Wajah-wajah tertekuk dan ungkapan "Ah, nggak sebagus bukunya!"
Penikmat buku, selain kerap merasa antusias, juga kerap kali menjadi salah satu penggerutu. Merasa ekspektasi diruntuhkan dengan tontonan film yang diangkat berdasarkan buku. Entah melenceng jauh dari cerita yang seharusnya, setting yang tak sedetail deskripsi penulis buku, dan banyak lainnya. Sementara di sisi lain, apa pendapat dari seorang film maker?
Berdasarkan hal itu, kami terpikir untuk menemukan jawaban. Seorang penonton yang menjadi raja bagi sebuah karya sinematografi. Lantas bagaimana pendapat dari sisi seorang film maker?
Berkawan sejak beberapa tahun terakhir melalui Nulisbuku Club Surabaya, saya teringat akan seorang Christian Pramudia, Kak Cis, begitu saya memanggilnya. Seorang sutradara, penulis skenario, penyiar radio, penulis dan penikmat buku, pengajar dan seorang dosen media komunikasi film di sebuah Universitas Negeri di Surabaya. Saya ajukan ide tentang konsep diskusi kali ini, ia menyetujui tanpa berpanjang-lebar. Mendapat rekomendasi dari seorang teman tentang sutradara berpengalaman, saya menemukan Mbak Hebz, Hafshoh Mubarak. Sutradara di sebuah animation studio yang memberi perhatian khusus pada dunia animasi dan teater. Dua sutradara yang memiliki kecenderungan berbeda, dipertemukan dalam satu panggung diskusi. Akan menarik, tentu.
Menikmati acara bersama rekan-rekan dari Nulisbuku Club Surabaya, mengapa tidak? Goodreads Indonesia regional Surabaya bersama Nulisbuku Club Surabaya beberapa kali berbagi meja bersama di salah satu perhelatan komunitas. Sahabat-sahabat Nulisbuku Club Surabaya menyambut baik, dan berjalanlah acara ini. Tak ada salahnya juga, mencoba tempat makan baru, Favourite Eatery yang banyak membantu kami untuk memfasilitasi. Terima kasih untuk semua pihak yang telah merelakan usahanya demi terselenggaranya acara tanggal 30 November 2014 ini.
Ketika kami mulai, kak Cis berbagi tentang makna dari adaptasi yang merupakan seni bercerita. Adaptasi ada dalam DNA kita semua, yang berarti kita semua selalu senang untuk menceritakan kembali tentang sesuatu. Mulai dongeng, folklore, hingga obrolan ringan di cafe. Membahas film adaptasi, Kak Cis menjelaskan bagaimana sejarah film adapatasi yang diawali oleh pengangkatan kisah Alice in Wonderland di tahun 1903, masih berupa film bisu dengan 16 adegan. Film adaptasi pada dasarnya dibagi menjadi dua jenis, Fateful Adaptation yang merupakan pengadaptasian dari buku secara setia dan persis. Dalam hal ini dimisalkan dengan The Fault in Our Stars novel milik John Green yang dialihmediakan menjadi sebuah film yang disutradarai oleh Josh Boone. Juga Loose Adaptation yang merupakan teknik pengadaptasian dengan hanya mengambil beberapa bagian dari buku, misalnya Film Pintu Terlarang yang berdasarkan novel milik Sekar Ayu Asmara. Kak Cis pernah beberapa kali mengangkat film pendek dengan gaya Fateful Adaptation berdasarkan bukunya yang diterbitkan secara self publishing, Curhat Cinta Colongan. Sementara Mbak Hebz sedang berproses dengan film animasinya yang menggunakan teknik pengadaptasian Loose Adaptation, yaitu Knight of Damascuss yang terinspirasi dari novel Salahuddin al-Ayyubi dan Perang Salib III karya Alwi Alatas.
"Film adaptasi tidak berutang apapun pada teks asli." Ucapan dari Richard Kevolin ini menjadi rujukan bahwa sesungguhnya media yang berbeda dari buku, yaitu film, semestinya adalah sebuah media komunikasi dengan bentuk yang berbeda, sehingga menjadi sebuah proses pengangkatan cerita yang bebas. Penulis skenario adaptasi tidak boleh terbebani oleh apapun.
Membahas tentang mengapa sesungguhnya pembaca buku kerap kecewa setelah menonton film adaptasi, Kak Cis dan Mbak Hebz berada dalam satu opini yang sama. Dalam proses pembacaan buku, pembaca menjadi pemeran utama. Mereka yang menentukan sendiri emosi dan ekspektasi. Dengan majemuknya pembaca, ekspektasi pun menjadi bermacam-macam dan tentunya bersifat sangat personal. Untuk itu, bagi seorang film maker, mengangkat film berdasarkan kisah buku bukan merupakan hal mudah dan menjadi tantangan tersendiri. Mereka memiliki beban tersendiri untuk kepentingan proses riset, menyesuaikan dengan durasi film, penerjemahan adegan menjadi bentuk visual, dan banyak hal lainnya yang menjadi tugas besar dari seorang penulis skenario adaptasi. Penulis skenario pun semestinya tak memiliki utang apapun kepada penulis buku. Misalnya saja pada film Harry Potter. Di buku, tiap adegan digambarkan dengan deatil, sedangkan pada film, beberapa adegan digabungkan menjadi satu. Penulis skenario adaptasi mesti bisa mengambil adegan terbaik dari suatu cerita. Bicara tentang ekspektasi, Mbak Hebz sendiri secara personal merasa 'takut' untuk menonton seri Supernova Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, karena KPBJ adalah satu-satunya novel yang bisa ia habiskan dalam waktu kurang dari 24 jam.
Rectoverso. Mbak Hebz menyatakan dengan yakin bahwa judul tersebut menjadi film adaptasi terbaik sejauh ini bagi dirinya. Baginya, para sutradara film omnibus tersebut berhasil menghasilkan film yang baik dan persis seperti yang dibayangkannya. Selain itu, Rectoverso ia anggap merupakan hasil yang sangat baik dalam proses adaptasi kisah dari buku, terutama di "Hanya Isyarat" yang disutradarai oleh Happy Salma. Sedangkan seorang Christian Pramudia menjawab tentang film adaptasi terbaik dengan diplomatis dari dua sisi. Sisi dirinya sebagai seorang pembaca yang memilih Ca Bau Kan, dan Noah dari sisi seorang penulis. Ca Bau Kan menyajikan detail yang sangat memuaskan. Sang sutradara, Nia Dinata bahkan menyiapkan properti secara khusus. Kain Batik khusus, desain sepatu, dan begitu banyak hal lain sengaja dibuat untuk kepentingan penyesuaian latar waktu. Sedangkan pengadaptasian Noah ke skenario sangat mengagumkan bagi Kak Cis.
Bagi Mbak Hebz, membuat film tak harus selalu dari novel. Ia banyak berkisah tentang pengalamannya dalam proses pembuatan film Knight of Damascuss. Ia sengaja membuat seorang tokoh baru, bukan seorang Salahuddin Al Ayyubi seperti dalam buku. Baginya, ada yang harus benar-benar sama, namun ada yang tidak dengan berbagai pertimbangan. Pengalihwujudan tokoh Salahuddin ke layar mampu menimbulkan kontroversi dan perdebatan. Oleh karena itu, Mbak Hebz lebih memilih untuk memunculkan tokoh baru dengan sudut pandang yang berbeda.
Diskusi kami merambat pada mengapa lebih banyak penonton yang lebih memilih untuk menyaksikan film adapatasi Hollywood daripada film adapatasi negeri sendiri. Kak Cis mengungkap resep dari keberhasilan dari film Hollywood, bahwa mereka selalu mengangkat satu tokoh utama. Jalan cerita akan berfokus pada tokoh utama, tujuan akhir dan perjalanannya mencapai tujuan tersebut. Belakangan, film Indonesia mulai melakukan hal yang sama. Contohnya Negeri 5 Menara dengan Salman Aristo sebagai penulis skenario. Meski memiliki banyak tokoh, namun hanya satu tokoh sentral yang menjadi fokus utama di cerita. Selain itu, Hollywood menggunakan teknik skenario tiga babak yang menjadikan dinamika film menjadi apik. Untuk membatasi seknario adaptasi, Kak Cis mengatakan ada tujuh besar poin panduan. Siapa tokoh utamanya, apa tujuannya, apa/siapa hambatannya, bagaimana akhir ceritanya, nilai yang ingin disampaikan, bagaimana kita mengisahkan cerita, serta apa perubahan dari tokoh dalam cerita.
Sama halnya dengan seorang penulis cerita fiksi, seorang penulis skenario harus bisa menentukan dalam satu kalimat yang menggambarkan keseluruhan cerita. Premis. Seorang penulis skenario tidak memiliki banyak waktu untuk mempresentasikan ide ceritanya. Mbak Hebz mencontohkan dengan film Strawberry Suprise yang berangkat dari kalimat "Keinginan untuk memiliki suatu relationship yang bisa dibanggakan." Sementara film Hari untuk Amanda "Kita harus tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan." Film Rectoverso berkata "Yang terjadi, terjadilah." Sedangkan film LOVE "Setelah sakit, ada bahagia."
