Pages

Monday, June 17, 2013

Awan yang Berserat-serat


Saya termenung sejenak menatap langit. Awan mencipta serat-serat yang menjalin bentuk apa saja. Katanya, awan bisa berbentuk sesuai dengan yang dipikirkan oleh mata yang melihatnya. Tapi saat itu berbeda. Awan tak mampu menerjemahkan kesedihan yang ada di kepala. Kesedihan saya? Bukan. Ini tentang kesedihan orang lain. Seseorang yang bahkan baru saya temui kurang dari hitungan sebelah jari tangan. Namun, jangan anggap itu sedatar menyapa, berbincang, bersalaman hingga kemudian mengucap sampai bertemu. Saya, belajar banyak darinya. Bahkan sebelum ia sempat mengucapkan suatu apa. Gerak tubuhnya menggambarkan bagaimana ia menyikapi hidup. Bagaimana ia sebagai seorang anggota dari kaum Hawa, namun keberanian dan kegigihan adalah bagian dari dirinya. Yang melekat, menyusup dalam setiap embus napas yang ada. Ia tak terlalu banyak bercerita tentang dirinya. Namun, orang lain bahkan tak sanggup menahan diri untuk berkisah tentang karakternya yang... luar biasa. Selalu ada tekad dalam jiwanya. Ia bagai memiliki banyak pertahanan yang selalu mendukungnya untuk terus hidup. Sangat berbeda dengan saya. Sangat berbeda. Hingga sesekali saya merasa, saya tak pernah cukup baik, bahkan untuk diri saya sendiri. Lalu, kehidupan saat ini memberi pelajaran baru untuknya. Terpaan besar mampir dalam rumah hatinya. 

Kehilangan. Ini tentang kehilangan. Tabu yang seringkali kita naifkan dalam kegembiraan; sesekali merasuk memberi sejumput ketakutan, kemudian hilang; juga yang membuat kita tak sanggup menahannya saat ia benar-benar datang. Tak pernah ada yang sanggup mengerti seberapa dalam ruang hampa yang ditinggalkan di kalbu. Hingga kita benar-benar dihampiri kehilangan.

Kini ia sedang berdiri di tengah pusaran. Berjuang merelakan, menata ulang, kemudian melanjutkan kehidupan. Keberanian dan kelembutannya nyata diuji. Demi menguatkan dirinya sendiri, juga menguatkan orang lain. 

Saya bahkan terlalu bingung mengapa saya turut merasakan kesedihan yang menghambur, meski tentu tak sebesar miliknya. Ketika kejujuran itu datang, ternyata saya bahkan sanggup membawanya ke dalam doa. Yang biasanya bahkan seringkali alpa terucapkan. Hanya sesederhana, "Langkahkan kakinya pada kekuatan"

Kemudian langit seakan kembali bergerak dalam tatapan saya. Masih berupa serat-serat yang nyaris karam dalam tumpukan mendung. Sebelum beranjak, harapan saya pada langit berubah. Jadilah sebentuk roket atau pesawat, agar kau sampaikan doa saya pada Tuhan cepat.      




Friday, June 7, 2013

Risau - [Flash Fiction]

Dingin membuatnya bergidik kecil. Entah karena risau, atau hujan. Kepalanya penuh berlalu-lalang akan berbagai pilihan. Bukan hanya sekadar ya atau tidak. Namun juga bagaimana, meski ia telah paham betul siapa. Ia mesti menentukan. Bahkan saat ini juga. Ia bukan peragu, hanya pemikir. Jemarinya sibuk membentuk irama, bersentuhan dengan permukaan meja. Satu per satu butir menit berjatuhan. Sama seperti hujan. Ia akhirnya memutuskan. Kilau pisau iu belum habis juga menyita pandangan sang wanita. Diraihnya benda berkilap itu secepat yang ia bisa. Dalam kepalanya, terbayang wajah suaminya. Di sana. Di tengah hujan.

Wednesday, June 5, 2013

Mengapa Hujan, ditulis di Bulan Juni

"Yang tabah merahasiakan rindu, bijak menghapus jejak dan arif menyimpan rahasia, ternyata bukan kita. Tapi Hujan Bulan Juni."

Hari pertama bulan Juni, saya terpikir untuk memposting kalimat itu pada akun twitter saya. Saat itu hujan turun sejak pagi hari, dan saya (seperti banyak orang lainnya) terbersit tentang puisi Sapardi yang luar biasa melegenda. Dan rasanya, tepat sekali dengan momen yang terjadi : "Hujan Bulan Juni".

Dulu (mungkin sampai saat ini) saya masih seringkali mengutuk hujan. Saat kecil, saya bukan termasuk anak-anak yang dengan riang mampu berlarian dan bermain di tengah hujan. Saya lebih sering dilarang dan hanya sanggup memandangi hujan dari dalam rumah. Namun itu sangat beralasan. Ibu saya paham betul. Tubuh saya tak sekuat kawan-kawan yang lain. Bermain di tengah hujan hari ini, esok akan mudah diprediksi : tumbang dan demam. Jadi, bergembiralah anda yang memiliki banyak kenangan masa kecil dengan hujan. Saat dewasa, ketika sudah menganggap tubuh lebih kuat dan bisa memutuskan pilihan sendiri, saya justru tak ingin berhujan-hujan. Dengan skeptisnya saya berpikir : "untuk apa?" Saya sudah merasa lebih baik hanya dengan melihatnya dari balik jendela saja. Ternyata, saya tidak jodoh dan tidak menjodohkan diri dengan hujan hingga saat ini. Masa kecil tak mampu, saat dewasa sudah tak mau.

