Pages

Thursday, September 20, 2012

Khayalan


Cinderella yang meninggalkan sepatu kacanya, mungkin hanya angan. Tujuh kurcaci mendampingi sang putri lelap pun membekas sebagai impian. Willy Wonka sang raja cokelat tak mungkin meninggalkan ingatan. Kisah-kisah itu tak lekang digerus jaman. Kupikir hidup juga begitu. Akan abadi dalam bahagia. Hari-hari tak terganggu usia. Namun kemana sang pencerita? Nyatanya, ia tak ada, termakan masa. Pergi entah kemana. Saat kuajukan tanya, kakek memberi petunjuk jika ia di surga. Ayah menjelaskan ia di alam berbeda. Ibu dan segala kisahnya pergi. Aku tak mengerti. Benar ia tak dapat kembali? Meski rindu kami tak dapat ditanggung kembali. Ibu hanya menjanjikan kisah. Sempat memiliki menjadi arti. Inikah khayalan?  

Kaca




September ini kau seperti nampak dimana saja. Ditemani embun pada refleksi  kaca jendela. Di cerminan etalase toko. Bahkan kau ada saat kutatap cermin kamar di pagi hari. Siapa dirimu?
Kau hanya diam, meski kuajak sesekali bicara. Kau hanya diam, saat aku bergerak. Kau hanya diam, bahkan saat kupecahkan kaca saat amarah tak terkendali. Yang kau tahu hanya diam. Wajahmu tampak tak setitik pun berbeda denganku. Kutawarkan nomor telepon dengan menempelkan notes bertuliskan nomorku pada cermin. Berharap sepenuh hati agar kau melihatnya. Sungguh, aku ingin sekali bertanya. Siapa dirimu sebenarnya. Kurapatkan telepon genggam pada telinga, dan akhirnya kau bergerak! Tampak di cermin, kau pun melakukan hal yang sama. Kutanyakan, sesungguhnya kau siapa. Kau menjawab datar. “Dirimu. Yang sejujurnya. Tanpa berpura-pura.”

Monday, September 17, 2012

Dinding Abu

Benci seperti memiliki jadwal kunjungan tetap saat itu. Teriakanku entah telah menggema kemana saja. Segala pukulan tanganku pun seperti tak berarti. Ketidakberdayaanku menghalaunya, seperti sia-sia. Ingin kujauhkan ia saja dariku jika bisa. Mereka menertawaiku. Gelaknya terus menerus menyusuri tiap sudut kepala, enggan berpindah. Aku gerah dan lelah.  Merasa kuasa, ia terus mengejekku penuh kemenangan. Tak adil. Mereka memihaknya. Sedang aku hanya seorang tanpa daya. Mereka semestinya merasa beruntung. Jika saja teralis besi ini tak menghalangiku, mungkin mereka telah hancur ditanganku. Berkeping, hingga akhir. Tertawalah, tertawalah! Sakit jiwa dan manusia gila hanya keputusan sepihak mereka padaku. Ia, si dinding abu masih saja menghalangi jalan keluarku.  Memang saat ini semua upayaku seperti percuma. Tapi bisa saja berganti nanti. Ini mungkin akhir baginya. Namun tidak bagiku. Suatu saat aku akan menerobos pergi darimu, dinding abu! Meski seisi rumah sakit ini menertawaiku.


Pertaruhan Matahari



Meski terik mencubit, aku tak gentar bersamanya. Aku hanya tak mampu saat ia tak hadir. Aku seperti kehilangan kemampuan bernapas. Aku kehilangan akal sehat. Bahkan, aku seperti tak ada. Boleh mengajukan satu permintaan, Tuhan? Jangan biarkan ia pergi. Itu saja. Namun ternyata takdir tak bisa kupilih. Ia memilih. Memilihku untuk melalui ini. Dayaku hanya sebatas harapan. Tanpanya, ternyata aku tak ada apa-apanya. Penghujan memutuskan datang hingga penghujung tahun. Matahari positif kalah dalam pertaruhan dan memutuskan cuti hingga kalendar baru dipasangkan. Lantas, hanya karena aku sebuah bayangan, apa aku tak diperbolehkan meminta kehidupan dari sang tuan? Benar kiranya, aku akan hidup kembali di tahun depan.