Selain premis, menurut Mbak Hebz, yang perlu diperhatikan dalam film adaptasi adalah pengangkatan hal yang paling menarik dari buku. Novel Bumi Manusia milik Pram sangat berat untuk diangkat ke film. Hal tersebut dikarenakan begitu banyaknya adegan menarik yang bisa diangkat, sehingga cukup membingungkan sang penulis skenario bagian mana yang akan diambil. Dalam penentuannya, ternyata seorang film maker harus melihat dari segi penonton. Apakah film tersebut ditujukan untuk Remaja, Semua Umur atau justru Dewasa.
Apakah ada batasan atau aturan tertentu dalam melakukan pengangkatan film adaptasi? Dijelaskan, dalam Fateful Adaptation, paling tidak tidak menghilangkan tokoh utama dan tujuannya. Secara garis besar, tujuan dari film serupa dengan buku : menyampaikan pesan pada pembaca. The Fault in our Stars dan 5 cm dapat menjadi contoh. Penonton dapat dengan mudah mengambil inti maupun pesan dari cerita. Apabila 75% penonton tidak mampu membaca pesan dari film tersebut, bisa dikatakan sang pembuat film tidak berhasil. Paling tidak film adaptasi harus disurvei demi kepuasan penonton. Film adaptasi nyaris tidak memiliki perbedaan dengan film yang bukan adaptasi. Yang berbeda, hanya pada pilihan dan resiko. Film adaptasi lebih beresiko karena bermain dan bertaruh dengan ekspektasi yang lebih besar. Film maker harus lebih siap untuk dicacimaki.
Apakah film adaptasi seharusnya selalu persis dengan buku yang diangkat? Tanpa tendensi, Mbak Hebz mencontohkan sebuah film dengan proses adaptasi yang terkesan dipaksakan. Ia cukup kecewa dengan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Dengan sutradara sang penulis buku sendiri, film-nya menjadi terlalu persis dengan versi novel. Jika begitu persis, untuk apa film? Hal itu akhirnya mengerucut pada kesimpulan bahwa buku dan film adaptasi semestinya saling melengkapi.
Tentang perbandingan film adaptasi Indonesia dengan film karya luar negeri, Kak Cis dan Mbak Hebz menanggapi bijak. Teknis adaptasi film Indonesia sudah bagus. Namun tidak bisa dipungkiri, akan selalu ada taste yang berbeda di setiap negara. Film Indonesia kurang diminati karena belum cukup mendapat kepercayaan penonton negeri sendiri. "Gimana bisa bagus, kalau nggak ditonton?" Mbak Hebz dan kak Cis sepakat dengan kalimat ini. Film Ekpedisi Madewa, misalnya. Memiliki jalan cerita yang baik, namun terbatas dari sisi special effect. Para ahli special effect negeri sendiri cenderung memilih untuk tinggal dan berkarya di luar negeri. Sehingga, Ekspedisi Madewa tidak begitu banyak mendapat apresiasi. Bendera Sobek kurang lebih mengalami hal yang serupa. Meski berkualitas bagus, namun mengalami gagal tayang karena mesti merugi di tengah proses produksi sebesar 3 Milyar rupiah. Sesekali, film kita gagal diminati di negeri sendiri, namun meraih sukses ketika telah diambil alih oleh rumah produksi lain di luar negeri. Namun kita tidak bisa serta-merta membebankan kesalahan pada penonton. Bisa jadi, ada faktor lain yang menyebabkan kegagalan dari suatu film. Misalnya, karena kurang gencarnya promosi yang dilakukan. Pada akhirnya, Kak Cis dan Mbak Hebz menghimbau siapapun untuk menonton film adaptasi Indonesia.
Selain membahas film, Ravita Cravd, member dari NulisBuku Club Surabaya berkisah tentang buku yang ditulisnya, dan telah di-launching di awal tahun 2014 ini : You Are My ABCD. Berkisah tentang cinta diam-diam, penulis muda ini berani bermain dengan konsep. Sebuah buku dengan satu garis besar cerita, disampaikan dengan berbagai macam gaya. Puisi dan cerita pendek yang disampaikan bergantian. Gaya menulisnya banyak dipengaruhi oleh Dee dan M Aan Mansyur. Ravita juga berkisah tentang berbagai feedback yang didapatkannya dari pembaca. Mulai pembaca hingga dosennya sendiri. Sebagai penulis pemula, Ravita mempunyai potensi untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, baik film adaptasi maupun buku Ravita, You Are My ABCD berujung pada hal yang sama. Suatu karya sejatinya selalu membutuhkan harapan dan apresiasi.
Dokumentasi acara dapat disimak di https://www.facebook.com/nabila.azzahrasyahbani/media_set?set=a.10203281450627533.1073741870.1547767302&type=3
Wednesday, December 10, 2014
Wednesday, October 29, 2014
Bincang Litterature de Juenesse : LPM GRI Sby 25 Oktober 2014
Setelah bulan lalu melaksanakan bedah novel Green Card dengan Dani Sirait, Goodreads Sby mewadahi keinginannya untuk kembali bersama-sama belajar tentang budaya literasi di Prancis. Semua berawal dari pertemuan kesekian kali kami dengan Teteh Irma Husnal Chotimah, Kakang Karguna Purnama, dan tentunya putri mereka, si kecil balita primadona acara, Elle beberapa bulan lalu. Ketika mereka datang di tengah-tengah kami, rasanya kami selalu menanyakan apapun tentang Prancis. Wajar saja, selain teteh dan kakang bekerja di pusat kebudayaan Prancis sebagai penanggung jawab pengajaran dan pengajar, teteh sempat beberapa tahun tinggal di Prancis, dan kakang juga kerap berkunjung ke negeri Eiffel. Dari obrolan-obrolan itu, saya pikir akan menarik ketika teteh dan kakang dapat berbagi dengan lebih banyak orang tentang dunia literasi di Prancis. Mereka berdua sepakat dalam waktu singkat. Bulan Oktober sudah mendekat, namun kami masih belum punya topik dan persiapan. Beruntunglah teteh berkenan menyiapkan beberapa topik sebagai opsi tema acara untuk kami pilih. Ketiga opsi itu saya lemparkan pada teman-teman, dan sebagian besar merasa tertarik dengan opsi pertama : Literatur anak-anak yang sedang hangat di Prancis, bahkan masuk ke dalam kurikulum TK sejak tahun 2000. Sepakat didapat, dan semua diatur dan dilaksanakan. Terima kasih banyak saya sampaikan pada rekan-rekan yang sukarela membantu acara ini, untuk Teteh, Kakang, Elle, Kak Nindia Nurmayasari, Ghozi dan semua rekan-rekan GRI Sby.
Didampingi teteh dan kakang, Elle sedang asik memakan kudapannya ketika saya tiba di Heerlijk Gelato, 30 menit sebelum acara dimulai. Ghozi (anggota GRI Sby yang rajin menyusun rancangan publikasi) datang beberapa menit kemudian. Sembari saya berbincang ringan dengan emak dan abahnya, Elle justru menatap Oom Ghozi (begitu Elle memanggilnya) yang duduk di sebelah saya dengan seksama ("Oom ini asik diajak main nggak, ya?" mungkin begitu pikirnya). Terbukti, hingga kami beranjak, Elle mengajak Oom Ghozi bermain sepanjang waktu (Lupakan saja Oom Lalu dan Oom Praja, sudah bosan!" lagi-lagi, mungkin itu kata Elle jika dapat bisikan dari saya) :D Saya tak terlalu repot mesti membuka roll banner sendirian karena Ghozi banyak membantu. Hari itu Perpustakaan BI Mayangkara agak ramai. Di waktu yang bersamaan sedang ada desain fair yang diselenggarakan. Sementara roll banner telah terpajang di sudut Heerlijk Gelato, lewat pukul 2 siang, audiens mulai berdatangan. Beberapa dari mereka berangkat dari komunitas-komunitas literasi Surabaya, semisal LendABook dan Klub Buku Surabaya. Juga ada pemilik rumah baca, pendongeng, pengajar, dosen, mahasiswa, dll. Lima belas bangku yang kami pesan terisi penuh, bahkan perlu menambah.
Sedikit prolog seperti biasa, kemudian obrolan santai dimulai. Sore itu, 25 Oktober 2014, Teteh banyak mengungkap fakta-fakta literasi di Prancis. Misalnya saja, sebuah aturan yang wajib dipatuhi, yaitu setiap anak sekolah TK dan SD sudah harus selesai membaca satu buku penuh. Tidak harus novel, namun juga disarankan buku anak bergambar. Bicara perbedaan karakteristik literatur anak antara Prancis dan Indonesia, teteh mengungkap hal menarik. Di Prancis, kecenderungan cerita anak lebih berani dan terasa agak provokatif dibanding dengan buku-buku anak di Indonesia yang sangat menonjolkan "hitam - putih". Misalnya saja, dalam suatu buku anak Prancis, tokoh ibu dalam buku itu adalah seorang Afrika yang tak mengenakan bra. Akan sangat terdengar kontroversial di Indonesia, namun di Prancis adalah hal biasa. Buku-buku anak Prancis memiliki tema yang lebih bervariasi dan lebih berani menyatakan sesuatu. Di Prancis, anak-anak diajarkan dua jenis kemampuan membaca. Yang pertama, membaca untuk menulis dan membaca untuk membaca. Membaca untuk menulis : anak diminta untuk membaca agar mereka dapat mengetahui berbagai jenis gaya bahasa atau gaya penulisan yang bermacam-macam, dengan tujuan agar mereka dapat menerapkannya dalam tulisan mereka kelak. Sementara membaca untuk membaca bertujuan agar anak-anak dapat memahami konteks bahan bacaan.
