yang sukarela membantu acara ini, untuk Teteh, Kakang, Elle, Kak Nindia Nurmayasari, Ghozi dan semua rekan-rekan GRI Sby.

Didampingi teteh dan kakang, Elle sedang asik memakan kudapannya ketika saya tiba di Heerlijk Gelato, 30 menit sebelum acara dimulai. Ghozi (anggota GRI Sby yang rajin menyusun rancangan publikasi) datang beberapa menit kemudian. Sembari saya berbincang ringan dengan emak dan abahnya, Elle justru menatap Oom Ghozi (begitu Elle memanggilnya) yang duduk di sebelah saya dengan seksama ("Oom ini asik diajak main nggak, ya?" mungkin begitu pikirnya). Terbukti, hingga kami beranjak, Elle mengajak Oom Ghozi bermain sepanjang waktu (Lupakan saja Oom Lalu dan Oom Praja, sudah bosan!" lagi-lagi, mungkin itu kata Elle jika dapat bisikan dari saya) :D Saya tak terlalu repot mesti membuka roll banner sendirian karena Ghozi banyak membantu. Hari itu Perpustakaan BI Mayangkara agak ramai. Di waktu yang bersamaan sedang ada desain fair yang diselenggarakan. Sementara roll banner telah terpajang di sudut Heerlijk Gelato, lewat pukul 2 siang, audiens mulai berdatangan. Beberapa dari mereka berangkat dari komunitas-komunitas literasi Surabaya, semisal LendABook dan Klub Buku Surabaya. Juga ada pemilik rumah baca, pendongeng, pengajar, dosen, mahasiswa, dll. Lima belas bangku yang kami pesan terisi penuh, bahkan perlu menambah.

Sedikit prolog seperti biasa, kemudian obrolan santai dimulai. Sore itu, 25 Oktober 2014, Teteh banyak mengungkap fakta-fakta literasi di Prancis. Misalnya saja, sebuah aturan yang wajib dipatuhi, yaitu setiap anak sekolah TK dan SD sudah harus selesai membaca satu buku penuh. Tidak harus novel, namun juga disarankan buku anak bergambar. Bicara perbedaan karakteristik literatur anak antara Prancis dan Indonesia, teteh mengungkap hal menarik. Di Prancis, kecenderungan cerita anak lebih berani dan terasa agak provokatif dibanding dengan buku-buku anak di Indonesia yang sangat menonjolkan "hitam - putih". Misalnya saja, dalam suatu buku anak Prancis, tokoh ibu dalam buku itu adalah seorang Afrika yang tak mengenakan bra. Akan sangat terdengar kontroversial di Indonesia, namun di Prancis adalah hal biasa. Buku-buku anak Prancis memiliki tema yang lebih bervariasi dan lebih berani menyatakan sesuatu. Di Prancis, anak-anak diajarkan dua jenis kemampuan membaca. Yang pertama, membaca untuk menulis dan membaca untuk membaca. Membaca untuk menulis : anak diminta untuk membaca agar mereka dapat mengetahui berbagai jenis gaya bahasa atau gaya penulisan yang bermacam-macam, dengan tujuan agar mereka dapat menerapkannya dalam tulisan mereka kelak. Sementara membaca untuk membaca bertujuan agar anak-anak dapat memahami konteks bahan bacaan.

Pertanyaan menarik datang dari Kak Nindia Nurmayasari. Sebagai pendongeng dan pengajar anak, ia bertanya apa yang menyebabkan Prancis lebih unggul dari Indonesia dalam hal pengajaran. Apakah karena faktor SDM guru? Teteh menjawab dengan sepakat. Pengajar di sana memiliki banyak cara untuk memahamkan bacaan pada siswa. Misalnya, membaca buku yang bercerita tentang beruang kutub dengan menggunakan peta. Siswa diajak untuk mengetahui dimana lokasi cerita tersebut melalui peta. Guru juga diimbangi dengan kompetensi dalam bercerita.

Saya pun penasaran. Dengan sistem pembelajaran seperti itu, apakah Prancis juga memiliki budaya baca yang baik seperti halnya Amerika atau Inggris. Tentang kebiasaan, mereka nyaris serupa dengan kedua negara tersebut. Orang-orang membaca di taman, perpustakaan sangat hidup dengan berbagai kegiatan, dan lain sebagainya. Namun bukan berarti Prancis bertahan penuh dengan gempuran teknologi. Di tahun 2000an minat baca orang Prancis menurun karena adanya video game dan banyaknya penggunaan bahasa 'ala SMS', namun tak menghentikan secara penuh kebiasaan membaca. Buktinya, membaca menjadi kebiasaan dari profesi apapun. Seorang tukang listrik bahkan memiliki referensi bacaan yang luas, seperti puisi-puisi Arthur Rimbaud meski bidang pekerjaannya tak menuntut itu. Maka, berapa banyak tukang listrik kita, setidaknya mengenal Sapardi Djoko Damono? Mampu menjadi bahan refleksi kita bersama. Bisa dibayangkan, di sekolah menengah atas jurusan bahasa di Prancis, ujian mata pelajaran Bahasa Prancis seakan menjadi prioritas bagi pemerintah. Ujian dibagi menjadi dua jenis. Ujian tulis dan ujian lisan. Bahkan saat menjalani ujian tulis, setiap siswa diberi waktu pengerjaan empat jam dan hanya berisi satu nomor soal. Bukan berarti mudah. Satu soal tersebut meminta pendapat siswa tentang kalimat tertentu dari suatu buku. Jawaban-jawaban mereka pun sangat metodis.

Kebiasaan lain di sekolah-sekolah Prancis yang juga menarik adalah setiap anak diberikan referensi bahan bacaan, agar orangtuanya mampu terus menerus membacakan cerita baru. Jika anak-anak distimulus melalui sekolah, bagaimana dengan orang dewasanya? Ternyata pemerintah Prancis pun memiliki solusi jitu. Di televisi, secara rutin, disiarkan acara mendikte yang dapat diikuti oleh semua orang yang menonton. Pemirsa diajak untuk menulis sesuai dengan kalimat yang didiktekan sebagai bahan latihan untuk menulis. Hal tersebut dilakukan karena ejaan Bahasa Prancis tidak mudah dituliskan. Menyadari bahwa media televisi dapat mencakup banyak orang, setiap hari juga disiarkan seseorang yang membaca buku selama 3 menit di televisi. Sehingga masyarakat pun tak terlalu berjarak dengan bahan bacaannya.

Teteh memperlihatkan berbagai jenis buku bacaan anak pada kami sebagai contoh yang kemudian menimbulkan pertanyaan : apakah di Prancis juga banyak kisah-kisah anak yang merupakan hasil terjemahan dari bahasa lain? Beliau menjawab : sangat banyak. Kemungkinan karena tradisi bangsa Prancis yang menomorsatukan bahasa ibu mereka, hingga cenderung menilai negatif seseorang yang mencampuradukkan Bahasa Prancis dan Bahasa Inggris. Di televisi pun nyaris tak ada film yang tidak dialihbahasakan. Namun bukan berarti mereka tak belajar bahasa asing. Di tingkat sekolah, diajarkan pula bahasa Jerman, Spanyol, Italia, bahkan Arab. Meski begitu, sekolah dengan kelas bilingual pun anti menyisihkan Bahasa Prancis.