Tapi bukan berarti saya anti. Kerap kali pula, saya jatuh cinta dengannya. Membau aromanya, mengagumi jatuhnya, hingga mewujudkannya dalam cerita. Hujan memesona penciuman dengan menarik Petrichor dan Geosmin dari tumbuhan dan tanah, yang lebih sering memperkenalkan dirinya dengan 'bau hujan'. Jatuh satu-satu, kemudian berubah semakin kencang dan cepat. Lalu saya sibuk menyimak bunyi derap derasnya dan berakhir pada angan juga kenangan, lelap atau mengucap doa.

Hujan belum habis memikat siapa saja, bukan hanya saya. Bagi pembaca dan penulis, misalnya. Entah berapa judul buku telah mengulas tentang hujan, tentang kisah drama di dalamnya, tentang keindahannya, tentang ia yang ternyata memiliki pengaruh lebih besar dari sekadar 'membasahi bumi'.

Saya teringat dan masih begitu terpikat dengan kisah Julia dan Shaheryar dalam "Humsafar" yang ditulis Hanny Kusumawati. Kisah itu melibatkan seorang wanita Indonesia pengusaha pemakaman dan seorang pria Pakistan wartawan perang. Pertemuan mereka di bandara yang sekilas ternyata berujung panjang. Sang wartawan meninggal dalam tugas, dan sang wanita yang tak bisa lupa. Lalu di mana peran hujan? Gerimis selalu turun ketika sang wanita menyambangi makam yang sesungguhnya berisi buku catatan sang pria. Sang pria sempat berkata, suatu saat jika dirinya meninggal ia ingin dalam suasana mendung dan gerimis.

"Hujan. Deras Sekali." yang ditulis oleh M. Aan Mansyur memberi peran lebih besar pada hujan. Hujan ternyata mampu membuat lingkaran perselingkuhan di antara tokoh-tokohnya. Pembaca diajak mengarungi pengertian bahwa hujan tak melulu bermain dalam melankoli itu-itu saja. Hujan pun mampu 'nakal' dan mengusik kepala manusia untuk menjadikannya alasan atas segala perbuatan.

Puisi Joko Pinurbo yang ditujukan untuk Sapardi Djoko Damono, "Kepada Penyair Hujan" tentu melibatkan hujan. Menurut penafsiran saya yang dangkal, puisi itu seakan menawarkan pertemanan pada "Hujan Bulan Juni". Ia gambarkan pertemuan hujan dan senja yang berakhir pada pelangi. Hujan yang akhirnya berhenti turun, kemudian menjadi risau. Kerisauan ini saya tangkap, masih berkorelasi dengan hujan Juni milik Sapardi yang sedang menahan diri dan memupuk kesabaran, meski ia sedang dalam kerinduan.

Seno Gumira Ajidarma menyandingkan hujan sebagai variabel dalam prosesnya memfiksikan tragedi sejarah Penembakan Misterius. "Bunyi Hujan di Atas Genting" merupakan sebuah kisah yang datang dari seorang juru cerita. Ia bercerita pada Alina (pasangan Sukab, tokoh yang begitu dikenal oleh pembaca karya-karya SGA) tentang sesosok wanita bernama Sawitri yang selalu was-was setiap kali hujan datang. Karena ia selalu membuka jendela dan menemukan mayat bertato di depan rumahnya. Ketakutan itu beralasan. Selain karena selalu ada mayat di depan rumahnya, ia takut dan bertanya-tanya apa itu Pamuji, pasangannya yang juga bertato dan bisa jadi salah satu target penembakan misterius. Hujan dan mayat yang memberi risau pada seorang wanita.

Goenawan Mohamad pun mengawinkan pagi dan hujan dalam epigramnya. Tentang hujan yang menimpa kembang, namun memberi arti untuk dimulainya hari. Hujan mengambil peran kedua dan bersifat ringan saja. "Pagi : Sisa hujan tadi malam masih jatuh dari kemuning. Yang segar akan sebentar. Yang harum akan coba bertahan. Lumayan."

Hujan ternyata meresap hingga pada kata. Ia menari turun dari langit, menghampiri pikiran lalu melebur dan menyimpan ruhnya dalam aksara. Menghampiri siapapun yang merindukannya, mengangankannya atau yang sedang bermain bersamanya. Ia akan datang. Hari ini, minggu depan, sepuluh tahun lagi, seterusnya. Meski bukan di bulan Juni.

Monday, May 20, 2013

Apa yang kau rindukan dari sebuah perpisahan?


Seberapa dalam Anda mencintai orang terdekat? Seberapa dalam Anda tak ingin berpisah darinya? Hal itu juga seringkali menjadi pertanyaan dalam diri saya. Lebih-lebih di saat saya sudah tahu kapan akan berpisah dengan orang tersebut. Sebut saja, perpisahan dengan kawan satu kelas di bangku perguruan tinggi dan sekolah, yang saya tahu beberapa tahun ke depan kami akan berpisah dan menjalani jalan kehidupan masing-masing. Namun juga, lebih sering kita mesti menjalani ketidakpastian akan kapan perpisahan itu datang. Satu jam lagi, sepuluh hari lagi, dua puluh tahun lagi, siapa tahu. Dalam permisalan, hal yang paling absolut di muka bumi : kematian. Hingga saya cenderung lebih sering mengalami ini. Menaifkan rasa yang menggedor, bahwa suatu saat perpisahan itu akan pasti datang. Saya tak ingin merusak momen dan membiarkan ketakutan akan perpisahan di suatu hari nanti itu akan hadir menjemput. "Biarlah saya nikmati momen-momen ini sebelum saat itu tiba." Itu yang seringkali bercokol pada kepala saya dan mungkin juga Anda. 