Pertanyaan menarik datang dari Kak Nindia Nurmayasari. Sebagai pendongeng dan pengajar anak, ia bertanya apa yang menyebabkan Prancis lebih unggul dari Indonesia dalam hal pengajaran. Apakah karena faktor SDM guru? Teteh menjawab dengan sepakat. Pengajar di sana memiliki banyak cara untuk memahamkan bacaan pada siswa. Misalnya, membaca buku yang bercerita tentang beruang kutub dengan menggunakan peta. Siswa diajak untuk mengetahui dimana lokasi cerita tersebut melalui peta. Guru juga diimbangi dengan kompetensi dalam bercerita.
Saya pun penasaran. Dengan sistem pembelajaran seperti itu, apakah Prancis juga memiliki budaya baca yang baik seperti halnya Amerika atau Inggris. Tentang kebiasaan, mereka nyaris serupa dengan kedua negara tersebut. Orang-orang membaca di taman, perpustakaan sangat hidup dengan berbagai kegiatan, dan lain sebagainya. Namun bukan berarti Prancis bertahan penuh dengan gempuran teknologi. Di tahun 2000an minat baca orang Prancis menurun karena adanya video game dan banyaknya penggunaan bahasa 'ala SMS', namun tak menghentikan secara penuh kebiasaan membaca. Buktinya, membaca menjadi kebiasaan dari profesi apapun. Seorang tukang listrik bahkan memiliki referensi bacaan yang luas, seperti puisi-puisi Arthur Rimbaud meski bidang pekerjaannya tak menuntut itu. Maka, berapa banyak tukang listrik kita, setidaknya mengenal Sapardi Djoko Damono? Mampu menjadi bahan refleksi kita bersama. Bisa dibayangkan, di sekolah menengah atas jurusan bahasa di Prancis, ujian mata pelajaran Bahasa Prancis seakan menjadi prioritas bagi pemerintah. Ujian dibagi menjadi dua jenis. Ujian tulis dan ujian lisan. Bahkan saat menjalani ujian tulis, setiap siswa diberi waktu pengerjaan empat jam dan hanya berisi satu nomor soal. Bukan berarti mudah. Satu soal tersebut meminta pendapat siswa tentang kalimat tertentu dari suatu buku. Jawaban-jawaban mereka pun sangat metodis.
Kebiasaan lain di sekolah-sekolah Prancis yang juga menarik adalah setiap anak diberikan referensi bahan bacaan, agar orangtuanya mampu terus menerus membacakan cerita baru. Jika anak-anak distimulus melalui sekolah, bagaimana dengan orang dewasanya? Ternyata pemerintah Prancis pun memiliki solusi jitu. Di televisi, secara rutin, disiarkan acara mendikte yang dapat diikuti oleh semua orang yang menonton. Pemirsa diajak untuk menulis sesuai dengan kalimat yang didiktekan sebagai bahan latihan untuk menulis. Hal tersebut dilakukan karena ejaan Bahasa Prancis tidak mudah dituliskan. Menyadari bahwa media televisi dapat mencakup banyak orang, setiap hari juga disiarkan seseorang yang membaca buku selama 3 menit di televisi. Sehingga masyarakat pun tak terlalu berjarak dengan bahan bacaannya.
Teteh memperlihatkan berbagai jenis buku bacaan anak pada kami sebagai contoh yang kemudian menimbulkan pertanyaan : apakah di Prancis juga banyak kisah-kisah anak yang merupakan hasil terjemahan dari bahasa lain? Beliau menjawab : sangat banyak. Kemungkinan karena tradisi bangsa Prancis yang menomorsatukan bahasa ibu mereka, hingga cenderung menilai negatif seseorang yang mencampuradukkan Bahasa Prancis dan Bahasa Inggris. Di televisi pun nyaris tak ada film yang tidak dialihbahasakan. Namun bukan berarti mereka tak belajar bahasa asing. Di tingkat sekolah, diajarkan pula bahasa Jerman, Spanyol, Italia, bahkan Arab. Meski begitu, sekolah dengan kelas bilingual pun anti menyisihkan Bahasa Prancis.
Selain berbagai jenis bacaan anak berbahasa Prancis yang dibawa teteh, beliau juga menyarankan satu judul buku favoritnya : Liberte, egalite ... Mathilde ! yang ditulis oleh Sophie Cherer dan Veronique Deiss. Buku anak itu memberi gambaran tentang konsep demokrasi pada anak-anak.
Berbincang tentang budaya literasi bangsa lain selalu menjadi hal yang menarik. Literatur anak-anak pun sebaiknya tak luput dari perhatian kita. Memahami literasi anak akan sangat dekat dengan bagaimana cara kita memahami anak-anak, memahami harapan dan masa depan.
“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” - Albert Einstein
Saturday, August 16, 2014
Empat Harpa Menembus Generasi : Review Konser Kaleidoskop 3 Generations of Indonesian Harpists
"Ooh..Ternyata Tuhan masih sayang padaku!"
Itu celetuk seorang teman sembari tergopoh-gopoh menuju kursi di mana saya duduk. Keakraban kami setahun terakhir membuat saya memanggilnya 'tante'. Ia begitu gembira dan bersyukur melihat saya menyediakan satu kursi kosong di samping untuknya. Melihat antusiasme hadirin, sama seperti kami, rasanya seluruh penonton bersemangat menyaksikan pertunjukan kali ini. Saya langsung mengira konser ini akan meriah. Rasa-rasanya itu pun tak berlebihan. Begitu open gate, bangku-bangku terdepan untuk kelas reguler dengan cepat terisi. Saya termasuk yang beruntung karena tiba tepat ketika pintu dibuka, hingga bisa mendapat dua kursi di baris terdepan untuk kelas reguler. Oke, meski tak bisa dipungkiri, bangku-bangku VIP yang masih saja kosong bahkan hingga acara usai membuat kami berdua : saya dan tante, gerah ingin menempatinya.
Saya mestinya bersyukur dengan adanya Amadeus : Mbak Patrisna May Widuri dan tim, Event Organizer acara ini yang juga kerap menyusun konser maupun recital apik, tak pernah melupakan Surabaya untuk mendapat bagian dari pertunjukan-pertunjukan musik klasik memikat yang lebih kerap diadakan di Jakarta. Berbeda dengan konser "An Enchanting Harp Sound" sebagai debut Jessica Sudarta tahun lalu, kali ini audiens tak disambut dengan jajaran instrumen orchestra, namun justru empat buah harpa yang berjajar di atas panggung berdekor putih elegan. Empat instrumen yang sama tanpa pengiring tentu menjadi tantangan tersendiri bagi penampil. Bagaimana empat harpa itu menyatu dalam satu komposisi menjadi daya tarik besar bagi audiens. Tentu tak bisa dilupakan empat harpist-nya : Maya Hasan, Rama Widi, Lisa Gracia, Jessica Sudarta.
Maya Hasan. Siapa yang tak tahu ia. Pun akrab dengan petikan dawai harpanya. Bagaimana dengan Rama Widi? Harpist pria yang akrab dipanggil Dhika ini menjadi pemain harpa terbaik di Indonesia yang saat ini juga berkarya di Thailand dan Indonesia meski sebelumnya sangat dikenal di Vienna, tempat ia mengemban pendidikan musik. Lisa Gracia telah bermain dengan banyak orchestra setelah menyelesaikan pendidikan musiknya di Belanda, dan banyak berkarya di Indonesia. Lalu Jessica Sudarta? Gadis belia yang masih menempuh pendidikan di sekolah menengah atas ini siap bersinar bersama senior-seniornya. Pasca konser debutnya tahun lalu, serta berguru pada Rama Widi dan Lisa Gracia, kematangannya melesat.
Setelah jeda, komposisi-komposisi yang ditampilkan lebih populer. Jessica Sudarta bersama seorang cellist muda, Albert Nathanael berkolaborasi memainkan The Swan. Bach dimunculkan di panggung dengan Air on G String dari Rama Widi, Lisa Gracia, Maya Hasan dan Jessica Sudarta. Mendengarnya dalam versi harpa tentu akan ada kekhawatiran apakah akan mendengarnya seindah legato pada instrumen string. Namun keempat harpist itu mampu bekerjasama dengan cukup baik. Sesuai dengan judul pada konser tiga generasi ini, ditampilkan pula komposisi-komposisi populer yang mewakili zaman dari keempat harpist. Heal The World dari Michael Jackson dengan aransemen dari Muhammad Dhany Iskandar mewakili lagu populer di zaman Maya Hasan. Saya membayangkan seandainya komposisi ini ditemani oleh beberapa instrumen string, tentunya akan terasa lebih grande. Beralih ke zaman Lisa Gracia dan Rama Widi sekaligus memberi nuansa Disney, A Whole New World dibuka dengan intro When You Wish Upon A Star dan diakhiri dengan ending dari Beauty and The Beast. Sempat menyaksikan duet Rama Widi dan Jessica Sudarta membawakan A Whole New World sebelumnya, kali ini memang terasa berbeda dengan empat harpa dan aransemen berbeda dari Lisa Gracia. Antusiasme audiens sangat terasa dengan meriahnya tepuk tangan, bahkan saya tak mampu melepaskan senyum sepanjang komposisi ini dimainkan. Locked Out of Heaven milik Bruno Mars menjadi puncak dari acara, sekaligus mewakili zaman Jessica Sudarta. Selain familiar di telinga audiens muda, staccato dan banyaknya porsi ketukan pada soundboard berhasil menggiring dinamika pada klimaks di akhir komposisi. Ekspektasi audiens tentang lagu populer pada harpa dipertaruhkan, dan berhasil menciptakan tepuk tangan panjang, decak dan sahutan kagum pada Ballroom Sheraton malam 13 Agustus 2014 itu. Akhirnya, sisi melankolis dari Cinta Sejati OST Habibie - Ainun yang mengantarkan berakhirnya pertunjukan. Harp Ensemble tentunya memiliki tantangan tersendiri dalam pengeksekusian. Namun, dengan kemampuan masing-masing, nampaknya keempat harpist tersebut cukup mampu mengatasi kendala dalam penyesuaiannya.