Selain berbagai jenis bacaan anak berbahasa Prancis yang dibawa teteh, beliau juga menyarankan satu judul buku favoritnya : Liberte, egalite ... Mathilde ! yang ditulis oleh Sophie Cherer dan Veronique Deiss. Buku anak itu memberi gambaran tentang konsep demokrasi pada anak-anak.


Senja sudah mulai tua ketika kami mesti menutup acara. Rambahlah bacaan literatur anak dari negara-negara lain, begitulah teteh berpesan. Hal tersebut tentu erat dengan bagaimana agar kita mampu memandang keberagaman dari cerita maupun gaya penceritaan. Ketika Elle memanggil emaknya untuk bermain, kakang pun tak ketinggalan memberikan pesan agar kami membiasakan mendongeng pada anak. Sebelum memiliki anak pun kami sebaiknya telah memperkaya diri dengan berbagai jenis literatur anak-anak. Juga janganlah cukup puas dengan karya terjemahan. Kakang pun berharap pada para penulis, agar menulis kisah untuk anak-anak dengan tema yang lebih bervariasi.

Berbincang tentang budaya literasi bangsa lain selalu menjadi hal yang menarik. Literatur anak-anak pun sebaiknya tak luput dari perhatian kita. Memahami literasi anak akan sangat dekat dengan bagaimana cara kita memahami anak-anak, memahami harapan dan masa depan.

If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” - Albert Einstein

Saturday, August 16, 2014

Empat Harpa Menembus Generasi : Review Konser Kaleidoskop 3 Generations of Indonesian Harpists



"Ooh..Ternyata Tuhan masih sayang padaku!"

Itu celetuk seorang teman sembari tergopoh-gopoh menuju kursi di mana saya duduk. Keakraban kami setahun terakhir membuat saya memanggilnya 'tante'. Ia begitu gembira dan bersyukur melihat saya menyediakan satu kursi kosong di samping untuknya. Melihat antusiasme hadirin, sama seperti kami, rasanya seluruh penonton bersemangat menyaksikan pertunjukan kali ini. Saya langsung mengira konser ini akan meriah. Rasa-rasanya itu pun tak berlebihan. Begitu open gate, bangku-bangku terdepan untuk kelas reguler dengan cepat terisi. Saya termasuk yang beruntung karena tiba tepat ketika pintu dibuka, hingga bisa mendapat dua kursi di baris terdepan untuk kelas reguler. Oke, meski tak bisa dipungkiri, bangku-bangku VIP yang masih saja kosong bahkan hingga acara usai membuat kami berdua : saya dan tante, gerah ingin menempatinya.

Saya mestinya bersyukur dengan adanya Amadeus : Mbak Patrisna May Widuri dan tim, Event Organizer acara ini yang juga kerap menyusun konser maupun recital apik, tak pernah melupakan Surabaya untuk mendapat bagian dari pertunjukan-pertunjukan musik klasik memikat yang lebih kerap diadakan di Jakarta. Berbeda dengan konser "An Enchanting Harp Sound" sebagai debut Jessica Sudarta tahun lalu, kali ini audiens tak disambut dengan jajaran instrumen orchestra, namun justru empat buah harpa yang berjajar di atas panggung berdekor putih elegan. Empat instrumen yang sama tanpa pengiring tentu menjadi tantangan tersendiri bagi penampil. Bagaimana empat harpa itu menyatu dalam satu komposisi menjadi daya tarik besar bagi audiens. Tentu tak bisa dilupakan empat harpist-nya : Maya Hasan, Rama Widi, Lisa Gracia, Jessica Sudarta.

Maya Hasan. Siapa yang tak tahu ia. Pun akrab dengan petikan dawai harpanya. Bagaimana dengan Rama Widi? Harpist pria yang akrab dipanggil Dhika ini menjadi pemain harpa terbaik di Indonesia yang saat ini juga berkarya di Thailand dan Indonesia meski sebelumnya sangat dikenal di Vienna, tempat ia mengemban pendidikan musik. Lisa Gracia telah bermain dengan banyak orchestra setelah menyelesaikan pendidikan musiknya di Belanda, dan banyak berkarya di Indonesia. Lalu Jessica Sudarta? Gadis belia yang masih menempuh pendidikan di sekolah menengah atas ini siap bersinar bersama senior-seniornya. Pasca konser debutnya tahun lalu, serta berguru pada Rama Widi dan Lisa Gracia, kematangannya melesat.

Dengan kalimat sambutan dari Mas Iman Dwi dari Suara Surabaya sebagai Master of Ceremony, dan beberapa kalimat pembuka dari Ibunda Jessica Sudarta, acara dibuka. Jesslyn Sudarta dan Jessica Sudarta berduet harpa dengan komposisi How Great Thou Art. Jesslyn nampak mengambil melodi dengan Lever Harp, sedangkan Jessica mendampinginya dengan chords pada Pedal Harp. Penampilan selanjutnya menjadi ajang unjuk kebolehan dari masing-masing harpist. Jessica Sudarta yang nampak jauh lebih matang dengan harpanya memainkan La Source milik Alphonse Hasselmans. Lisa Gracia dengan cantik berhasil memikat dengan dinamika dan melodi-melodi dari Fantasy from Tchaikovsky's Eugene Onegin. Jessica Sudarta kembali bermain dengan komposisi yang lebih panjang, Fire Dance dari David Watkins. Rama Widi tampil ekspresif dengan Legende milik Henriette Renie. Dan Maya Hasan membawa nuansa Amerika Latin yang rancak dengan Baroque Flamenco milik Deborah Henson Conant. Yang berbeda dengan Harp Concert Jessica Sudarta dan Rama Widi yang saya saksikan sebelumnya, kali ini jauh lebih banyak teknik-teknik permainan Harpa yang diperlihatkan. Memukul senar maupun tapping pada soundboard untuk menghasilkan percussive sounds banyak dilakukan demi melengkapi komposisi dan berhasil menghidupkan suasana.