Ditulis untuk #FF2in1 @nulisbuku

Tuesday, September 11, 2012

Mengejar Maple #FF2in1

 

Musim gugur. Melihat daun memerah, mengering dan jatuh ternyata sungguh luar biasa. Aku tak salah mengangankan impian, rupanya. Mengejar daun maple. Kulihat, ia beranjak lepas dari batangnya. Sejenak dimainkan angin sepoi, tiba di permukaan air dengan anggun hingga mengadakan riak yang menyebar ke penjuru sungai segera. Air tak tinggal diam. Ia dibawanya pergi. 
Daun itu butuh ditemani. Aku berlari sembari mengawasi tubuhnya yang dimainkan arus air. Kuikuti kemana ia pergi. Mungkin hingga aku tak sanggup lagi, atau hingga sungai ini menemukan muaranya. Tidak. Aku tidak hanya menemani daun merah itu. Aku mengejar memori dibalik itu. Kekasihku berjanji datang di tempat ini lima belas tahun lalu. Meski begitu, ia tak datang. Semalam, ia mengatakan padaku impiannya telah dikabulkan Tuhan. Reinkarnasi berjalan lancar. Ia menjadi selembar daun maple. Hidup kembali untuk melakukan perjalanan. Perjalanan tumbuh hingga berakhir di musim dingin. Selamat, sayang.Dan selamat jalan.



Ditulis untuk #FF2in1 @nulisbuku

Lukisan #FF2in1




Langit biru enggan kulukiskan. Padang luas penuh rumput hijau enggan menghendaki dirinya tertampilkan. Ini bukan hal biasa. Mereka selama ini dengan senang hati menawarkan dirinya untuk kulukis. Kadang kutambah domba di padang rumput, maupun awan putih pada langit.
Setelah mencoba, mengalah sepertinya harus menerima afirmasi dariku.
Aku hanya sanggup hingga ini. Palet dan kuas berdentang menabrak lantai. Jatuh dari genggaman. Kanvas kubiarkan kosong. Harapanku agar ia mampu mengisi dirinya sendiri. Entah dengan objek dan warna apa. Ternyata aku hanya sanggup berhenti di kamu, kosong. Tak sanggup lagi kulukis karena Tuhan memutuskan mengambil kembali apa yang ia pinjamkan. Penglihatan. Itu sebabnya mereka tak ingin kulukiskan. Hilang kepercayaan.  



Ditulis untuk #FF2in1 @nulisbuku



Thursday, September 6, 2012

Nenek dan Surat




Senja hampir hilang. Kususuri bangku taman, teduhan pohon rindang, sepanjang jalan, dimana saja . Kemanapun yang kukira benar, ia kuharap disana. Namun tak jua kutemukan. Jingga langit seakan enggan berkawan, meronta ingin pulang. Ibu menelepon menanyakan. Aku menjawab dengan letih. Tak ada. Bahkan payung putih gadingnya tak terlihat.
Anganku berputar cepat. Mungkin ini karenaku. Penyesalan menyelimutiku penuh. 
Tak kusadari selembar kertas itu begitu berarti. Ia benar-benar pergi dengan selembar surat tua itu. Yang kemarin tak sengaja kutemukan di laci kamar. Lembar kusam kekuningan bertuliskan asal. Seorang lelaki tampan pengirimnya. Nenek ingin membuktikan lelaki itu masih setampan empat puluh tahun lalu. Mantan kekasih, yang pergi begitu saja. Aku kagum sungguh akan keberanian dan ketulusannya. Sayang, nenek lupa. Lelaki itu pergi ke surga.