Senyum puas para performer di balik strings harpa sembari damping pada setiap akhir komposisi selalu menjadi aba-aba tepuk tangan meriah dari penonton. Kolaborasi keempat harpist ini seakan menceritakan keindahan dan keseruan bermain harpa. Seraya bertanya, siapa harpist Indonesia generasi berikutnya?
16 Agustus 2014,
Nabila Budayana
Monday, July 21, 2014
Sluman Slumun Slamet
"Hidupnya juga kontemporer. Gila."
Di tengah remang cahaya proyektor, wajah-wajah
itu terbius oleh ucapan-ucapan selamat ulang tahun sekaligus komentar-komentar
menarik dari rekan-rekan sang 'Pemilih Jalan Sunyi' : Slamet Abdul
Sjukur.
***
Pagi hari, 15 Februari 2014, sekitar pukul tujuh
saya mengecek ponsel yang baru menyala. Satu ruang obrolan membuat saya cukup terkejut.
Seseorang mengutip satu kalimat dari buku yang saya tulis, diikuti nama
pengirim yang meminta alamat e-mail saya. Pesan itu datang dari bapak musik kontemporer
Indonesia. Ialah Slamet Abdul Sjukur yang berkata "Gak apa. Saya masih
hidup." Itu gurauannya ketika saya meminta maaf saat saya lupa
menghubungi. Saya pun iseng bertanya buku apa yang sedang dibacanya. Sempat
saya kira jawabannya akan berkisar pada buku-buku teori musik. “Grand Design” milik
Stephen Hawking langsung meluruhkan dugaan saya. Seseorang yang menatap hidup
dengan berbeda. Namun tak selalu berupa canda. Ketika beliau menanyai saya
tentang bagaimana pendapat saya akan suatu pergelaran musik, ia tiba-tiba nyeletuk “Menurut saya itu karena
pikiran yang terlalu terkotakkan” kira-kira begitu perkataannya yang tertuju
untuk saya di tengah-tengah saya menyetir, dan beliau duduk di bangku penumpang
di samping saya – saat itu beliau percaya saja pada seorang anak muda yang
menawarkan tumpangan seperti saya - Sepanjang perjalanan hingga hari-hari
berikutnya saya terpikir apa yang dimaksudkannya. Jawaban yang tertera di
kepala saya hanya sebatas “Saya mesti meluaskan wawasan dan mengambil sudut
pandang yang berbeda.”
Saya beberapa kali disenggol Mbak Gema
Swaratyagita untuk hadir di acara PMS (Pertemuan Musik Surabaya). Beberapa kali
pula saya mangkir. Tak bisa hadir. Bosan juga meminta maaf pada Mbak Gema dan
Pak Slamet. Hingga hadirlah serangkaian acara Sluman Slumun Slamet merayakan
ulang tahun ke-79 sang musisi. Mencari-cari waktu untuk hadir, saya bertekad
untuk menikmati pamungkasnya di 21 Juni 2014 lalu. Begitu hadir, pendopo STKW Surabaya disulap remang dan
hening. Keramaian di sana, namun wajah-wajah di balik keremangan itu hanya
samar. Saya kemudian mengambil posisi lesehan dan siap menikmati pertunjukan.
Di tengah pendopo grand piano hitam mengambil sebagian besar ruang, sementara
seperangkat gamelan tertata di bagian belakang. Saya terhanyut sejak komposisi
pertama. Komposisi “Kabut” yang dimainkan langsung oleh penciptanya, Slamet Abdul Sjukur, mengisi
malam dan kanvas hening yang diberikan audiens. Kabut terasa nyata bersanding
dengan malam. Kemudian dengan cantik Gema Swaratyagita membawakan “Tobor”. Ekspresi Gema yang berbicara semakin
menampilkan keapikan “Tobor”. Setelah sibuk terpesona dengan “Tobor”, pergelaran malam itu
dilanjutkan dengan Pak Slamet dan Gema yang duduk di balik meja yang sama.
Mereka bersisian, menampilkan musik dari sepatu dan peralatan keseharian
lainnya. Hingga akhir, kelompok Gamelan Kyai Fatahilah menampilkan “Tetabeuhan
Sungut” dan “Game-Land 1”. Mereka menampilkan komposisi yang 'dihasilkan dari
mulut' dan seperangkat gamelan yang telah disiapkan. Musik yang disajikan
sangat dinamis. Terkadang setenang malam dengan nada 'satu-satu'. Di detik
berikutnya mampu riuh dengan segala rupa bunyi perangkat gamelan. Pergelaran
malam itu terkadang diiringi dengan berbagai bunyi lainnya. Derum motor atau
alarm mobil dari lingkungan sekitar. Bagi saya, “kanvas” berupa sunyi mungkin
sudah tercemar. Namun berbeda bagi seorang musisi. Musik tetap harus berjalan,
bunyi-bunyi lain (barangkali) adalah sebuah spontanitas yang datang mengisi
pertunjukkan. Bunyi-bunyi itu juga musik. Musik yang disajikan seorang Slamet
Abdul Sjukur kiranya telah menjadi familiar di antara para audiens. Sekumpulan
anak muda yang duduk persis di belakang saya, misalnya. Mereka bahkan asik
bersenandung kecil ketika “Kabut” dimainkan.
Musik-musik itu masih terbayang di kepala saya
ketika perjalanan saya membaca Sluman Slumun Slamet : Esai-Esai Slamet Abdul
Sjukur (1976-2013). Berbeda, tak biasa, apa adanya, seringkali satire,
mencerahkan. Apa yang disampaikan seseorang yang memilih jalan berbeda dari
kebanyakan orang selalu menyenangkan. Apa karena kita yang terlalu dikotakkan
aturan dan 'jalan normal yang seringkali dianggap sebagai 'jalan paling baik', sebuah batasan yang selalu sama. Slamet membuatnya berbeda. Jalan pikir dan
sudut pandang yang lain. Kurang lebih, Slamet dapat dibaca melalui kumpulan
esainya “Sluman Slumun Slamet” yang diterbitkan oleh Art Music Today. Sang
maestro membawa karakter musik kontemporer bersamanya. Mungkin akan banyak yang
bertanya-tanya apa maksud musik kontemporer itu. Menghadapi reaksi-reaksi
tersebut, Slamet terang-terangan dalam esainya.
“Tidak ada salahnya kalau orang meragukan musik
kontemporer. Musik demikian memang sukar dimengerti, tidak enak didengar dan
tidak karuan.” (hal. 6)
Namun, ia pun memberikan penjelasan lanjutan.
“Dan sesungguhnya persoalan musik kontemporer
(untuk hanya menyebutkan musik) merupakan jalinan sejumlah masalah yang masing-masing
meminta pembahasan yang hati-hati.” (hal.6)
Dan sebuah kalimatnya menjadi pemertegas “Satu
hal yang setidak-tidaknya sukar dipungkiri, bahwa musik tidak pernah berhenti
dalam memperluas daerahnya. Apa yang dianggap kemarin tidak musikal, sekarang
malah bisa menjadi ramuan yang paling sedap. Suara apapun bisa menjadi musik.”
(hal. 7)
Slamet meminta pembaca berkaca diri dengan apa
yang ditulisnya,
“Orang bahkan cepat menuntut “haknya” untuk
mengerti dan tidak segan-segan mengadili musik apa saja, termasuk musik yang di
luar kemampuan pencernaan mereka.” (hal. 11).
Slamet pun tak segan membagi hasil obrolannya
dengan musikus-musikus asing. Misalnya saja dengan Ton De Leeuw, seorang tokoh
musik penting.
“Banyak yang mengira bahwa musik kontemporer itu
ialah musik yang bermula dari beberapa gelintir komponis di barat yang terlalu
individualis dan terlepas dari masyarakat. Seolah-olah musik kontemporer itu
musik orang Barat yang tidak karuan. Ada pula yang menganggap musik tersebut
musik sekadar bunyi dan asal bunyi saja.” (hal. 72).