Setelah jeda, komposisi-komposisi yang ditampilkan lebih populer. Jessica Sudarta bersama seorang cellist muda, Albert Nathanael berkolaborasi memainkan The Swan. Bach dimunculkan di panggung dengan Air on G String dari Rama Widi, Lisa Gracia, Maya Hasan dan Jessica Sudarta. Mendengarnya dalam versi harpa tentu akan ada kekhawatiran apakah akan mendengarnya seindah legato pada instrumen string. Namun keempat harpist itu mampu bekerjasama dengan cukup baik. Sesuai dengan judul pada konser tiga generasi ini, ditampilkan pula komposisi-komposisi populer yang mewakili zaman dari keempat harpist. Heal The World dari Michael Jackson dengan aransemen dari Muhammad Dhany Iskandar mewakili lagu populer di zaman Maya Hasan. Saya membayangkan seandainya komposisi ini ditemani oleh beberapa instrumen string, tentunya akan terasa lebih grande. Beralih ke zaman Lisa Gracia dan Rama Widi sekaligus memberi nuansa Disney, A Whole New World dibuka dengan intro When You Wish Upon A Star dan diakhiri dengan ending dari Beauty and The Beast. Sempat menyaksikan duet Rama Widi dan Jessica Sudarta membawakan A Whole New World sebelumnya, kali ini memang terasa berbeda dengan empat harpa dan aransemen berbeda dari Lisa Gracia. Antusiasme audiens sangat terasa dengan meriahnya tepuk tangan, bahkan saya tak mampu melepaskan senyum sepanjang komposisi ini dimainkan. Locked Out of Heaven milik Bruno Mars menjadi puncak dari acara, sekaligus mewakili zaman Jessica Sudarta. Selain familiar di telinga audiens muda, staccato dan banyaknya porsi ketukan pada soundboard berhasil menggiring dinamika pada klimaks di akhir komposisi. Ekspektasi audiens tentang lagu populer pada harpa dipertaruhkan, dan berhasil menciptakan tepuk tangan panjang, decak dan sahutan kagum pada Ballroom Sheraton malam 13 Agustus 2014 itu. Akhirnya, sisi melankolis dari Cinta Sejati OST Habibie - Ainun yang mengantarkan berakhirnya pertunjukan. Harp Ensemble tentunya memiliki tantangan tersendiri dalam pengeksekusian. Namun, dengan kemampuan masing-masing, nampaknya keempat harpist tersebut cukup mampu mengatasi kendala dalam penyesuaiannya.

Senyum puas para performer di balik strings harpa sembari damping pada setiap akhir komposisi selalu menjadi aba-aba tepuk tangan meriah dari penonton. Kolaborasi keempat harpist ini seakan menceritakan keindahan dan keseruan bermain harpa. Seraya bertanya, siapa harpist Indonesia generasi berikutnya?


16 Agustus 2014,

Nabila Budayana

Monday, July 21, 2014

Sluman Slumun Slamet

"Hidupnya juga kontemporer. Gila."

Di tengah remang cahaya proyektor, wajah-wajah itu terbius oleh ucapan-ucapan selamat ulang tahun sekaligus komentar-komentar menarik dari rekan-rekan sang 'Pemilih Jalan Sunyi' : Slamet Abdul Sjukur.

***

Pagi hari, 15 Februari 2014, sekitar pukul tujuh saya mengecek ponsel yang baru menyala. Satu ruang obrolan membuat saya cukup terkejut. Seseorang mengutip satu kalimat dari buku yang saya tulis, diikuti nama pengirim yang meminta alamat e-mail saya. Pesan itu datang dari bapak musik kontemporer Indonesia. Ialah Slamet Abdul Sjukur yang berkata "Gak apa. Saya masih hidup." Itu gurauannya ketika saya meminta maaf saat saya lupa menghubungi. Saya pun iseng bertanya buku apa yang sedang dibacanya. Sempat saya kira jawabannya akan berkisar pada buku-buku teori musik. “Grand Design” milik Stephen Hawking langsung meluruhkan dugaan saya. Seseorang yang menatap hidup dengan berbeda. Namun tak selalu berupa canda. Ketika beliau menanyai saya tentang bagaimana pendapat saya akan suatu pergelaran musik, ia tiba-tiba nyeletuk “Menurut saya itu karena pikiran yang terlalu terkotakkan” kira-kira begitu perkataannya yang tertuju untuk saya di tengah-tengah saya menyetir, dan beliau duduk di bangku penumpang di samping saya – saat itu beliau percaya saja pada seorang anak muda yang menawarkan tumpangan seperti saya -  Sepanjang perjalanan hingga hari-hari berikutnya saya terpikir apa yang dimaksudkannya. Jawaban yang tertera di kepala saya hanya sebatas “Saya mesti meluaskan wawasan dan mengambil sudut pandang yang berbeda.”

Saya beberapa kali disenggol Mbak Gema Swaratyagita untuk hadir di acara PMS (Pertemuan Musik Surabaya). Beberapa kali pula saya mangkir. Tak bisa hadir. Bosan juga meminta maaf pada Mbak Gema dan Pak Slamet. Hingga hadirlah serangkaian acara Sluman Slumun Slamet merayakan ulang tahun ke-79 sang musisi. Mencari-cari waktu untuk hadir, saya bertekad untuk menikmati pamungkasnya di 21 Juni 2014 lalu. Begitu hadir, pendopo STKW Surabaya disulap remang dan hening. Keramaian di sana, namun wajah-wajah di balik keremangan itu hanya samar. Saya kemudian mengambil posisi lesehan dan siap menikmati pertunjukan. Di tengah pendopo grand piano hitam mengambil sebagian besar ruang, sementara seperangkat gamelan tertata di bagian belakang. Saya terhanyut sejak komposisi pertama. Komposisi “Kabut” yang dimainkan langsung oleh penciptanya, Slamet Abdul Sjukur, mengisi malam dan kanvas hening yang diberikan audiens. Kabut terasa nyata bersanding dengan malam. Kemudian dengan cantik Gema Swaratyagita membawakan “Tobor”. Ekspresi Gema yang berbicara semakin menampilkan keapikan “Tobor”. Setelah sibuk terpesona dengan “Tobor”, pergelaran malam itu dilanjutkan dengan Pak Slamet dan Gema yang duduk di balik meja yang sama. Mereka bersisian, menampilkan musik dari sepatu dan peralatan keseharian lainnya. Hingga akhir, kelompok Gamelan Kyai Fatahilah menampilkan “Tetabeuhan Sungut” dan “Game-Land 1”. Mereka menampilkan komposisi yang 'dihasilkan dari mulut' dan seperangkat gamelan yang telah disiapkan. Musik yang disajikan sangat dinamis. Terkadang setenang malam dengan nada 'satu-satu'. Di detik berikutnya mampu riuh dengan segala rupa bunyi perangkat gamelan. Pergelaran malam itu terkadang diiringi dengan berbagai bunyi lainnya. Derum motor atau alarm mobil dari lingkungan sekitar. Bagi saya, “kanvas” berupa sunyi mungkin sudah tercemar. Namun berbeda bagi seorang musisi. Musik tetap harus berjalan, bunyi-bunyi lain (barangkali) adalah sebuah spontanitas yang datang mengisi pertunjukkan. Bunyi-bunyi itu juga musik. Musik yang disajikan seorang Slamet Abdul Sjukur kiranya telah menjadi familiar di antara para audiens. Sekumpulan anak muda yang duduk persis di belakang saya, misalnya. Mereka bahkan asik bersenandung kecil ketika “Kabut” dimainkan.