Mungkin saja suatu perpisahan bersifat sementara. Hanya membutuhkan beberapa hari atau beberapa tahun untuk menjalaninya. Kemudian kita akan menyatukan kembali rasa rindu dengan jiwa yang selalu kita nanti kehadiran fisiknya. Tapi terkadang, itu tak selalu mengobati sepenuhnya hati yang telah dicungkil paksa oleh perpisahan. Kita memang mampu menggenggam tangan mereka serta memeluk hangat dan merasakan detak jantung mereka. Namun, bagi saya, ada kepingan yang selalu hilang dan seringkali tak mampu ditemukan sekeras apapun saya mencari. Rasa yang sama. Rasa yang sama antara kami sebelum terjadinya perpisahan. 

Namun, meski tak ingin, akan hadir masanya di mana kita akan berpisah hingga di saat yang kita tak akan pernah tahu. Ketidaktahuan kapan lagi waktu untuk bertemu, melahirkan kecemasan yang bahkan sanggup menyesakkan. Kita hanya mampu mengikuti garis takdir yang telah dituliskan. Meraba hari, menata hati dan mencoba sebisa mungkin menjalani. Lagi-lagi, apa benar yang kita rindukan adalah orang yang berpisah dari kita?

Bagaimana waktu tak begitu istimewanya. Setiap ketukan dinamika hidupnya, ia tak pernah menyajikan wajah yang sama. Kita yang tinggal di dalamnya akhirnya mesti juga dihadapkan pada momen yang berbeda setiap detiknya. Bisa jadi detik yang melahirkan banyak kenangan itu akan berulang di kemudian hari, tanpa kita sadari, atau kita sadari sepenuhnya. Namun, kembali, tak akan pernah ada rasa dan kesan yang sama meski itu terjadi lagi.

Dari analisa asal-asalan di atas, saya jadi curiga pada diri saya sendiri. Bisa jadi dalam perpisahan selama ini bukan seseorang yang saya rindukan. Namun ternyata seperti yang telah saya duga sebelumnya, saya justru rindu dengan momen dan rasa sama yang tak akan pernah kembali serupa.

Jadi, apa yang bisa saya lakukan saat ini? 
Ternyata saya tak mampu melakukan apa-apa. Hanya setingkat lebih baik untuk menghargai momen yang terlewati dan yang akan terjadi nanti. Tentunya, dengan siapa saja yang singgah dalam kehidupan saya.


Monday, May 6, 2013

Menilik Halau Galau

Galau sesungguhnya tak mengenal gender. Siapa saja boleh merasa galau, baik dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan (yang ini, jika berlebihan, mungkin bisa dianggap menyebalkan). Saya tak begitu mengerti apa kegalauan pria. Namun wanita? sedikit banyak saya (lebih) tahu beberapa waktu terakhir. Percaya atau tidak, itu hanya karena sebuah kolom mingguan suatu surat kabar. 

Seakan menanggapi 'booming'nya ungkapan 'galau' di kepala kita semua, para wanita, hadirlah Halau Galau, sebuah kolom yang mengambil bagian dalam Jawa Pos for Her yang mengungkap banyak permasalahan di kalangan perempuan. Temanya selalu berganti di tiap edisi. Finansial, hubungan, emansipasi, dan segudang topik lainnya.  Kadang lucu, menyentuh, menyenangkan, mencerahkan bahkan juga mampu 'menampar'.  

Saya terpikat di edisi perdananya. Mengapa? Bisa jadi saya yang membaca tanpa ekspektasi apapun sebelumnya. Bisa jadi juga karena saya belum membaca banyak kolom yang mengungkap masalah perempuan. Bisa jadi pula saya yang memang suka dengan cara menulis Kika Dhersy Putri, kolumnisnya. Ada diksi yang khas, ada metafora yang menggigit juga tentu saja pemilihan tema yang informatif dan solutif untuk kaum hawa. Sepanjang perjalanan membacanya, saya merasa bahwa wanita adalah makhluk yang kompleks. Permasalahannya menyeimbangkan ekspektasi dan menghadapi dunia sungguh beragam dan dalam. Problem itu seringkali hanya mengendap dalam hati wanita, mungkin sebagian justru tak terungkapkan karena berbagai batasan. Halau Galau mencoba untuk membeberkannya secara terbuka. 

Saya iseng saja berselancar tentang Halau Galau melalui mesin pencari, dan mendapati seseorang yang mengatakan bahwa salah satu edisi Halau Galau begitu persis dengan kejadian dalam hidupnya sendiri. Ia sama sekali tak mendapat jawaban bagaimana kisah hidupnya bisa begitu sama, dan tiba-tiba menjadi satu bentuk pembahasan pada kolom suatu surat kabar. Saya rasa itu cukup dianggap pembuktian bahwa Halau Galau memang sangat nyata dan apa adanya.

Keberhasilan Halau Galau dalam menarik minat penikmatnya, saya rasa tak lepas dari ketelitian dan kejelian mata seorang Kika Dhersy Putri dalam memandang detail kehidupan, terutama tentang perempuan dan problemanya. Ia sadar betul wanita perlu 'diistimewakan'. Dengan pembahasannya melalui kolom itu, ia mencoba membantu memberi jawaban pada pembacanya. Di antara pertemuan-pertemuan saya dengan Mbak Kika - begitu saya memanggilnya -, pernah suatu kali ia mengatakan ada kecemasan darinya apa semua pembaca mampu menerima apa yang ia tulis. Namun, tanpa perlu jawaban, nyatanya, hingga hari ini Halau Galau masih terus mengudara, menyapa pembaca setianya. Di kesempatan lain, saya merasa senang karena 'berjasa' mempertemukan sang penulis kolom dengan penggemarnya di salah satu acara perbukuan. Saat itu, teman di sesama salah satu komunitas perbukuan, bertanya kepada saya, "Siapa dia?" - sembari merujuk pada perempuan di sebelah saya - Mungkin ia merasa heran melihat kegembiraan saya bertemu tanpa sengaja dengan sang perempuan. Saya jelaskan lah berbagai profesi yang digeluti sang perempuan (oke, di sini ketahuan saya adalah penggemarnya). Ia hanya terus mengangguk sampai saya mengakhiri kalimat dengan kata-kata "kolumnis Halau Galau Jawa Pos". Matanya seketika membesar dan raut-raut wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut. Lantas setelah saya perkenalkan, ia berkata "Aduh, nggak nyangka bisa ketemu kolumnis Halau Galau!" Dari hal itu, saya mengambil kesimpulan bahwa ternyata, diam-diam, Halau Galau juga punya pembaca setia.    