Dalam buku ini, penulis banyak ‘berlaku’
nyentrik, sesuai dengan karakter penulisnya. Slamet banyak bercerita tentang apa
itu musik, cara mendengarkannya yang mungkin akan menjadi masukan untuk pembaca.
Misalnya saja, Slamet menulis tentang musik yang merupakan soal saat. Musik
adalah kapan kita menyadari adanya suara. Musik memiliki ruang besar pada
Slamet hingga ia memandangnya dengan cara yang dalam dan penuh makna. Ia bahkan
tak segan mengkritik musikus barat yang kurang memperhatikan corak dan unsur
ruang dan hanya memikirkan dinamika nada dan irama. Slamet pun mampu menghubungkan
musik dengan apa saja. Dalam esainya yang berjudul “Jakarta Mementaskan Musik
Elektronik” misalnya, ia menghubungkan kedamaian ala seorang yogi, Sri
Aurobindo dengan musik.
“Kedamaian di sini adalah persenyawaan antara
suara-suara musikal dan bunyi-bunyi yang biasanya tidak kita anggap sebagai
musik...” (hal. 18)
Dalam buku tersebut, Slamet juga membahas banyak
hal. Antara lain tentang pendidikan seni dan sikap musikus yang masih banyak
‘keliru’. Yang menarik bagi saya saat beliau membahas tentang sifat
individualis dari piano. Sangat tajam dan tegas. Beliau mampu menghubungkan piano dengan sifat dasar manusia. Gaya
penyampaiannya yang apa adanya, berani, percaya diri, yakin dan penuh sindiran
itu akan membuat pembaca seringkali terbelalak. Jangan kira seorang musikus
hanya akan membahas musik. Bahkan akan ada korelasi musik dengan fisika kuantum
dan fisika mekanik untuk pendekatan musik Debussy. Ia pun berkisah tentang
partitur, sejarah cadenza, penekanan bahwa keberadaan musik sama normalnya
dengan hal-hal lain yang kita hadapi sehari-hari.
Kemudian bukan berarti ia lupa memandang hal besar. Slamet juga menyorot tentang sikap musik negeri
ini :
“Ketekunan yang bergairah ternyata adalah
salah-satu cara yang paling cocok sampai pada saat ini untuk berbuat musik yang
sungguh-sungguh di Tanah Air kita, dan bukannya tergantung pada oportunisme
serta semboyan-semboyan yang hanya membuatnya geli.” (hal. 64)
Ia pun menengok pada banyak hal lainnya. Kritik
tentang kebergantungan seorang musikus pada partitur seringkali membuat
pengalih dari keutamaan musik itu sendiri. Juga pengertian tentang
musik yang seringkali terbatasi. Beberapa kali Slamet menyinggung bahkan
membahas dengan cukup dalam korelasi antara Debussy dan gamelan. Bukan hal yang
aneh ketika seorang besar memasukkan nama-nama besar sebagai pembahasannya. Selain
Stravinsky, Debussy, Vivaldi, maupun Amir Pasaribu, ia dengan bijak menyebut nama-nama baru
berbakat layaknya Bernadeta Astari (di penampilan saat ia berusia 15 tahun). Mengatakan
perspektifnya tentang kekurangan bakat baru itu untuk berkembang. Slamet
memperluas pandangan dan area bermainnya bukan pada satu standar. Ia memutuskan
menjelajah dan mencoba berbagai kemungkinan-kemungkinan. Meski begitu, bukan
berarti ia berhenti menganalisa teori-teori semacam kromatik Bach dan relative
minor Chopin.
Penekanan pada saya agar tak terjebak persepsi
yang ditekankan oleh Agustinus Wibowo pada tulisan-tulisan perjalanannya, Gobind Vashdev pada konsep kebahagiaannya, juga kembali ditekankan oleh Slamet
Abdul Sjukur melalui esainya. Namun ini tentang persepsi teori musik yang sudah terlanjur cenderung dianggap sebagai 'keharusan'. Ia mencontohkan bagaimana seorang komposer besar seperti Chopin mengkritisi dan menghilangkan persepsi dengan tak lagi menganggap
tangga nada yang paling mudah adalah C, berdasarkan struktur jari tangan. Slamet
juga merambah ranah psikologis tentang mendengar warna dan melihat nada.
Kemampuan sinestesia pada beberapa komponis yang ia ungkapkan sejalan dengan
yang dikatakan Oliver Sacks, seorang dokter dan dosen Neurologi Klinis dan
Psikiatri di Universitas Columbia, melalui bukunya “Musicophilia” yang mengupas
tentang fenomena sinestesia pada manusia bukan sebagai metafora atau asosiasi,
namun sebagai hal yang konkrit.
“Musikus-musikus besar selalu menunjukkan kepada
kita bahwa musik itu tidak semiskin yang kita sangka.” Seorang Slamet Abdul
Sjukur telah menunjukkan itu dengan jalannya sendiri, dengan caranya sendiri.
Tentang makna musik, memaksimalkan pendengaran dan rasa untuk menikmatinya,
bahkan tentang keberanian untuk menjadi berbeda.
Slamet tak hanya menyorot tentang teknis dengan
berbagai teori yang barangkali sukar dimengerti. Ia berpetualang jauh ke dalam.
Musik bukan hanya menjadi sekadar sekunder. Namun ia menjadi hidup, menjadi
sesuatu yang krusial dengan penggalian yang tak habis-habisnya. Ia berdampak
sebegitu besar. Menentukan rasa, sikap, dan jalan pikir.
Lantas dengan semua itu, saya yang awam dan
dangkal ini membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang Slamet Abdul Sjukur.
Semua bunyi adalah musik baginya. Apa yang dipikirkannya? Atau, akankah
melelahkan untuk “mengkonversi” semuanya menjadi musik? Itu mungkin hanya
menjadi sebatas pertanyaan konyol saya belaka. Musik berarti jauh lebih besar
untuk seorang yang mencintai musik sebagai hidupnya. Cara berpikir dan
mendengar seperti itu mungkin justru yang membuatnya merasa damai dan tenang.
Ladang inspirasinya sebesar dunia. Betapa ‘terkotaknya’ cara saya dalam
menikmati dan memahami musik patut kembali dikoreksi.
Slamet sangat berani, satire bahkan mungkin bagi
sebagian orang sarkastis dalam tulisan-tulisannya. Namun itu berangkat dari
idealismenya terhadap musik. Bahwa musik tak sekadar permukaan, namun
kehakikian. Bukan sampingan, namun bagian dari keutamaan. Setelah saya menutup
halaman terakhir, backcover
menyajikan kalimat yang kuat :
“Saya memilih menempuh jalan sunyi, jauh dari
yang normal.”
Kalimat penuh kesadaran, keberanian, idealisme,
kejujuran dan komitmen. Satu kalimat yang merangkum Slamet Abdul Sjukur.
Penegasan bahwa di sanalah pilihan yang beliau ambil, keteguhan, pendekar yang
sepenuhnya memikul konsekuensi dan memilih jalannya sendiri : riuh musikal
dalam kesunyian.
Selamat Ulang Tahun, Bapak
Slamet Abdul Sjukur.
Kiranya ini sebuah ucapan yang terlambat. Yang
bahkan mungkin tak terlalu berarti. Tapi, Slamet Abdul Sjukur dan Sluman Slumun Slamet-nya
meminta pendengar dan pengagumnya untuk mendengar lebih baik. Yang berarti juga
memaknai hidup dengan lebih baik.
Satu bulan yang rasanya terlalu lama,
21 Juli 2014
Nabila Budayana
Wednesday, July 16, 2014
Enam Belas Juli yang Belum Usai
Nyaris tak ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan syukur dan gembira, hari ini, saya sibuk membalas ucapan-ucapan selamat untuk memperingati hari kelahiran. Keluarga, kerabat, sahabat. Beberapa dari mereka mengingatkan usia. Dua puluh lima, seperempat abad, katanya. Saya bergurau "Bukannya dua belas?" Sebuah penyangkalan yang melahirkan balasan gurauan berbagai macam. Tahun lalu sastrawan Kurnia Usman mengirimkan sebuah novelnya sebagai kado ulang tahun persis di tanggal enam belas. Hari ini beliau kembali menelepon, mengucapkan selamat, dan mengabarkan kondisi kesehatannya yang sedang dalam masa pemulihan. Saya positif tak enak hati. Beliau masih menyempatkan diri menelepon.
Dalam bayangan saya hari ini akan sama, akan terlewati seperti biasa.
Telepon rumah meronta ingin dijawab setelah beberapa kali berdering. Kebetulan hari ini saya mengajukan izin tak ke kantor. Mama saya sedang sibuk mengobrol dengan beberapa tamu. Ucapan "halo" saya beberapa kali tak menghasilkan jawaban dari ujung lainnya. Ketika nada saya mulai meninggi, suara perempuan ragu-ragu terdengar.
"Saya Tini. Pembantu Bu Tine yang dulu. Mau ngasih tahu. Bu Tine meninggal."
Entah suaranya yang tak jelas, kuping saya yang tak menangkap, atau rasa tak percaya.
"Apa, mbak?" Saya memohon pengulangan, setengah berharap yang saya dengar sebelumnya tidak benar.
"Bu Tine meninggal tadi pagi jam delapan."