Musik-musik itu masih terbayang di kepala saya ketika perjalanan saya membaca Sluman Slumun Slamet : Esai-Esai Slamet Abdul Sjukur (1976-2013). Berbeda, tak biasa, apa adanya, seringkali satire, mencerahkan. Apa yang disampaikan seseorang yang memilih jalan berbeda dari kebanyakan orang selalu menyenangkan. Apa karena kita yang terlalu dikotakkan aturan dan 'jalan normal yang seringkali dianggap sebagai 'jalan paling baik', sebuah batasan yang selalu sama. Slamet membuatnya berbeda. Jalan pikir dan sudut pandang yang lain. Kurang lebih, Slamet dapat dibaca melalui kumpulan esainya “Sluman Slumun Slamet” yang diterbitkan oleh Art Music Today. Sang maestro membawa karakter musik kontemporer bersamanya. Mungkin akan banyak yang bertanya-tanya apa maksud musik kontemporer itu. Menghadapi reaksi-reaksi tersebut, Slamet terang-terangan dalam esainya.

“Tidak ada salahnya kalau orang meragukan musik kontemporer. Musik demikian memang sukar dimengerti, tidak enak didengar dan tidak karuan.” (hal. 6)

Namun, ia pun memberikan penjelasan lanjutan.

“Dan sesungguhnya persoalan musik kontemporer (untuk hanya menyebutkan musik) merupakan jalinan sejumlah masalah yang masing-masing meminta pembahasan yang hati-hati.” (hal.6)

Dan sebuah kalimatnya menjadi pemertegas “Satu hal yang setidak-tidaknya sukar dipungkiri, bahwa musik tidak pernah berhenti dalam memperluas daerahnya. Apa yang dianggap kemarin tidak musikal, sekarang malah bisa menjadi ramuan yang paling sedap. Suara apapun bisa menjadi musik.” (hal. 7)

Slamet meminta pembaca berkaca diri dengan apa yang ditulisnya,

“Orang bahkan cepat menuntut “haknya” untuk mengerti dan tidak segan-segan mengadili musik apa saja, termasuk musik yang di luar kemampuan pencernaan mereka.” (hal. 11).

Slamet pun tak segan membagi hasil obrolannya dengan musikus-musikus asing. Misalnya saja dengan Ton De Leeuw, seorang tokoh musik penting.

“Banyak yang mengira bahwa musik kontemporer itu ialah musik yang bermula dari beberapa gelintir komponis di barat yang terlalu individualis dan terlepas dari masyarakat. Seolah-olah musik kontemporer itu musik orang Barat yang tidak karuan. Ada pula yang menganggap musik tersebut musik sekadar bunyi dan asal bunyi saja.” (hal. 72).

Dalam buku ini, penulis banyak ‘berlaku’ nyentrik, sesuai dengan karakter penulisnya. Slamet banyak bercerita tentang apa itu musik, cara mendengarkannya yang mungkin akan menjadi masukan untuk pembaca. Misalnya saja, Slamet menulis tentang musik yang merupakan soal saat. Musik adalah kapan kita menyadari adanya suara. Musik memiliki ruang besar pada Slamet hingga ia memandangnya dengan cara yang dalam dan penuh makna. Ia bahkan tak segan mengkritik musikus barat yang kurang memperhatikan corak dan unsur ruang dan hanya memikirkan dinamika nada dan irama. Slamet pun mampu menghubungkan musik dengan apa saja. Dalam esainya yang berjudul “Jakarta Mementaskan Musik Elektronik” misalnya, ia menghubungkan kedamaian ala seorang yogi, Sri Aurobindo dengan musik.

“Kedamaian di sini adalah persenyawaan antara suara-suara musikal dan bunyi-bunyi yang biasanya tidak kita anggap sebagai musik...” (hal. 18)

Dalam buku tersebut, Slamet juga membahas banyak hal. Antara lain tentang pendidikan seni dan sikap musikus yang masih banyak ‘keliru’. Yang menarik bagi saya saat beliau membahas tentang sifat individualis dari piano. Sangat tajam dan tegas. Beliau mampu menghubungkan piano dengan sifat dasar manusia. Gaya penyampaiannya yang apa adanya, berani, percaya diri, yakin dan penuh sindiran itu akan membuat pembaca seringkali terbelalak. Jangan kira seorang musikus hanya akan membahas musik. Bahkan akan ada korelasi musik dengan fisika kuantum dan fisika mekanik untuk pendekatan musik Debussy. Ia pun berkisah tentang partitur, sejarah cadenza, penekanan bahwa keberadaan musik sama normalnya dengan hal-hal lain yang kita hadapi sehari-hari.    

Kemudian bukan berarti ia lupa memandang hal besar. Slamet juga menyorot tentang sikap musik negeri ini :

“Ketekunan yang bergairah ternyata adalah salah-satu cara yang paling cocok sampai pada saat ini untuk berbuat musik yang sungguh-sungguh di Tanah Air kita, dan bukannya tergantung pada oportunisme serta semboyan-semboyan yang hanya membuatnya geli.” (hal. 64)

Ia pun menengok pada banyak hal lainnya. Kritik tentang kebergantungan seorang musikus pada partitur seringkali membuat pengalih dari keutamaan musik itu sendiri. Juga pengertian tentang musik yang seringkali terbatasi. Beberapa kali Slamet menyinggung bahkan membahas dengan cukup dalam korelasi antara Debussy dan gamelan. Bukan hal yang aneh ketika seorang besar memasukkan nama-nama besar sebagai pembahasannya. Selain Stravinsky, Debussy, Vivaldi, maupun Amir Pasaribu, ia dengan bijak menyebut nama-nama baru berbakat layaknya Bernadeta Astari (di penampilan saat ia berusia 15 tahun). Mengatakan perspektifnya tentang kekurangan bakat baru itu untuk berkembang. Slamet memperluas pandangan dan area bermainnya bukan pada satu standar. Ia memutuskan menjelajah dan mencoba berbagai kemungkinan-kemungkinan. Meski begitu, bukan berarti ia berhenti menganalisa teori-teori semacam kromatik Bach dan relative minor Chopin.

Penekanan pada saya agar tak terjebak persepsi yang ditekankan oleh Agustinus Wibowo pada tulisan-tulisan perjalanannya, Gobind Vashdev pada konsep kebahagiaannya, juga kembali ditekankan oleh Slamet Abdul Sjukur melalui esainya. Namun ini tentang persepsi teori musik yang sudah terlanjur cenderung dianggap sebagai 'keharusan'. Ia mencontohkan bagaimana seorang komposer besar seperti Chopin mengkritisi dan menghilangkan persepsi dengan tak lagi menganggap tangga nada yang paling mudah adalah C, berdasarkan struktur jari tangan. Slamet juga merambah ranah psikologis tentang mendengar warna dan melihat nada. Kemampuan sinestesia pada beberapa komponis yang ia ungkapkan sejalan dengan yang dikatakan Oliver Sacks, seorang dokter dan dosen Neurologi Klinis dan Psikiatri di Universitas Columbia, melalui bukunya “Musicophilia” yang mengupas tentang fenomena sinestesia pada manusia bukan sebagai metafora atau asosiasi, namun sebagai hal yang konkrit. 