Menganut sistem 'jodoh-jodohan', tak semua edisi Halau Galau menjadi favorit saya. Ada masanya saya hanya mampu berbicara "ohh, begitu", di lain waktu saya pun mampu mengatakan "gila! jleb! bagus banget!". Meski begitu seluruh edisinya belum pernah ada yang mampu membuat saya mengatakan "tidak suka". Sejujurnya, saya rasa itu hanya masalah personal. Menyentuh atau tidak. Karena saya sadar betul, tidak semua wanita mengalami pengalaman dan gaya hidup yang sama. Sedangkan pembahasan Halau Galau sangat beragam. Bisa jadi mengena di saya, namun belum tentu mengena di orang lain. Begitupun sebaliknya.

Di suatu kesempatan yang lain, saya sempat iseng beberapa kali mengusulkan pada Mbak Kika, untuk membukukan Halau Galau saja. Selain lebih mudah membaca ulang dari edisi pertama, saya rasa buku itu nantinya akan sanggup menjadi lebih dari sekadar bacaan menarik bagi perempuan. Bisa pula menjadi bacaan kaum Adam yang ingin mengenal lebih dalam wanitanya. Namun, apapun itu jadinya nanti, baik berakhir pada halaman blog atau buku, saya yang hanya salah seorang penikmat tetapnya, berharap Halau Galau dapat terus memberi manfaat bagi banyak pembacanya.

Jika dibilang saya fans berat Halau Galau, mungkin kurang tepat juga. Buktinya, saya tak tahu persis kapan kolom ini berulang tahun. Ya, meski sudah -terlalu lama- lewat, saya tetap mengucapkan Happy Belated Birthday untuk Halau Galau, sebuah kolom yang saya harap mampu terus memberi manfaat dan mengurangi kegelisahan yang menghantui kepala wanita. Karena bagi saya, setangguh apapun itu, wanita tetaplah wanita. Yang sebagian besar jiwanya diisi perasaan. Yang sejatinya tetap membutuhkan pundak untuk menangis, tangan untuk digenggam, telinga untuk mendengarkan, juga kalimat-kalimat yang menentramkan sekaligus memberi solusi. Halau Galau hadir hanya untuk poin terakhir dan bukan dengan sentuhan fisik, memang. Tapi ia seringkali dan sanggup saja menyusup pada hati yang bergemuruh dan menutup lorong-lorong pertanyaan yang melompong menginginkan jawaban. Jika pertanyaan telah terjawab, hati menjadi tentram, bisa saja sentuhan fisik menjadi nomor dua dari kebutuhan.



Untuk Halau Galau,

Nabila Budayana

Tuesday, April 16, 2013

Dari sebuah bincang-bincang

Seberapa jauh sebuah mimpi?

Apa selebar jarak bumi dan bulan?
Atau mungkin hanya sebentangan benang antar kaleng bekas untuk bermain telepon-teleponan?


Tak ada yang pasti tahu. Bahkan sang pemilik mimpi pun tak juga tahu.
Mereka hanya bersiap, melangkah pelan, berjalan, bahkan berlari menuju impiannya. Kadang juga terseok dan terbentur jatuh. Ada yang terluka, kemudian menangis dan berhenti. Ada yang terus mencoba bangkit, meski masih sesenggukan sesekali. Ada yang dengan gagah menerobos halang rintang, merasa tujuan telah sedekat telunjuk dan ibu jarinya sendiri.

Saat merasa terlalu jauh, mungkin sebaiknya tak menganggap mimpi itu masih jauh di depan sana.
Saat merasa sudah dekat, mungkin sebaiknya tak jemawa dan tetap menjejak kerendahhatian.

Tetapi di atas segalanya, ada Sang Penentu yang bahkan mampu mengubah segala logika jauh-dekat, persepsi paling liar, juga apapun yang mungkin terjadi. Kadang Ia terlihat menyebalkan dan keras kepala. Menguji dengan beban yang terasa tak sanggup terpikul, hingga pemimpi menyerah dan terluka. Namun, Ia juga mampu menjadi menyenangkan dan penuh kejutan. Kadang memberi hadiah kontan untuk sesuatu yang bahkan selama ini tak pernah terbayang pada kepala pemimpi karena dirasa terlalu besar dan muluk saja.


Lalu, masih seberapa jauh mimpimu?

Jangan-jangan saat ini kau telah hidup dalam mimpi itu, tanpa pernah menyadarinya?