Tanpa sadar saya hanya bisa mengucap "Ah, Auh, Eh". Sesaat saya tak tahu apa yang mesti dilakukan. Nada bicara Mbak Tini buru-buru. Sebelum ia menutup telepon, saya minta berbagai informasi tentang persemayaman dan pemakaman Oma Tine.
Oma Tine. Begitu kami memanggilnya. Tak ada hubungan darah dengan keluarga. Tapi ia sahabat dekat kakek, ayah papa selama bertahun-tahun. Saking dekatnya,bertahun-tahun lalu ketika saya dan sepupu lainnya masih seusia SD, setiap dua puluh lima Desember kami sekeluarga besar berkunjung ke rumah Oma Tine. Bersilaturahim dengan ia sekeluarga yang merayakan Natal. Pohon Natal dan televisi ukuran besar, electone, permen selalu ada di ruang tamunya. Sembari disuguhkan makanan, para orang tua akan mengobrol, dan anak-anak akan berlarian ke sana kemari menjelajah rumah. Beberapa kali saya dan sepupu-sepupu yang seumuran mengagumi hiasan pohon natal. Mulai boneka santa flanel, kaos kaki besar, hingga bintang emas di ujung atas pohon. Oma Tine begitu mudah kami sukai karena selalu ramah dengan anak-anak.Seperti kebanyakan orang lain, ia masih salah memanggil "Bina atau Bila" kepada saya dan kakak. Setiap kali bersalaman ia akan mencium pipi-pipi mungil kami, orang-orang tua kami, juga pipi kakek dan uti seperti keluarganya sendiri. Tak sulit mengingat wajahnya yang selalu nampak awet muda itu. Maklum, ia perias profesional.
"Halo?" ujar saya dengan nada datar.
"Ya, halo. Betul dengan rumah Andi Handoko?" nada bicara wanita itu berbeda. Sangat lembut, sopan dengan sedikit aksen pengucapan khas Belanda.
Sebelum wanita itu sempat menjelaskan panjang lebar, saya sudah menduga. Selain dari nada bicaranya yang unik, sangat jarang seseorang menyebut nama papa diikuti nama kakek.
"Oma Tine, ya? Oma apa kabar?"
"Ini putrinya Andi, ya? Eh, masih ingat oma, ya?"
Setelah itu mengalir obrolan ringan. Tentang hidupnya yang berubah. Tentang ia yang sudah pindah ke sebuah kamar kos kecil dan hidup dengan mengajarkan Bahasa asing pada mahasiswa sesama penghuni kos. Tentang hidupnya yang mesti tinggal seorang diri. Di masa tuanya.
Berbeda dengan mama, saya lupa mengabarkan pada papa, orang yang semestinya berhak tahu lebih cepat tentang kabar duka itu. Saya tak sempat melihat ekspresi mama, namun saya tak menyangka. Mata papa merah dan berkaca-kaca. Seperti menahan air mata. Rupanya kedua orang tua saya punya cukup banyak kenangan khusus dengan Oma Tine. Satu per satu memori terurai dan dibeber ulang. Memori yang entah disimpan sendiri atau disampaikan terputar lagi. Oma Tine punya jasa besar menyatukan papa dan mama, rupanya.
Enam belas Juli belum usai. Ternyata ada yang harus saya renungkan. Selain syukur atas keberadaan, kesehatan, kehidupan; masih ada yang perlu diingat dan dipahami. Sudah seberapa dewasa saya untuk mampu menerima kepergian, kesakitan, kematian. Seberapa besar kemampuan untuk berdamai dengan memori, diri sendiri saat ini, dan keberanian menyambut apa yang akan terjadi. Sudah seberapa jauh memaknainya, terutama di peringatan hari kelahiran yang seringkali disibukkan gempita perayaan dan kegembiraan?
Dalam bayangan saya hari ini akan sama, akan terlewati seperti biasa.
***
Telepon rumah meronta ingin dijawab setelah beberapa kali berdering. Kebetulan hari ini saya mengajukan izin tak ke kantor. Mama saya sedang sibuk mengobrol dengan beberapa tamu. Ucapan "halo" saya beberapa kali tak menghasilkan jawaban dari ujung lainnya. Ketika nada saya mulai meninggi, suara perempuan ragu-ragu terdengar.
"Saya Tini. Pembantu Bu Tine yang dulu. Mau ngasih tahu. Bu Tine meninggal."
Entah suaranya yang tak jelas, kuping saya yang tak menangkap, atau rasa tak percaya.
"Apa, mbak?" Saya memohon pengulangan, setengah berharap yang saya dengar sebelumnya tidak benar.
"Bu Tine meninggal tadi pagi jam delapan."
Tanpa sadar saya hanya bisa mengucap "Ah, Auh, Eh". Sesaat saya tak tahu apa yang mesti dilakukan. Nada bicara Mbak Tini buru-buru. Sebelum ia menutup telepon, saya minta berbagai informasi tentang persemayaman dan pemakaman Oma Tine.
***
Oma Tine. Begitu kami memanggilnya. Tak ada hubungan darah dengan keluarga. Tapi ia sahabat dekat kakek, ayah papa selama bertahun-tahun. Saking dekatnya,bertahun-tahun lalu ketika saya dan sepupu lainnya masih seusia SD, setiap dua puluh lima Desember kami sekeluarga besar berkunjung ke rumah Oma Tine. Bersilaturahim dengan ia sekeluarga yang merayakan Natal. Pohon Natal dan televisi ukuran besar, electone, permen selalu ada di ruang tamunya. Sembari disuguhkan makanan, para orang tua akan mengobrol, dan anak-anak akan berlarian ke sana kemari menjelajah rumah. Beberapa kali saya dan sepupu-sepupu yang seumuran mengagumi hiasan pohon natal. Mulai boneka santa flanel, kaos kaki besar, hingga bintang emas di ujung atas pohon. Oma Tine begitu mudah kami sukai karena selalu ramah dengan anak-anak.Seperti kebanyakan orang lain, ia masih salah memanggil "Bina atau Bila" kepada saya dan kakak. Setiap kali bersalaman ia akan mencium pipi-pipi mungil kami, orang-orang tua kami, juga pipi kakek dan uti seperti keluarganya sendiri. Tak sulit mengingat wajahnya yang selalu nampak awet muda itu. Maklum, ia perias profesional.
***
"Halo?" ujar saya dengan nada datar.
"Ya, halo. Betul dengan rumah Andi Handoko?" nada bicara wanita itu berbeda. Sangat lembut, sopan dengan sedikit aksen pengucapan khas Belanda.
Sebelum wanita itu sempat menjelaskan panjang lebar, saya sudah menduga. Selain dari nada bicaranya yang unik, sangat jarang seseorang menyebut nama papa diikuti nama kakek.
"Oma Tine, ya? Oma apa kabar?"
"Ini putrinya Andi, ya? Eh, masih ingat oma, ya?"
Setelah itu mengalir obrolan ringan. Tentang hidupnya yang berubah. Tentang ia yang sudah pindah ke sebuah kamar kos kecil dan hidup dengan mengajarkan Bahasa asing pada mahasiswa sesama penghuni kos. Tentang hidupnya yang mesti tinggal seorang diri. Di masa tuanya.
***
Berbeda dengan mama, saya lupa mengabarkan pada papa, orang yang semestinya berhak tahu lebih cepat tentang kabar duka itu. Saya tak sempat melihat ekspresi mama, namun saya tak menyangka. Mata papa merah dan berkaca-kaca. Seperti menahan air mata. Rupanya kedua orang tua saya punya cukup banyak kenangan khusus dengan Oma Tine. Satu per satu memori terurai dan dibeber ulang. Memori yang entah disimpan sendiri atau disampaikan terputar lagi. Oma Tine punya jasa besar menyatukan papa dan mama, rupanya.
***
Enam belas Juli belum usai. Ternyata ada yang harus saya renungkan. Selain syukur atas keberadaan, kesehatan, kehidupan; masih ada yang perlu diingat dan dipahami. Sudah seberapa dewasa saya untuk mampu menerima kepergian, kesakitan, kematian. Seberapa besar kemampuan untuk berdamai dengan memori, diri sendiri saat ini, dan keberanian menyambut apa yang akan terjadi. Sudah seberapa jauh memaknainya, terutama di peringatan hari kelahiran yang seringkali disibukkan gempita perayaan dan kegembiraan?
Saturday, June 28, 2014
Lost in Translation with Ade Kumalasari
Seluruh ruang terdiam ketika wanita itu
membacakan contoh narasi suatu perjalanan bersama dengan anak-anaknya. Kalau
saya tidak salah ingat, narasinya berkisah tentang matahari, tentang pantai
dan anak-anak yang berlarian. Meski hanya beberapa kalimat, saya kemudian
menutup mata dan membayangkan deskripsi suasana yang ia tampilkan pada
tulisannya. Lebih dari setahun lalu di sebuah acara perbukuan, saya mengetahui
wanita itu adalah Ade Kumalasari.
Lama tak berjumpa kembali, nama beliau terselip
di antara obrolan tim Goodreads Sby baru-baru ini. Kemudian terpikir, selain
buku-buku lokal, kami juga menggemari buku-buku terjemahan. Kami belum pernah
mendengar secara langsung bagaimana cerita di balik profesi seorang penerjemah.
Saya kemudian teringat mbak Ade dan mencoba menghubunginya. Mbak Ade sangat
ramah menyambut keinginan kami yang memintanya berbagi.