“Musikus-musikus besar selalu menunjukkan kepada kita bahwa musik itu tidak semiskin yang kita sangka.” Seorang Slamet Abdul Sjukur telah menunjukkan itu dengan jalannya sendiri, dengan caranya sendiri. Tentang makna musik, memaksimalkan pendengaran dan rasa untuk menikmatinya, bahkan tentang keberanian untuk menjadi berbeda.    

Slamet tak hanya menyorot tentang teknis dengan berbagai teori yang barangkali sukar dimengerti. Ia berpetualang jauh ke dalam. Musik bukan hanya menjadi sekadar sekunder. Namun ia menjadi hidup, menjadi sesuatu yang krusial dengan penggalian yang tak habis-habisnya. Ia berdampak sebegitu besar. Menentukan rasa, sikap, dan jalan pikir.

Lantas dengan semua itu, saya yang awam dan dangkal ini membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang Slamet Abdul Sjukur. Semua bunyi adalah musik baginya. Apa yang dipikirkannya? Atau, akankah melelahkan untuk “mengkonversi” semuanya menjadi musik? Itu mungkin hanya menjadi sebatas pertanyaan konyol saya belaka. Musik berarti jauh lebih besar untuk seorang yang mencintai musik sebagai hidupnya. Cara berpikir dan mendengar seperti itu mungkin justru yang membuatnya merasa damai dan tenang. Ladang inspirasinya sebesar dunia. Betapa ‘terkotaknya’ cara saya dalam menikmati dan memahami musik patut kembali dikoreksi.

Slamet sangat berani, satire bahkan mungkin bagi sebagian orang sarkastis dalam tulisan-tulisannya. Namun itu berangkat dari idealismenya terhadap musik. Bahwa musik tak sekadar permukaan, namun kehakikian. Bukan sampingan, namun bagian dari keutamaan. Setelah saya menutup halaman terakhir, backcover menyajikan kalimat yang kuat :

“Saya memilih menempuh jalan sunyi, jauh dari yang normal.”

Kalimat penuh kesadaran, keberanian, idealisme, kejujuran dan komitmen. Satu kalimat yang merangkum Slamet Abdul Sjukur. Penegasan bahwa di sanalah pilihan yang beliau ambil, keteguhan, pendekar yang sepenuhnya memikul konsekuensi dan memilih jalannya sendiri : riuh musikal dalam kesunyian.       

Selamat Ulang Tahun, Bapak Slamet Abdul Sjukur.

Kiranya ini sebuah ucapan yang terlambat. Yang bahkan mungkin tak terlalu berarti. Tapi, Slamet Abdul Sjukur dan Sluman Slumun Slamet-nya meminta pendengar dan pengagumnya untuk mendengar lebih baik. Yang berarti juga memaknai hidup dengan lebih baik.



Satu bulan yang rasanya terlalu lama,

21 Juli 2014



Nabila Budayana

Wednesday, July 16, 2014

Enam Belas Juli yang Belum Usai

Nyaris tak ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan syukur dan gembira, hari ini, saya sibuk membalas ucapan-ucapan selamat untuk memperingati hari kelahiran. Keluarga, kerabat, sahabat. Beberapa dari mereka mengingatkan usia. Dua puluh lima, seperempat abad, katanya. Saya bergurau "Bukannya dua belas?" Sebuah penyangkalan yang melahirkan balasan gurauan berbagai macam. Tahun lalu sastrawan Kurnia Usman mengirimkan sebuah novelnya sebagai kado ulang tahun persis di tanggal enam belas. Hari ini beliau kembali menelepon, mengucapkan selamat, dan mengabarkan kondisi kesehatannya yang sedang dalam masa pemulihan. Saya positif tak enak hati. Beliau masih menyempatkan diri menelepon.

Dalam bayangan saya hari ini akan sama, akan terlewati seperti biasa.

***

Telepon rumah meronta ingin dijawab setelah beberapa kali berdering. Kebetulan hari ini saya mengajukan izin tak ke kantor. Mama saya sedang sibuk mengobrol dengan beberapa tamu. Ucapan "halo" saya beberapa kali tak menghasilkan jawaban dari ujung lainnya. Ketika nada saya mulai meninggi, suara perempuan ragu-ragu terdengar.
"Saya Tini. Pembantu Bu Tine yang dulu. Mau ngasih tahu. Bu Tine meninggal."
Entah suaranya yang tak jelas, kuping saya yang tak menangkap, atau rasa tak percaya.
"Apa, mbak?" Saya memohon pengulangan, setengah berharap yang saya dengar sebelumnya tidak benar.
"Bu Tine meninggal tadi pagi jam delapan."
Tanpa sadar saya hanya bisa mengucap "Ah, Auh, Eh". Sesaat saya tak tahu apa yang mesti dilakukan. Nada bicara Mbak Tini buru-buru. Sebelum ia menutup telepon, saya minta berbagai informasi tentang persemayaman dan pemakaman Oma Tine.

***

Oma Tine. Begitu kami memanggilnya. Tak ada hubungan darah dengan keluarga. Tapi ia sahabat dekat kakek, ayah papa selama bertahun-tahun. Saking dekatnya,bertahun-tahun lalu ketika saya dan sepupu lainnya masih seusia SD, setiap dua puluh lima Desember kami sekeluarga besar berkunjung ke rumah Oma Tine. Bersilaturahim dengan ia sekeluarga yang merayakan Natal. Pohon Natal dan televisi ukuran besar, electone, permen selalu ada di ruang tamunya. Sembari disuguhkan makanan, para orang tua akan mengobrol, dan anak-anak akan berlarian ke sana kemari menjelajah rumah. Beberapa kali saya dan sepupu-sepupu yang seumuran mengagumi hiasan pohon natal. Mulai boneka santa flanel, kaos kaki besar, hingga bintang emas di ujung atas pohon. Oma Tine begitu mudah kami sukai karena selalu ramah dengan anak-anak.Seperti kebanyakan orang lain, ia masih salah memanggil "Bina atau Bila" kepada saya dan kakak. Setiap kali bersalaman ia akan mencium pipi-pipi mungil kami, orang-orang tua kami, juga pipi kakek dan uti seperti keluarganya sendiri. Tak sulit mengingat wajahnya yang selalu nampak awet muda itu. Maklum, ia perias profesional.