 

Monday, April 8, 2013

LPM Bedah Buku "Titik Nol" - Agustinus Wibowo, 7 April 2013


Laporan Pandangan Mata
Acara :  Bedah Buku Titik Nol - Agustinus Wibowo
Oleh : GRI Surabaya bekerjasama dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya serta Gramedia Pustaka Utama
Tempat : Perpustakaan Kota Balai Pemuda Jalan Gubernur Suryo 15 Surabaya
Tanggal : 7 April 2013
Pukul : 13.00 – Selesai
Pembedah : Heti Palestina (Radar Surabaya)
Moderator : Ficky Hidajat (Broadcast Indonesia)
Audiens : Umum

Siang itu Korwil baru GRI Surabaya, Mbak Novri Chitra sedang harap-harap cemas. Mengapa? Mungkin bukan hanya tanggung jawab atas jabatan barunya, namun juga debut acara yang disusunnya akan berlangsung beberapa jam lagi. Meski telah lebih dari sebulan sebelumnya telah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik, mulai dari melobi berbagai pihak untuk tempat, waktu, pengisi acara hingga kepentingan publikasi, namun hingga hari H, sang korwil masih repot ‘berlarian’ ke sana ke mari hingga usainya acara. Oleh karena itu, segenap anggota GRI Surabaya dan pengisi acara mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mbak Novri Chitra yang telah bekerja jauh lebih keras dari anggota-anggotanya demi berlangsungnya acara ini. J
                
Setengah jam sebelum acara berlangsung, tim GRI Surabaya dibantu oleh Staf Humas Perpustakaan Kota Surabaya, Ibu Evie Suryani, melakukan berbagai persiapan. Mulai konsumsi, hingga perubahan tata letak perabotan pada ruang yang akan digunakan untuk acara bedah buku. Beberapa hal terpaksa diubah demi memberi kenyamanan pada audiens untuk mengikuti acara. Jam berdetak terus, hingga jarumnya nyaris menyentuh angka satu. Sang nara sumber, Agustinus Wibowo tiba di tempat ditemani oleh pihak Gramedia Pustaka Utama. Mengenakan kaus lengan panjang berwarna hitam yang berkesan santai, Mas Agus dengan ramah menyapa semua orang. Sembari mempersiapkan bahan video di komputer jinjingnya, Mas Agus ngobrol santai dengan Ibu Evie Suryani dan moderator acara, Mas Ficky. Di sisi lain, tim Gramedia sedang sibuk memasang X Banner dan segala perlengkapan untuk memeriahkan acara. Satu per satu, audiens dengan buku-buku di tangan, hadir dan mengisi tempat. Usia dan profesi mereka pun beragam, muda hingga tua, mulai anak kuliahan hingga seniman. Begitupun dengan asal kota mereka, bukan hanya datang dari kota Surabaya, namun dengan antusias, beberapa bahkan datang dari Sidoarjo, Pandaan, Lumajang dan Madura. Kami, tim GRI sempat cemas karena di awal acara, audiens hanya sekitar dua puluh orang. Namun, sembari acara berjalan, audiens terus berdatangan hingga sekitar empat puluh hingga lima puluh orang. Perpustakaan baru kota Surabaya yang didesain modern itu seketika menjadi penuh, ramai dengan berbagai kalangan yang ingin menyimak bedah buku ini.

Pukul 13.15 moderator membuka acara dan menghangatkan suasana. Penulis LPM ini dikejutkan dengan moderator yang tiba-tiba memanggilnya untuk menjelaskan tentang review Titik Nol yang ia buat di Goodreads. Hanya mewakili Korwil untuk menyambut audiens sekaligus memberi sedikit gambaran akan Buku Titik Nol pada audiens. Di saat yang sama, Mas Agus sedang melakukan wawancara dengan media yang datang meliput. Penulis LPM menangkap jurnalis JTV (TV lokal Jawa Timur) dan Harian Radar Surabaya turut hadir untuk melakukan peliputan. Pukul 13.35, acara dimulai. Dibuka oleh moderator yang sangat berpengalaman dalam membawakan acara, juga dilanjutkan dengan pembukaan singkat dari Mas Agus dengan perkenalan diri. Saat itu, Mas Agus mengatakan asal nama yang dimilikinya. Nama Agustinus diberikan oleh orang tuanya sebagai perlambang seorang anak yang lahir di Bulan Agustus, dan agar semua orang dapat dengan mudah mengingat bulan ulang tahunnya.
                
Mas Agus menuturkan tentang kisah awal perjalanannya. Berangkat dari impiannya untuk melihat dunia yang berbeda saat kecil. Saat masih duduk di Sekolah Dasar, seorang Agustinus Wibowo kecil dan beberapa teman bermainnya di Lumajang, selalu merasa antusias saat melihat pesawat terbang yang melintas. Baginya, pesawat terbang akan mengantarkan seseorang ke tempat yang jauh. Hingga akhirnya, seorang Agustinus Wibowo terobsesi dengan kata ‘jauh’. Namun pandangannya akan kata ‘jauh’ telah berubah saat dewasa. Baginya jauh adalah relatif. Dengan pesawat terbang, jauh bukan lagi menjadi hal mutlak. Berbeda dengan dua buku yang ia tulis sebelumnya, “Selimut Debu” dan “Garis Batas” yang bercerita tentang tempat-tempat jauh, kali ini ia ingin perjalanan yang dilakukannya bukan tentang jauh, hingga akhirnya mengantarkan keinginannya untuk menulis sebuah buku berjudul ‘Titik Nol’. Baginya kata ‘jauh’ memiliki banyak definisi. Ia pun mengungkapkan berbagi fakta menarik lainnya tentang Titik Nol yang ia tulis. Dibuka dengan adegan di rumah (Titik Nol) dengan seorang ibu yang sedang mengalami sakit. Seorang anak itu, Agustinus Wibowo sudah tak memiliki banyak waktu lagi untuk menemani ibunya. Di waktu yang sudah sempit itu, ia membacakan kisah perjalanannya. Adegan itu dan kelanjutannya bertindak sebagai plot pertama. Plot kedua, ia berkisah tentang isi perjalanannya. Agustinus Wibowo pun mengatakan bahwa perjalanan sesungguhnya bertujuan untuk mengenal diri kita sendiri.