Mendekati waktu yang telah ditentukan, mbak Ade
datang dengan suami, dan kedua putrinya, #BigA dan #MediumA (sebutan untuk
mereka yang kerap kali digunakan sang ibu di media sosial). Sementara #BigA
sangat tekun dengan bacaannya, #MediumA sibuk dengan tabletnya. Kami mengobrol ringan
sejenak sebelum akhirnya acara dimulai. Dari sesi perkenalan, kami mengetahui
bahwa selain sebagai seorang ibu, Ade Kumala juga berprofesi sebagai seorang
editor dan penerjemah lepas, penulis, serta travel
worker dengan kisah-kisah perjalanan yang ia bagi di travelingprecils.com.
Sempat tinggal di Sydney Australia selama 5,5 tahun untuk menemani sang suami menempuh
pendidikan di sana, seorang Ade Kumala pernah bekerja di sebuah supermarket
hingga menjadi dosen tamu di University of Sydney. Disamping itu, ia mulai
merambah dunia penerjemahan antara tahun 2006-2012. Sebelumnya, di tahun 2005
ia terjun ke dunia teenlit dengan
menerbitkan “I’m Somebody Else”. Baginya, teenlit
merupakan jalan masuknya ke industri dunia perbukuan. Bicara tentang latar
belakang pendidikan, Ade Kumala tak memiliki background bidang sastra, justru ia lulus dari jurusan Kimia MIPA
UGM. Meski begitu, keaktifannya di penerbitan kampus membuat kemampuan
menulisnya menjadi berkembang. Berangkat dari hal tersebut, ia mengatakan bahwa
tak ada kualifikasi background
tertentu untuk menjadi seorang penerjemah. Tentu saja hal itu mesti
diimbangi dengan kesukaan dan ketekunan untuk membaca dan menulis.
Masuk ke bidang penerjemahan, Ade Kumala
menjelaskan bahwa editor dan penerjemah memiliki hubungan yang erat. Salah satu
kesamaan keduanya adalah kemampuan untuk membaca dengan cepat. Membaca dengan
cepat berguna untuk memutuskan nasib naskah yang dikerjakan. Jika ditanya,
dalam penerjemahan buku-buku Bahasa Inggris, apakah diperlukan kemampuan berbahasa
Inggris yang sangat baik? Ia menjawab tidak juga. Dengan kemampuan Bahasa
Inggris sedang dan mampu memahami bacaan, itu cukup. Terselip di antara
obrolan, bagaimana kisah seorang Ade Kumala setelah kembali ke Indonesia cukup
menarik. Di tahun 2012 ia sempat menganggur. Saat itu, seorang temannya yang
bekerja di sebuah penerbitan di Jogjakarta menawarkannya untuk melakukan
editing pada suatu naskah. Di awal karirnya menjadi editor, honor yang ia
terima tentu tak bisa banyak. Namun kemampuannya mengedit naskah berkembang
seiring berjalannya waktu, sampai akhirnya ia tak hanya mengedit, namun juga
menerjemahkan. Naskah terjemahan pertama yang ia terima adalah naskah teenlit “Accidentally Fabulous” milik Lisa Barham. Prosesnya pun tak mudah. Ade mesti menerima ujian percobaan di sepuluh
halaman pertama. Meski menghasilkan begitu banyak catatan dari penerbit, namun akhirnya
ia dipercaya sebagai seorang penerjemah.
Sesuai dengan statusnya sebagai penerjemah lepas,
disamping kesibukannya sebagai seorang ibu, ia menerjemahkan saat anak-anaknya
berada di sekolah selama 4 hingga 6 jam kerja per hari. Dengan durasi kerja
tersebut, sebuah buku rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan. Ade
pun terang-terangan menyebut jumlah honor yang ia terima, 5 – 15 Rupiah per
karakter. Masing-masing penerbit memiliki standar dan tarif penerjemahan yang
berbeda. Menurut Ade, tarif editing
adalah setengah dari tarif penerjemah, mengingat beban kerja yang juga
menyesuaikan. Jika naskah yang dikerjakan lebih rumit, penerjemah atau editor
lepas dapat melakukan nego dengan pihak penerbit. Tak begitu saja mulus, bagi
Ade kesusahan di dalam menerjemahkan adalah jika suatu naskah asli menggunakan
bahasa Slang, bukan bahasa baku. Ade mesti mencari padanan kata dengan berbagai
cara. Mulai bertanya pada suami yang pernah tinggal di Inggris, mengecek kamus,
hingga berselancar di internet. Selain itu, seorang penerjemah pun tak luput
dari proses editing. Yang kerap kali
diedit dalam naskah terjemahan bukan plot maupun kejanggalan cerita, namun
permasalahan pada idiom, kalimat efektif, dan lain sebagainya. Editor bekerja
dengan cepat. Ia tak perlu mengecek setiap paragraf, cukup ketika merasa ada
yang aneh dalam sebuah naskah, ia baru mengeditnya.
Ade Kumala memaparkan tujuh hal penting dalam
penerjemahan buku. Pertama, menerjemahkan adalah masalah menulis ulang. Kedua, sesuaikan gaya bahasa dengan target pembaca. Di poin ketiga ia mengatakan bahwa terjemahan
harus luwes, jangan selalu letterlijk
(harfiah). Kemudian, tidak perlu mengubah jalan cerita. Kelima,
hati-hati terjebak pada idiom/frasa. Hal tersebut dapat diatasi dengan
memperluas wawasan, menonton film ataupun membaca terjemahan. Poin nomor enam,
seorang penerjemah mesti teliti. Keterburu-buruan seringkali menjadikan naskah
berantakan. Kemampuan Ade yang juga seorang editor, menjadikannya seringkali
mengedit naskah terjemahannya sendiri sebelum diserahkan pada editor naskah. Yang
terakhir, kerahkan alat bantu. Baik komputer, internet, KBBI daring, Google
Translate (bagi Ade, Google Translate membantunya untuk mematik ingatan dan
menghaluskan bahasa karena adanya sinonim dari kata), Thesaurus, kamus idiom (thefreedictionary.com),
kamus urban (urbandictionary.com), Google dan Wikipedia.
Mengakhiri sesinya, ia meminta audiens untuk
menerjemahkan barang satu dua baris dari contoh buku yang ia terjemahkan.
Hasilnya cukup baik. Namun, Ade memberikan saran dengan menggunakan kalimat
efektif dan gaya bahasa yang tak terlalu baku. Ia pun menyarankan kepada
audiens yang ingin menekuni profesi penerjemah untuk memperbanyak membaca buku
berbahasa Inggris dan terjemahan, jika perlu membandingkan keduanya. Pun dengan
rajin mencari ilmu dengan mengikuti kursus, seminar ataupun workshop, berlatih
menerjemahkan, bergaul dengan orang-orang yang mendukung profesi, menawarkan
diri ke penerbit dengan menulis surat dan memberi contoh terjemahan.
Saya secara pribadi terkesan. Mbak Ade nampak
mempersiapkan benar apa yang akan ia sampaikan melalui tampilan presentasi yang
ia tunjukkan. Gaya bicaranya santai dan perlahan. Sesekali terselip humor
diantara obrolannya. Menjadi seorang ibu, travel worker, sekaligus pekerja di
industri perbukuan nampaknya tak menghalangi kegemarannya untuk berbagi ilmu. Ade
Kumala mengajak kita tersesat di dunia penerjemahan. Siapapun boleh tersesat,
asalkan memiliki kemampuan. Don’t you
dare to lost in translation?
“Translators have to prove to themselves as to
others that they are in control of what they do; that they do not just
translate well because they have a “flair” for translation, but rather because,
like other professionals, they have made a conscious effort to understand
various aspects of their work.” – Mona Baker.
Surabaya, 28 Juni 2014
Untuk Goodreads Indonesia,
Nabila Budayana
Goodreads
Indonesia regional Surabaya
Lost in
Translation : Menerjemahkan itu Menyenangkan
Pembicara : Ade
Kumalasari
Moderator :
Lalu Abdul Fatah
Tempat :
Oost Koffie & Thee Surabaya
Hari,
Tanggal : Sabtu, 21 Juni 2014
Waktu : 13.00
WIB
Thursday, May 15, 2014
LPM Bedah Buku Flying Traveler - Junanto Herdiawan, Lalu Abdul Fatah
Bedah Buku Flying
Traveler
Persembahan Goodreads Indonesia Regional Surabaya
Persembahan Goodreads Indonesia Regional Surabaya
Pembicara : Junanto Herdiawan
Pembedah : Lalu Abdul Fatah
Moderator : Nabila Budayana
Tempat : Oost Koffie & Thee
Surabaya
Hari, Tanggal : Minggu, 11 Mei
2014
Waktu : 15.30 WIB
Break the boundaries. Ternyata Levitasi punya filosofi.
Awalnya, mata saya termasuk yang tak menangkap bagaimana foto yang membutuhkan
lompatan itu memiliki makna di baliknya. Segalanya adalah masalah sudut
pandang kita melihat. Saya diingatkan kembali tentang pemaknaan itu oleh
seorang ekonom yang jauh dari kesan kaku. Ekonom gaul itu bernama Junanto
Herdiawan. Saya yakin banyak orang yang tak menyangka usianya sudah kepala
empat. Gayanya asik dan begitu membaur, bahkan dengan muda-mudi yang berusia
jauh di bawahnya.