*** 

"Halo?" ujar saya dengan nada datar.
"Ya, halo. Betul dengan rumah Andi Handoko?" nada bicara wanita itu berbeda. Sangat lembut, sopan dengan sedikit aksen pengucapan khas Belanda.
Sebelum wanita itu sempat menjelaskan panjang lebar, saya sudah menduga. Selain dari nada bicaranya yang unik, sangat jarang seseorang menyebut nama papa diikuti nama kakek.
"Oma Tine, ya? Oma apa kabar?"
"Ini putrinya Andi, ya? Eh, masih ingat oma, ya?"
Setelah itu mengalir obrolan ringan. Tentang hidupnya yang berubah. Tentang ia yang sudah pindah ke sebuah kamar kos kecil dan hidup dengan mengajarkan Bahasa asing pada mahasiswa sesama penghuni kos. Tentang hidupnya yang mesti tinggal seorang diri. Di masa tuanya.

***

Berbeda dengan mama, saya lupa mengabarkan pada papa, orang yang semestinya berhak tahu lebih cepat tentang kabar duka itu. Saya tak sempat melihat ekspresi mama, namun saya tak menyangka. Mata papa merah dan berkaca-kaca. Seperti menahan air mata. Rupanya kedua orang tua saya punya cukup banyak kenangan khusus dengan Oma Tine. Satu per satu memori terurai dan dibeber ulang. Memori yang entah disimpan sendiri atau disampaikan terputar lagi. Oma Tine punya jasa besar menyatukan papa dan mama, rupanya.

***

Enam belas Juli belum usai. Ternyata ada yang harus saya renungkan. Selain syukur atas keberadaan, kesehatan, kehidupan; masih ada yang perlu diingat dan dipahami. Sudah seberapa dewasa saya untuk mampu menerima kepergian, kesakitan, kematian. Seberapa besar kemampuan untuk berdamai dengan memori, diri sendiri saat ini, dan keberanian menyambut apa yang akan terjadi. Sudah seberapa jauh memaknainya, terutama di peringatan hari kelahiran yang seringkali disibukkan gempita perayaan dan kegembiraan?

Saturday, June 28, 2014

Lost in Translation with Ade Kumalasari



Seluruh ruang terdiam ketika wanita itu membacakan contoh narasi suatu perjalanan bersama dengan anak-anaknya. Kalau saya tidak salah ingat, narasinya berkisah tentang matahari, tentang pantai dan anak-anak yang berlarian. Meski hanya beberapa kalimat, saya kemudian menutup mata dan membayangkan deskripsi suasana yang ia tampilkan pada tulisannya. Lebih dari setahun lalu di sebuah acara perbukuan, saya mengetahui wanita itu adalah Ade Kumalasari.

Lama tak berjumpa kembali, nama beliau terselip di antara obrolan tim Goodreads Sby baru-baru ini. Kemudian terpikir, selain buku-buku lokal, kami juga menggemari buku-buku terjemahan. Kami belum pernah mendengar secara langsung bagaimana cerita di balik profesi seorang penerjemah. Saya kemudian teringat mbak Ade dan mencoba menghubunginya. Mbak Ade sangat ramah menyambut keinginan kami yang memintanya berbagi.

Mendekati waktu yang telah ditentukan, mbak Ade datang dengan suami, dan kedua putrinya, #BigA dan #MediumA (sebutan untuk mereka yang kerap kali digunakan sang ibu di media sosial). Sementara #BigA sangat tekun dengan bacaannya, #MediumA sibuk dengan tabletnya. Kami mengobrol ringan sejenak sebelum akhirnya acara dimulai. Dari sesi perkenalan, kami mengetahui bahwa selain sebagai seorang ibu, Ade Kumala juga berprofesi sebagai seorang editor dan penerjemah lepas, penulis, serta travel worker dengan kisah-kisah perjalanan yang ia bagi di travelingprecils.com. Sempat tinggal di Sydney Australia selama 5,5 tahun untuk menemani sang suami menempuh pendidikan di sana, seorang Ade Kumala pernah bekerja di sebuah supermarket hingga menjadi dosen tamu di University of Sydney. Disamping itu, ia mulai merambah dunia penerjemahan antara tahun 2006-2012. Sebelumnya, di tahun 2005 ia terjun ke dunia teenlit dengan menerbitkan “I’m Somebody Else”. Baginya, teenlit merupakan jalan masuknya ke industri dunia perbukuan. Bicara tentang latar belakang pendidikan, Ade Kumala tak memiliki background bidang sastra, justru ia lulus dari jurusan Kimia MIPA UGM. Meski begitu, keaktifannya di penerbitan kampus membuat kemampuan menulisnya menjadi berkembang. Berangkat dari hal tersebut, ia mengatakan bahwa tak ada kualifikasi background tertentu untuk menjadi seorang penerjemah. Tentu saja hal itu mesti diimbangi dengan kesukaan dan ketekunan untuk membaca dan menulis.

Masuk ke bidang penerjemahan, Ade Kumala menjelaskan bahwa editor dan penerjemah memiliki hubungan yang erat. Salah satu kesamaan keduanya adalah kemampuan untuk membaca dengan cepat. Membaca dengan cepat berguna untuk memutuskan nasib naskah yang dikerjakan. Jika ditanya, dalam penerjemahan buku-buku Bahasa Inggris, apakah diperlukan kemampuan berbahasa Inggris yang sangat baik? Ia menjawab tidak juga. Dengan kemampuan Bahasa Inggris sedang dan mampu memahami bacaan, itu cukup. Terselip di antara obrolan, bagaimana kisah seorang Ade Kumala setelah kembali ke Indonesia cukup menarik. Di tahun 2012 ia sempat menganggur. Saat itu, seorang temannya yang bekerja di sebuah penerbitan di Jogjakarta menawarkannya untuk melakukan editing pada suatu naskah. Di awal karirnya menjadi editor, honor yang ia terima tentu tak bisa banyak. Namun kemampuannya mengedit naskah berkembang seiring berjalannya waktu, sampai akhirnya ia tak hanya mengedit, namun juga menerjemahkan. Naskah terjemahan pertama yang ia terima adalah naskah teenlit “Accidentally Fabulous” milik . Prosesnya pun tak mudah. Ade mesti menerima ujian percobaan di sepuluh halaman pertama. Meski menghasilkan begitu banyak catatan dari penerbit, namun akhirnya ia dipercaya sebagai seorang penerjemah. 

Sesuai dengan statusnya sebagai penerjemah lepas, disamping kesibukannya sebagai seorang ibu, ia menerjemahkan saat anak-anaknya berada di sekolah selama 4 hingga 6 jam kerja per hari. Dengan durasi kerja tersebut, sebuah buku rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan. Ade pun terang-terangan menyebut jumlah honor yang ia terima, 5 – 15 Rupiah per karakter. Masing-masing penerbit memiliki standar dan tarif penerjemahan yang berbeda. Menurut Ade, tarif editing adalah setengah dari tarif penerjemah, mengingat beban kerja yang juga menyesuaikan. Jika naskah yang dikerjakan lebih rumit, penerjemah atau editor lepas dapat melakukan nego dengan pihak penerbit. Tak begitu saja mulus, bagi Ade kesusahan di dalam menerjemahkan adalah jika suatu naskah asli menggunakan bahasa Slang, bukan bahasa baku. Ade mesti mencari padanan kata dengan berbagai cara. Mulai bertanya pada suami yang pernah tinggal di Inggris, mengecek kamus, hingga berselancar di internet. Selain itu, seorang penerjemah pun tak luput dari proses editing. Yang kerap kali diedit dalam naskah terjemahan bukan plot maupun kejanggalan cerita, namun permasalahan pada idiom, kalimat efektif, dan lain sebagainya. Editor bekerja dengan cepat. Ia tak perlu mengecek setiap paragraf, cukup ketika merasa ada yang aneh dalam sebuah naskah, ia baru mengeditnya.