Seusai Mas Agus melakukan pembukaan, Mbak Heti Palestina sebagai pembedah melakukan sesinya. Ia berkata bahwa dari buku-buku non fiksi, ia begitu jarang menemukan penulis yang memiliki frame bertutur. Sedangkan dalam Titik Nol, frame bertutur yang dimiliki Agustinus Wibowo adalah kekuatan dari bukunya. Hal itu yang menjadikan Titik Nol berbeda dengan buku traveling yang lain. Baginya, penulis memiliki kekuatan sastra. Ditunjukkan dengan bagaimana penulis memilih adegan pulang sebagai adegan pembuka. Apalagi ditambah dengan adegan sang ibu, membuatnya disebut sebagai pengalaman paling religius. Agustinus Wibowo memiliki cara penuturan dua hal yang berbeda. Pada tulisan cetak miring, sudah merupakan cerita utuh sendiri, apalagi jika ditambahkan dengan tulisan yang tak bercetak miring dalam buku Titik Nol. Mbak Heti menyatakan, penulis Titik Nol memiliki cara jenius dalam bertutur. Ia menambahkan, setiap buku memang harus dituliskan dengan cara yang berbeda oleh masing-masing penulisnya. Namun, jangan sampai frame bercerita itu nampak pada pembaca. Bagaimana menyampaikan cerita itulah yang tidak semua orang dapat melakukannya. Namun, jika cara bertutur tidak kuat, maka sebuah tulisan tidak akan memiliki kekuatan filosofis. Hal itu berangkat dari pengalaman religi setiap orang yang berbeda-beda, hingga akhirnya akan menghasilkan filosofi yang berbeda. Ia melanjutkan, Agustinus Wibowo memang tidak terlalu ‘sastra’. Namun, dramatisir cerita harus ada untuk membuat tulisan menjadi menarik. Tidak semua traveler bisa menulis seperti yang Agustinus Wibowo lakukan. Bagaimana cara penulis untuk men’sinetron’kan adegan, meski tidak berlebihan sangat menarik. Tips untuk para penulis pun Mbak Heti berikan. Jika ingin menulis seperti Mas Agus, buatlah frame tersebut sesuai dengan pengalaman religi masing-masing.

Acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Audiens nampak berebutan ingin bertanya, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Seseorang memberikan pertanyaan pertama : “Keberanian apa yang membuat Agustinus Wibowo berani untuk menjelajah negara-negara jauh?”. Agustinus Wibowo menjawab dengan memberi gambaran akan dirinya yang seorang kutu buku dari Lumajang dengan minim pengalaman memberanikan diri untuk menjelajah negara lain. Pada awal perjalanannya, ia seringkali dirampok. Sempat terpikir olehnya untuk menyerah. Namun, ia selalu percaya bahwa akan selalu ada hal baik di depan, hingga ia meneruskan perjalanan satu tahun pertamanya dengan memberanikan diri untuk mengunjungi Afghanistan. Meski begitu, ketakutan baginya adalah hal yang sangat manusiawi. Ia pun menyampaikan “Orang yang tidak punya rasa takut itu bukan manusia.” Seorang hadirin yang lain mengajukan pertanyaan kedua tentang waktu penulisan buku Titik Nol yang terasa membutuhkan waktu lama. Agustinus menjawab dengan gamblang. Baginya, buku adalah curahan hati penulis. Buku yang enak dibaca adalah buku yang ditulis berulang karena seringkali penulis membutuhkan kemampuan untuk adaptasi di awal. Ia mencontohkan, buku keduanya ditulis selama lebih dari satu tahun, buku ketiganya ditulis selama lebih dari dua tahun. Dari hal itu, ia mengambil kesimpulan bahwa penulis tidak akan pernah sempurna di draft pertama. Menulis itu bagai memahat ukiran kayu. Membutuhkan proses membentuk, menghaluskan, hingga akhirnya menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati. Agustinus Wibowo pun memberi pandangannya akan definisi ‘sastra’. Baginya, sastra adalah saat ketika pembaca merasa menikmati proses pembacaan. Tidak perlu bermain dengan diksi berbunga atau kalimat yang rumit, baginya, menulis secara apa adanya dapat menimbulkan efek yang lebih besar pada pembaca.   

Setelah itu, moderator mengajukan pertanyaan tentang makna di balik tagline Titik Nol di sampul depan : “Perjalananku bukan perjalananmu, perjalananku adalah perjalananmu.” Agustinus memberikan jawaban yang begitu memukau. Baginya, setiap orang memiliki perjalananya masing-masing. Perjalanan bersifat personal. Oleh karena itu ia menyebutkan “Perjalananku bukan perjalananmu.” Namun di samping itu, biarpun perjalanan kita berbeda, semuanya berinti sama : kita berjuang untuk menjadi pahlawan, kemudian akhirnya akan kembali ke titik nol. Jawaban Agustinus itu mampu menciptakan aplaus yang meriah dari hadirin. Seseorang lain mengajukan pertanyaan ke-empat. “Apa yang membuat seorang Agustinus Wibowo menolak beasiswa yang ia peroleh?”. Penulis berkacamata itu menjelaskan bahwa hal tersebut adalah pilihan hidup yang ia ingin tempuh. Baginya, kebahagiaan hidupnya adalah berada di perjalanan. Berbeda dari jurusan yang diambilnya semasa kuliah, ia justru mengambil pilihan untuk berprofesi sebagai jurnalis. Meski begitu, sangat susah untuk meyakinkan orang tua akan hal tersebut. Apalagi, ia menambahkan, bahwa orang Tionghoa cenderung memiliki pola pikir turun temurun untuk harus memiliki hidup yang stabil. Sedangkan profesi sebagai pejalan dinilai bukan hidup ideal bagi orang tua Agustinus. Namun, ia meyakini, jalan ini yang harus ia ambil. Jika sudah begitu, tentu juga harus siap dengan segala risiko yang harus dihadapi. Ia pun berkisah sedikit tentang orang tuanya. Saat menulis, ibu yang ia cintai baru saja meninggal. Ia menyesal karena begitu jarang berada di sisinya semasa hidup. Dari hal itu, ia merasa ada pelepasan yang besar. Lebih dari itu, ia percaya bahwa manusia diciptakan untuk tujuan masing-masing. Meski tak setuju dengan profesinya, sang Ayahanda tercinta begitu gembira setiap kali tulisannya ditampilkan di kompas.com, mencetaknya dan menunjukkannya pada semua orang. Pada akhirnya, saat menjadi jurnalis di Afghanistan, ia mampu membiayai pengobatan sang ibu. Ia menyimpulkan, bahwa begitulah hidup. Selalu ada kelokan, namun kita semua ditakdirkan untuk menghadapinya.