Semuanya diawali dari curhatan santai atasan saya tentang
beliau. Intinya, buku terbaru beliau akan segera terbit. Genre traveling,
bertema Levitasi. Menarik. Saya langsung terpikir untuk menyusun acara untuk
GRI Sby. Mumpung buku itu masih segar, baru terbit di pasaran. Beruntunglah
pula, saya punya teman baik yang hobi jalan-jalan sembari menulis, Lalu Abdul
Fatah. Ia pun cukup banyak berkutat di dunia travel writing. Hanya hitungan
hari, pembicara dan pembedah langsung mengiyakan, bersedia untuk dipertemukan
di satu forum. Berkat pertemuan sebelumnya, Mbak Ifana, tim dari Oost Koffie
& Thee pun langsung menyambut baik niatan kami untuk meminjam tempat
sembari ngopi sore di sana. Publikasi, saya pasrahkan pada Ghozi yang bekerja
baik. Sementara dokumentasi selama acara kami dibantu oleh Mbak Lina Handriyani
yang berbaik hati bersedia menangkap momen-momen.
Tanggal 11 Mei datang. Berdasar permintaan khusus dari
pembedah, bahwa bicara traveling cocok dilakukan di sore hari, kami tentukan
pukul 15.30 WIB. Sebelum itu, saya dibantu Ghozi me-layout ruang. Kami ingin
semua audiens mendapat posisi yang nyaman untuk menyimak jalannya acara. Banner
sudah dibentang, perlengkapan pun sudah, pengisi acara siap, acara dimulai.
Dibanding dengan acara pembicara sebelumnya, acara ini memang tak begitu ramai.
Tapi tentu punya atmosfer berbeda. Lebih dekat dan hangat. Mayoritas bangku
diisi anak-anak muda. Sebelum acara dimulai, saya sempat berkelakar dengan Pak
Iwan, nama panggilan Bapak Junanto Herdiawan. “Wah, yang datang muda-muda, Pak.
Berarti Pak Iwan masih muda juga, nih!” Kemudian ia membalas dengan tak kalah lucu, “Iya. Saya kan cuma beda (usia) sedikit sama Bila!” Saya
langsung yakin bahwa acara nanti akan berjalan seru.
Setelah memberi penjelasan singkat tentang Goodreads
Indonesia, saya mulai membacakan sesi perkenalan. Membacakan sederet panjang
riwayat ekonom seorang Junanto Herdiawan hingga menjadi Deputi Direktur Bank
Indonesia Jatim, posisi yang dimilikinya saat ini, saya serasa masih berpikir
betapa panjangnya jalan karir yang telah ia tempuh. Meski di awal karirnya ia
justru pernah menjadi seorang jurnalis suatu media. Alasan memilih menjadi
ekonom di Bank Indonesia nyatanya sederhana. Ia berujar bahwa dengan bekerja di
sana, ia memiliki banyak kesempatan untuk berkeliling ke banyak tempat. Sesuai
dengan hobinya : traveling. Tapi bukan berarti ia ‘mengorbankan diri’ dengan
menjadi ekonom. Passion-nya tak hanya satu. Menjadi ekonom pun adalah impian
dan merupakan hal yang ia lakukan dengan suka cita. Menulis pun sama. Baginya
menulis memiliki arti yang besar pula. Keistimewaan untuk berbagi, bahkan
hingga diterbitkan dalam bentuk buku menjadi sebentuk kepuasan tersendiri.
Menurutnya, seseorang dengan pekerjaan apapun akan mempunyai nilai tambah dengan
menulis. Empat bukunya terbit di kurun waktu yang cukup singkat, dua tahun
saja. Japan Afterschock : buku yang
berkisah tentang pengalamannya saat terjadi gempa dan tsunami besar di
Jepang, Shocking Korea dan Shocking Japan : keinginannya mengungkap
fragmen-fragmen ‘culture shock’ yang pernah ia alami di kedua negara tersebut,
hingga akhirnya ia memilih melayang bersama Flying Traveler : buku yang
menggabungkan dua tema, traveling dan Levitasi.
Kisah panjang prestasi pun datang dari sang pembedah, Lalu
Abdul Fatah. Sederet pengalaman jurnalistik sebagai kontributor di media
online, menulis sebuah buku solo dan 15 antologi, menjadi koordinator dan
editor beberapa buku traveling, menjuarai berbagai kompetisi, hingga pengalaman
‘jalan, menulis dan dibayar’ yang pernah ia lakukan. Masih muda, tajam, kritis
dan punya visi yang jauh ke depan. Belakangan, Junanto Herdiawan berpendapat
tentang sang pembedah demikian.
Levitasi nyatanya memiliki keistimewaan bagi Junanto
Herdiawan. Diawali dengan keluhan sederhana : bosan dengan foto yang
mainstream. Berangkat dari itu, ia mencoba Levitasi sebagai sekadar keisengan.
Belakangan, justru ia menyadari bahwa Levitasi tak hanya memperluas dunianya
dengan berbagai liputan dan penghargaan, namun ia juga menemukan bahwa ada
makna spiritual darinya. Melayang dan melawan gravitasi bermakna bahwa kita
sesungguhnya bisa keluar, kita mampu melakukan lebih dari apa yang kita bisa.
Semua anggapan adalah paradigma. Kita mampu melakukan sesuatu ketika kita
percaya. Hal yang sama terjadi pada
seorang Natsumi Hayashi, gadis Jepang penemu Levitasi. Asisten fotografer yang
tak percaya diri itu kini begitu bebas dan ‘terbang’ dengan Levitasinya.
Setelah pembicara melakukan presentasi singkat tentang
Flying Traveler dan Levitasi, saya cukup banyak melempar pertanyaan pada
pembedah dan pembicara. Mulai pertanyaan santai, hingga pertanyaan yang
berangkat dari rasa penasaran saya secara pribadi. Jawaban menarik datang dari
Pak Iwan. Misalnya tentang saya yang bertanya tentang bagaimana pendapat
orang-orang sekitar ketika dirinya melakukan Levitasi di suatu tempat. Pak Iwan
mendapat sudut pandang yang berbeda dari itu. Ia menemukan ciri khas dari masyarakat
di daerah tertentu berdasar tanggapan mereka ketika ia melakukan Levitasi.
Entah orang-orang Jepang yang berlagak tak peduli meski penasaran, orang Korea
yang suka bertanya-tanya dan mengagumi apa yang ia lakukan, bahkan orang
Indonesia yang mampu bertepuk tangan untuk sebuah lompatan Levitasi. Saya juga
mengajukan beberapa pertanyaan tentang proses editing, tentang penentuan
komposisi penulisan dan bagaimana pengalamannya menulis opini di media massa
mempengaruhi cara menulisnya di Flying Traveler. Semuanya dijawab dengan lugas
dan bijaksana. Namun yang menarik rasa penasaran saya adalah mengapa penulis
tak menambahkan sisi filosofi dalam bukunya, sementara ia pernah mengambil
major filsafat di salah satu perguruan tinggi. Ia menjawab dengan diplomatis.
Baginya, ia sudah menyelipkan berbagai filosofi di buku Flying Traveler. Dari
hal-hal kecil yang ia temukan saat melakukan traveling dan Levitasi, ia menemukan
filosofi. Misalnya dalam perbedaan kultur, agama dan budaya dari masing-masing
tempat dimana ia melakukan Levitasi. Semakin banyak berjalan, ia semakin
menyadari bahwa kebenaran yang mutlak untuk diri sendiri, belum tentu menjadi
kebenaran mutlak bagi orang lain. Begitu banyak dan beragam kebenaran di muka
bumi. Maka baginya, kesempatan usia yang ada baiknya digunakan untuk
berjalan-jalan, melihat dunia, memaknai kehidupan. Kami tak melulu bicara Levitasi dan travel writing. Pak Iwan bahkan mampu mengkorelasikan antara teori
ekonomi dan traveling. Dengan kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia yang
meningkat saat ini, mereka sudah memiliki kebutuhan yang berbeda. Traveling
adalah salah satunya.
Pada akhirnya perspektif saya bukan cenderung melihat beliau
sebagai Deputi Direktur Bank Indonesia Jatim. Saya melihat beliau sebagai seseorang
yang tak pernah kehilangan semangat untuk melakukan segalanya dengan passion,
kecintaan penuh terhadap apa yang ia kerjakan. Yang menjalani kehidupan seperti
ringan saja, namun tak pernah meninggalkan kedalaman makna yang selalu ia
tancapkan dalam-dalam pada dirinya. Yang tak pernah membatasi diri, bebas
terbang, dan selalu siap menembus batas-batas. Sama seperti makna yang ia temukan
dalam Levitasi :
“Ketenangan jiwa dan kedamaian hati biasanya disimbolkan
oleh keringanan diri. Bila hati terasa ringan, kebahagiaan biasanya menjelang.
Levitasi di tengah suasana spiritual, bagi saya, adalah sebuah simbol
ketenangan jiwa.”
Surabaya, 15 Mei 2014
Untuk Goodreads Indonesia,
Nabila Budayana
Subscribe to:
Posts (Atom)