Ade Kumala memaparkan tujuh hal penting dalam penerjemahan buku. Pertama, menerjemahkan adalah masalah menulis ulang. Kedua, sesuaikan gaya bahasa dengan target pembaca. Di poin ketiga ia mengatakan bahwa terjemahan harus luwes, jangan selalu letterlijk (harfiah). Kemudian, tidak perlu mengubah jalan cerita. Kelima, hati-hati terjebak pada idiom/frasa. Hal tersebut dapat diatasi dengan memperluas wawasan, menonton film ataupun membaca terjemahan. Poin nomor enam, seorang penerjemah mesti teliti. Keterburu-buruan seringkali menjadikan naskah berantakan. Kemampuan Ade yang juga seorang editor, menjadikannya seringkali mengedit naskah terjemahannya sendiri sebelum diserahkan pada editor naskah. Yang terakhir, kerahkan alat bantu. Baik komputer, internet, KBBI daring, Google Translate (bagi Ade, Google Translate membantunya untuk mematik ingatan dan menghaluskan bahasa karena adanya sinonim dari kata), Thesaurus, kamus idiom (thefreedictionary.com), kamus urban (urbandictionary.com), Google dan Wikipedia.

Mengakhiri sesinya, ia meminta audiens untuk menerjemahkan barang satu dua baris dari contoh buku yang ia terjemahkan. Hasilnya cukup baik. Namun, Ade memberikan saran dengan menggunakan kalimat efektif dan gaya bahasa yang tak terlalu baku. Ia pun menyarankan kepada audiens yang ingin menekuni profesi penerjemah untuk memperbanyak membaca buku berbahasa Inggris dan terjemahan, jika perlu membandingkan keduanya. Pun dengan rajin mencari ilmu dengan mengikuti kursus, seminar ataupun workshop, berlatih menerjemahkan, bergaul dengan orang-orang yang mendukung profesi, menawarkan diri ke penerbit dengan menulis surat dan memberi contoh terjemahan. 

Saya secara pribadi terkesan. Mbak Ade nampak mempersiapkan benar apa yang akan ia sampaikan melalui tampilan presentasi yang ia tunjukkan. Gaya bicaranya santai dan perlahan. Sesekali terselip humor diantara obrolannya. Menjadi seorang ibu, travel worker, sekaligus pekerja di industri perbukuan nampaknya tak menghalangi kegemarannya untuk berbagi ilmu. Ade Kumala mengajak kita tersesat di dunia penerjemahan. Siapapun boleh tersesat, asalkan memiliki kemampuan. Don’t you dare to lost in translation

“Translators have to prove to themselves as to others that they are in control of what they do; that they do not just translate well because they have a “flair” for translation, but rather because, like other professionals, they have made a conscious effort to understand various aspects of their work.” – Mona Baker.


Surabaya, 28 Juni 2014
Untuk Goodreads Indonesia,


Nabila Budayana




Goodreads Indonesia regional Surabaya

Lost in Translation : Menerjemahkan itu Menyenangkan

Pembicara : Ade Kumalasari
Moderator : Lalu Abdul Fatah
Tempat : Oost Koffie & Thee Surabaya
Hari, Tanggal : Sabtu, 21 Juni 2014
Waktu : 13.00 WIB
 

Thursday, May 15, 2014

LPM Bedah Buku Flying Traveler - Junanto Herdiawan, Lalu Abdul Fatah



Bedah Buku Flying Traveler 
Persembahan Goodreads Indonesia Regional Surabaya


Pembicara : Junanto Herdiawan
Pembedah : Lalu Abdul Fatah
Moderator : Nabila Budayana
Tempat : Oost Koffie & Thee Surabaya
Hari, Tanggal : Minggu, 11 Mei 2014
Waktu : 15.30 WIB


Break the boundaries. Ternyata Levitasi punya filosofi. Awalnya, mata saya termasuk yang tak menangkap bagaimana foto yang membutuhkan lompatan itu memiliki makna di baliknya. Segalanya adalah masalah sudut pandang kita melihat. Saya diingatkan kembali tentang pemaknaan itu oleh seorang ekonom yang jauh dari kesan kaku. Ekonom gaul itu bernama Junanto Herdiawan. Saya yakin banyak orang yang tak menyangka usianya sudah kepala empat. Gayanya asik dan begitu membaur, bahkan dengan muda-mudi yang berusia jauh di bawahnya. 

Semuanya diawali dari curhatan santai atasan saya tentang beliau. Intinya, buku terbaru beliau akan segera terbit. Genre traveling, bertema Levitasi. Menarik. Saya langsung terpikir untuk menyusun acara untuk GRI Sby. Mumpung buku itu masih segar, baru terbit di pasaran. Beruntunglah pula, saya punya teman baik yang hobi jalan-jalan sembari menulis, Lalu Abdul Fatah. Ia pun cukup banyak berkutat di dunia travel writing. Hanya hitungan hari, pembicara dan pembedah langsung mengiyakan, bersedia untuk dipertemukan di satu forum. Berkat pertemuan sebelumnya, Mbak Ifana, tim dari Oost Koffie & Thee pun langsung menyambut baik niatan kami untuk meminjam tempat sembari ngopi sore di sana. Publikasi, saya pasrahkan pada Ghozi yang bekerja baik. Sementara dokumentasi selama acara kami dibantu oleh Mbak Lina Handriyani yang berbaik hati bersedia menangkap momen-momen.  

Tanggal 11 Mei datang. Berdasar permintaan khusus dari pembedah, bahwa bicara traveling cocok dilakukan di sore hari, kami tentukan pukul 15.30 WIB. Sebelum itu, saya dibantu Ghozi me-layout ruang. Kami ingin semua audiens mendapat posisi yang nyaman untuk menyimak jalannya acara. Banner sudah dibentang, perlengkapan pun sudah, pengisi acara siap, acara dimulai. Dibanding dengan acara pembicara sebelumnya, acara ini memang tak begitu ramai. Tapi tentu punya atmosfer berbeda. Lebih dekat dan hangat. Mayoritas bangku diisi anak-anak muda. Sebelum acara dimulai, saya sempat berkelakar dengan Pak Iwan, nama panggilan Bapak Junanto Herdiawan. “Wah, yang datang muda-muda, Pak. Berarti Pak Iwan masih muda juga, nih!” Kemudian ia membalas dengan tak kalah lucu, “Iya. Saya kan cuma beda (usia) sedikit sama Bila!” Saya langsung yakin bahwa acara nanti akan berjalan seru. 