Sesi pertanyaan dihentikan sementara untuk mengajak audiens menikmati video Titik Nol yang telah disiapkan oleh Agustinus Wibowo. Pada video itu, ditampilkan berbagai gambar tentang berbagai keragaman dan kemanusiaan yang disertai dengan kalimat-kalimat filosofis tentang makna-makna perjalanan. Khas dengan kata-kata seperti yang tercantum di halaman-halaman Titik Nol. Foto-foto yang ditampilkan penulis mampu membuat hening seluruh audiens yang nampaknya menikmati musik yang diputar bersama dengan video. Setelah pemutaran video, sesi pertanyaan kembali dilanjutkan. Kali ini pertanyaan yang hadir cukup unik. “Jika Mas Agus memiliki anak kelak, apa juga akan mengijinkan anaknya untuk melakukan perjalanan?” Tanpa ragu, Agustinus menjawab bahwa ia akan sangat menyarankan anaknya untuk melakukan perjalanan. Karena baginya perjalanan adalah proses untuk membuka mata. Seseorang perlu pergi jauh untuk mengenali diri sendiri. Ia menganalogikan, “Mata kita tak akan bisa melihat hidung sendiri, oleh karena itu kita perlu berkaca untuk melihat hidung.” Hal itu berarti, kita memerlukan refleksi orang lain untuk menemukan diri sendiri. Perjalanan yang baginya adalah kehidupan nyata juga dapat melatih kemandirian. Berbicara hal itu, Agustinus mengenang tentang kejadian pada salah satu awal perjalanannya. Di mana ia dicuri habis-habisan dan tak memiliki apapun untuk melanjutkan perjalanan. Awalnya ia menyangka hal itu sangat buruk. Namun kini, ia justru ingin berterimakasih pada pencuri yang mencuri dompetnya saat itu. Jika dompetnya tak tercuri, ia tak akan pernah menjejakkan kaki ke Afghanistan dan memutuskan untuk menjadi jurnalis.

Pertanyaan lain pun datang. “Bagaimana mungkin Agustinus menulis ulang sebanyak dua puluh kali lebih dan bagaimana caranya agar tidak bosan?” Agustinus menjawab dengan menuturkan bahwa sebelum menjadi seorang penulis, baginya menulis merupakan hal yang susah. Kemudian setelah lebih banyak menulis, ia merasakan ada kenikmatan dalam prosesnya. Karena menulis juga adalah sebuah perjalanan. Dengan menulis, ia menemukan detail perjalanan. Ada saat di mana kita berjalan, juga ada saat di mana kita berhenti. Menurutnya, bagian yang sulit dalam proses penulisan bukan di awal dan di akhir, namun di tengah. Mencontohkan Titik Nol, saat proses penulisan ia memiliki ide yang jelas, namun ia kehilangan arah saat menulis secara kronologis. Hingga akhirnya saat penulisan ulang ke-limabelas kalinya, tercetus ide untuk mengemas tulisan dalam plot paralel yang memakan satu tahun untuk menyelesaikannya. Meski yang dikisahkan adalah kisah non fiksi, ia bercerita dengan teknik fiksi. Agustinus pun memberikan tips untuk penulis pemula : Jangan pernah mengkhawatirkan suatu karya yang ditulis akan menjadi apa, tumpahkan saja. Jangan takut gagal. Tidak ada yang sempurna di tulisan pertama. Renungkan kegagalan yang merupakan hal biasa. Teruslah menulis.

Pertanyaan pun belum berhenti mengalir. Kali ini spesial, karena datang dari seorang pelukis senior yang menyempatkan diri hadir. Meski beliau belum sempat membaca Titik Nol, namun ia berkisah tentang sebuah buku traveling yang ia baca. Di buku yang ia baca, disebutkan bahwa untuk mencapai dunia, manusia dapat menggunakan empat hal : “Agama, filsafat, science dan sastra.” Menurutnya, ada korelasi Titik Nol dengan buku tersebut. Agustinus memberikan tanggapannya dengan memberikan contoh. Ia berkata bahwa Lumajang dan Tibet memiliki korelasi. Yaitu sama-sama memiliki Gunung Semeru dan Meru. Ia melakukan perjalanan di Gunung Meru di Tibet yang suci bagi agama Budha dan Hindu tersebut. Pengalaman dari mengelilinginya, terasa kegembiraan di awal, setelah susah payah mendaki puncak, ia sempat merasa telah melampaui semua hal tersulit. Namun ternyata, justru hal tersulit ada pada saat menuruni gunung tersebut. Pengalaman itu ia tarik ke dalam filosofi. Dalam hidup, kita harus belajar melepaskan. Sepanjang hidup kita akan selalu ketakutan pada mati yang merupakan ketakutan paling besar. Ziarah ke tempat suci seperti gunung , bertujuan untuk itu. Ziarah bukan tentang label, namun justru untuk menyelami lubuk hati.