Setelah memberi penjelasan singkat tentang Goodreads Indonesia, saya mulai membacakan sesi perkenalan. Membacakan sederet panjang riwayat ekonom seorang Junanto Herdiawan hingga menjadi Deputi Direktur Bank Indonesia Jatim, posisi yang dimilikinya saat ini, saya serasa masih berpikir betapa panjangnya jalan karir yang telah ia tempuh. Meski di awal karirnya ia justru pernah menjadi seorang jurnalis suatu media. Alasan memilih menjadi ekonom di Bank Indonesia nyatanya sederhana. Ia berujar bahwa dengan bekerja di sana, ia memiliki banyak kesempatan untuk berkeliling ke banyak tempat. Sesuai dengan hobinya : traveling. Tapi bukan berarti ia ‘mengorbankan diri’ dengan menjadi ekonom. Passion-nya tak hanya satu. Menjadi ekonom pun adalah impian dan merupakan hal yang ia lakukan dengan suka cita. Menulis pun sama. Baginya menulis memiliki arti yang besar pula. Keistimewaan untuk berbagi, bahkan hingga diterbitkan dalam bentuk buku menjadi sebentuk kepuasan tersendiri. Menurutnya, seseorang dengan pekerjaan apapun akan mempunyai nilai tambah dengan menulis. Empat bukunya terbit di kurun waktu yang cukup singkat, dua tahun saja. Japan Afterschock : buku yang  berkisah tentang pengalamannya saat terjadi gempa dan tsunami besar di Jepang, Shocking Korea dan Shocking Japan : keinginannya mengungkap fragmen-fragmen ‘culture shock’ yang pernah ia alami di kedua negara tersebut, hingga akhirnya ia memilih melayang bersama Flying Traveler : buku yang menggabungkan dua tema, traveling dan Levitasi. 

Kisah panjang prestasi pun datang dari sang pembedah, Lalu Abdul Fatah. Sederet pengalaman jurnalistik sebagai kontributor di media online, menulis sebuah buku solo dan 15 antologi, menjadi koordinator dan editor beberapa buku traveling, menjuarai berbagai kompetisi, hingga pengalaman ‘jalan, menulis dan dibayar’ yang pernah ia lakukan. Masih muda, tajam, kritis dan punya visi yang jauh ke depan. Belakangan, Junanto Herdiawan berpendapat tentang sang pembedah demikian.

Levitasi nyatanya memiliki keistimewaan bagi Junanto Herdiawan. Diawali dengan keluhan sederhana : bosan dengan foto yang mainstream. Berangkat dari itu, ia mencoba Levitasi sebagai sekadar keisengan. Belakangan, justru ia menyadari bahwa Levitasi tak hanya memperluas dunianya dengan berbagai liputan dan penghargaan, namun ia juga menemukan bahwa ada makna spiritual darinya. Melayang dan melawan gravitasi bermakna bahwa kita sesungguhnya bisa keluar, kita mampu melakukan lebih dari apa yang kita bisa. Semua anggapan adalah paradigma. Kita mampu melakukan sesuatu ketika kita percaya. Hal yang sama terjadi pada seorang Natsumi Hayashi, gadis Jepang penemu Levitasi. Asisten fotografer yang tak percaya diri itu kini begitu bebas dan ‘terbang’ dengan Levitasinya. 

Setelah pembicara melakukan presentasi singkat tentang Flying Traveler dan Levitasi, saya cukup banyak melempar pertanyaan pada pembedah dan pembicara. Mulai pertanyaan santai, hingga pertanyaan yang berangkat dari rasa penasaran saya secara pribadi. Jawaban menarik datang dari Pak Iwan. Misalnya tentang saya yang bertanya tentang bagaimana pendapat orang-orang sekitar ketika dirinya melakukan Levitasi di suatu tempat. Pak Iwan mendapat sudut pandang yang berbeda dari itu. Ia menemukan ciri khas dari masyarakat di daerah tertentu berdasar tanggapan mereka ketika ia melakukan Levitasi. Entah orang-orang Jepang yang berlagak tak peduli meski penasaran, orang Korea yang suka bertanya-tanya dan mengagumi apa yang ia lakukan, bahkan orang Indonesia yang mampu bertepuk tangan untuk sebuah lompatan Levitasi. Saya juga mengajukan beberapa pertanyaan tentang proses editing, tentang penentuan komposisi penulisan dan bagaimana pengalamannya menulis opini di media massa mempengaruhi cara menulisnya di Flying Traveler. Semuanya dijawab dengan lugas dan bijaksana. Namun yang menarik rasa penasaran saya adalah mengapa penulis tak menambahkan sisi filosofi dalam bukunya, sementara ia pernah mengambil major filsafat di salah satu perguruan tinggi. Ia menjawab dengan diplomatis. Baginya, ia sudah menyelipkan berbagai filosofi di buku Flying Traveler. Dari hal-hal kecil yang ia temukan saat melakukan traveling dan Levitasi, ia menemukan filosofi. Misalnya dalam perbedaan kultur, agama dan budaya dari masing-masing tempat dimana ia melakukan Levitasi. Semakin banyak berjalan, ia semakin menyadari bahwa kebenaran yang mutlak untuk diri sendiri, belum tentu menjadi kebenaran mutlak bagi orang lain. Begitu banyak dan beragam kebenaran di muka bumi. Maka baginya, kesempatan usia yang ada baiknya digunakan untuk berjalan-jalan, melihat dunia, memaknai kehidupan. Kami tak melulu bicara Levitasi dan travel writing. Pak Iwan bahkan mampu mengkorelasikan antara teori ekonomi dan traveling. Dengan kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia yang meningkat saat ini, mereka sudah memiliki kebutuhan yang berbeda. Traveling adalah salah satunya.

Pada akhirnya perspektif saya bukan cenderung melihat beliau sebagai Deputi Direktur Bank Indonesia Jatim. Saya melihat beliau sebagai seseorang yang tak pernah kehilangan semangat untuk melakukan segalanya dengan passion, kecintaan penuh terhadap apa yang ia kerjakan. Yang menjalani kehidupan seperti ringan saja, namun tak pernah meninggalkan kedalaman makna yang selalu ia tancapkan dalam-dalam pada dirinya. Yang tak pernah membatasi diri, bebas terbang, dan selalu siap menembus batas-batas. Sama seperti makna yang ia temukan dalam Levitasi : 

“Ketenangan jiwa dan kedamaian hati biasanya disimbolkan oleh keringanan diri. Bila hati terasa ringan, kebahagiaan biasanya menjelang. Levitasi di tengah suasana spiritual, bagi saya, adalah sebuah simbol ketenangan jiwa.”



Surabaya,  15 Mei 2014
Untuk Goodreads Indonesia,


Nabila Budayana