Kali ini tak lagi datang pertanyaan, namun apresiasi dari seorang hadirin. Ia mengungkapkan kekagumannya akan Buku Titik Nol dan bahkan berniat akan membagi ilmu dari Titik Nol pada anak-cucunya. Hal tersebut memancing pernyataan lain dari sang pembedah, Mbak Heti Palestina. Ia menyatakan bahwa Titik Nol adalah buku yang religius. Ia pun berkomentar untuk berterima kasih pada sakit hati. Karena kebanyakan orang sukses berangkat dari rasa sakit hati. Menurut koreksinya, Agustinus perlu sakit hati lebih dalam untuk membuat karya yang lebih baik dan sukses. Agustinus menimpali dengan sebaris pernyataan. Ia membenarkan perlu sakit hati atau luka dalam hidupnya. Galau itu perlu. Karena dengan galau, dapat menyelami lebih dalam kehidupan. Luka itu yang membuat seorang penulis lebih baik dalam berkarya. Ia juga berkisah bahwa kita dibesarkan dengan cerita. Ia mencontohkan Legenda Malin Kundang dan perjalanan mencari kitab suci yang seringkali diceritakan pada masa kecilnya. Berangkat dari hal itu, ia ingin melakukan perjalanan dengan dongeng masa kecil yang ia dengar. Perjalanan mencari kitab suci justru berujung pada ditemukannya kitab tanpa aksara yang sesungguhnya adalah kitab kehidupan. Pertanyaan lain pun terlontar “Dari ketiga buku yang telah ditulis, sisi apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Agustinus?” Agustinus menjelaskan satu per satu. Pada Selimut Debu, ia ingin menuturkan bahwa kita seringkali dijebak impresi. Padahal, impresi belum tentu merupakan realita, namun justru seringkali menyesatkan. Di balik perang Afghan yang begitu gencar, justru ada warna-warni kehidupan yang lebih indah. Pada Garis Batas ia ingin menyampaikan bahwa garis batas sesungguhnya ada di mana-mana dalam proses perjalanan hidup. Menilik pada dirinya, sejak kecil Agustinus telah merasa kekurangan identitas. Ia pun bertutur bahwa identitas bukan hal yang mewakili diri kita. Mbak Heti Palestina pun menambahkan pujiannya pada buku Titik Nol. Ia menyatakan bahwa tulisan Agustinus dilengkapi foto yang luar biasa bagus. Dalam jurnalistik, memilih foto bukan hanya dari sisi berita, namun juga dari sisi seni. Namun, ia menyayangkan mengapa justru foto yang menunjukkan seorang anak melompat dari pohon itu yang dipilih sebagai cover, karena baginya itu kurang menarik dibandingkan dengan foto lain yang tersaji. Agustinus menjawab dengan diplomatis. Bahwa proses pemilihan cover sangat lama. Dengan berbagai pertimbangan, dipilih cover tersebut karena mengandung banyak filosofi : Keberanian (ditunjukkan dengan seorang anak yang melompat dari pohon), ketakutan (ditunjukkan dengan anak lain yang tidak melompat), pilihan (seorang anak memilih melompat, sedang yang lain tidak), eksotisme (ditunjukkan langit biru), misteri (akan ke mana anak itu meloncat). Keseluruhannya menunjukkan bahwa dua perjalanan yang berbeda, namun akhirnya akan sama. Pembedah juga menyatakan kekagumannya dengan mengatakan bahwa tulisan Agustinus seperti tulisan Che Guevara. Ditanya apa yang akan Agustinus lakukan selanjutnya, ia menyatakan ingin fokus pada profesi travel writer, namun ia tak ingin berjalan, justru ingin tinggal lama di dalam dan menyelami suatu negara.  

Pernyataan seorang Agustinus Wibowo itu mengakhiri sesi bedah buku. Berkali-kali mendapat sambutan, pujian dan apresiasi yang luar biasa baik dari seluruh pihak yang hadir, buku Titik Nol dan penulisnya menjadi objek berfoto semua orang setelahnya. Pihak Gramedia memberikan beberapa buku Titik Nol bertanda tangan untuk diserahkan pada berbagai pihak yang membantu terlaksananya acara ini. Setelah itu, sebagian besar hadirin berkerumun di meja penyaji demi mendapat tanda tangan pada buku masing-masing dan kesempatan foto bersama. Meski mendapat pernyataan bahwa lampu perpustakaan yang memanfaatkan genset harus dipadamkan pukul setengah empat sore, hadirin pantang pulang dan rela mengantri. Beberapa tumpukan buku yang menjulang menanti untuk ditandatangani. Ditanya apa Mas Agus merasa lelah menandatangani buku sebanyak itu, dengan ramah ia menjawab, “Pernah mendapat kesempatan untuk menandatangani buku yang jauh lebih banyak dari pada saat ini.” Di tengah-tengah sesi signing, ia seringkali mendapat pertanyaan atau sapaan tambahan. Dengan sabar, ia layani satu persatu hingga akhirnya satu per satu hadirin pulang dan hanya menyisakan panitia. Tim GRI Surabaya yang tersisa (sebagian sudah harus pulang lebih dulu) menyempatkan untuk foto bersama penulis. Namun, apa keseruan hanya sampai di situ? Ternyata tidak. Acara bedah buku Titik Nol akan kembali dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 13 April 2013 di tempat yang berbeda. Akan lebih banyak cerita, lebih banyak inspirasi yang akan dibagikan oleh Agustinus Wibowo, seorang pejalan dengan berjuta pengalaman menarik yang mencerahkan. Meski menyatakan akan menetap di suatu negara, ia, Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nolnya akan terus berjalan…   



Surabaya, 8 April 2013

Untuk Goodreads Indonesia,

Nabila Budayana